Home » Partnership, Sepocikopiana

Bila (Memang) Harus Berpisah

28 February 2010 444 views 20 Comments

Oleh: Frizzy Jo

Siapa yang tidak pernah merasakan patah hati saat putus hubungan dengan kekasih? Aku yakin banyak yang pernah merasakannya. Bahkan tidak jarang patah hati tersebut diiringi rasa sakit berkepanjangan, syukur-syukur buat yang bisa melewati masa kelam tersebut dalam waktu yang singkat, tapi neraka dunia deh buat yang merasa belum bisa move on. Apalagi kalau sakit hati tersebut timbul akibat pemutusan secara sepihak oleh sang kekasih, sepertinya manusiawi jika saat itu langsung terpikir ingin membuat sang kekasih atau tepatnya sang mantan merasakan penderitaan tiada akhir hingga ia bisa mengalami rasa sakit yang lebih kejam dari apa yang kita telah kita rasakan.

Tunggu dulu. Aku tidak ingin mengulas tentang bagaimana cara membalas sakit hati kepada mantan pasangan, aku sungguh tidak ahli dalam hal itu. Namun sepanjang pengalamanku berinteraksi dengan teman-teman yang pernah mengalami jatuh bangun dalam hubungan percintaan, aku menemukan satu fenomena di mana seseorang yang merasa sakit hati karena putus cinta cenderung mendadak bagai narasumber acara infotainment sementara yang menjadi berita utama adalah sang mantan kekasihnya.

Aliran “informasi” mengenai sang mantan awalnya mungkin berasal dari ruang curhat pada orang-orang terdekat. Sayangnya, yang sering terjadi adalah informasi tersebut kemudianmenyebar dengan tambahan “bumbu penyedap” di sana-sini, yeah, meskipun mungkin pada saat disampaikan selalu terucap kalimat sakti “Eh, cerita ini antar kita aja ya, jangan sampai orang lain tahu.” Tapi tetap saja selama angin berhembus, maka informasi yang tadinya merupakan rahasia pribadi lama kelamaan bisa menjadi rahasia publik.

Menjadi ironi karena saat seseorang yang sebelumnya dipuja-puja setinggi langit, disayangi dan dicintai setengah mati, dan sempat meraja di hati hingga sumpah takkan terganti terucap dari mulut, kemudian malah berbalik 180 derajat menjadi seseorang yang ingin diinjak-injak sampai hancur berkeping-keping, dimasukkan ke dalam tong sampah, dan kalau bisa dibakar hingga angin menghembuskan sisa abunya hingga tidak meninggalkan bekas sama sekali.

Hello, there? Apa kebersamaan sekian lama menjalin hubungan bisa ikutan habis tak berbekas saat terjadi perpisahan? Wah, itu sih sama saja melawan hukum alam. Kita sama-sama tahu bahwa yang namanya kenangan itu nggak akan bisa hilang dari ingatan selama kita masih bernafas. Nah, apa kenangan yang diingat itu cuma yang buruk-buruk saja? Bagaimana dengan kenangan indah yang juga pernah dialami? Yup, akhirnya terpaksa kembali ke pepatah lama “Karena nila setitik rusak susu sebelanga” tanpa memberi kesempatan kepada hati untuk mengingat segala kebaikan yang pernah dilakukan oleh mantan selama masih menjadi pasangan hidup.

Aku sendiri tidak bisa membayangkan jika aku harus membeberkan sisi buruk mantan pasanganku kepada orang lain. Seandainya pun aku harus curhat kepada sahabat terdekat, sepertinya aku memilih untuk menceritakan pokok permasalahannya, bukan pribadi mantanku. Bukan hakku untuk menghakimi dirinya. Lagipula, kalau memang pasanganku buruk perangai, tanpa aku perlu bercerita, aku yakin semua orang yang mengenalnya lambat laun juga akan tahu siapa dirinya sebenarnya, buat apa susah-susah menambah dosa?

Kembali kepada topik tentang membuka sisi buruk mantan kekasih secara tidak secara langsung tapi melalui “perpanjangan lidah” yang telah aku ulas sebelumnya, aku seperti membayangkan diriku naik ke atas atap rumah dengan membawa sebuah bantal kapuk dan gunting. Bantal itu adalah bantal yang pernah menemani tidurku dengan segala mimpi indah dan buruk. Sampai di atap, aku menggunting bantal tersebut dan menghamburkan isinya ke segala penjuru dan membiarkan angin menyebarkannya ke segala arah. Sekeras apapun aku berusaha, kapuk yang telah tersebar tidak akan pernah bisa aku kumpulkan kembali.

Begitulah analoginya bila aku menceritakan tentang sisi buruk mantan kekasih. Informasinya mungkin sudah menyebar ke seluruh dunia, menempel ditelinga dan di benak orang-orang yang mengetahuinya, tanpa bisa kutarik kembali. Namun sampai di satu titik, aku tidak akan pernah tahu apa akibat dari perbuatanku. Bisa jadi mantan kekasih menjadi jomblo abadi karena tidak ada yang percaya lagi dengan dirinya, teman-temannya menjauh dan menganggap dirinya tidak lagi layak untuk menjadi teman. Hingga pada akhirnya, mungkin ia akan menjadi satu-satunya lesbian jomblo yang hidup terasing di dunianya sendiri.

Lalu, apa lantas aku merasa puas diri atas segala penderitaan yang dia alami? Awalnya mungkin iya, namun sebagai manusia yang masih punya hati nurani, pada suatu titik nurani akan kembali bicara, kemudian yang timbul adalah rasa sesal di hati. Saat itulah, mungkin aku akan lebih bisa mengingat segala kenangan indah bersama mantan, saat ia bersusah payah membuatku bahagia dengan caranya yang sederhana. Saat ia membelikan es durian tengah malam buta, memijat kakiku yang pegal setelah mengelilingi mall seharian, membantuku mengerjakan skripsi bahkan membelikan buku pedoman yang hanya ada di toko buku tertentu, dan segala kenangan kebersamaan lainnya.

Saat hari itu tiba, kapuk yang telah tersebar tidak akan pernah bisa lagi terkumpul dan kembali menjadi bantal yang sama.

Sebelum menggunting bantal, mungkin ada baiknya berpikir jauh ke depan. Sebelum menceritakan keburukan mantan pasangan, mungkin ada baiknya ambil sedikit waktu untuk mengingat kembali segala kebaikan yang pernah dilakukannya selama bersama. Karena bagaimana pun, mantan pasangan—seburuk apapun dia, dia adalah seseorang yang pernah menjadi bagian hidup kita, yang pernah kita pilih dari sekian banyak orang untuk menerima hati kita yang paling berharga.

Lalu, bagaimana membalas perlakuannya yang buruk kepada kita? Tidak perlu mengotori tangan untuk membalasnya. Aku selalu percaya, seseorang hanya akan menuai buah dari bibit yang pernah ditanamnya.

Setuju? ;)

@Frizzy Jo, SepociKopi, 2010

20 Comments »

  • na said:

    wow bijak sekali.nice! :)

  • tweet-tweet said:

    susah..
    apalagi prinsip hidupku adalah buat mereka merasakan dua kali lipat apa yang mereka perbuat padamu
    hehee
    tulisan yang bagus, as always ^^

  • meliâ said:

    setuju jo *nganguk2 smangad* :D

  • Dan M said:

    Setuju banget. Ga usah dibalas, ga ada gunanya membalas. Krn aku mengalaminya. Lama2 kepikiran juga kalau memang dia benar2 ga punya teman.
    Aku selalu ingat apa yang pernah dia lakukan hingga bisa membuatku tersenyum, dan segala kebaikannya.
    Dan aku selalu berdo’a yang terbaik untuk dia.

  • elshi said:

    Setuju :-)

  • genie said:

    saya setuju tidak perlu dibalas rasa sakit itu, mungkin itu yg terbaik baik kita dan ambil hikmahnya dari kejadian tersebut. cinta itu memberi bukan menuntut, paling tidak kita pernah saling menyayangi sebelumnya……..

  • mel said:

    aku orangnya pemaaf bgt………..
    hanya saja aku yang sering bikin salah
    untung aja sayangku berfikir dewasa…. jd ya maaf2an terus deh………

  • Tasmanian said:

    Jo, tulisanmu bagus, bijak dan dewasa.
    Aku setuju bangett…

  • blue said:

    setuju bgt…. ga usa d bales…

  • febby said:

    Dengan diam itu sudah tindakan bijak menurutku..
    toh kalau mantan nyadar dengan sifat buruk yang dia punya,,pasti dia berubah koq,,yaaahh berubahnya bukan sama kita,,tapi mungkin akan ada orang lain yang menyadarkannya..

    Justru kalau kita menceritakan kejelekan mantan (apalagi sama partner yang sekarang teman pedekate kita..) yang ada malah dia jadi ill feel duluan,,”jangan2 kalau aku jadian, trus putus ma ini orang..akan bernasib sama ama mantan2nya sebelumnya. Orok dibuka ke mana2..”
    Gimana mau dapat pacar kalau begitu..?? hehe..

  • De Ni said:

    Setubuh eh Setuju Jo….

  • lonelittle said:

    ka jo, jujur, aku masih termasuk dalam kumpulan orang-orang yang suka ngomongin tentang mantan. well, ga selalu ngomongin yang jelek-jelek sih, kadang malah ngomong yang kayak, “Duh.. jadi inget dia lagi nih, dulu dia suka begini..” and so on..
    Untungnya temen curhatku bener-bener jaga mulut haha :D
    nice writing sis , as what I expected from you :)

  • lifeishappi said:

    ideal & bijaknya sih emang begitu…tapi seperti jatuh cinta. yang namanya putus pasti ada korbannya juga. ya, perasaan itu sendiri apalagi kalau sebelah pihak. sikap netral lah kalau agak lebay sedikit. asal jangan kelamaan. gak baek juga pastinya.
    cheers love. :)

  • angel said:

    setuju jo, semangat ^_^

  • dashboard said:

    setuju sama genie….

  • talkie said:

    apa yang dia tabur, itulah yang akan dia tuai nantinya
    =)

  • tomBOY said:

    setuju bgt…

  • dondon said:

    setuju sangad….
    thanks buat pencerahannya….

  • Joansca said:

    Hmmmm…..tulisannya bikin aq tergerak untuk memberi komentar, aq pernah mangalaminya patah hati, kecewa, terkhianati, benci, sayang,semuanya bersatu menjadi sebuah kemarahan yang sangat dalam, tapi waktu terus berjalan dan kehidupan pun harus terus berlanjut, tidak mungkin terpuruk terus menerus, untuk yg sekarang sedang patah hati…’wake up’ dan lanjutkan hidup, kehidupan kamu jauh lebih berharga daripada menyesali dan mengasihani diri sendiri ….. :)

  • blur said:

    Terkadang ego utk m’bls tindakan yg dah dilakukan oleh mantan t’amat sgd bsr, shg tnp sadar qta m’crtkan keburukan2 mantan qta. Dan stlh bbrp wktu b’lalu, baru qta menyadarinya bhw itu adl suatu hal yg keliru, kmdian qta hnya bs menyesalinya, sgd2 menyesalinya. (aku pernah melakukannya. hiks hiks hiks… Mavkan aku ya beibz…)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.