swimming_goggleOleh: Sebening Embun

Aku pernah memutuskan bahwa berenang adalah kemampuan hidup yang tidak akan pernah kukuasai. Tubuhku tidak begitu besar, tapi entah mengapa begitu nyemplung ke kolam renang mendadak aku berubah menjadi botol. Tercebur, megap-megap berbunyi blup-blup-blup, lalu lama-lama tenggelam.

Pernah sekali, aku salah nyebur. Karena malu dan takut diperhatikan pengunjung kolam yang lain aku memilih bagian kolam yang paling ujung, yang paling sepi. Bodohnya, aku tidak memperhatikan tanda-tanda dan peringatan kedalaman kolam. Dengan sok pede aku langsung nyemplung. Byurr! Sedetik kemudian aku baru sadar, bahwa kakiku tidak menyentuh dasar kolam. Astaga!

Aku panik. Panik sepanik-paniknya! Aku bergerak kalap, menggapai-gapai tepian kolam, menggapai apa saja yang bisa menarikku dari kolam jahanam ini. Tapi permukaan kolam rasanya begitu jauh tak tergapai, sementara tekanan air terus menghimpitku, menyedot habis oksigen yang tadi kusiapkan sebelum nyemplung. Aku lupa diri, aku bukan ikan yang bisa bernapas di air, alih-alih bernapas aku malah menelan air yang pekat dengan kaporit, tersedot lewat hidungku dan memerihkan mataku. Oh Tuhan, ampuni aku bila harus mati di kolam ini. Amiin.

Tapi ternyata aku belum mati. Seseorang mendorong tubuhku ke atas, dan sedetik kemudian semua pandangan tertuju padaku. Rasanya mending pingsan deh, supaya nggak menanggung malu.

“Mbak, kalau belum bisa berenang, di ujung sana aja lebih dangkal.” Perempuan yang menolongku mengingatkan sambil menepuk-nepuk punggungku. Aku mengangguk, sambil menggigil hebat, menahan nyeri karena rasanya air tak berpendidikan itu ingin berlomba menjebol seluruh lobang di tubuhku.

Kuputuskan pelajaran berenangku tamat sebelum dimulai, aku DO. Aku coba menghibur diri, mungkin manusia diciptakan berbeda-beda, ada Deni si manusia ikan, ada Tarzan si manusia hutan, dan aku harus menemukan
takdirku sendiri, menjauh dari kolam renang yang seperti ingin menelanku bulat-bulat! Terimakasih.

Tujuh tahun kemudian.
Sekitar dua tahun yang lalu, orang tua partner mulai sering berkunjung atau terkadang kami ajak untuk liburan bareng dan menginap di hotel. Demi menyenangkan orang tua, aku menemani Mama berenang. Kusebut menemani karena ya hanya menemani. Mama berenang, aku main air di pinggir kolam. Oh iya, kali ini aku nggak mau malu-maluin pake acara kelelep segala, malu dong sama mertua. Jadi mending merogoh kocek untuk meminjam ban pelampung.

Pelan-pelan ketakutan dan traumaku pada air mulai berkurang. Aku mulai berani mencelupkan wajahku ke air kolam, melihat dasar kolam dengan mata terbuka. Dan dari kejauhan tumbuh rasa iri melihat Mama yang sudah berumur tapi masih lincah menyeberangi kolam renang dari ujung ke ujung, bolak-balik berkali kali.

Sejak itu, setiap ada kesempatan liburan bersama orangtua partner, aku minta diajarin. Mulai hal dasar seperti meluncur, mengambang, bernapas di air, dan berenang gaya anjing. Yang terakhir ini hanya istilahku saja, karena gerakannya persis seperti gerakan anjing berenang. Ternyata, berenang jadi salah satu kegiatan yang mendekatkanku dengan Mama. Sudah banyak topik bahasan serius yang kami obrolkan di kolam renang. Kupikir, ini yang namanya sambil menyelam minum air. Sambil mendekatkan diri dengan orang tua partner, sambil bersenang senang, sambil belajar berenang.

Oktober 2009 – Aku, partner dan kedua orangtuanya berlibur bersama di Anyer. Saat mendiskusikan rencana ini lewat telepon, Mama partner mengingatkan aku bahwa nanti acara utama di sana adalah berenang. Mama sempat bertanya sudah sejauh apa kemajuan renangku. Terang saja belum bisa apa-apa. Tapi demi menyenangkan hatinya, aku katakan saja sudah mulai bisa. Ternyata, cinta bisa menjadi motivasi yang sangat kuat!

Masih ada dua minggu sebelum liburan. Demi mengambil hati Mama, aku paksakan diri untuk belajar berenang, meski hanya dengan memperhatikan dan mencontek gerakan orang lain. Aku nggak peduli.

Belajar otodidak secara intensif ini ternyata cukup membantu. Setiap belajar, aku selalu membayangkan Mama. Bisa berenang dan bisa berlomba dengan beliau mencapai ujung kolam adalah impianku. Syukurlah, ketika di Anyer, kemampuan berenangku mulai berkembang, meski belum bisa mengalahkan Mama. Sejak itu motivasiku semakin kuat. Aku ingin tidak sekedar bisa berenang, tapi juga bisa berenang dengan teknik yang benar.

