te.Lez.kop: Mirror, Mirror on the Wall
Oleh: Shinigami
Saya yakin, hampir semua dari kita mengenali frase yang menjadi judul artikel kali ini. Ya, apalagi kalau bukan penggalan awal pertanyaan si ratu jahat di cerita Putih Salju kepada si cermin tentang siapa yang paling cantik di seluruh negri. Bagi yang menerjemahkan judul tersebut ke ranah dunia kecantikan dan sudah siap-siap mengikuti pembahasan tentang perawatan wajah, dengan berat hati saya harus mengecewakan Anda. Saya tidak akan membicarakan si ratu–saya tidak sedang mood membicarakan narsisme akut yang jamak ditemui di diri manusia zaman ini yang membuat mereka merasa perlu mengarahkan fokus segala sesuatunya kepada diri sendiri. Sebaliknya, saya mencoba mengajak kalian melongok posisi si cermin barang sejenak.
Saya yakin kita cukup sering berada di posisi si cermin, yaitu ketika seseorang mengharapkan kita mengeluarkan suatu pernyataan atau pendapat mengenai sesuatu, khususnya yang berkenaan dengan diri si penanya tersebut. Ambil contoh ketika pasangan baru saja potong rambut di salon kelas yahud dan memamerkan potongan rambut itu kepada kita. Malangnya, potongan rambut itu, menurut kita, tidak cocok baginya karena membuat wajahnya yang bulat semakin bulat, sementara pasangan tak ingin terlihat chubby. Nah, jawaban apa yang harus diberikan? Kedengarannya seperti situasi buah simalakama ya? Dimakan kita mati (baca: dicemberuti seharian, dicuekin, dianggap tak mengerti mode), enggak dimakan pasangan yang celaka (baca: jadi bahan omongan temen-temen suka gosip yang berspekulasi berat badannya pasti naik paling tidak dua kilo).
Entah dengan kalian, yang pasti, saya memilih tetap menjadi si cermin ketika ia berkata, “Yang paling cantik di seluruh negeri tak lain dan tak bukan adalah Putih Salju.” (Ya, ya, mungkin saja bukan persis begitu kata-katanya, tapi intinya sama, kan?) Dengan kata lain, saya memilih untuk berkata jujur. Bukankah itu membahayakan diri sendiri? Yeah, well, berkata jujur memang acap bukanlah pilihan yang bebas risiko. Saya rasa, ketika menyebutkan nama Putih Salju pun, si cermin menghadapi konsekuensi murka sang ratu yang mungkin akan membantingnya hingga hancur berkeping-keping. Tetapi si cermin toh tetap melakukannya.
Terlepas dari kenyataan bahwa si cermin adalah benda mati- yang meskipun sakti, tentu tak akan merasakan sakit hati seperti kita bila menanggung marah pasangan-menurut saya ada dua alasan mengapa kita tetap harus berkata jujur. Alasan pertama adalah kepercayaan. Ketika pasangan bertanya sedemikian rupa kepada kita, itu artinya ia memercayai kita. Ia percaya kita bisa menjadi orang yang akan memberikan jawaban yang sebenarnya. Ia sungguh menganggap serius pendapat kita. Apakah kita rela menistai kepercayaan semacam itu dengan memberikan kepalsuan? Memang, bisa saja ia mengharapkan jawaban yang indah semerbak taman bunga, tetapi apalah artinya itu bila kebohongan belaka? Bagi saya, bila ia sudah sedemikian rupa menganggap penting pendapat saya, maka saya haruslah “berterima kasih” dengan memberikan jawaban yang sebenarnya.
Alasan kedua adalah cinta. Tunggu, sebelum kalian muntah-muntah sambil menuduh saya hiperbolis sok romantis, biarkan saya menjelaskan. Bila kita mencintai seseorang, kita tentu menginginkan yang terbaik bagi orang tersebut, bukan? Nah, bila yang terjadi bukanlah yang terbaik baginya, apakah kita malah memuji-mujinya, membiarkan dia terkungkung ilusi bahwa yang dia miliki atau tunjukkan adalah hal terbaik yang dimilikinya? Apakah kita rela ia menjadi bahan tertawaan atau gosip orang hanya gara-gara kita tidak berkata sejujurnya? Tidakkah lebih baik kita mengatakan yang sebenarnya sehingga hal yang kurang baik itu bisa diperbaiki sedemikian rupa? Cinta bukan berarti selalu menuruti pasangan dan selalu memberikan apa yang diinginkannya.
Meski begitu, ada satu hal yang harus diingat: jujur tidak sama dengan kejam. Bayangkan jika si cermin menjawab ratu dengan berkata, “Yang paling cantik? Aduh, jangan berharap kamu lah ya. Masa muka tirus trademark penderita bulimia/anoreksia gitu mau bersaing dengan pipi kemerahan Putih Salju? Enggak level. Udah jelas menang Putih Salju!” Saya jamin cermin itu sudah dibanting-banting hingga serbuk dan orang yang melihat pasti menyangka dia adalah setumpuk glitter warna perak. Intinya, kejujuran kita juga harus ditopang dengan penyampaian yang pas dan tak menyinggung perasaan. Bila memang kejujuran itu sendiri tak terlalu menyenangkan, saya rasa tidak perlulah kita menambahkan goresan dari duri kata-kata yang membungkusnya. Yang kita lakukan adalah menyampaikan kejujuran, bukan menyiksa atau berbahagia di atas penderitaannya. Kalau perlu, kalimat penghibur dapat disertakan setelah pernyataan jujur kita.
Jadi, kalau memang potongan rambut pasangan yang tidak murah itu malah membuat wajahnya terlihat lebih tak menarik dari sebelumnya, mungkin yang bisa kita katakan adalah, “Tidak terlalu menonjolkan kelebihan wajah kamu sih, Sayang. Kamu mungkin terlihat sedikit lebih chubby dari sebelumnya. Tapi tenang, enggak lama rambut kamu pasti akan panjang dan kamu bisa memilih model rambut yang lebih bagus dari yang sudah-sudah.” Jangan lupa tersenyum manis dan mencium lembut pipinya ya.
@Shinigami, SepociKopi, 2010









Udah chubby jerawatan pula, duh..rasanya pengen pecahin aja tu cermin T_T tp untungnya cepet nyadar kalo selama ini partner jg gak banyak ngeluh, protes atau bahkan maksa2 aku tuk pergi ke ahli gizi..aku sadar yg diucapkan cermin ttg aku pasti bakal bikin aku bete, makanya sebelum tu cermin berkata jujur,aku buru2 nyambar dan berkata lantang “aku cantik, aku cantik, aku cantiiiiik..!!!^__*
yup..walo kdang kejujuran it pahit tp bila it bs menjadikan nilai positip bt partner kita..why not..
konsekuensi ya mgkn akn ad sdkit kurang kesepahaman..
tp bukanna blang apa adanya lbh baek drpd harus pura2 ‘jujur’ hanya dgn mengatakan yg indah2 saja..
so just being honest,discuss and then give solution
nice artikel..tepat buat gw yg sering kali susah buat muji pasangan,krn gw tau kata2 yg pas..^^
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments