Home » Humaniora, Opini

Dari Pedagang Kendi, Dukun Santet, Hingga Althusser

Submitted by on 23/02/2010 – 5:15 pm11 Comments | 775 views

Oleh: Zetha Septina Abdu

Setelah seharian penuh menjajakan kendi tanpa laku sebiji pun, Pedagang Kendi beristirahat di bawah pohon. Ketika tengah asyik menyusut keringat di dahinya, Pedagang Kendi dikejutkan kedatangan seorang Calon Pembeli. “Wahai Kisanak, hendak kubeli semua kendi-kendimu itu,” ucap Calon Pembeli. “Hem…,” Pedagang Kendi manggut-manggut sembari mengamati kendi-kendi yang jumlahnya tak kurang dari dua puluh biji. Tapi jangan salah mengartikan, manggut-manggut tak selalu berarti setuju. Ia tengah berpikir keras, lalu akhirnya bertanya, “Untuk apa Tuan beli semua kendiku ini?”

Setengah curhat Calon Pembeli berkata, “Begini Kisanak, aku tengah kesal menghadapi ulah anak perempuanku. Hendak kunikahkan ia dengan seorang laki-laki kaya, pandai, baik hati, tidak sombong pula. Tapi dasar anak durhaka, malah kabur dengan orang lain. Celakanya lagi, yang diajak kabur itu perempuan juga. Kiranya anak perempuanku itu lesbi.” Calon Pembeli berhenti sebentar, menghela nafas panjang. “Nah, aku lelah mencari anak perempuanku itu ke sana kemari. Kesal di dada ini membuncah, hendak kulampiaskan kekesalan hatiku dengan memecahkan kendi-kendimu itu,” lanjut Calon Pembeli.

Mendengar penjelasan bercampur curhat dari Calon Pembeli, muka Pedagang Kendi menjadi merah padam. “Kurang ajar!” runtuk Pedagang Kendi. “Hai Tuan, aku bikin semua kendi ini dengan sepenuh hati. Seluruh kemampuan terbaikku aku kerahkan agar kendi-kendi ini bermanfaat sebagaimana mestinya. Bukan untuk dipecah-pecahkan demi meredam nafsu amarah tuan,” Pedagang Kendi berapi-api. Sesegera mungkin Pedagang Kendi mengemasi kendi-kendinya. Sementara Calon Pembeli yang akhirnya urung menjadi pembeli terlongong-longong menyaksikan kepergian Pedangang Kendi.

Sekelumit kisah Pedagang Kendi dan Calon Pembeli itu saya baca dulu sekali ketika masih kecil. Saya tidak ingat benar apa judul kisah tersebut. Tapi, saya berani bertaruh bahwa esensi kisah Pedagang Kendi tidak berbeda dengan apa yang saya paparkan. Meski tentu saja saya membubuhinya dengan sedikit bualan.

Nyaris saban hari saya menyaksikan pun terlibat langsung dalam transaksi jual beli. Nyaris pula tak saya jumpai percakapan serupa lakon Pedagang Kendi dan Calon Pembeli. Saya memutuskan untuk berbaik sangka. Meski manusia (yang mengaku) modern sukses menggusur kendi dengan botol-botol plastik, Pedagang Kendi sebagai roh dan semangat terkadang tetap membandel pada beberapa jenis manusia.

Adapun Calon Pembeli bisa menjelma sebagai siapa saja, asal sudi memperlakukan benda secara menyimpang dari konvensi fungsinya. Andaikan saja bahwa ada seseorang yang nekad membeli laptop guna mengganti telenan usang di dapur. Konvensi fungsi dalan hal ini bukan berarti bagaimana sebuah benda seharusnya (benar-benar) menempati fungsinya. Tapi bagaimana orang kebanyakan secara serempak sepakat akan fungsi sebuah benda. Pohonan yang mestinya menjalankan takdir untuk menyimpan cadangan air alam pun mesti pasrah jadi lap ingus, bukankah kita sepakat menyulapnya jadi benda bernama tisu?

Konvensi fungsi ini pula yang akhirnya saya tuding sebagai penyebab Pedagang Kendi dan Calon Pembeli hanya muncul dalam cerita. Ketika sudah tercipta konvensi, pertanyaan tentang fungsi tidak akan muncul kecuali sebagai basa-basi. Bahkan, dukun santet pun tak akan mengotak-atik ihwal dendam yang membikin kita sampai memakai layanan jasa si dukun guna membuat seseorang check out dari dunia. “Itu urusan sampeyan, Mbakyu. Simbah ini ibaratnya tukang buat pistol. Yang penting pistolnya bisa buat nembak. Mau dipake nembak botol atau nembak manusia bukan urusan simbah,” begitu kira-kira kata hati dukun santet jika ada pelanggan yang ngotot curhat.

Jika benda-benda dibebani konvensi fungsi oleh manusia, lalu bagaimana dengan manusia sendiri? Louis Althusser menjawab bahwa individu selalu telah menjadi subjek, bahkan sebelum ia lahir. Dalam hal ini, manusia sudah memiliki identitas yang tidak dapat ditukar atau dipilih. Memikul nama bapak dan ibu, menyandang nama keluarga, mempunyai peran dalam struktur keluarga. Lebih luas lagi, manusia-manusia yang lahir lebih dahulu telah membikin aturan yang berlaku bagi calon manusia selanjutnya.

Aturan yang berlaku bagi manusia saya pikir tidak berbeda dengan konvensi fungsi benda-benda. Aturan dan konvensi fungsi bukan takdir, tapi bagaimana manusia kebanyakan menyepakati atau dibikin menyepakati. Bukan pula sesuatu yang lahir dengan alami, tapi didatangkan sebagai atribut dari kepentingan serta tujuan. Isi kepala manusia yang beragam tentu melahirkan kepentingan serta tujuan yang bermacam. Sebut saja Frued yang berasumsi bahwa pola aturan budaya dan peradaban manusia semata-mata untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya. Atau materialisme Marx yang beranggapan bahwa manusia dibikin patuh pada aturan-aturan guna memenuhi kebutuhan hidup manusia lainnya.

Awalnya Akutagawa sukses membuat saya merasa amat iri dengan kisah novelnya, Kappa. Di negeri Kappa, tepat sebelum bayi Kappa lahir, bapaknya akan berteriak pada vagina sang ibu. “Apa kau benar ingin lahir ke dunia ini? Pikirkan masak-masak sebelum kau jawab,” Tanya sang bapak pada bayi Kappa. Bayi Kappa dengan menimbang identitas keluarga yang bakal dipikulnya dan bayangan akan kehidupannya mendatang akan memberikan jawaban. Jika bersedia lahir, maka lahirlah ia. Jika tidak, wuusss….. bayi Kappa akan lenyap.

Iri tanda tak mampu, demikian dulu olok-olokan yang nge-trend di zaman SMA saya. Iri cuma menggerus hati, tidak lebih. Jauh lebih baik belajar dari Althusser, belajar menaruh kecurigaan pada aturan-aturan yang berlaku. Curiga, sebagai lesbian, saya sedang membelot dari takdir atau aturan yang serupa takdir?

@Zetha Septina Abdu, SepociKopi, 2010

Tags: , , , , , ,

11 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.