Home » Sepocikopiana, Spiritualisme, Twilight Zone

Jazirah

10 March 2010 264 views 13 Comments

Oleh: Ade Rain

Peta yang sejak tadi berada dalam genggaman, kubentangkan di atas meja bundar, menyajikan menu utama. Sosok-sosok yang mengelilingin meja bundar mengerumun, berapa tangan langsung menunjuk bagian-bagian penting wilayah perladangan. Sesosok tubuh menjulang menyeruak, lalu berdehem sejenak.

”Jadi bagian ini tak boleh kami sentuh?” tanya memastikan.

Seseorang yang lebih tua mempersilakanku berbicara. Meski mereka penduduk asli yang lebih paham situasi sekitar, tetap kuingatkan mereka beberapa bagian sisi oase. Tebing-tebing terpacak indah di ceruk tanah yang sering didiami gerombolan kambing gunung terlarang dirobohkan, kecuali mereka siap bertempur dengan para Nomad.

“Ini,” Aku mengarahkan pena dari kanan ke kiri hingga terhenti pada oase yang harus dibendung. “Di sana sumber air para gembala, ratusan unta dan domba para Nomad biasanya mengambil sisi utara, sehingga tak menggangu perladangan petani.”

Ia mengangguk mendengarkan penjelasanku, lalu beberapa saat kemudian suara riuh rendah kembali berdengung memenuhi basecamp.

Padang pasir itu luas membentang. Angin mulai mengembusi pasir gurun dan bulan di atasnya menyisakan bau malam. Bintang membentuk garis-garis melintang sekilas tak beraturan, titik-titik sinar membuat coretan di langit pagi yang membiru. Beberapa goresan cahaya seakan-akan menyeringaikan senyuman. Padahal beberapa saat yang lalu hamparan pasir di depan tenda baru saja tersiram air sembahyang yang dibuang begitu saja usai Subuh tadi, tapi iring-iringan kuda baru saja mengeringankannya.

Kaki kuda terakhir berhenti tepat di depan basecamp-ku. Sosok pria itu berhenti di sana. Wajahnya berbalut sorban, hanya menyisakan hidung dan mata. Ia tampak berupaya menenangkan tunggangannya, ketika menatapku yang berdiri menyambut kedatangan mereka ia seolah memohon agar aku ikut menenangkan kudanya. Ia pria aneh yang sukses membuat jantungku berulang kali mengaduh. Aku mengenalnya sebagai pria berdesain gagah menjulang, layaknya figur pemimpin pasukan pejuang bersuara murai. Ia satu dari sepuluh ahli bendungan yang dikirim Raja untuk memperbaiki oase yang mengaliri ladang kurma petani.

Setelah pertemuan warga pesawangan gurun, para ahli ini hampir setiap malam mengelilingi api unggun tak jauh dari pemukiman penduduk. Sejak menjadi mediator antara warga dan para arsitek, ia kukenal sebagai seseorang yang bicaranya amat terbatas, sosok yang tak pernah pembuka sorban penutup wajah. Angin padang pasir memang mengirim panas mengigit, semua orang memaklumi gayanya, kecuali aku. Ia membuatku penasaran sejak sorban masih menutupi ke setengah parasnya. Sementara wajah-wajah ahli lain dilepas bebas. Tipikal arab dengan roman muka tanpa kumis, cambang hitam rapi dibiarkan membujur dari kanan ke kiri dagu seolah pulau-pulau dengan pantai yang jernih dan bersih.

Pada pertemuan yang ke sekian kali, kemah bermesin pendingin dengan meja bundar ditengahnya, kursiku berseberangan dengan si muka tabir.

“Jangan mengadu domba kelompok warga ini, karena para Nomad sering beranggapan tidak adil sebuah oase mengaliri seluruh ladang petani.

Bagian sisi utara sama sekali tak boleh kalian sentuh. Petani dan para Nomad pernah tumpah-tumpahan darah hanya untuk sumber mata air ini.” Kataku tegas.

Ia jeli memerhati peta lalu dengan bahasa teknis membuat rumus-rumus kalkulasi rumit. Setelah pembicaraan semakin sulit kucerna aku berniat meninggalkan ruangan. Bukan tugasku merancang dan mendesain mashalat bendungan tersebut.

Tapi baru beberapa meter aku beranjak, seseorang memanggil namaku, si muka tabir. “Bisakah kamu uruskan pertemuan dengan dua kelompok itu besok?” Suaranya jernih, ranum, riam air, melodi bernada rendah, dan bulat.

“Baik.” Aku langsung berbalik memunggunginya, namun suara itu masih terngiang, aksen kental gurun pasir.

Perkemahan mereka berada di sisi barat, mentari tenggelam di belakangnya membentuk siluet bukit-bukit kerucut hitam. Dari balik dinding tempatku berdiam tempat mereka bagai kumpulan semak belukar, aku bisa melihat mereka dengan bebas. Orang-orang bagai kelinci liar keluar masuk, dan hatiku terpaut pada kelinci bertabir. Hari ketika memediasi suku-suku bertikai itu, aku memergoki tapak tangannya yang bersih dengan kuku-kuku panjang membesar. Punggung tangannya jernih, tapi tangguh bagai pelepah kurma mengilat, ia berhasil menyedot seluruh energiku ke situ.

Pada pertemuan yang kesekian kali, ia memintaku agar tinggal sejenak bersamanya. Ada sesuatu hal yang teramat penting yang harus ia ungkapkan.