GRATIS (BELAJAR BERENANG) SETIAP SAAT!

Kompleks rumahku memang dilengkapi fasilitas kolam renang, gratis. Kalau mau yang agak ekslusif, di kompleks sebelah juga terdapat sport club dengan kolam renang yang asik. Tapi tetap saja aku tidak bisa berenang setiap saat. Padahal tidak ada cara lain selain berlatih, berlatih dan berlatih!

Hingga aku menemukan salah satu cara hebat! Imajinasi.

Aku menemukan satu hal, belajar (tentang apapun itu) tidak cukup hanya sekedar teori. Selain praktek, kamu butuh kombinasi visualisasi dan imajinasi. Dan teknologi membuat prosesnya menjadi lebih mudah.

Aku memulai dengan membaca artikel-artikel tentang bagaimana cara berenang dengan sedikit panduan gambar. Merasa belum puas, aku merambah situs penyedia video. Dengan kata kunci sederhana, semacam “Breast stroke, free style swimming” aku menemukan berderet dokumentasi berharga. Mulailah aku berkenalan dengan Jimmy D Shea, dan perenang handal lainnya. Satu langkah berharga yang membawaku menemukan situs-situs yang menyediakan pelajaran renang gratis, kapan saja.

Sejak itu, aku berenang di lantai, aku berenang di kursi, aku berenang di bed saat menjelang tidur sambil membayangkan kolam renang sebenarnya. Aku memvisualisasikan perenang-perenang yang kulihat, kubayangkan dirikulah perenang hebat itu. Aku lincah. Aku meloncat dan aku mengayuh kakiku dengan cepat, merentangkan lengan membuat kayuhan yang kuat. Aku meluncur hingga ketepian.

Begitu berulang-ulang. Saat ada kesempatan dan waktu senggang, aku memutar kembali video pelajaran berenang yang telah kuunduh ke laptopku. Kutonton berulang-ulang, berulang-ulang dan berulang-ulang. Bila tiba saatnya aku nyempulung di kolam beneran, rekaman itu kuputar di otakku, kupaksa agar seluruh anggota tubuhku mengikuti perintahnya. Tidak mudah memang, sering kali aku harus berbicara dengan air, “Hai Air, aku datang. Jangan galak-galak, aku tidak akan menyakitimu. Aku yakin kita akan menjadi sahabat baik. Tolong jangan buat aku tersedak, itu sangat sakit, kawan!”

Dan dengan bangga aku katakan, aku berhasil! Bukan sekedar berhasil berenang, tapi berhasil melampaui ketakutanku, berhasil melampaui kelemahan mentalku. Bila orang mengatakan, sulit belajar berenang bila sudah dewasa (di sport club langgananku, kebanyakan peserta les renang adalah anak-anak. Peserta dewasa hanya bisa mengambil kelas privat dengan bayaran yang cukup mahal) namun aku bisa membuktikan, meski memulainya di usia tiga puluh dan hanya belajar sendiri, aku bisa. Kalau aku bisa, kamu bisa! Percayalah.

Kini, enam bulan setelah berniat serius belajar berenang, kini aku sudah mahir gaya dada dan gaya bebas. Bahkan penjaga kolam renang memuji kemampuanku, “Mbak, sepertinya di komplek ini hanya mbak satu-satunya perempuan yang bisa berenang gaya bebas. Gaya bebas kan berat, capek.”

Kubiarkan sesaat hatiku membuncah oleh pujian itu, kuanggap itu sebagai penghargaan atas usaha dan kerja kerasku selama ini. Sisanya, aku tidak mau lengah. Kunaikkan level target pencapaianku. Selain bertekad untuk bisa berenang dengan gaya kupu-kupu, aku harus mampu berenang lebih jauh, lebih cepat, lebih efisien.

Aku bersyukur, aku merasa inilah salah satu titik balik dalam hidupku, yang kuharap bisa menjadi titik yang mempengaruhi masa depanku. Karena entah mengapa, semua terasa lebih terang dari sebelumnya. Kesuksesan menaklukkan sebuah tantangan membuat aku lebih percaya diri. Dari sana aku mulai berani menerima tantangan yang lain. Kutantang diriku tidak hanya berkecimpung di kolam yang dangkal, tidak hanya di arus yang pelan, dengan satu keyakinan aku bisa berenang. Kutantang diriku tidak hanya menjadi karyawan biasa, karena aku akan berenang menjadi karyawan yang bisa diandalkan. Kuntantang diriku tidak hanya sekedar menjadi penulis blog, karena aku akan berenang menjadi pengarang yang sebenarnya. Kutantang diriku tidak hanya menjadi penulis kisah tentang diriku sendiri, tapi menjadi penutur kisah orang lain. Kutantang diriku, menjadi lebih bermanfaat tidak hanya bagi diriku dan orang di sekitarku, tapi bagi lebih banyak orang.

@Sebening Embun, SepociKopi, 2010