Home » Humaniora, Telezkop

te.Lez.kop: Mi Casa Su Casa

3 March 2010 130 views 17 Comments

home-sweet-home-thumb30125961Oleh: Shinigami

Jika menonton serial the L Word, salah satu hal yang saya rasa berpotensi menjadi sasaran kecemburuan para lesbian selain keberadaan suatu kota yang isinya sembilan puluh persen lesbian—damn it, take me to that city!—adalah pasangan Tina dan Bette. Dari sekian banyak hal yang bisa dicemburui dari Tina dan Bette, saya kira, adalah fakta bahwa mereka dengan mapan dan nyaman tinggal bersama di rumah kecil namun asyik plus kolam renang. Baiklah, coret bagian “namun asyik plus kolam renang”, sebab tanpa kata-kata itu pun, mereka cukup berhasil membuat iri. Saya juga salah satu yang iri. Dulu.

Tinggal serumah sepertinya adalah sesuatu yang (begitu?) didambakan oleh para lesbian. Yang masih lajang mengangankan datangnya hari ia menemukan seorang pasangan yang akan tinggal bersama. Yang sudah berpasangan giat memutar otak bagaimana caranya supaya bisa tinggal di bawah satu atap. Sekian banyak bayangan romantis sudah mengisi benak kita: bangun tidur, buka mata sudah ada dia; kalau ingin mandi bersama, tidak perlu susah-susah atau takut digosipin; lapar, bisa memasak dengan santai lalu dimakan bersama; bisa mendekam selama apa pun yang dimau tanpa harus pulang karena tidak enak bertamu hingga larut malam. Gambaran indah yang membuat kita mendesah penuh mimpi, bukan?

Well, let’s wake up for a while, shall we?

Tinggal bersama itu bukan permainan. Seandainya pun permainan, ia bukan permainan mudah. Beberapa orang pernah berkata kepada saya bahwa tinggal bersama itu mengubah nyaris segalanya dari suatu hubungan. Hal terbesar yang mungkin mutlak hadir adalah kompromi. Segala sesuatunya berpotensi besar untuk dikompromikan. Sikap seenaknya sendiri sudah tidak bisa dipakai. Misalnya kita tipe orang yang selama ini berpandangan bersih-bersih dilakukan bila perlu, tidak usah tiap hari. Bisa dibayangkan perubahan yang terjadi bila tinggal serumah dengan orang yang berprinsip menyapu harus seperti sikat gigi, dilakukan dua kali sehari? Atau bagaimana nasib orang yang menyukai kekonsistenan letak perabot dan benda-benda ketika tinggal bersama dengan orang yang hobinya mengubah posisi interior rumah sekali sebulan?

Selain kompromi, komponen ruang dan jarak juga sangat berubah. Tinggal bersama berarti, seperti supermarket dua-puluh empat jam, kita akan melihat wajah pasangan 24/7 (ya, oke, potonglah waktu kerja, tapi tetap saja sisanya banyak). Senang dong? Ya, ketika hari bahagia. Tetapi hidup tidak pernah hanya bahagia saja isinya. Ada hari-hari yang rasanya nyaris tak tertahankan dan kita begitu geramnya hingga sebisa mungkin tidak berurusan dengan pasangan. Kecuali kita tinggal di rumah dua lantai yang masing-masing tingkatnya memiliki fasilitas sama termasuk dapur, kamar mandi, dan akses masuk ke rumah, kita tak akan punya ruang dan jarak yang kita inginkan. Ketika masih tinggal sendiri-sendiri, ruang dan jarak otomatis tersedia. Tinggal pulang saja sampai marahnya reda dan bertemu kembali nanti saat keadaan telah membaik. Mau pulang ke mana kalau rumahnya sama? Pulangkan saja ke rumah orangtuaku, seperti lagu jadul Betharia Sonata itu?

Faktor lain yang juga perlu diperhitungkan adalah tanggung jawab-tanggung jawab yang tiba-tiba bermunculan, yang tidak ada ketika masing-masing masih tinggal sendiri. Yang selama ini tinggal sendiri di kos atau rumah orangtua pasti tak perlu terlalu memikirkan biaya semacam listrik, air, atau iuran keamanan dan kebersihan. Lampu dapur putus, pipa air bocor, engsel pintu copot, siapa yang mau memperbaikinya? Bukan kita. Nah, begitu kita tinggal bersama pasangan, tagihan-tagihan atau masalah-masalah seperti itu akan jauh lebih terasa kehadirannya. Atap bocor di musim hujan? Tidak bisa lagi melayangkan keluhan ke induk semang dan menuntut perbaikan atau berharap ada Mama/Papa yang akan membereskannya. Yang ada sekarang: perbaiki sendiri atau telepon tukang dan bayarlah ongkosnya.

Mengingat sisi realistis hidup bersama (saya percaya ada lebih banyak faktor di luar tiga hal yang disebutkan di atas), saya kini paham bila ada orang-orang yang ragu untuk tinggal bersama dengan pasangannya, tak peduli seberapa sayang ia terhadap pasangan itu. Untuk sungguh-sungguh bisa berkata “Mi casa su casa” atau “rumahku adalah rumahmu” benar-benar bukan perkara mudah. Not everything is about love. Some cases are about reality. And this surely is some cases.

