Home » Humaniora, Opini

Heroisme dan Narsisme

2 March 2010 90 views 8 Comments

You__re_Cute__by_littlemissloveOleh: Lakhsmi

Setiap dari kita akan sampai pada satu titik di kehidupan untuk bertanya, “Apakah pahlawan itu?” Kita punya hari pahlawan kok. Pada hari itu, kita merayakan upacara bendera di lapangan, lalu mengheningkan cipta untuk memikirkan jasa-jasa para pahlawan yang sudah tiada demi kemerdekaan negeri. Apakah gelar pahlawan hanya dimiliki oleh segelintir orang yang sudah mati karena mengusir penjajahan?

Kata “pahlawan” belakangan ini menjadi hot sejak Gus Dur meninggal di akhir tahun kemarin. Berbondong-bondong orang mengajukan wacana agar Gus Dur dijadikan pahlawan nasional. Berlomba-lomba orang memberikan berbagai kisah-kisah kepahlawanan Gus Dur semasa hidupnya. Kubayangkan apabila Gus Dur masih hidup. Dia pasti bakal mentertawakan para manusia yang sibuk mengusung dirinya sebagai pahlawan.

Aku pernah membaca satu artikel yang bercerita tentang seorang tentara yang pergi menyelamatkan pasukannya yang terluka. Tapi ketika ia balik, ia menemukan seluruh kampungnya diserang oleh musuh sehingga ibu, istri, dan ketiga anaknya meninggal. Apakah ia pahlawan?

Banyak pahlawan-pahlawan tersembunyi yang tidak masuk dalam suara hiruk pikuk tentang kehebatan yang telah mereka lalui. Justru, itulah pahlawan sesungguhnya. Pahlawan bukan berarti seseorang yang dengan jelas bertujuan melakukan bantuan kepada sesamanya. Orang kaya atau LSM yang berniat bekerja demi masyarakat yang tersisihkan sebenarnya bukanlah seorang hero. Tindakan mereka adalah hal yang wajar. Orang kaya selayaknya membantu yang miskin. Orang yang bekerja di LSM selayaknya bekerja untuk orang-orang yang dibelanya.

Seorang pahlawan tidak terlahir menjadi pahlawan. Ia bukan berudu yang ditakdirkan menjadi kodok. Banyak orang sering mengkhayalkan dirinya menjadi pahlawan, melakukan hal-hal yang hebat. Well, guess what? Mereka sesungguhnya takkan pernah menjadi pahlawan. Pahlawan yang sesungguhnya tidak pernah berpikir menjadi pahlawan, bahkan tidak mengagung-agungkan dirinya sebagai manusia hebat di setiap perbuatannya. Bedakan pahlawan dengan keterkenalan. Seorang pahlawan tidak perlu berkicau untuk menyampaikan “apa yang diperbuatnya bagi sesama”.

Dalam era narsisme yang parah di dunia virtual ini, banyak lesbian berbondong-bondong masuk online untuk mem-branding-kan dirinya sebagai pahlawan bagi sesama lesbian (baca: sista) lain. Pencitraan ini menjadi penting, entah apakah memang ditujukan bagi kebaikan masyarakat/komunitas lesbian, atau hanya lebih kepada ego diri sendiri. Beberapa lesbian mengambil citra dirinya sebagai lesbian yang smart, santai, keren, ngocol, ramah, unik, dan lain-lain. Intinya tetap satu bagi para teman-teman di sekitarnya, ia adalah pahlawan bagi mereka. Dan (mungkin) memang itulah yang ditujukan oleh para lesbian ini.

Komunitas lesbian di dunia maya memang masih disesaki oleh para pemain baru yang masih mencari tahu tentang jati diri mereka. Para lesbian “senior” yang sudah malang melintang di dunia maya dengan mudah menyambar para daun muda (atau daun muda terbentur dengan sendirinya kepada mereka), melakukan “konseling” pribadi dan pendampingan, dan pada akhirnya ia akan dipuja oleh si lesbian “baru” sebagai pahlawan baginya. Kegiatan ini akhirnya menjadi obsesi pribadi bagi oknum-oknum lesbian yang gila dicintai, dipuja, diperhatikan, disayang, bahkan menjadi terkenal di sekelilingnya.

Apakah salah melakan tindakan itu? Tentu tidak, tidak ada kesalahan dalam melakukan branding terhadap diri sendiri sebagai lesbian yang ramah, sabar, dan banyak makan asam garam di dunia. Hati-hati saja dengan kegilaan narsisme dan heroisme yang lebay. Tindakan heroisme di dalam karung (alias kucing di dalam karung) mudah dimanfaatkan penjahat-penjahat lesbian untuk mengorek kantung, dompet, dan rekening lesbian yang muda dan tak berpengalaman.

Balik lagi, jadi apa standar kepahlawanan itu? Terlepas dari keriuhan lesbian yang sibuk mencitrakan dirinya sebagai pahlawan bagi sesama bangsa lesbian, menurutku pahlawan adalah seseorang yang tidak berada dalam lingkaran keberuntungan atau ia yang serba tertindih oleh berbagai sekat, tembok, dan keterbatasan, tapi tak segan-segan menyempatkan diri untuk selalu berkorban, berjuang, menolong, mendorong, dan membela orang lain. Itulah makna hero atau seorang pejuang.

Lebih indahnya, inilah arti kepahlawanan dalam bahasa puitis:

Sayapmu tinggal satu
teriris tiap kali
padahal menaungi sekaligus anakmu dan aku.

(Mudji Sutrisno, Malam tak Jadi Purnama)

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010

8 Comments »

  • deandev said:

    yups…setuju !

  • Belva said:

    Yap, stuju, pahlawan adl yang bahkan dlm pikirannya gak terlintas sedikitpun utk jd pahlawan, apalagi mempublikasikan apa yg dia perbuat. Yg dia lakukan adl berbuat sesuatu yg bermanfaat bagi lingkungan sm orang2 di sekitarnya dengan sepenuh hati, itu saja!…(wadoooh serius nih gw!!)^_* Eh, buang plastik yg tergletak di koridor ke tempat sampah , pahlawan bukan ya?? hehe ngarep!!

  • Maly Lesbia said:

    Pahlawan itu aku…tapi aku bukanlah Pahlawan ^_^

  • Tim said:

    Ngga’ ada yg menyamaimu Lax,
    mmuuaach……….

  • empat_satu said:

    Tulisannya menarik.!!.Isinya mampu meluruskan persepsi yang berkembang selama ini. Saya setuju bahwa pahlawan sejati tidak pernah sadar dan mengklaim dirinya seorang pahlawan. Dan memang benar, sebagian besar pahlawan lahir justru dari lembah sunyi, temaram, dan penuh keterbatasan. Sejarah banyak mencatat hal itu. Bravo! buat lakshmi dan teman sepocikopi atas analisis serta ketajaman tulisan yang dimuat selama ini.

  • April said:

    Setujuuu bgt….

  • genie said:

    Setuju banget lakshmi bravo untuk kamu sukses selalu !!!!!!

  • Angga said:

    Aq jga kdang ngrasa pengen bntu tman yg lgi da mslh ma psngannx!aq bntuin ampe mkir mati2an!aq jg g prnh pmrih.aq cma pngn keharmonisan hub antra tmanq n pasangannx tetap trjga!pa aq jga slh??

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.