The Little Writer
Oleh: Manies
Secara keseluruhan, saya menyuarakan diri saya sebagai penulis. Saya melabelkan diri saya sebagai penulis. Saya mengaku sebagai penulis. Dan saya merasa sebagai penulis. Intinya satu, saya memang penulis. Separah apapun tulisan saya, saya tetap penulis. Dan hidup untuk menulis. Mau di maki-maki, mau dipuji, saya tetaplah penulis.
Dan saya berharap tulisan saya dihargai meskipun jelek. Kritik adalah nafas buat saya. di mana saya dapat melihat pandangan orang lain tentang tulisan saya. Mereka boleh menghina tulisan saya seenaknya. Bukan masalah. Dihina pun saya senang karena menurut saya, artinya tulisan saya dihargai. Bukan masalah.
Apa definisi “dihargai” menurut saya? Saya mau orang yang membaca tulisan saya “menghargai” buah pemikiran saya, “menghargai” tujuan tulisan saya, “menghargai” apa yang saya mau. Kalau memang ada kesalahan dan kejanggalan dalam cara tulis saya, saya tak keberatan disuarakan! Tidak akan pernah keberatan. Orang sukses peka terhadap kritik, tapi tidak menghindari kritik.
Belakangan ini saya hobi mempublikasikan tulisan saya lewat notes. Fasilitas dari jejaring sosial yang sedang beken-bekennya, Facebook. Saya mengangkat sebuah cerita yang memang bertema lesbian sesuai yang saya inginkan. Saya hanya ingin melihat pendapat orang-orang tentang tulisan saya, apakah itu cocok dikonsumsi orang banyak? Saya berusaha menjadi orang yang terbuka dan memiliki pola pikir positif, juga dapat menerima kritik dengan lapang dada (dan lapang otak).
Melalui notes itu saya men-tag dua dunia saya lewat Facebook. Dunia Lesbian dan dunia nyata saya dengan para teman straight saya. Mereka memang belum mengetahui identitas saya yang sebenarnya, dan itu bukan masalah menurut saya. Saya suka menulis. Saya menulis tema apapun yang menurut saya menarik.
Inti yang mau saya bahas kali ini tentang tulisan saya. Beberapa teman lesbian saya memberikan tanggapan yang positif dan sedikit kritik, yah saya menerimanya dengan lapang otak tentunya. Yang menjadi masalah adalah teman straight saya. Kita hidup di dunia ini tidak sendiri, kita hidup bersama orang lain, di mana kita harus memiliki rasa simpatik dan toleransi yang tinggi. Entah mengapa, kedua hal itu tidak dimiliki oleh para teman straight saya.
Hingga akhirnya di suatu malam, salah seorang teman lesbian saya mengirimi SMS. Yang perlu diketahui, teman saya ini adalah seorang musisi yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai reviewer penerbit. Yah, komentator mungkin istilahnya. Dia yang memberi pendapat apakah novel itu pantas diterbitkan atau tidak. Masukan darinya pasti sangatlah berharga untuk saya.
“Eh, sorry ya, elo jangan tersinggung. Tapi gue mau ngomong sesuatu. Gua rada kesel sama temen-temen straight lo.”
“Emang kenapa dengan mereka?”
“Mereka segitunya sih sama lesbian? Bilang jijik. Munafik.”
Saya mengecek kembali komentar-komentar yang dilayangkan oleh para teman-teman straight saya. Yah, setelah di teliti lagi, wajar saja kalau teman lesbian saya ini tersinggung. “Ceritanya sih bagus, tapi kok temanya lesbian gitu sih? Elo tau sendiri gua rada jijik sama lesbian.” Atau “Over all, cerita lo sih bagus. Tapi sayang aja tema lesbiannya agak mengganggu.”
Apakah mereka sedang bersikap tidak adil? Sekarang saya yang serba salah. Di satu sisi, mereka adalah teman-teman baik saya selama di sekolah. Saya bertatap muka dengan mereka setiap hari, sehingga saya mengetahui betul cara berpikir mereka. Sekarang saya ingin menyuarakan buah pemikiran saya segamblang-gamblangnya. Memang, saya berusaha menjadi orang yang objektif dan mau melihat dari dua sisi, dalam kasus ini, melihat dari sisi teman-teman straight saya.
Anggaplah teman saya ini adalah homophobia yang suka semena-mena terhadap kaum homoseksual dan mencerca mereka. Saya bukanlah si Superman siang bolong yang datang tiba-tiba untuk mengangkat harkat martabat para lesbian atau menjadi rumah tempat mereka dapat berlindung di bawah tulisan-tulisan dan kata-kata saya. Saya hanyalah seorang penulis. Penulis yang sebetulnya memang sedang menguak dunia lesbian secara lebih luas sehingga mengubah persepsi dan pandangan orang-orang selama ini tentang lesbian. Lewat sebuah karya.
Tidak mudah mengerti dunia itu. Tidak selamanya hubungan lesbian itu menjijikan; tidak selamanya lesbian itu identik dengan perpisahan dan kesedihan. Terkadang kita harus bisa menerima bahwa setiap manusia mengaplikasikan perasaan dan cinta mereka dengan caranya masing-masing. Dari tulisan saya, saya ingin menciptakan dunia saya sendiri yang (harapannya) cocok dikonsumsi remaja, tidak hanya “kalangan tertentu”. Harapan saya bisa diterima di kalangan luas agar orang-orang tidak akan merasa segan untuk melakukan kontak dengan para lesbian karena lesbian pun bisa menjadi orang hebat. Itulah pekerjaan seorang penulis.
@Manies, SepociKopi, 2010









Semangat sist.,!!
Aku baru baca tulisanmu, menarik buat dibaca dlm suasana hati yg waras.
Yg merasa kurang waras jangan baca ya…!!
yah mau gimana lagi mbak maniez, mreka kenalnya sama lesbian yang kelakuannya ajaib binti vulgar
jangankan orang hetero, saya aja homophobia..
Preferensi orang memang beda-beda… seperti halnya kita yang mungkin lebih senang dengan tema LGBT karena lebih dekat dengan keseharian kita, mereka juga bisa lebih suka tema yang straight yang dekat dengan keseharian mereka…
Saya pikir, tidak salah jika mereka mengutarakan kesukaan atau ketidaksukaan mereka. Selain bisa menjadi kritik, kita juga jadi punya gambaran berapa persen oang yang mungkin tertarik untuk membeli dan membaca buku-buku LGBT dan berapa persen yang mungkin masih ragu dan untuk menyentuhnya saja merasa enggan.
Namun, pastinya cara dan pilihan kata-kata yang mereka gunakan yang mungkin bisa diperhalus… Mereka juga pasti merasa tidak nyaman dan teringgung, kan, jika mereka menulis sesuatu kemudian dikomentari, “Tulisannya sih bagus. Tapi, lo tau sendiri, kan, gue rada jijik sama cowok dan hubungan straight???”….”^_^)>
qlo aq nuliss jg d.fb …
tp iyg ad aq malahh d.gosipinn lesbii d.skola …
tp ituu emg knyataan sich …
wlopun gtu q kann ngga trima aib di sebbar” ….
Salut dengan keberanian lo
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments