Heroisme dan Narsisme
Oleh: Lakhsmi
Setiap dari kita akan sampai pada satu titik di kehidupan untuk bertanya, “Apakah pahlawan itu?” Kita punya hari pahlawan kok. Pada hari itu, kita merayakan upacara bendera di lapangan, lalu mengheningkan cipta untuk memikirkan jasa-jasa para pahlawan yang sudah tiada demi kemerdekaan negeri. Apakah gelar pahlawan hanya dimiliki oleh segelintir orang yang sudah mati karena mengusir penjajahan?
Kata “pahlawan” belakangan ini menjadi hot sejak Gus Dur meninggal di akhir tahun kemarin. Berbondong-bondong orang mengajukan wacana agar Gus Dur dijadikan pahlawan nasional. Berlomba-lomba orang memberikan berbagai kisah-kisah kepahlawanan Gus Dur semasa hidupnya. Kubayangkan apabila Gus Dur masih hidup. Dia pasti bakal mentertawakan para manusia yang sibuk mengusung dirinya sebagai pahlawan.
Aku pernah membaca satu artikel yang bercerita tentang seorang tentara yang pergi menyelamatkan pasukannya yang terluka. Tapi ketika ia balik, ia menemukan seluruh kampungnya diserang oleh musuh sehingga ibu, istri, dan ketiga anaknya meninggal. Apakah ia pahlawan?
Banyak pahlawan-pahlawan tersembunyi yang tidak masuk dalam suara hiruk pikuk tentang kehebatan yang telah mereka lalui. Justru, itulah pahlawan sesungguhnya. Pahlawan bukan berarti seseorang yang dengan jelas bertujuan melakukan bantuan kepada sesamanya. Orang kaya atau LSM yang berniat bekerja demi masyarakat yang tersisihkan sebenarnya bukanlah seorang hero. Tindakan mereka adalah hal yang wajar. Orang kaya selayaknya membantu yang miskin. Orang yang bekerja di LSM selayaknya bekerja untuk orang-orang yang dibelanya.
Seorang pahlawan tidak terlahir menjadi pahlawan. Ia bukan berudu yang ditakdirkan menjadi kodok. Banyak orang sering mengkhayalkan dirinya menjadi pahlawan, melakukan hal-hal yang hebat. Well, guess what? Mereka sesungguhnya takkan pernah menjadi pahlawan. Pahlawan yang sesungguhnya tidak pernah berpikir menjadi pahlawan, bahkan tidak mengagung-agungkan dirinya sebagai manusia hebat di setiap perbuatannya. Bedakan pahlawan dengan keterkenalan. Seorang pahlawan tidak perlu berkicau untuk menyampaikan “apa yang diperbuatnya bagi sesama”.
Dalam era narsisme yang parah di dunia virtual ini, banyak lesbian berbondong-bondong masuk online untuk mem-branding-kan dirinya sebagai pahlawan bagi sesama lesbian (baca: sista) lain. Pencitraan ini menjadi penting, entah apakah memang ditujukan bagi kebaikan masyarakat/komunitas lesbian, atau hanya lebih kepada ego diri sendiri. Beberapa lesbian mengambil citra dirinya sebagai lesbian yang smart, santai, keren, ngocol, ramah, unik, dan lain-lain. Intinya tetap satu bagi para teman-teman di sekitarnya, ia adalah pahlawan bagi mereka. Dan (mungkin) memang itulah yang ditujukan oleh para lesbian ini.
Komunitas lesbian di dunia maya memang masih disesaki oleh para pemain baru yang masih mencari tahu tentang jati diri mereka. Para lesbian “senior” yang sudah malang melintang di dunia maya dengan mudah menyambar para daun muda (atau daun muda terbentur dengan sendirinya kepada mereka), melakukan “konseling” pribadi dan pendampingan, dan pada akhirnya ia akan dipuja oleh si lesbian “baru” sebagai pahlawan baginya. Kegiatan ini akhirnya menjadi obsesi pribadi bagi oknum-oknum lesbian yang gila dicintai, dipuja, diperhatikan, disayang, bahkan menjadi terkenal di sekelilingnya.
Apakah salah melakan tindakan itu? Tentu tidak, tidak ada kesalahan dalam melakukan branding terhadap diri sendiri sebagai lesbian yang ramah, sabar, dan banyak makan asam garam di dunia. Hati-hati saja dengan kegilaan narsisme dan heroisme yang lebay. Tindakan heroisme di dalam karung (alias kucing di dalam karung) mudah dimanfaatkan penjahat-penjahat lesbian untuk mengorek kantung, dompet, dan rekening lesbian yang muda dan tak berpengalaman.
Balik lagi, jadi apa standar kepahlawanan itu? Terlepas dari keriuhan lesbian yang sibuk mencitrakan dirinya sebagai pahlawan bagi sesama bangsa lesbian, menurutku pahlawan adalah seseorang yang tidak berada dalam lingkaran keberuntungan atau ia yang serba tertindih oleh berbagai sekat, tembok, dan keterbatasan, tapi tak segan-segan menyempatkan diri untuk selalu berkorban, berjuang, menolong, mendorong, dan membela orang lain. Itulah makna hero atau seorang pejuang.
Lebih indahnya, inilah arti kepahlawanan dalam bahasa puitis:
Sayapmu tinggal satu
teriris tiap kali
padahal menaungi sekaligus anakmu dan aku.
(Mudji Sutrisno, Malam tak Jadi Purnama)
@Lakhsmi, SepociKopi, 2010









yups…setuju !
Yap, stuju, pahlawan adl yang bahkan dlm pikirannya gak terlintas sedikitpun utk jd pahlawan, apalagi mempublikasikan apa yg dia perbuat. Yg dia lakukan adl berbuat sesuatu yg bermanfaat bagi lingkungan sm orang2 di sekitarnya dengan sepenuh hati, itu saja!…(wadoooh serius nih gw!!)^_* Eh, buang plastik yg tergletak di koridor ke tempat sampah , pahlawan bukan ya?? hehe ngarep!!
Pahlawan itu aku…tapi aku bukanlah Pahlawan ^_^
Ngga’ ada yg menyamaimu Lax,
mmuuaach……….
Tulisannya menarik.!!.Isinya mampu meluruskan persepsi yang berkembang selama ini. Saya setuju bahwa pahlawan sejati tidak pernah sadar dan mengklaim dirinya seorang pahlawan. Dan memang benar, sebagian besar pahlawan lahir justru dari lembah sunyi, temaram, dan penuh keterbatasan. Sejarah banyak mencatat hal itu. Bravo! buat lakshmi dan teman sepocikopi atas analisis serta ketajaman tulisan yang dimuat selama ini.
Setujuuu bgt….
Setuju banget lakshmi bravo untuk kamu sukses selalu !!!!!!
Aq jga kdang ngrasa pengen bntu tman yg lgi da mslh ma psngannx!aq bntuin ampe mkir mati2an!aq jg g prnh pmrih.aq cma pngn keharmonisan hub antra tmanq n pasangannx tetap trjga!pa aq jga slh??
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments