Home » Relationship, Sepocikopiana

Akhir dari Penyesalan

11 March 2010 222 views 15 Comments

WalkinG__by_lOolahOleh: Rae

Kata orang cinta pertama sulit dilupakan. Saya katakan itu benar. Apalagi saya harus kehilangan cinta pertama. Ditinggalkan partner, maksud saya mantan partner (alm.), yang meninggal akibat kanker yang dideritanya. Tadinya saya pikir kisah seperti itu hanya terjadi dalam sinetron ataupun drama-drama Korea yang sering saya tonton. Tapi kenyataannya, saya mengalaminya juga. Setelah kepergiannya, tidak sedetikpun saya bisa melupakan dia. Kenangan-kenangan saat bersamanya terus mencuat hanya untuk menimbulkan kerinduan yang menyakitkan. Hari-hari saya hanya berlalu untuk menyesali kepergiannya.

Hidup dalam penyesalan membuat saya akhirnya resmi dinobatkan sebagai seorang workaholic. Yah, saya membenamkan diri dalam pekerjaan, bekerja lebih lama dan lebih keras daripada kolega-kolega di kantor. Bukan. Bukan karena saya berambisi cepat mendapatkan promosi apalagi untuk cari muka di depan bos. Saya hanya ingin menyibukkan pikiran, kerena dengan begitu saya bisa mengalihkan pikiran dari kenangan-kenangan yang rasanya selalu siap menyeruak dan menghimpit saya setiap saat. Empat tahun bersamanya menyisakan kenangan yang tidak sedikit.

Itu dulu, satu tahun yang lalu.

Sekarang, saya sudah berdamai dengan takdir dan sedikit demi sedikit bisa merelakan kepergiannya. Saya harus mengakui, ini tidak lepas dari bantuan sahabat saya, makhluk satu-satunya di dunia ini, satu-satunya sahabat di antara sahabat-sahabat hetero saya yang tahu mengenai kelesbianan dan hubungan saya dengan mantan partner. Entah kesambet dewi kebijakan apa, kata-katanya dan penguatannya mampu menimbulkan kesadaran baru buat saya. Saya harus terus melangkah. Sudah saatnya saya hidup di masa sekarang.

Kini saya tidak lagi hidup dalam masa lalu dan penyesalan. Saya sangat berterima kasih padanya.

Kesadaran ini membuat saya perlahan menjadi manusia normal kembali, yang bisa merasa jenuh setelah bekerja keras belakangan ini. Yeah , nampaknya saya ini memang workaholic tulen, meskipun sudah terlepas dari embel-embel kenangan masa lalu. Mungkin saya butuh refreshing .

Saya mulai mencari-cari nama di daftar kontak yang kira-kira bisa diajak jalan saat weekend nanti. Jari saya berhenti memencet tombol HP ketika sebuah nama muncul di layar. Hillary. Saya jadi bimbang. Telepon, nggak, telepon, nggak, telepon. Ya, telepon. Tapi kalau saya telepon, maukah dia menjawab setelah apa yang saya perbuat terhadapya?

Hillary adalah seorang gadis yang muncul di hadapan saya di saat saya sedang dilanda kesedihan dan frustrasi ketika putus dengan partner. Waktu itu saya dan partner memang sempat putus sebelum saya mengetahui tentang penyakit yang dideritanya. Meskipun tanpa saya sadari kehadiran Hillary sempat menjadi bagian dari hari-hari kelabu saya. Tapi apalah daya, saat itu saya sedang terluka. Apalagi setelah kepergian partner kala itu membuat saya menolak Hillary. Saya katakan padanya, “Aku tidak bisa menerima apa yang kamu tawarkan. Tidak untuk saat ini dan entah sampai kapan.” Ada kesedihan dalam sorot matanya dan sejak saat itu dia tidak pernah lagi menghubungi saya.

Mengingat hal itu membuat hati saya ciut. Bagaimana jika dia membenci saya? Ah, tapi kalau tidak dicoba mana saya tahu? Lagi pula yang paling parah yang bisa terjadi mungkin saya akan kena damprat, dan saya siap kok menerima dampratannya. Saya memencet tombol Call dan menunggu nada sambung. Hmm, RBT-nya lumayan enak didengar. Saya menjadi sedikit rileks. Tapi seketika tubuh saya jadi kaku saat mendengar suaranya di seberang. Dia menjawab telepon saya!

“Kuanggap ini sebagai kencan kita yang pertama,” kata Hillary. Senyumnya manis juga, pikir saya dalam hati lalu membalas senyumannya. Sebagai seorang gadis yang saya kenal periang dan tidak bisa diam, hari itu dia benar-benar sedang minim kata. Alias lebih banyak berdiam diri. Hingga akhirnya dia berkata lirih, “Aku akan melanjutkan sekolah di Beijing.” Tenggorokan saya mendadak kering. Saya hanya bisa terdiam tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

***

Hari ini, ketika saya menulis tulisan ini, adalah hari di mana Hillary berangkat ke Beijing. Kata-katanya saat di restoran masih terngiang-ngiang di telinga saya.

“Kamu tidak pernah mengatakan alasan kamu menolakku dulu. Aku mencoba mengira-ngira sendiri alasannya. Usia? Ya, usia kita memang beda jauh. Sembilan tahun. Ditambah lagi aku ini teman adikmu. Patah hati? Ya, mungkin kamu sedang patah hati saat itu. Tapi kukatakan padamu, aku aku akan selalu menunggumu. Orang tuaku? Ya, mungkin kamu takut orang tuaku tahu jika kita menjalin hubungan. Mungkin kamu mengira aku ini hanyalah seorang anak kecil yang harus dilindungi. Kukatakan kepadamu, aku sudah mengalami hal yang terburuk. Aku diseret seperti binatang oleh ayahku di hadapan semua teman-temanku karena kelesbiananku. Tidak ada lagi yang lebih buruk dari itu. Dan, jika kamu menahanku, aku akan membatalkan kepergianku ke Beijing.

Entah dia membaca tulisan saya ini atau tidak. Bagi saya, kehidupannya masih sangat panjang dan masa depan yang lebih cerah telah menantinya. Saya tidak bisa menahannya. Saya ingin menahannya. Tapi untuk apa? Menahannya untuk kebahagian kami berdua? Bisakah kami bahagia jika harus main kucing-kucingan dengan orang tuanya? Saya ragu. Menahannya untuk memberi saya kesempatan untuk belajar mencintainya? Rasanya ada orang lain yang bisa lebih mencintainya dibanding saya. Yang saya tahu, dia pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik.

Rasanya salah jika dia harus mengorbankan masa depannya. Demi apa? Demi saya? Yang benar saja! Terlebih setelah apa yang saya lakukan terhadapnya. Saya sudah melukainya. Saya hanya bisa mengatakan maaf. Ya, maafkan saya . Saya hanya berharap dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik. I wish her the best in her life.

Menyesal? Ya, sedikit. Tapi sepertinya kali ini saya bisa melewatinya dengan mudah. Sekarang lengkaplah sudah, saya menjadi seorang workaholic dan jomblowati (hehehe). Seperti kata sahabat saya, “Jangan terus-terusan hidup dalam penyesalan. Nikmatilah hidup ini selagi masih bisa. Ngejomblo ? Enjoy aja! Workaholic? Itu terserah lo.”

Tentang Rae: seorang kuli berkerah putih di sebuah shipping company bagian marketing, maniak buku dan film, mocca latte freak, doyan kuliner, dan yah, mau tidak mau, si workaholic

15 Comments »

  • Harry said:

    Hidup cuma satu kali, jadi jangan mati berkali-kali…kesedihan yang mendalam dan berlarut2, prustasi plus putus asa, membiarkan diri deep depretion, dendam dan kebencian yang sampai karatan…itu sama saja dengan pengulangan kematian, hehehehe…

  • Kyra said:

    Smangat bro!!!
    hdup musti blanjut. . . dnia g akn brenti cuma bwt 1 alsan,menunggu qt yg membeku. so. . .musti lari lg yuk ngejar yg d dpan. ,

  • jean romanza said:

    Cerita yg bagus…akan lbh menyenangkan jika bisa mengenal penulis secara lsg (salam kenal regina…)

  • lifeishappi said:

    love this :) .

  • flapuding said:

    Wah gila.kok byk cerita yg pada ditinggalin someone ke negri tirai bambu yah? Hahaha
    SEMANGAT sist! Pasti kl jodoh ktmu juga hohoho :)

  • heiisersin said:

    gak terbayang sedihnya kalo harus kehilanngan partner karena ajal menjemput, mungkin sakitnya jauh berkali2 dibanding diselingkuhin atau diputusin tanpa reason yang jelas ya…tik tok tik tok, time’s ticking…let’s not waste it :) cheers

  • sun shine said:

    kalo jodoh emg gak akan kmana,, aq hrp x’an bs brsatu kelak,chemistryx udh dpt bgt!! salut bwt regina udh bs move on n cheer up lg :)

  • zizi said:

    sweet :)

  • Regina said:

    @jean romanza: hai jean, salam kenal juga :)

    @all: terima kasih atas dukungannya :)

  • jenny said:

    maniak buku dan film – check
    doyan kuliner – check
    marketing – check
    Those are the similarities. Salam kenal ya =)

  • tiek said:

    ungkapan hati yang indah …
    aku mengingatkan jangan lama-lama menjomblo
    ntar kalau berkarat …
    gimana?
    segera dekati teman-teman, barangkali ada salah satu ada yang cocok …
    nah tembak dan jadikan belahan jiwamu

  • Hyuga said:

    Wow keputusan yang hebat! I like your personal decision !

  • rani said:

    jiah..kalo msh cinta kejar dong smpai ke ujung dunia.pacarku aja bs keluar dr ms lalunya y sm kelamny seperti qm.dan gw y jd pacar ny skg aja beda umur 8 tahun bs bahagia kpn lg kejarlah dia…

  • dashboard said:

    keren.. sob…

  • Sa Chi said:

    Bagaikan makan buah simalakama..

    Di satu sisi, qt sangat2 mencintai dia, tp di sisi lain qt jg ga mau egois mengekang masa depan..

    Let it flow aja kali yaaa..

    Pd akhir’y sang air akan menemukan muara’y..

    Klo kalian brjodoh, kalian pasti bersatu ^_^

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.