Penerbangan Gila
Oleh: Ade Rain
Deru pesawat udara mendesing. Tempat dudukku di tengah, antara seorang pria dan pria lain. Tampaknya mereka kompak diutus ke bumi untuk membungkam ketenanganku agar terbang tidak nyaman dalam perjalanan itu. Terus terang satu jam sudah aku kepikiran pengin bunuh diri karena bau mulut di makhluk sebelahku, apalagi menguapnya rutin! Mereka berdua dengan santainya merampas kebahagiaanku.
Cowok tanggung di sebelah, mengambil sandaran tangan, kayaknya sengaja dijadikan etalase, pamer jam Rolex yang entah asli entah palsu, membiarkan tanganku terkulai menyempit ke badan, seolah ada surat kabar yang harus kuselipkan di ketiak selama penerbangan. Coba tengok si lelaki di sisi satu lagi, duduk mengangkang seakan sedang mengganjal selangkangannya dengan koper besar berisi harta karun dan takut dicuri orang. Kaki kirinya mepet rapat ke kaki kananku. Semoga paha itu tumbuh jamur dan kena hama sehingga cepat sadar bahwa ia sedang menyengsarakan tetangganya. Bagaimana aku mau duduk nyaman? Kalau tangan harus lengket ke badan dan kaki-kakiku saling memeluk. Keram bow!
Beginilah kalau dapat penerbangan penuh coba, duduk di tengah diapit dua manusia nggak normal. Aku lesbian normal lho, Om, nggak menyiksa orang-orang di sekelilingku. Percuma mau menggumam apa pun hati tetap nggak tenang. Kepala sakit, mau meledak akibat aura dan gas aneh dari dua mas-mas mafioso ini. Terang aja aku gelisah jangan sampai mashed potato yang kulahap di bandara tadi jadi tape kentang di pangkuan mereka. Aku sudah merancang strategi perang, muntahan pertama mau diserak di tangan pria ini. Muntahan kedua di paha si duduk nyerong. Muntahan ketiga baru pura-pura manis menghabiskannya di kantong muntah. Si cowok ngangkang sudah melihat bahasa tubuhku yang gelisah, tapi dia juga nggak mau membagi sandaran tangan, dua pria ini memang tega! Hiks!
Pengumuman cuaca yang kurang baik alias gangguan turbulensi membuat hatiku melonjak kesenangan, seakan mendapat kabar menang undian dengan hadiah jackpot menjambak si mas sebelah kiri, dan mencakar si ngangkang. Si rakus cepat-cepat merapikan duduk, secepat kilat tangan kiriku merebut sandaran lengan. Wuuus! I’ve got it! I’ve got it! Fiuh.
Aku memang agak susah kalau sudah diperlakukan tidak adil, naluri membalas dengan tindakan setimpal sukar dibendung, aku mau membeli selotip dan merekatkan lenganku di sana, ketiakku akhirnya bernapas. Namun aku belum menemukan cara untuk menghilangkan aroma busuk itu.
Setidaknya aku bisa sedikit bernapas lega, tinggal si ngangkang. Benar saja… aku mual beneran gara-gara bau jigong busuk tadi, apa ya yang dia makan? Pikiranku berkelana. “Wuakkk!!!” Suara itu tentu saja sengaja kukeraskan. Sudah tahu dong kalau sasaranku paha lengket itu… yuhu, pahanya secepat kilat menepi dari pahaku. Muntahannya belum ada… beluuum, kantong muntah kupasang dicorong mukaku, eh… suaraku drama itu makin keras. “WUAAAK!!!” Si bau mulut benar-benar menutup mulutnya. Syukurlah paling nggak aku bisa menarik napas agak dalam.
Mudah-mudahan adegan muntahku tidak menular. Biasakan kalau ada yang muntah satu yang jijik sepuluh orang akhirnya muntah semua. Aku minta izin dengan bahasa isyarat numpang lewat mau ke toilet.
Tak jauh dari toilet, ada kursi kosong di aisle, aku minta izin pramugari duduk di sana. Dua perempuan sibuk mengobrol. Setengah jam kemudian aku baru “ngeh”, maklum baru saja merasakan kebebasan menghirup udara yang lebih baik dan rasanya seperti napi yang baru saja merasakan detik-detik kebebasan. Aku lupa siapa sekelilingku. Dua manusia sejenis ini kok… itu di bawah majalah… otakku masih lemot. Di bawah majalah tangan mereka bergenggaman. Jebret, radarku jalan. Couple? Oh my God, baru saja aku nyaman duduk di situ, tiba-tiba dapat pemandangan seronok pula.
Senangnya bisa ketemu sesama, tapi kenapa badanku jadi bawel. Jangan oh jangan sekarang deh, aku mau kenalan sama mereka. Tiba-tiba bau mulut mas-mas tadi mampir di hidung. Nggak boleh muntah di sini Mereka bisa ill feel. “Mbak boleh minta kantong muntahnya?” suaraku memelas. Di depan kursiku nggak ada kantong muntah. Kutunjuk ke arah kantongan kursi mereka.
