Dari Pedagang Kendi, Dukun Santet, Hingga Althusser
Oleh: Zetha Septina Abdu
Setelah seharian penuh menjajakan kendi tanpa laku sebiji pun, Pedagang Kendi beristirahat di bawah pohon. Ketika tengah asyik menyusut keringat di dahinya, Pedagang Kendi dikejutkan kedatangan seorang Calon Pembeli. “Wahai Kisanak, hendak kubeli semua kendi-kendimu itu,” ucap Calon Pembeli. “Hem…,” Pedagang Kendi manggut-manggut sembari mengamati kendi-kendi yang jumlahnya tak kurang dari dua puluh biji. Tapi jangan salah mengartikan, manggut-manggut tak selalu berarti setuju. Ia tengah berpikir keras, lalu akhirnya bertanya, “Untuk apa Tuan beli semua kendiku ini?”
Setengah curhat Calon Pembeli berkata, “Begini Kisanak, aku tengah kesal menghadapi ulah anak perempuanku. Hendak kunikahkan ia dengan seorang laki-laki kaya, pandai, baik hati, tidak sombong pula. Tapi dasar anak durhaka, malah kabur dengan orang lain. Celakanya lagi, yang diajak kabur itu perempuan juga. Kiranya anak perempuanku itu lesbi.” Calon Pembeli berhenti sebentar, menghela nafas panjang. “Nah, aku lelah mencari anak perempuanku itu ke sana kemari. Kesal di dada ini membuncah, hendak kulampiaskan kekesalan hatiku dengan memecahkan kendi-kendimu itu,” lanjut Calon Pembeli.
Mendengar penjelasan bercampur curhat dari Calon Pembeli, muka Pedagang Kendi menjadi merah padam. “Kurang ajar!” runtuk Pedagang Kendi. “Hai Tuan, aku bikin semua kendi ini dengan sepenuh hati. Seluruh kemampuan terbaikku aku kerahkan agar kendi-kendi ini bermanfaat sebagaimana mestinya. Bukan untuk dipecah-pecahkan demi meredam nafsu amarah tuan,” Pedagang Kendi berapi-api. Sesegera mungkin Pedagang Kendi mengemasi kendi-kendinya. Sementara Calon Pembeli yang akhirnya urung menjadi pembeli terlongong-longong menyaksikan kepergian Pedangang Kendi.
Sekelumit kisah Pedagang Kendi dan Calon Pembeli itu saya baca dulu sekali ketika masih kecil. Saya tidak ingat benar apa judul kisah tersebut. Tapi, saya berani bertaruh bahwa esensi kisah Pedagang Kendi tidak berbeda dengan apa yang saya paparkan. Meski tentu saja saya membubuhinya dengan sedikit bualan.
Nyaris saban hari saya menyaksikan pun terlibat langsung dalam transaksi jual beli. Nyaris pula tak saya jumpai percakapan serupa lakon Pedagang Kendi dan Calon Pembeli. Saya memutuskan untuk berbaik sangka. Meski manusia (yang mengaku) modern sukses menggusur kendi dengan botol-botol plastik, Pedagang Kendi sebagai roh dan semangat terkadang tetap membandel pada beberapa jenis manusia.
Adapun Calon Pembeli bisa menjelma sebagai siapa saja, asal sudi memperlakukan benda secara menyimpang dari konvensi fungsinya. Andaikan saja bahwa ada seseorang yang nekad membeli laptop guna mengganti telenan usang di dapur. Konvensi fungsi dalan hal ini bukan berarti bagaimana sebuah benda seharusnya (benar-benar) menempati fungsinya. Tapi bagaimana orang kebanyakan secara serempak sepakat akan fungsi sebuah benda. Pohonan yang mestinya menjalankan takdir untuk menyimpan cadangan air alam pun mesti pasrah jadi lap ingus, bukankah kita sepakat menyulapnya jadi benda bernama tisu?
Konvensi fungsi ini pula yang akhirnya saya tuding sebagai penyebab Pedagang Kendi dan Calon Pembeli hanya muncul dalam cerita. Ketika sudah tercipta konvensi, pertanyaan tentang fungsi tidak akan muncul kecuali sebagai basa-basi. Bahkan, dukun santet pun tak akan mengotak-atik ihwal dendam yang membikin kita sampai memakai layanan jasa si dukun guna membuat seseorang check out dari dunia. “Itu urusan sampeyan, Mbakyu. Simbah ini ibaratnya tukang buat pistol. Yang penting pistolnya bisa buat nembak. Mau dipake nembak botol atau nembak manusia bukan urusan simbah,” begitu kira-kira kata hati dukun santet jika ada pelanggan yang ngotot curhat.
Jika benda-benda dibebani konvensi fungsi oleh manusia, lalu bagaimana dengan manusia sendiri? Louis Althusser menjawab bahwa individu selalu telah menjadi subjek, bahkan sebelum ia lahir. Dalam hal ini, manusia sudah memiliki identitas yang tidak dapat ditukar atau dipilih. Memikul nama bapak dan ibu, menyandang nama keluarga, mempunyai peran dalam struktur keluarga. Lebih luas lagi, manusia-manusia yang lahir lebih dahulu telah membikin aturan yang berlaku bagi calon manusia selanjutnya.
Aturan yang berlaku bagi manusia saya pikir tidak berbeda dengan konvensi fungsi benda-benda. Aturan dan konvensi fungsi bukan takdir, tapi bagaimana manusia kebanyakan menyepakati atau dibikin menyepakati. Bukan pula sesuatu yang lahir dengan alami, tapi didatangkan sebagai atribut dari kepentingan serta tujuan. Isi kepala manusia yang beragam tentu melahirkan kepentingan serta tujuan yang bermacam. Sebut saja Frued yang berasumsi bahwa pola aturan budaya dan peradaban manusia semata-mata untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya. Atau materialisme Marx yang beranggapan bahwa manusia dibikin patuh pada aturan-aturan guna memenuhi kebutuhan hidup manusia lainnya.
Awalnya Akutagawa sukses membuat saya merasa amat iri dengan kisah novelnya, Kappa. Di negeri Kappa, tepat sebelum bayi Kappa lahir, bapaknya akan berteriak pada vagina sang ibu. “Apa kau benar ingin lahir ke dunia ini? Pikirkan masak-masak sebelum kau jawab,” Tanya sang bapak pada bayi Kappa. Bayi Kappa dengan menimbang identitas keluarga yang bakal dipikulnya dan bayangan akan kehidupannya mendatang akan memberikan jawaban. Jika bersedia lahir, maka lahirlah ia. Jika tidak, wuusss….. bayi Kappa akan lenyap.
Iri tanda tak mampu, demikian dulu olok-olokan yang nge-trend di zaman SMA saya. Iri cuma menggerus hati, tidak lebih. Jauh lebih baik belajar dari Althusser, belajar menaruh kecurigaan pada aturan-aturan yang berlaku. Curiga, sebagai lesbian, saya sedang membelot dari takdir atau aturan yang serupa takdir?
@Zetha Septina Abdu, SepociKopi, 2010









Klo lesbian itu bagian dari qada dan qadar baik/buruk,pastinya lesbian masuk kategori qadar buruk,tugasku mengimani itu.
Banyak2in amal baek ja sist.
hmmm…jd ingat waktu ke cilacap kemarin adik beli kendi,sampai sn ga kepakai,cuma ditaro di dapur gt aja…^^
Dalam banget makna wacana ini, salut sama penulisnya mbak ZSA, benar2 berbeda dr tulisan lainnya.
sepengetahuanku..semua yang ada di dunia ini bebas nilai. Untung ada agama yang membuatnya nyata mana yang benar dan salah.
Tapi bukan manusia namanya kalau tidak memakai otak dan memutarbalikkan yang ada di dunia.
tapi yang kita cari kan kebahagiaan..??
gak bosan2 aku membaca tulisan ini….
melambung! akan rasa bangga…
tulisan ini benar2 membuka pikiran, menjadi nyantai….
“Nilai diri kita tergantung dari sudut pandang mana kita melihat”
Maunisia ada krn ada, apakah keadaan membuat manusia ada? Eksistensi membuat maunsia ada..
Lagi nie,pernah liat kendi air minum yg bagian bawahnya sengaja dibuat berlubang dan ajaibnya air yg didalam kendi engga’ tumpah dan itu kendi engga’ kehilangan fungsinya samasekali.
calon penulis top! keren!
generasi penulis top indonesia! keren!
aih sedaaapppphhhh…. balik lagi kita ada karena ada satu masa yg memerlukan kita untuk ada… merasakah anda berguna buat org lainnya? klo tidak… ga mungkin.
tema yg asik dibaca… good .. hhe
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, apa kabar?
Mungkin banyak yang menganggap pertanyaan ini hanya basa-basi dan pemanis bibir saat bersua. Tapi pernahkah para lesbian merasa bahwa yang tersirat di baliknya adalah harapan untuk mendapatkan jawaban dengan dua kata: baik dan sehat?
Lesbian, kesehatan adalah modal utama dalam menjalani kehidupan. Kita bisa berkarya dan beraktivitas dengan maksimal jika didukung kesehatan yang prima. Kita bisa menikmati indah dan asyiknya kehidupan jika tidak terganggu oleh keluhan sakit ini dan itu.
Lesbian, jagalah kesehatan yang Tuhan karuniakan dengan membudayakan hidup sehat dan seimbang. Makan makanan sehat, olahraga dan olahjiwa secara teratur serta jauhi rokok dan alkohol. Jadilah lesbian sehat yang kece. Ajak teman dan partner untuk sama-sama sehat agar bisa berkarya hingga puluhan tahun lagi. Selamat menikmati kehidupan seimbang dan bahagia bersama SepociKopi untuk seluruh pembaca setia. Peluk dan cium buat semuanya.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 64 queries. 0.668 seconds.