“Persoalan ini jauh lebih rumit dari merancang bendungan itu. Sesuatu yang harus kamu tahu.” Ia duduk diam, menunduk, seolah ada sesuatu menempel di sepatunya. “Setelah mengetahui, mohon jangan lagi canggung padaku.” Bicaranya semakin berat, seolah-olah apa yang akan ia ucapkan wasiat penting yang harus kucatat.

Aku mengangguk, mencoba mengerti, sejujurnya aliran darahku tersendat-sendat di ujung jari. Pelan-pelan ia membuka sorban penutup wajah itu. Darahku berdesir.

Oh Tuhan!

Sejak itu, malam-malam dingin membuat terjagaku dua kali lebih panjang dari malam biasa, nyaris setiap pagi aku berharap akan tumbuh tunas-tunas tanaman baru di pasir gurun tempat berpijak. Pria itu, eh bukan… perempuan berbalut jubah lelaki dengan wajah tertutup lilitan sorban sukses memenjara waktu-waktuku dari memikirkan hal lain kecuali dirinya. Sering aku buntu pada pertemuan-pertemuan sore selanjutnya, seperti pisau tumpul yang tak sanggup membelah apapun. Hanya mendengar perkembangan-perkembangan terbaru tanpa sanggup berkata-kata.

Suatu hari usai zhuhur, ia menghampiri ruanganku di bagian proyek itu, membawa sebuah peta.

“Percayakah kamu bahwa oase besar ini ternyata sebuah kawah gunung api dan masih aktif, ribuan tahun dulu letusannya teramat dashyat…” Ia mengambil tanganku mengarahkan ujung pensilku pada peta. Darahku mendesir, aroma tubuhnya uap embun segar yang membuka pori-pori. Kakiku kaku seolah takut seekor kumbang yang menempel di kulit akan beranjak pergi. Sungguh aku tak bisa melupakan hari itu.

Ah aku benci waktu-waktu technical meeting-ku yang bengong dan tumpul.

Hingga pada suatu waktu, ia menghentikan langkahku ketika ruangan sepi. Menarik jemari tangan perlahan, kemudian memasukkan apik pada genggaman jemarinya. Ia menghela nafas panjang, tanpa suara, menundukkan kepala seolah tengkuknya tak lagi bertulang.

“Sesuatu yang aneh terjadi padaku.” Suaranya gagu.

Ia membuka tabir muka, melupakan pakaian pria itu, merapatkan buah dadanya yang penuh pada buah dadaku, membenamkan kepalaku pada buku bahu, lalu perlahan merenggang. Bibir merapat pada dahi, dingin. Nafasku pasrah memburu, seperti tikus padang pasir yang keletihan menghindar elang. Tangannya yang besar merengkuh penuh genggaman, membisiki mantera paling indah yang kudengar dari seorang penyihir, rumus paling sederhana yang kudengar dari seorang ilmuwan, konsep sketsa bangunan paling akurat yang diucapkan dari bibir seorang arsitek. Ruhku terpilin-pilin, jiwa bergairah itu tergagap bingung mengelana kegelapan. Pada dinding bendungan setengah jadi hati kami menyerap kemilau cahaya, memijarkannya kembali seiring aliran oase. Sejak itu pula binar-binar mata kami menambah taburan bintang di langit jazirah, melengkapi cahaya serangga malam yang berjeda-jeda menyinari pelepah-pelepah kurma…

@Ade Rain, SepociKopi, 2010

13 Comments »

  • 14 said:

    Wuih…!!! mantapnya tulisan AR.Te O Pe (pinjam istilahnya ya)Mampu menggiring ruh dan jiwa ini pada romansa dan keindahan perempuan jazirah di balik sorban…sepertinya kurang asyik kalo gak ada sambungannya….ibarat menyantap makanan, baru mencicipi seujung sendok, belum terasa utuh nikmatnya……so di tunggu lanjutan tulisan ini……..Bravo rain!!!

  • dhani said:

    superbly written. u should make a whole book of this.

  • tweet-tweet said:

    i love you Ade Rain!..

  • Dan M said:

    Kisah yang bagus. Adakah kelanjutannya?
    Tapi, saya langsung bisa menebak, siapa sosok dibalik sorban itu.
    Tapi saya tidak sampai kepikiran, ternyata sosok dibalik sorban itu, punya perasaan sama AR.
    Cinta datang karena terbiasa.

  • Tim said:

    Ingin hati jadi si muka tabir namun, apa daya aku yg hanya seorang masbuq.
    Nice :)

  • Harry said:

    Wwoooowwww…mendebarkan.!!.:)

  • Belva said:

    bener2 menjadi oase di tengah keringnya tulisan2 yang menggetarkan jiwa lesbian…ditunggu novelnya ya Rain!!^__*

  • Kyra said:

    sumpah, nafasku g kalah trburu2 lwat kerongkongan, ia pazti menang dri tkuz dlm pngejaran it. . .oh. . Rain. . .terlalu menyeretku untk kembali. . .jd pngen corat coret lg. . .

  • lee said:

    keren!

  • joice said:

    aq suka banget ceritanya, eksotis, ga drama-drama

  • antea said:

    seperti biasanya AR mempesona bak oase yg menyembul di gurun…..

  • Juno Bis said:

    So sweet and beautiful! Love you, lil-sis Rain.

  • kiora said:

    Aku baru baca artikel yg ini. Mantap bgt spt biasanya… U are my favorit writer in SK, Ade rain! :-)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.