chimpanzee_thinking_posterOleh: Lakhsmi

Ini diawali dengan seorang sahabat lesbian yang hendak memenuhi tugas universitasnya dengan melakukan wawancara kepadaku seputar jurnalisme SepociKopi. Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban menarik (dan menantang) membuat kami menghabiskan satu malam di Y!M dengan tingkat keseriusan yang santai. Dari sanalah, aku berkilas balik tentang ribuan tulisan-tulisan yang dipublikasikan secara kongkrit di sepocikopi.com.

Sepocikopi.com adalah media – itu sudah jelas – bukan suatu komunitas lesbian. Media dengan hukum yang patuh pada aturan jurnalistik, terlahir dari masyarakat lesbian yang kritis dan cerdas. Para pembacanya – yang mencintai media tersebut – bolehlah disebut sebagai komunitas. Tulisan-tulisan di SepociKopi adalah ribuan “jendela atau pintu yang terbuka”. Para pembaca dapat melihat di balik jendela/pintu itu dan menilainya dengan kacamata masing-masing.

Begitulah takdir tulisan, gagasan, dan buah pikiran yang dilempar di masyarakat. Pergumulan ide penulis dalam karyanya bukan lagi menjadi milik si penulis; mereka milik pembaca. Penilaian pembaca tidak bisa lagi dikendalikan atau diatur sesuai keinginan sang penulis. Beberapa penulis sepocikopi.com memercayai hukum ini sehingga dengan segala hormat dan rendah hati mereka tidak membalas komen-komen yang berseliweran di bawah tulisannya, biarpun sesungguhnya mereka membaca dan mengikutinya dengan baik.

Aneka komen untuk satu artikel menandakan kemajemukan sikap, pluralisme wawasan, dan keberagaman pemikiran. Suatu karya akan berjalan melewati tikungan apresiasi melalui cara-cara yang berbeda. Dimulai dengan naskah yang dikirim ke redaksi dan redaksi yang menjadi juri untuk menentukan siapa yang diterima. Setelah tulisan itu dipublikasikan, apakah artinya tulisan itu sudah kelar dinilai dan pantas disebut tulisan yang terbaik di antara tulisan lain (apalagi yang ditolak)?

Misalnya begini, dalam dunia olahraga kita mengenal yang namanya Juara Dunia. Rasanya banyak cabang olahraga yang mengklaim memiliki pertandingan yang pemenangnya dianugrahi titel Juara Dunia. Sebut saja World Champion untuk olahraga cabang badminton, catur, bola sodok, tinju, golf, bahkan sepakbola.Tapi apakah sebenarnya para pemain Juara Dunia benar-benar bertanding dengan seluruh lawannya dari seluruh negara-negara di dunia? Tentu tidak. Dalam badminton misalnya, pemain Indonesia tidak bertanding dengan pemain Afganistan, atau pemain Rusia (kalau pun ada). Ada aturan-aturan pertandingan pada setiap kompetisi internasional yang berbeda-beda.

Begitu juga dengan redaksional SepociKopi. Aturan main yang dipakai pastinya berbeda dengan aturan main koran Kompas, misalnya. Aturan main ini kelihatannya menyulap penulis yang karyanya muncul SepociKopi seakan-akan sebagai World Champion, padahal belum tentu. Mungkin saja masih ada tulisan bagus yang bertebaran di blog atau situs LGBT lain. Selain itu, setelah lolos redaksi bukan berarti tulisan tersebut sudah sempurna. Tugas redaksi seharusnya dilanjutkan oleh para pembaca. Bagaimana caranya?

Komen adalah hak penuh seorang pembaca. Di tangan pembaca lesbian yang kritis dan cerdas, ruang komen dapat dijadikan ruang diskusi dan ajang tukar menukar wawasan/intelektualitas. Sayangnya, banyak pembaca lesbian yang masih kurang memanfaatkan dan mengerti fungsi ruang komen. Ruang komen dijadikan sarana untuk curhat kehidupannya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan artikel, bahkan lebih parah lagi, dijadikan tempat untuk mencari pacar atau pertemanan.

Padahal tugas seorang pembaca – perpanjangan tangan redaksi – selain menikmati tulisan, yaitu mengkaji isi tulisan dan memperluas ruang untuk terus menerus bertanya. Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki celah keraguan, menyisakan skeptisme, dan mengilustrasikan sikap. Sistem kualifikasi SepociKopi akan terbantukan dengan banyaknya pembaca yang memberi pendapat menarik di ruang komen. Maka tercipta kesempatan untuk memperbarui sistem baru apabila yang lama terasa kurang memadai.

Nah, dengan canggihnyanya pergerakan tulis menulis, baca membaca yang keren dan dinamis – aku percaya – akan terlahir generasi lesbian lain (baca: baru) yang lebih cerdas dan kritis sehingga terus menerus menaikkan kualitas SepociKopi.  Seyogyanya artikel dan ruang komen tak henti memiliki nilai-nilai estetis serta dipenuhi dengan pergumulan gagasan intelektual yang (selalu) bisa berubah. Ah tell me now, ini bukan impian kosong di siang bolong kan?

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010