Home » Bumbu Rahasia, Sepocikopiana

Merengkuh Hidup Yang Lebih Baik

24 February 2010 154 views 13 Comments

So_Still___by_pacificdreamsOleh: Carmen Casanova

Hari ini hari Minggu, di mana aku dan partnerku, seperti biasa di siang menjelang sore, melakukan kegiatan hari libur dengan membaca di ruang perpustakaan. Senang rasanya menikmati hidup—dengan duduk di tempat yang penuh tanaman hijau (yang ditanam partner), membaca artikel-artikel terbaru buah pikiran cemerlang para penulisnya, dan ditemani oleh partner cantik yang kucinta. Setelah ini, biasanya kami mandi, dandan, bersiap-siap untuk pergi ke gereja sore. Sesekali partnerku yang sedikit kompulsif mulai bersih-bersih rumah selagi menungguku yang memang lebih lama menghabiskan waktu untuk bersiap-siap. Setelah selesai, kami beranjak menuju mobil yang akan disetiri partnerku sesuai pembagian giliran jadi sopir (satu hari aku yang jadi sopir, hari berikutnya dia, dan seterusnya). Mobil ini sudah selesai kami cicil berdua, dan hanya satu karena garasi kami cuma cukup satu mobil saja.Mungkin nanti baru dibuat lebih besar setelah tanah sebelah rumah sudah mau dijual, jadi bisa dibikinkan garasi baru.

Sesampai di gereja, partnerku dengan santai memarkirnya di pelataran parkir. Belum banyak mobil berjubel di sana, karena kami sudah sampai dua puluh menit sebelum kebaktian dimulai. Partnerku memang disiplin, aku jadi ikut-ikutan dengan gaya hidupnya yang lebih teratur. Dulu sebelum kami hidup bersama, jadwalku sangat tidak karu-karuan. Kolegaku tidak ada yang menyebutku sebagai orang yang punya manajemen waktu yang baik. Namun sejak hidup bersama partnerku, aku diajari sedikit demi sedikit tentang pentingnya hidup disiplin. Dan betapa mudah hidup rasanya setelah menjalaninya dengan baik. Menghargai waktu sendiri bagiku sama artinya dengan menghargai waktu orang lain. Dengan begitu, tak heran hidup menjadi terasa enak dan tidak perlu bersitegang karena grusa grusu dan teguran dari orang lain. Kolegaku pun rasanya lebih menghargai diriku di kehidupan sehari-hari.

Hari ini khotbah pendeta sangat inspiratif—tentang perempuan-perempuan yang bekerja dan hidup secara teratur. Singkat kata perempuan-perempuan tersebut di tengah kekurangan dan status sosial mereka di lingkungan abad sebelum masehi, mereka tidak minder dan tidak menyerah saja pada nasib. Mereka bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka juga memanfaatkan kesempatan dengan baik. Mereka juga hidup secara teratur, karena tahu bahwa untuk mencapai kualitas hidup yang baik di masyarakat, perlu dimulai dari diri sendiri.

Aku tersenyum karena ingat pembicaraanku dan partner kemarin malam. Kemarin kami tertawa setelah bernostalgia pada waktu bertahun-tahun yang lalu, pada saat kami berdua merasa frustasi karena tekanan lingkungan, frustrasi pada ekspektansi keluarga, frustrasi pada ketidakadilan, dan diskriminasi yang selalu menghantui hidup kami karena kami lesbian. Namun saat itu pula kami memutuskan untuk tidak bergantung pada nasib, namun mulai dari diri sendiri untuk terus maju dan berjuang. Jika kami bekerja dengan keras, menjadi ahli di bidang yang dibutuhkan masyarakat, maka akhirnya toh lingkungan akan membutuhkan kita, dan menerima kita sebagai pekerja profesional (bukan semata-mata sebagai perempuan lajang yang gagal untuk memenuhi ekspektansi menikah). Dan lama-kelamaan, mudah-mudahan, mereka melihat bahwa hidup kita sama seperti mereka—yang juga mengejar hidup yang berkualitas dan yang layak sebagai sesama yang juga patut dicintai, seperti jenis sesama lainnya.

Aku melirik partnerku. Sosoknya yang sekilas dingin dan kaku juga melirik ke arahku. Dia tersenyum, dan senyum itu langsung menghapus kedinginannya. Mungkin dia teringat masa-masa di mana ia mengalami kesulitan untuk keluar dari zona amannya di pekerjaannya dahulu. Pekerjaan yang membuatnya stagnan dan seperti stuck. Dia mungkin memang jenis orang-orang yang kaku dan sulit menerima perubahan. Aku berusaha mengajaknya berkompromi. Berkompromi dengan visi-misiku: seorang perempuan yang punya ambisi tinggi. Ambisiku adalah untuk membuat diri lebih maju. Aku percaya bahwa kunci untuk menjadi kuat adalah menjadikan diri lebih kuat—dengan lebih maju dari orang-orang lain, dengan mempunyai wawasan luas yang mana agak mustahil untuk didapatkan di tempat zona aman. Aku makin mencintai partnerku kala itu, karena kemudian ia meninggalkan zona amannya—yang aku tahu tidak mudah buatnya—menangkap kesempatan baru, dan membuka wawasannya dengan cara bersekolah lagi.

Kami ingat masa-masa itu, di mana kami berjuang keras, mungkin lebih keras dari orang-orang lain (mungkin juga tidak, hehe). Kami bekerja, dia sekolah juga. Darah keringat dan air mata rasanya semua dikucurkan. Semuanya dilakukan untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Setelah dari gereja, hari sudah hampir menjelang malam. Kami lalu bergegas pergi ke rumah makan tempat kami berjanji berkumpul dengan teman-teman. Di sana, di rumah makan bergaya kolonial itu, sudah menanti satu pasangan lesbian juga yang melambaikan tangannya ke arah kami. Tak sampai lima menit, pasangan lainnya sudah datang. Kali ini teman gayku dengan partnernya datang dengan bajunya yang modis. Aku mengenalnya sejak masa kuliah, teman seperjuangan hingga tingkat akhir pendidikan tinggi. Senang sekali melihatnya, karena seingatku dulu laki-laki lembut ini selalu diejek teman-teman lain karena gayanya yang lebih feminin, namun akhirnya teman-teman yang mengejek sekarang terdiam melihat betapa suksesnya dia di lingkungan akademisi. Dan betapa baiknya ia melakukan kontribusi sosial pada lingkungan di luar pekerjaannya.

Di meja itu kami juga berbincang-bincang dengan satu orang gay, dan dua orang perempuan hetero lajang yang datang belakangan. Aku bersyukur mengenal teman-teman saya ini. Teman tempat aku mencurahkan segala pengalaman yang bersangkutan dengan dunia lesbian. Teman yang memberikan masukan tanpa muatan penghakiman. Aku melirik partnerku, yang tertawa mendengar lelucon teman-teman lain. Aku tahu dia bahagia sekali hari ini, sama seperti diriku.

Sesampainya rumah, jam sudah menunjukkan pukul 9. Sebelum bersiap-siap tidur, aku menelepon orangtuaku. Sudah malam, namun aku tahu mereka masih terbangun di rumahnya. Mendengar suara ibu dan ayahku, rasanya hatiku berdesir rindu. Senang mendengar kabarnya yang baik, dan ayah ibuku yang sehat dan masih terus bekerja. Mereka memang pekerja keras. Ayahku tampaknya sedang memulai membuat buku tentang pengalaman hidupnya yang menakjubkan dan ibuku yang tetap aktif di kegiatan-kegiatan sosial memberdayakan perempuan. Aku menggigit bibirku, menahan keinginanku untuk bercerita kepada mereka tentang partnerku. Kami memang belum coming out, walau sudah berpuluh tahun hidup bersama. Sesuatu yang berat, karena hubunganku dengan ayah ibuku sangatlah baik.

Di sisi lain, aku bersyukur karena mereka sehat dan terdengar bahagia, dan tetap mencintaiku walau aku tidak memenuhi beberapa ekspektansi mereka. Dan di sini, selagi aku menutup telepon, partnerku memegang tanganku erat dan melayangkan pandangan penuh cinta. Aku tahu aku berada di rumah yang kudambakan. Aku bersyukur sejak kecil mempunyai keluarga yang baik, hubungan keluarga yang baik, mendapatkan partner yang setia, teman-teman yang baik, dan pekerjaan yang menyenangkan. Mungkin terkadang hidupku terdengar membosankan. Namun aku tidak pernah malu bahwa aku lesbian. Mengapa? Karena aku juga sama seperti orang-orang lain—yang mengejar hidup yang berkualitas.

@Carmen Casanova, SepociKopi, 2010

Tentang Carmen Casanova:
Seorang akademisi muda yang lesbian.

13 Comments »

  • Tim said:

    Selalu kagum oleh manusia2 yg mencinta Tuhan,menyayangi n menghargai perihal yg bernyawa maupun tidak.

  • damaranggana said:

    wow… what a beautiful couple.. seneng banget bisa baca ceritanya. kebersamaannya bener2 nyatu skali..

  • lifeishappi said:

    CHEERS life!
    senang mendengar anda bercerita…
    terimakasih sudah berbagi
    :)

  • tweet-tweet said:

    keluar dari zona aman yaa..?
    waah.. [^_^]“>

  • samuel said:

    Pengalaman hidup yang sangat membangun.. terima kasih untuk cerita ini..

  • meliâ said:

    waw…selamat ya carmen…smoga mel bs sperti itu nanti ^^

  • Onni said:

    :) nice stories :) jadi semangat :) thank you for sharing :)

  • A_p_p_L_e said:

    Indahnya klo dah di zona aman *_*

  • nn said:

    inspiring article!
    mungkin sudah saatnya saya jg keluar dari zona aman :D

  • Belva said:

    beib…kita bakal seperti itu gak ya??+_+

  • genie said:

    Selamat ya sudah masuk ke zona aman !!!! nice story……..

  • mel said:

    ini kisah yang aku tunggu2, tidak cengeng dan membantu aku untuk memupuk harapan untuk masa depan bersama pacar, sering memang pacar mengelak untuk membicarakan masa depan kami ber2, aku ngerti perasaannya dia terlalu takut memikirkan kehidupan kami nantinya, dia takut ga tercapai.

    usia kami akan beranjak ke 28 thn, aku mulai memikirkan tentang rumah yg akan kami tinggali, tabungan, anak (jk memungkinkan, adopsi atau dgn cara lain), di kota mn kami akan tinggal….jauh bgt ya pemikiranku, . . harapan ga salah dong.

    usia pacaran yang sudah 7 thn menyadarkanku, akan kebutuhanku akan dia, aku sungguh butuh dia untuk menemaniku sampai tua nanti . . .

    PS : sayang klo kamu baca komen aku ini, aku ingin bilang aku sudah sangat merindukan kamu, dan rindu meremas bokongmu……… ;)

  • tiek said:

    Kitalah yang menentukan pilihan untuk masa depan kita, pastinya kita mau yang lebih baik.
    Menjadi seorang lesbian yang hidup bersama adalah pilihan, saya sangat menghargai keputusan dan semangat hidup kalian.
    Saya tunggu share nya setelah kalian comming out.
    see you

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.