Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Aborsi dan Kita

9 March 2010 144 views 2 Comments

Elwen_is_pregnant_by_VyrLOleh: Nuha Guwa

Ruang pemeriksaan pasien sontak riuh, caci maki keluar dari ruang tunggu tempat kerja adik sepupuku. Seorang remaja dan perempuan parobaya memukul meja praktek, kemudian melengos pergi meninggalkan ruang pemeriksaan yang langsung hening. Dua perawat mencoba tersenyum saat aku mencari tahu apa yang terjadi. Sebagai persyaratan mengambil program pendidikan spesialis, salah satu syarat dokter-dokter lulusan segar harus mengabdi di daerah terpencil selama kurun waktu tertentu. Adik sepupuku yang cita-citanya selama ini bekerja di tempat terpencil memilih sebuah rumah pengobatan di pedalaman. Pahitnya ternyata klinik-klinik kecil tersebut sering di jadikan sasaran aborsi seperti permintaan dua perempuan tadi.

Pada umumnya jika seseorang ingin melakukan aborsi memang tempat terpencil yang menjadi pilihan, kota-kota kecamatan seperti tempat sepupuku berdedikasi. Barangkali banyak yang berpikir tempat tersebut takkan mudah diendus. Sepupuku tadi mengaku dalam satu bulan sedikitnya lima orang dengan aneka alasan memohon aborsi. Pelakunya pun beragam, mulai dari ibu-ibu sampai perempuan usia belasan. Alasan ibu-ibu melakukan aborsi memang usang: takut tak mampu membayar biaya melahirkan, tak ada biaya membesarkan anak, anak-anaknya sudah banyak, alasan gaji suami nggak cukup buat satu anak lagi, dan alasan ecek-ecek lainnya. Bagi yang remaja biasanya mengaku korban perkosaaan, dicabuli saudara, ketika digagahi nggak sadar, aih intinya terlalu mengarang.

Yang menggelikan menurut adikku, ternyata pasien yang mengamuk kayak di atas tadi itu ternyata pemandangan biasa bagi dokter-dokter di pedalaman ini. Yang lebih parah dan paling capek bukan sama yang marah-marah seperti tadi, tapi kalau pasien tersebut yang merengek-rengek dan tidak mau pulang. Kalau sudah begitu biasanya adikku akan bilang begini,

“Mbak, pasti Mbak sudah mencoba dikeluarkan dengan cara yang lain-lain (baca: aneh-aneh) kan? Pasti sudah minum obat macam-macamkan? Nah, kalau sudah, saya akan beri obat untuk menjaga pendarahannya agar tidak terlalu hebat.”

Sret sret sret.
Ia menuliskan resep “vitamin”. Si pasien tadi akan segera keluar ruangan dengan besar hati bersama resep aborsi palsu. Konyolnya ini juga berbahaya. Jika pelaku melakukan cara-cara aneh di luar sana, dokter bisa dijerat hukum karena dianggap memberikan pil kepada si pemohon tadi. Namun menurut adikku, kalau tidak seperti itu, konon pasien akan tinggal di ruangan sampai seorang dokter akan bersedia membantu aborsi. Menurutnya malah pernah seorang pasien memohon sambil memegang-megang kakinya. Oh lala! Baiklah, saya bukannya tidak mau menceritakan pengalaman adikku yang menjadi dokter pedalaman, tapi tulisan ini tentang aborsi. Mari kembali ke subyek utama.

Aborsi atau gugur kandungan, yang dalam bahasa Latinnya abortus adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Dalam ilmu kedokteran ada beberapa istilah untuk membedakan aborsi. Spontaneous abortion yakni gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami. Induced abortion atau procured abortion, pengguguran kandungan yang disengaja, termasuk di dalamnya therapeutic abortion, pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan. Eugenic abortion adalah pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat. Elective abortion yakni pengguguran yang dilakukan karena alasan-alasan lain. Dalam bahasa sehari-hari, istilah “keguguran” biasanya digunakan untuk spontaneous abortion, sementara “aborsi” digunakan untuk induced abortion atau abortus provocatus criminals.

Menjalani kehamilan memang berat, apalagi kehamilan yang tidak dikehendaki. Terlepas dari alasan apa yang menyebabkan kehamilan, aborsi dilakukan karena terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Namun boleh tidaknya aborsi mengundang kontroversi. Ada yang berpendapat bahwa aborsi perlu dilegalkan dan ada yang berpendapat tidak perlu dilegalkan. Jika diperdebatkan kira-kira sisi positifnya begini. Pelegalan aborsi dimaksudkan untuk mengurangi tindakan aborsi yang dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten, misalnya dukun beranak. Sepanjang aborsi tidak dilegalkan maka angka kematian ibu akibat aborsi akan terus meningkat. Nah, negatifnya tentu kita juga tahu bahwa, aborsi berarti pembunuhan. Ada yang melarang atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.

Jika aborsi untuk alasan medis, umumnya aborsi tersebut dianggap legal. Untuk korban perkosaan, masih di area abu-abu. Aborsi tersebut masih “diperbolehkan” walaupun tidak semua dokter mau melakukannya. Kasus perkosaan merupakan pilihan yang pahit. Meskipun bisa saja kita mengusulkan untuk memelihara anak tersebut hingga lahir dan diadopsi oleh pasangan lain yang menginginkan seorang bayi, itu semua tergantung atas kematangan jiwa si ibu dan dukungan masyarakat agar anak yang dilahirkan tidak sia-sia dan dilecehkan masyarakat.

Kita tahu banyak lesbian muda yang tengah mencari identitas diri masih mencoba-coba menjalin hubungan dengan lelaki untuk memastikan orientasi seksualnya. Namun sayang banyak yang malah kebabalasan, akhirnya hamil di luar nikah dan lelaki yang diharapkan bisa mengubah orientasi seksual tadi tidak bertanggungjawab. Apa solusinya? Pemecahannya tentu bukan dengan cara pintas. Prinsip melegalkan aborsi, sama seperti prinsip lokalisasi prostitusi. Banyak celah yang justru akan dimanfaatkan untuk alasan kejahatan. Sebagai lesbian kita berhak dan harus melindungi diri dari tekanan dan eksploitasi orang lain, termasuk desakan siapa pun agar mau melakukan aborsi. Pikirlah baik-baik sebelum melakukan aborsi dengan berbagai pertimbangan.

Kita tahu selain melanggar hukum, abortus provocatus criminals bisa menjerat sang ibu masuk bui, sanggup menjerat dokter atau bidan yang membantu aborsi, serta menyeret orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi ikut tinggal di balik jeruji. Pikirkan baik-baik alasan tadi, pertimbangkan kesehatan diri pribadi, lalu ingatlah jiwa makhluk hidup yang juga memiliki hak hidup. Membunuhnya dengan keputusan aborsi bisa menghantui seumur hidup. Carilah seseorang yang sanggup mendampingi, memberikan dukungan baik finansial maupun psikologis. Datangi lembaga-lembaga terkait jika orang-orang di sekeliling tidak mendukung.

Wahai lesbian, mari kita sepakat mencegah hal ini terjadi. Sebab aborsi baik yang dilakukan oleh paramedis ataupun dukun, legal atau illegal, akan tetap menyakitkan buat semua perempuan – lesbian maupun bukan, lahir dan batin.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

2 Comments »

  • tweet-tweet said:

    setiap kehidupan adalah mutlak milik Tuhan
    berserah saja padaNya

  • AL said:

    Emang kontroversi. Tapi kalo dilegalkan, bukan berarti masalah selesai. Dikhawatirkan malah bertambah kartena rasa tanggung jawab yang kurang. Melihat terbesar adalah remaja usia sekolah, atau masyarakat miskin, mungkin memang dengan mengedukasi mereka jalan yang terbaik. Hanya setelah orba, penyuluhan masyarakat langka.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.