Tajuk: Kreativitas dan Kita
Oleh: Nuha Guwa
Pernah tidak berhadapan dengan rekan kerja yang lebay? Lulusan universitas terbaik namun kelihatan oon, apa-apa yang sepatutnya dibereskan harus diberitahu dulu. Pekerjaan yang memang menjadi tanggungjawabnya meski sudah ada standar operasional pun ia harus bolak balik bertanya. Yang konyolnya lagi teman satu tim itu ternyata memang mau tidak mau harus bermitra dengan kita. Jadi kalau ia berbuat kesalahan, maka satu tim bakalan celaka 24 jam dicap nggak kreatif! Baiklah, jangan mengelus dada dulu kalau ternyata mengalami hal yang sama. Jangan-jangan malah kita sendiri yang jadi biang tidak kreatif tadi! Oh tidak!
Kreatifitas memang mutlak tuntutan sebuah hasil kerja para profesional. Coba perhatikan perusahaan-perusahaan mega besar dan sukses, Google yang keren itu, Microsoft yang berawal dari kreativitas jempolan ala Bill Gates. Semua terkunci pada satu penilaian, kreatif! Pada dasarnya tidak ada ukuran yang baku untuk mengukur kreatifitas seseorang. Setiap orang memiliki porsi dan gaya yang berbeda-beda dalam menerapkan kreatifitasnya pada sebuah pekerjaan. Ada memang sebagian orang menganggap cukuplah mengerjakan pekerjaan yang sekarang dengan apa adanya. Toh bos tidak memberi perhatian lebih, gaji juga sudah beberapa tahun tidak mengalami kenaikan yang signifikan, bonus tidak pernah muncul, bahkan biaya lembur pun tidak setimpal! Baiklah, sebagai lesbian yang ingin maju, lupakan bersitan hati tersebut! Sebuah kreatifitas tentu saja tidak dengan serta merta memberikan hasil layaknya obat ajaib. Kretifitas merupakan lahan yang jika diolah dengan cermat pada satu titik akan memberikan pelakunya sebuah hasil panen.
Apa sih sebenarnya kreatifitas itu? Kreatif adalah sebuah kata sifat untuk menggambarkan sesuatu yang dari tidak ada menjadi ada, dari bahan mentah menjadi bahan jadi, dari sesuatu yang tidak berbentuk menjadi sesuatu yang indah, atau bahkan dari sesuatu yang tidak terpikirkan orang menjadi sesuatu yang bermanfaat buat orang. Contohnya, Ford berkreasi membuat mobil. Abraham Lincoln, negarawan yang berkreasi menciptakan regulasi-regulasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi negara. Tiger Wood – di luar kehidupan pribadinya – piawai mencari cara untuk menghasilkan pukulan golf yang akurat. Steven Spielberg, sutradara film yang sukses berkreasi menghasilkan film-film box-office top, lesbian kreatif Indonesia dengan SepociKopi. Oh lala!
Kreatifitas sebenarnya sebuah awal yang baik dari sebuah aktivitas, namun bukan akhir dari segala-galanya. Kalau bicara kreatifitas tentu dalam benak kita harus tergambar ada ada pola-pola inovasi, kerja keras, kosentrasi, fokus, pantang menyerah, berani, dan nekat yang perlu terus diperbarui! Kreatifitas akan membuat orang-orang untuk terus menerus hidup dan terpancing membuat perbaikan hasil kerja mereka. Dengan demikian sebagai lesbian berarti kita wajib berkerja keras, tidak mengenal lelah, fokus terhadap hasil kreasi, pantang menyerah menghadapi kritikan, termasuk cemooh.
Sebenarnya sejak lahir sifat kreatif sudah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Coba lihat anak-anak kecil yang semakin pintar saja. Terkadang keluar kata-kata ajaib dari mulut mereka yang membuat kita gemas. Semakin besar, kian bertambah ilmu dan pengetahuan tentu kreatifitas itu sepatutnya terus digali, dikembangkan dan pada akhirnya dimanfaatkan dengan kepuasan maksimal. Ketika orang mulai berhenti berkreasi, dia akan otomatis statis, berhenti bertumbuh dan berhenti menghasilkan buah. Dan hal ini jugalah yang membuat kenapa banyak orang tidak bisa sukses dan berhenti pada suatu titik.
Jika ingin sukses dalam sesuatu tentu kita tidak mau tersesat dalam lembah buntu tersebut, mulailah berkreasi. Buatlah sesuatu berdasarkan apa yang dinginkan atau diyakini. Tidak ada kata tidak bagi lesbian untuk bisa maju dan sukses dengan kreatifitas. Jika belum melakukan semua program di atas, tentu keberhasilan dari sebuah hasil pekerjaan tidak bisa jatuh dari langit-langit kantor. Bonus dan pujian tidak mendadak muncul di samping tempat tidur kita saat terjaga. Kenaikan pangkat tidak akan muncul tanpa penilaian.
Coba lihat pekerjaan kita sekarang, sudahkah kita membuat pembaruan tersebut. Paling tidak mencoba di lingkungan yang kecil dulu. Meningkatkan mutu diri. Penampilan dengan mempercantik diri. Tentu tidak memerlukan barang-barang mahal, yang penting keserasian dalam penampilan. Bagaimana dengan pengetahun? Sudahkah menambah pengetahuan dalam bidang pekerjaan kita? Berapa buku yang berkaitan dengan pekerjaan yang sudah dibaca dalam satu bulan ini? Bagaimana dengan bertutur kata? Berinteraksi dengan orang lain? Cukup komunikatifkah kita?
Semua ini tentu bisa dilatih, berapa banyak buku motivasi dan komunikasi yang memberi jalan keluar agar kita berhasil menjadi seorang komunikator yang baik. Berapa juta buku penuh inspirasi yang bisa menumbuhkan semangat dan penajam otak bertebaran di rak-rak toko buku. Malah kini semuanya lebih mudah dengan gadget dan adroid handphone pintar, sekali pencet sudah terhubung dengan semua informasi yang kita butuhkan, apakah kita mau menyia-nyiakan itu semua? Jangan takut dengan sedikit kegagalan, jadikan dorongan untuk maju. Toh banyak inovasi mengagumkan juga asalnya dari kegagalan, bahkan Thomas Edison harus melakukan usaha 50.000 kali hingga ia berhasil menemukan baterei alkalin yang masih kita gunakan hingga kini.
Yang terakhir kenali pencapaian. Jika seseorang memberi pujian, syukurilah dan ucapkan pujian pada Tuhan. Jangan memandang rendah setiap hasil yang sudah dicapai, bahkan meskipun itu hanya sedikit peningkatan. Jika berhasil dengan sebuah kemajuan, yakinkan diri sendiri dan beri diri sebuah penghargaan, bahkan jika perlu rayakan bersama teman atau keluarga. So, sukses lesbian, hidupkan kreatifitas!
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010









“Menjadikan diriku lebih baik dari hari ini” kMotto ini yang membuat aku termotivasi untuk menumbuhkan perubahan dalam diriku.
Perubahan yang aku lakukan ke arah yang lebih baik, aku selalu memberi penghargaan pada diriku sendiri. Biarpun perubahan itu kecil namun aku memberi diriku ini penghargaan misalnya makan bakso, beli blouse, atau hanya sekedar jalan-jalan sambil hunting mungkin ada sesuatu yang bisa membuat aku termotivasi lagi untuk selalu berubah lebih baik lagi dari sekarang.
Teman-teman lesbian ayo lakukan kerja yang terbaik bukan karena gaji tetapi karena kita mau menjadikan diri kita lebih baik dari hari ini.
Saya meyakini kalau kita dinilai smart dan kerja kita bagus maka pimpinan akan menghargai kita dan gaji dengan sendirinya akan menyesuaikan.
aku ada teman masa kuliah dulu, dia anaknya luguuuuuuu bgt tp ga ampe oon jg, tp yg bikin aku tercegang, waktu kita isi biodata
nama : Caroline bla bla bla
ttl : lyon, Prancis….
aku kirain cm canda2an dia aja, aku percaya waktu liat fcopy akta lahirnya ck…ck….ck…sampe segitunya aku.
Tulisan yang inspiratif. mengutip motto salah satu motivator Indonesia, “Success is my right” , maka sesungguhnya sukses adalah hak kita juga, para “L” , yang mau meningkatkan kualitas pribadi melalui kreatifitas dan inovasi. Semua hanya sebatas mimpi, tanpa kerja keras, semangat dan mental yang kuat, fokus, tahan banting terhadap cemooh/kritikan serta rasa menyukai dan mencintai pekerjaan yang kita geluti. Saya menyaksikan “L” yang kreatif dan inovatif, umumnya memiliki rasa mencintai yang luarbiasa pada profesi/pekerjaan yang digelutinya. Tidak menganggapnya sebagai beban atau sekedar kewajiban semata.Contohnya adalah para penulis di sepoci. …
Bravo Buat spoci , Salam Kreatif!,Salam Inovatif!!, Salam sukses selalu!!!!
hidup.. kraetifitas….
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments