te.Lez.kop: Laughing, With Or At?
Oleh: Shinigami
Misalkan hari ini kita mau memberi kejutan kepada pasangan yang bekerja lembur di kantornya dengan mampir dan membawakan es krim cake kesukaannya. Rasa terkejut yang senang tampak di wajahnya ketika melihat kedatangan kita dan senyum sudah mengembang bagai spanduk warna-warni yang terbentang di pasar malam. Tentu kita balas tersenyum plus melangkah dengan semakin mantap. Tiba-tiba, gedebuk! Kita terjerembab jatuh akibat terlalu sibuk melakukan kontak mata dan tak memperhatikan kabel mesin faks yang terbentang di lantai. Dan, bukannya langsung menolong, pasangan malah tertawa karena melihat ekspresi terkejut kita ketika tiba-tiba jatuh. Pertanyaannya: Bagaimana reaksi kita?
Marah adalah reaksi yang paling sering terjadi dan mungkin juga yang dianggap paling wajar. Kita marah karena orang yang kita sayangi dan – yang katanya menyayangi kita – ternyata menertawakan ketika melihat kita mengalami kejadian tak menyenangkan—atau sekaligus memalukan bila ada beberapa rekan kantornya yang melihat kejadian tadi—dan membutuhkan bantuannya.
Sadar atau tidak, orang sering menganugerahkan peran super hero secara sepihak kepada pasangannya, menganggapnya sebagai orang yang harus paling siap sedia menolong kita. Seperti punya Superman pribadi. Karena itulah, ketika aksi heroik itu tak terjadi, kita merasa kesal. Apalagi diganti dengan tertawa. Wah, bisa sampai ke ubun-ubun murkanya. Bahkan orang yang sangat emosional bisa saja berpikir untuk memutuskan si pacar itu.
Tetapi marah bukanlah jawaban yang akan saya berikan untuk pertanyaan di atas. Bila saya mengalami hal semacam itu, saya akan menjawab: senang. Ya, saya tahu hidup ini semakin bertambah susah saja setiap harinya, tetapi saya memberikan jawaban itu dengan kondisi kewarasan yang masih terjaga dengan baik. Malah, kalau pasangan saya yang terjatuh, saya berharap dia ingin saya menertawakannya dan akan merasa senang karenanya. Oke, oke, sebelum alis kalian bertaut lebih erat lagi, mari saya jelaskan mengapa.
Orang sering bilang, “I’m not laughing at you, I’m laughing with you,” seakan-akan laughing at atau menertawakan kekasih itu sesuatu yang sebaiknya dihindari dan kita hanya boleh laughing with atau tertawa bersama. Tetapi, dari sudut pandang saya, “laughing with” dan “laughing at” adalah dua tahap yang berbeda, di mana “laughing with” harus ditempuh terlebih dahulu sebelum bisa masuk tahap “laughing at”.
Tertawa bersama itu sesuatu yang mudah dilakukan. Apa pun yang lucu di luar sana akan bisa memancing tawa kita dan pasangan. Contoh gampang adalah ketika kita bersama-sama menonton film komedi. Bila kita menjalin hubungan dengan orang yang pas, fase tertawa bersama ini akan begitu mudah tercipta.
Berbeda dengan “laughing with”, tahap “laughing at” lebih sulit dicapai. Dibutuhkan tingkat kenyamanan cukup tinggi bagi seseorang untuk bisa menertawakan pasangannya secara terang-terangan.
Jadi, ketika seseorang mampu melakukannya, dengan sadar tentu saja, artinya ia sudah tidak jaim terhadap pacarnya. Ia sudah nyaman mengutarakan semua pikiran serta perasaan yang dimilikinya kepada pacarnya. Ia tidak perlu menyensor fakta bahwa ia menganggap kejadian itu begitu konyol dan lucu. Hubungan yang telah mencapai tingkat ini tentu bukan hubungan ecek-ecek yang isinya hanya senang-senang saja. Bagi saya, mencapai tingkat ini adalah sesuatu yang membanggakan.
Pembacaan yang sama bisa diterapkan bagi pihak yang ditertawakan. Bila yang ditertawakan bisa memahami dan menerima tawa yang ditujukan kepadanya dari si pacar tanpa merasa tersinggung atau sakit hati, maka dapat dikatakan ia juga telah berada di fase nyaman serupa. Ia bisa melihat tawa itu sebagai reaksi wajar atas sesuatu yang lucu, bukan perbuatan disengaja untuk mempermalukan atau menyengsarakannya. Bagaimana pun, kekasih hanyalah manusia normal yang bisa mengapresiasi kelucuan. Siapa dia yang berhak menyangkal terjadinya tanggapan manusiawi ini?
Namun sebenarnya, menurut saya, reaksi yang lebih baik lagi dari sekedar merasa senang adalah ikut tertawa atau “laughing together at you/me”. Ya, dengan ikut tertawa bersama pacarnya, seseorang menunjukkan bahwa ia cukup dewasa untuk bisa memisahkan mana hal yang layak diperkarakan serius dan mana yang tidak perlu dipermasalahkan. Selain itu, tertawa bisa melepaskan sumbat perasaan yang tiba-tiba hadir bersama kekagetan di saat jatuh. Tertawa akan membuatnya lega.
Intinya, saya percaya bahwa perbuatan menertawakan pasangan dalam kasus seperti ini serta reaksi pihak yang ditertawakan sebenarnya bisa menjadi suatu tolok ukur cukup efektif atas hubungan yang terjalin di antara dua orang tersebut. Saya tidak tahu kalian telah berada di tahap mana, tetapi semoga setelah membaca tulisan ini kalian akan berani berkata, “Come on, laugh at me, Baby!”
@Shinigami, SepociKopi, 2010









Huahahhahahahahahah, yuk!
haha! bener banget! gw pernah ngalamin hal yang sama! bukan na ngerasa kesel ato pasang muka kesel, gw malah ikutan ketawa! cz dari pada ng’rasa malu karna d ketawain org lain slain pasangan, ya mending gw ikut ketawa! haha
aku senang sekali membaca kisah dari Carmen, ternyata ada kehidupan KELUARGA KECIL LESBIAN YG BAHAGIA di Indonesia tercinta yang penuh dengan norma-norma, adat istiadat dkk nya yg lain. Tidak melulu kesedihan……
maaf komen saya yg diatas ga usah di terbitin salah sasaran….
yup bener, aku sering sekali membuat lelucon yg kadang membuat pasangan jadi bulan-bulanan, bukannya marah dia malah tertawa riang… dan ketika ku tanya, klo itu membuatmu senang, aku terima nasib untuk dijadikan barang ketawaan… aku ingin selalu membuatmu bahagia dan tidak ada kata sakit hati karenanya… balasanku… pelukan hangat dan rasa sayang yg semakin membesar… jadi klo diantara kalian melihat 2 org perempuan satu kurus, satu besar sedang tertawa lebar… itu mungkin kami yg sedang mentertawakan kehidupan yg kadang menjemukan….
Menertawakan orang terkadang refleksi diri kita yg memang secara tidak sadar menunggu hal2 lucu secara spontan
Sepertinya figure yang selalu ditertawakan slalu saya. Udah dr sono nya membanyol sih…
Huh! Bahkan ketika di opname karena demam berdarah saya masih diketawain.
“Bisa sakit juga yah?hahahaha”
Ya sudah lah.saya ga masalah
hihi…mungkin karena aku dan pasangan punya selera humor yang tinggi, kadang hal yg rumit dan serius pun selalu saja diselipi komentar2 yang konyol ^__^
Kalo gw malah malu kalo gw malah marah2 cmn krn kejadian kyk gitu. Dan itu hal yg sama sekali gak gede. Kalo yg kyk gitu aja marah apa lg utk the real big problem! Ya kita ketawa aja dan santai. Orang2 sekitar yg ngliat jg jadi gak nganggep kita kasian.. mungkin memang berbeda dgn orang yg emosian atau gampang tersinggung. Gw rasa orang2 semacam ini merugi..
kadang-kadang aku menertawakan diri sendiri karena ulahku yang konyol ….
ada satu kenangan yang tak pernah bisa kami lupakan …
kalau mengingat kejadian itu kami tertawa bersama …
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments