Home » S.O.S!, Sepocikopiana

S.O.S: Capek Jadi Kepala Rumah Tangga

6 March 2010 178 views 4 Comments

pociDear DoMba yang aneh,

DoMba saya punya masalah yang cukup rumit. Saya adalah butch sejati dan pacar saya seorang femme. Sejak living together dengan pacar, saya jadi stres. Pasalnya gini DoMba, pacar menuntut saya memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami sendiri. Sedangkan gaji saya pas-pasan. Saya jadi merasa kewalahan.

Alasan pacar saya sih karena dia menganggap bahwa living together mirip dengan kehidupan rumah tangga betulan. Jadi saya diposisikan menjadi seorang ”suami” yang harus memenuhi semua kebutuhan “istri” dan rumah tangga. Dalam hubungan lesbian ini, saya merasa semua menjadi tidak jelas. Benarkah tindakan pacar saya DoMba? Menurut pendapat DoMba, bagaimana sistem keuangan pasangan lesbian yang living together sebenarnya? Adakah kewajiban-kewajiban seperti demikian yang harus dipatuhi? Karena jujur, secara fisik saya sudah tidak kuat mencari uang siang-malam demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Mohon bimbingan DoMba.

Thanks,
Sarungkan

Dear Sarungkan yang antik,
Kamu ini sebenarnya peranakan India atau Lutung sih? Kok sepintas nama kamu kayak artis Bollywood yang keren itu? Tapi kalau saya perhatikan kok malah bawa-bawa marga Kasarung? Ah, sudahlah, yang penting sekarang kamu sarungkan pedangmu dulu, itu kalau kamu bawa pedang ya.

Masalah hidup bersama, seperti yang pernah diulas oleh Shinigami, memang merupakan masalah yang kompleks bukan hanya bagi pasangan lesbian tapi juga pasangan hetero yang sudah menikah secara legal. Jangankan buat yang gajinya pas-pasan, buat yang pendapatannya cukup juga pasti ribet. Saya perhatikan titik masalah yang terjadi karena sejak awal kalian tinggal bersama, kalian telah melakukan pengkotakan terhadap label. Ditambah pemahaman bahwa sebagai butch, kamu harus menjadi “kepala rumah tangga”, dan pacar sebagai seorang yang femme, selayaknya hanya menjadi “ibu rumah tangga” yang baik.

Menurut saya tidak ada keharusan untuk memenuhi kebutuhan pacar kamu. Sama halnya dengan pacar kamu juga tidak harus untuk melayani kebutuhan kamu yang dianggap sebagai pencari nafkah. Dalam kehidupan berpasangan, yang seharusnya terjadi adalah memberi karena INGIN memberi, bukan karena HARUS memberi.

Ada dua hal yang saya asumsikan menjadi penyebab kamu merasa terbebani. Pertama, coba kamu pelajari hati kamu lagi deh, soalnya sepengetahuan saya, kalau kita cinta dan sayang sama seseorang, maka apa pun yang kita lakukan akan menjadi sebuah kesenangan dan kita bisa menikmatinya tanpa menjadikannya sebagai beban. Kedua, mungkin juga kamu memang sudah benar-benar kewalahan menghadapi tingkah laku pasangan kamu yang terlalu menuntut, jadinya kamu merasa letih. Dalam hal ini saya pikir kamu butuh jamu Pangkubumi ramuan Mbah De Ni.

Coba kamu perhatikan, apakah selama ini pasangan sudah melayani kamu layaknya ibu rumah tangga yang baik atau belum. Kalau selama ini dia hanya melayani dirinya sendiri, misalnya: cuma masak, nyuci dan nyetrika pakaian milik dia sendiri, kamu harus pandai membuat strategi. Kalau saat kamu pegal tapi dia menolak dimintai tolong mijitin kamu, sudah saatnya kamu berpikir ulang soal rumah tangga kalian. Lain halnya kalau kamu merasa porsi kamu dalam melakukan kegiatan rumah tangga hanya segelintir sementara dia melayani segala kebutuhan kamu, kamu nggak bisa menuntut balik dong. Lagian ngapain sih tuntut-menuntut? Mending saling tuntun-menuntun.

Ada cara yang cukup ekstrem untuk “memberi pelajaran” kepada pasangan yang terlalu banyak enuntut. Dalam kasus kamu, selama ini kamu dituntut untuk mencari nafkah siang dan malam bagi kebutuhan kalian berdua sampai-sampai fisik kamu terganggu. Coba ambil cuti beberapa hari. Jadilah pasangan yang “manja” dan minta perhatian lebih dari pasangan kamu. Minta dia buatin bubur, tapi jangan mau makan kalau tidak disuapin. Berubahlah menjadi “kepala rumah tangga” yang cerewet akan kebersihan. Beri komentar pedas dan sinis setiap kamu menemukan setitik debu pada perabotan rumah tangga, kalau perlu kamu bisa melakukan dramatisasi dengan mengoleskan ujung telunjuk kamu dan meniupnya seperti di adegan film yang majikannya minta dirajam itu lho.

Nah, kalau pasangan kamu mulai menunjukkan tampang bete dan siap menerkam kamu, jangan terpancing. Ini saatnya mengkomunikasikan segala hal yang mengganjal di hati dengan cara baik-baik. Kalau perlu siapkan seember air es, kalau dia mulai panas, segera siram agar kembali dingin.

Kalau pasangan kamu mengerti, saya yakin kamu tidak akan letih secara fisik lagi karena sibuk mencari nafkah. Tapi kayaknya sih kamu bakal capai fisik juga, karena akhirnya kamu juga harus nyuci dan nyetrika serta bersih-bersih rumah sendiri karena pasangan kamu marah lalu kabur sehabis kamu siram air es. (Semoga) selamat saat mencoba, ya.

Salam hangat,
Dokter Jo

Sarungkan yang juga aneh. Kalau menurut pandangan Mbah, dalam kasus kamu yang terpenting bukanlah masalah nilai benar atau salah pada sebuah kewajiban, tapi bagaimana kalian bisa saling memberi pengertian. Dalam sebuah hubungan yang sehat, mestinya tidak ada aturan yang justru malah menekan pasangan hingga melampaui batas kesanggupannya. Aturan memang akan selalu ada, tapi tujuan aturan dibuat adalah seharusnya demi kebaikan. Agar manusia tahu mana hak dan kewajibannyalah maka aturan dibuat. Sebab tak jarang manusia menjadi begitu alpa terhadap kewajibannya, dan malah terus menuntut agar haknya terpenuhi. Ada banyak orang yang malas cari uang, tapi ngamuk-ngamuk minta dikasih makan, plus ayam goreng dan kambing guling pula.

Alamak!

Jadi dalam hal ini sebenernya tidak baik jika kita menetapkan aturan yang begitu ketat tentang siapa yang harus membiayai rumah tangga, dan siapa yang harus mengurus rumah tangga. Baik kamu dan partner keduanya adalah bagian dari rumah tangga. Jadi mencari nafkah tentu adalah kewajiban bersama, apalagi jika kamu belum bisa mencukupi semua kebutuhan rumah tangga yang ujung-ujungnya malah membuat kamu sakit. Lihatlah dalam kehidupan rumah tangga heteroseksual pun ada begitu banyak suami yang dibantu istrinya dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga apabila pendapatan suaminya memang belum mencukupi.

Sebenarnya kunci kesuksesan sebuah hubungan adalah komunikasi. Komunikasi bagaikan sebuah ruang yang bisa menghancurkan segala salah prasangka, menyatakan hal yang belum ternyatakan, dan memahami banyak hal yang belum terpahami. Maka saran Mbah, bicarakanlah kepada partner bahwa sebenarnya kamu nggak sanggup menanggung semua kebutuhan hidup kalian sendiri. Putuskan kewajiban-kewajiban apa saja yang bisa kamu lakukan dan yang harus partner lakukan. Aturlah keuangan sebaik mungkin. Kalau bisa, jangan satukan tabuangan kalian, sebab takutnya akan menimbulkan masalah apabila kalian putus nanti. Ingat Indonesia belum membuat undang-undang pembagian harta gono-gini untuk kaum lebian yang bercerai. Bisa repot deh!

Namun apabila, seandainya, jikalau setelah kamu komunikasikan dengan partner dan ternyata partner masih ngotot nuntut kamu yang harus mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kalian sendirian. Cobalah renungkan, Sis! Apakah partner benar-benar mencari kekasih, atau mencari orang yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya? Cinta tidak pernah menuntutmu jadi kaya, tapi cinta jutru memberimu kekayaan kasih. Cinta tidak pernah memintamu untuk mencukupi, tapi cintalah justru membuatmu menjadi cukup. Hm… Jadi teringat saat Mbah mendekati Tante Mel dengan hanya bermodalkan sepiring nasi goreng pinggir jalan yang harganya cuma delapan ribu seporsi. Tapi entah mengapa nasi goreng itu bisa membuat hati Tante Mel berdebar-debar, hidungnya kembang kempis dan matanya berkedip-kedip. Sumpah! Sakin senengnya Tante Mel makan nasi gorengnya lahap banget, sampe nambah pula, bahkan minta dibungkus buat dibawa pulang untuk kakak-kakaknya dan para keponakan yang jumlahnya seabrek, halah lebay deh! Ups! Intinya Tante Mel bahagia bukan karena Mbah banyak uang, tapi karena kekerenan Mbah DeNi yang luar biasa, eh… maksudnya karena cinta Tante Mel yang tulus. Hihihihihi…

salam,
Mbah De Ni.

@Tim SOS, SepociKopi, 2010

4 Comments »

  • genie said:

    Tergantung komitmen awalnya sebaiknyaditanggung berdua jk partner kamu memang punya job, tp jika tidak apa buat dan sebaiknya dibicarakan dari hati ke hati bagaimana solusinya…..saya yakin kalau cinta kalian kuat past kalian akan tetap bersama…………….goodluck

  • lala_denda said:

    pertanyaanku juga sama dengan Genie, karena walau dalam lesbian suatu hubungan itu adalah komitmen, dan untuk berkomitmen seperti menikah atau saya lebih senang menyebutnya partnership, jangan salah satu merasa diberatkan dunk! Perlu dipertimbangkan juga bagaimana andil pasanganmu dalam rumah tangga, dan apa alasan mendasar dia menuntutmu seperti itu?

  • tiek said:

    Mbah de Ni sarannya pas banget.
    Cinta yang indah kala tidak menuntut tapi saling memberi …

  • tikussjourney said:

    Untuk hidup bersama itu dibutuhkan kesiapan mental dan materi, dan lainnya, itu sebabnya jg kita slalu denger menikah kalau udah mapan. mapan hati dan materi.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.