@Shinigami, SepociKopi, 2010

17 Comments »

  • me said:

    like :)

  • Jo said:

    “Not everything is about love. Some cases are about reality. And this surely is some cases.”

    Like this quote so much!!!

  • coffee latte said:

    hah! bener bgt! bnyk yg hrz d pkr in klo mank bnr” mau tgl 1 atap! :)

  • Lucky said:

    rumahku adalah rumahmu hanya akan ada setelah hidupku adalah hidupmu….

  • jochan said:

    living together mau lesbian or hetero.. sama2 suatu langkah penuh perhitungan.. sama seperti pernikahan dalam hetero.

    tapi dengan living together, kita bisa menilai pasangan kita masing-masing, selama pacaran buka mata lebar2, sudah tinggal bareng buka hati lebar, mata disipit2kan.. hehehehe.. yg penting toleransi :)

  • mel said:

    ya….dimana2 tinggal serumah dgn orang lain (pacar, adek, sahabat, kerabat), pokoknya individu lain pastilah ada aja istilah ga cocok nya.

    “Betul tidak yang aku bilang” aksen batak yang kental.

  • Nadira ditya said:

    Nice writing alias setuju bgt ma tulisn ni..Q prh ngalamin stay brg tyt susah bgt..lbh enak lo kos snd2..

  • sarah said:

    dulu jg aku pengen bgt tinggal bareng sama partner,tp kayakna harus dipikir ulang deh..

  • Ale-Jandro said:

    Aku udah tinggal bersama sejak 2007, tapi masa penyesuaian dan ‘peributan’ baru berakhir awal tahun ini ….. sekarang sih sudah lebih nyaman.
    Tapi coupleku pernah berpendapat …… lama2 bisa mati berdiri ….. karena aki tipe ‘perfeksionist’ sementara dia tipe ‘sleborist’ hehehe …….. karena itu perlu kesabaran (dia yg sabar) dan ‘kepasrahan’ (aku yg pasrah). Tapi karena cinta ( …..dan perlu), maka kami tetap tidak mau tinggal sendiri2.

  • April said:

    Aq ma patner ad rencna stay breng,tp stlh bc tlsn in..kok jd ragu ya.. Hmm msti pkr2 lg nie…

  • Kiki said:

    perasaan waktu dengan mantan, metamorphosis kita dari tingal sendiri ke tinggal bareng itu biasa aja. tapi skarang tawaran untuk tinggal bareng itu uda ga segampang dulu. kayanya sesak banget. ada tips buat mempermudah transisi dari tinggal pisah ke tinggal bareng?

  • athe said:

    Mi Casa Su Casa adalah text dilayar hp aku, saat masih bersamanya, dia yang nulis..dan sekarang meski udah engga berhubungan lagi…tapi tulisan itu masih tertera di layar hp gw…sempat kaget pas baca tulisan itu….aku pikir dia yang nulis…ha ha ha ha (bego mode on)

  • only said:

    Pd dasarnya hidup ama spa aja sama. Yg penting adanya kesadaran masing2.
    Klo gw, tipe saling mengisi. Lihat situasi dan kondisi.
    Saat dimana ada kekosongan, cblah utk mengisinya. Baik dr hal2 yg paling tidak disukai dan yg disukai.
    Misal, kadang gw jg suka melakukan hal2 yg pd dasarnya tdk gw sukai. Bgt jg dgn partner. Org bijak bilang, lakukan sesuatu dgn tulus.
    Tp, disini dibutuhkan kalimat, lakukanlah walau hati sedikit dongkol dan sedikit ocehan. Hehe.. Apa sih yg gak? Asal partner merasa itulah bentuk cinta.

  • icha said:

    siip….. setuja!!!

  • dashboard said:

    dulu gw pernah hidup bareng dengan patner gw.. memangtinggal 1 atap itu agak rumit,,, menyatukan 2 prinsip jadi satu pemikiran.. tapi enaknya tidur ada yang nemenin heheh.. :)

  • genie said:

    Saya setuju banget dgn tulisan ini, hidup bersama harus dipertimbangkan baik2 dan pikir 1000X sebelum memutuskan hal tsb. jangan dilihat kalau lg enaknya saja tp harus dipikirkan juga ketika sedang bermasalah. Kalau saya sih lebih memilih tidak satu atap apapun alasannya, menunjukan rasa cinta bukan hanya satu atap masih banyak cara lain yg bisa kita lakukan…….

  • rafha said:

    Aku sudah memasuki bulan ke-8 tinggal seatap bersama dengan kekasih, bahkan dengan tempat kerja yang bersebelahan gedung pula.
    Sejauh ini semua berjalan dengan normal, bahkan sangat baik.
    Perbedaan itu selalu ada dan pasti ada, bahkan mungkin tidak jarang bisa menyulut keributan di antara pasangan. Intinya, tetap respek terhadap pasangan. Satu untuk berdua, berdua untuk satu.

    ^^

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.