Andro eh ternyata andro itu, dia tersenyum memberikannya padaku, jantungku melorot tapi belum sempat kunikmati rasa dag dig dug, lambung membesar, kerongkongan terasa penuh… aku berusaha bergegas ke toilet, masih dalam keadaan berdiri, kantong langsung kutaruh di depan mulut…
WUAAAAK!!! Kali ini benar-benar muntah, bukan bohongan!
Byuuurrr, semua mashed potato, pisang dan jus semangka yang kumakan di bandara keluar dari lambung menuju mulut. Kantongan tersebut penuh, yaks maaf.
Memalukan, seumur-umur belum pernah aku muntah selama terbang. Biasanya hanya waktu sakit. Pakai mabok di depan pasangan lesbi lagi! Benar saja… mereka sudah nggak bicara apa-apa, ceweknya bersandar di bahu mbak andro, barangkali mualku menular padanya. Mungkin juga diam mereka berharap pesawat cepat mendarat dan berdoa sepanjang masa aku nggak muntah lagi. Aku cengengesan sendiri.
Kukutuki si bau mulut tadi. Kudamprat mas-mas yang selangkangannya ada net badminton. Kumaki diriku yang nggak bisa duduk manis di samping mereka. Akhirnya aku tertidur, pindah tempat, duduk nyaman di business class, badanku ditutupi selimut hangat sama pramugari, tapi kok dalam mimpi itu si pramugari-nya mirip-mirip andro tadi itu ya.
Dasar gendeng. Ketika bangun roda pesawatku gedubrakan menyentuh landasan mendarat dengan selamat. Untung aku nggak ileran, si pasangan lesbian sudah duduk lurus tegak, langit di luar cerah. Mereka berdua melihat ke arahku dengan gimanaaa gitu. Barangkali iba lihat muka pucatku. Di ruang kedatangan, kulihat senyum Sulung dengan seikat kembang menyambut dengan mata melotot ke arah “pasangan” tadi… aku tahu matanya mau memberitahuku. Nak… nak, basiii!
Bahkan aku bakalan dikenang sama mereka, Naaak. Ada mbak-mbak katro yang pakai muntah di pesawat terbang! Kami berjalan menuju mobil, sulung mendorong troli, ketika kuceritakan pengalaman burukku, ketawa kuntilanaknya melengking, banyak penjemput menoleh ke arah kami, ketawa itu bukan cuma tawa bahagia menyambut seorang ibu pulang, tapi lebih daripada itu. Sulung membukakan pintu mobil sambil mengusap-usap punggungku, “Welcome home, my mombian.”
@Ade Rain, SepociKopi, 2010









Hahaha…baca cerita ini tengah malam jd ga ngantuk lg
Btw, kyknya kak Rain ni sering ketemu sesama ya? Asyik ^_^
Hahaha, akhirnya tulisan AR yang agak nakal dan nyeleneh tampil juga,……sudah cukup lama tak menikmatinya…btw, jadi muntahnya bukan karena mas-mas selangkangan dong..tapi karena senyum si ‘andro’ ..hahahah..tulisannya cukup menghibur, membuat saya tertawa membayangkannya..bravo AR..!
Lucu jg ceritanya. Untung ga muntah di depan “mbak andro” itu. Kalo ya, kira2 diapain ya?
Salam kenal…
Tante ade ajari aku jadi lesbian normal ?…………..
Hahaghah.pas mampir ke spoci, dpt tulisan spt ini…
.mbak aderain, kenapa gak muntah di paha si andro manis, biar trus di pijitin ma dia n diusapin punggungnya
Hahahag, tapi siap2 diplototin sm GF-nya …
Seru!!, tulisannya mantap, top-lah AR….salam kenal
Gokil banget ceritanya,…!!!
Wkawkaww…Aroma jigong yg membawa petaka…
baca tulisan ini …
jadi ikutan mual deh …
andai aku dekat mu, Ade …
pasti ketularan muntah …
Mashed potatonya original or spicy?
yaksss ma muntahnya…nyum2 ma bibir mu aderain (^^)
tenang aja kak rain.mel malah lbh parah.ga boleh cium ac mobil dah eneg.payah,masa kemana2 mau pake bajay….hehehe! ^_*
baca kisah2nya mba’ ade sama sulungnya serasa nonton serial Gilmour Girls dulu. Kompak bgt yach.. *anyway, adiknya sulung kok ga pernah diceritain sih?
hahaha..pengen ketawa tapi kalo ngebayangin kok jadi ikutan mual ya ><“
Wakakak…Aduh ade rain…, ceritamu selalu mbuatku terpingkal2 sendirian.
Mmg paling menyebalkan diapit 2 cowok,jorok pula,mending diapit dua butchi crunchi..hehehe..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments