Tajuk: Pelacuran dan Kita
Oleh: Nuha Guwa
Beberapa waktu lalu, saya nyaris terjungkal dari kursi. Serasa tidak percaya dengan penuturan salah seorang teman kerja, bahwa ternyata di sebuah mal marak terjadi transaksi prostitusi “lain dari yang lain”, kliennya para lesbian! Tentu saja aktivitas tersebut cukup mencengangkan. Prostitusi yang melibatkan perempuan dan laki-laki saja sudah dianggap asusila, konon pula seorang perempuan dengan perempuan. Duh!
Hal ini jelas menyerempet pada kita-kita, bener nggak? Jangan sampai pikiran banyak orang menganggap bahwa lesbian itu dekat sekali dengan kemaksiatan, bersisian dengan kejahatan serta tak jauh dari obat-obatan terlarang, oh no! Jangan sampai orang mengasumsikan bahwa lesbian memang hidup di lembah nista. Sejujurnya saya tidak mau merendahkan orang yang berprofesi di wilayah prostitusi, tidak sama sekali. Meski saya juga tidak mendukung. Jika ada pekerjaan yang lebih mulia dan tidak berisiko
tinggi, saya malah menganjurkan para prostitusi agar segera mengganti pekerjaannya dengan sesuatu yang lebih baik tentu dengan pekerjaan yang juga lebih layak dan menghasilkan. Baiklah, untuk lebih jelasnya mari kita cari tahu apa sebenarnya prostitusi.
Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual yang ditujukan untuk mendapatkan uang, terlepas dari apa pun kegiatan seksual yang diinginkan. Intinya hubungan seksual ini dilakukan berdasarkan upah atau dengan imbalan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuh. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur namun seringkali dalam penyebutan profesi mereka diperhalus dengan sebutan Pekerja Seks Komersil (PSK). Pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik seksualitas manusia ini konon merupakan salah satu profesi tertua di dunia. Lapangan pekerjaan yang paling sulit dihapuskan karena peminatnya yang selalu saja ada dan transaksi ekonominya dapat dilakukan dengan sangat mudah. Atas dasar inilah beberapa negara menghalalkan prostitusi dengan alasan bahwa jika dibina dan diatur dengan baik, para prostitusi tidak akan menjalankan aksi jual dirinya kepada anak-anak di bawah umur, selain itu mereka juga mendapatkan perlindungan kesehatan serta rasa aman dari kejahatan
yang kemungkinan dapat menimpa mereka ketika sedang melakukan pekerjaan tersebut.
Di Indonesia, pelacuran jelas dipandang negatif, para penyewa tubuh dianggap sebagai sampah masyarakat. Berbagai kontroversi dan perdebatan muncul terhadap kegiatan satu ini. Meski banyak pihak beranggapan bahwa pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun entah kenapa masih saja dibutuhkan. Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa pelacuran dapat menjadi sarana menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkan, biasanya kaum laki-laki, di mana tanpa penyaluran tersebut dikhawatirkan para pengguna jasa ini justru akan menyerang dan memerkosa perempuan mana saja. Bukannya ini sudah sering terjadi?
Mengutip Wikipedia, salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat “selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.” Well, kita tidak perlu setuju atau tidak setuju dengan pendapat ini kan? Pandangan negatif terhadap pelacur sering kali didasarkan pada stigma ganda, karena yang sedihnya konon hanya pelacurlah yang sering mendapat cap buruk sedangkan pelanggan tidak. Baiklah itu sisi pandang yang mungkin bisa memberikan kita presfektif adil. Di Indonesia sendiri kita sudah sering mendengar betapa banyaknya para PSK menjadi korban penipuan oleh para pelanggan yang enggan membayar atau bahkan menjadi korban perampokan. Jika sampai di sana tidak menjadi soal, bagaimana jika mereka sampai harus meregang nyawa? Catatan di kepolisian menemukan banyak PSK menjadi korban pembunuhan bahkan hingga dimutilasi untuk menghilangkan jejak. Masih ingat PSK yang
dibunuh di hotel dan mayatnya disimpan di dalam spring bed yang dijahit kembali dengan rapi oleh pelaku mutilasi? Mungkin jika pelaku bisnis ini diperketat dan diawasi, maka keselamatan para PSK bisa ditekan dan pelaku aksi pemerkosaan bisa diminimalkan.
Barangkali memang harus dilakukan pengkajian dan penelitian khusus menyangkut negatif positif keberadaan pelacuran di dunia. Sudah jelas dari sisi agama manapun prostitusi merupakan tindakan asusila, perempuan yang melakukannya sundal dan sangat hina. Mereka juga dianggap sampah dan musuh masyarakat serta divonis sebagai makhluk yang melecehkan kesucian agama, tidak hanya itu undang-undang pornografi dengan mudah menyeret mereka ke pengadilan karena dianggap melanggar hukum. Bisnis selangkangan memang sudah dikenal masyarakat sejak berabad lampau dengan catatan tambahan sebagai pekerjaan dengan resiko yang mematikan. Prostitusi dianggap sebagai salah satu sarana utama penyebaran berbagai penyakit khususnya AIDS yang konon menjadi penular paling aktif di dunia.
Bagaimana dengan pelacuran di kalangan lesbian? Sejujurnya aktivitas ini sangat mengagetkan saya dan teman hetero tadi. Dengan pasti ia mengajak saya beberapa kali duduk di cafe yang disinyalir manjadi tempat transaksi dan memperhatikan langsung bagaimana transaksi samar itu terjadi, yang sekilas hanya terlihat seperti pertemuan dan kongkow-kongkow perempuan gaul. Dia bilang siapa saja pelanggannya? Kok, perempuan bisa aneh begitu? Well…jika pertanyaan itu diajukan kepada saya jelas saja saya menolak adanya prostitusi di kalangan lesbian. Secara seksualitas perempuan tidak seperti laki-laki yang terkungkung pada seksualitas antara pusar dan lutut. Perempuan mudah terpuaskan dengan perasaan meskipun ujung-ujungnya toh juga akan ke sana juga. Lalu untuk apa aktivitas persewaan badan perempuan tadi? Saya pun tidak bisa menjawabnya karena mungkin kebutuhan seksual setiap orang berbeda. Jika saya ditanya tentu jawabannya “tidak!”.
Suatu kali, salah seorang teman lesbian yang mengajar di sebuah sekolah Internasional School mengeluhkan betapa susahnya mencari seseorang yang bisa dijadikan teman berdiskusi secara intelektual di Indonesia sesuai dengan tingkat yang ia miliki dan memohon pada agar dicarikan seorang PSK lesbian untuk diajak mengobrol sepanjang malam. Lagi-lagi saya anggap itu juga permintaan yang sangat kontradiksi dengan alasan yang diajukannya. Jelas-jelas saya hanya menggeleng dan hanya memberikan jawaban konyol padanya, “edan!”. Apakah saya salah karena subjektif jika tidak setuju dengan praktek prostitusi, apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh para lesbian?
Mari kita lihat ke depan, tentu dengan kecerahan pikiran dan hati… seorang pacar, satu partner yang pas rasanya cukup menjadi solusi. Bersentuhan dengan dunia prostitusi sama artinya dengan menantang penyakit kelamin yang sedang menunggu mangsa, penyakit lain seperti hepaptitis A hingga C juga menunggu tumbal. Apakah kita mau menyia-nyiakan umur yang hanya satu kali cuma untuk memuaskan aktivitas bagian tubuh yang ukurannya hanya dua ruas jari itu?
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010









gw g tw msti ngmg apa lg…
STOP PROSTITUSI apalagi u/ kalangan Lesbian..
betapa makin terhinanya kita akibat ulah para oknum prostitusi lesbian itu…
STOP IT!!
omg.. i don’t believe it.. sungguh menyedihkan mendengarnya..
smoga aj ini hny sebagian kecil hal negatif dr dunia kita ini..
aku percaya cinta seorang lesbian bukan hanya sekedar seks..lebih dr itu,pengertian,patnership,cinta kasih juga bgmn kita mengontrol ego krn notabene kita sma2 perempuan..
so please stopp it..
kita sebagai lesbian pny tugas utk menjadikan nama kita lebih baik..tentunya dgn hal2 positif..
wew, gw pernah dgr sih dri tmn gw ttg masalah gni! tp gw kira tmn gw cm ngarang doank! eh ternyata bnr an ada!
menjadi pelacur lbh baik dr pd menjadi pencuri,setidaknya yg dijual adalah dr sendiri,bukan orang lain.dan bukankah kita juga terkadang jg menjadi pelacur dalam bentuk yg berbeda.seorang yg hrs berkerja atw berbuat sesuatu bertentangan dgn kehendak atw keyakinan karena satu dan lain hal.pelacur bkn hanya orang yg menjual badan,tp jg yg menjual keyakinan,itegritas diri demi uang.satu2nya yg dikhawatirkan adalah resiko kesehatan,baik untk pelaku atw pelangan nya.sadari itu,ketahui resikonya,biar bagaimanapun sexs akan lebih nikmat jk dilakukan dgn cinta.
aku memandang (sisi pandang yg kugunakan) pelacuran dari sisi moralitas bukan ekonomi (ketiadaanya pekerjaan).
aku punya teman jauh dari kata miskin dan kata tidak ada pekerjaan! menjual tubuhnya untuk uang dan kepuasaan.
buatku manusia yg menjual dan membeli “tubuh yang hidup” adalah manusia yg tidak bermoral! apapun alasanya.
Ps: satu yang pasti! aku bukanlah manusia bersih tanpa dosa dan kesalahan. Ulasan yg sangaaat… lembut ttg topik yg sebenarnya sangat arogan.
Bbrp taun yll saya pnh baca di surat kabar mingguan di jogja, mengenai prostitusi dgn klien lesbian. Ini tjd di kota jogja. Jd saya tdk begitu kaget dgn berita ini. Saya hanya bs berhrp mrk semua bs sadar.
aku suka dengan gaya bertuturnya. simpel. powerful. mungkin inilah peranan kata-kata dalam bahasa tulis…
I was shocked. G pkir kaum gay aj yg pnya “kucing”,tnyata kaum L jg ya?! Kîra2 jargon “kucing” u/kaum L ap y??? Well,woteva da reason is,prostitution is wrong!!
@d’ : i like ur opinion..
jadilah pelacur yg profesional.. yg intelek, punya wawasan yang luas.. dengan senang hati saya akan membayar mereka untuk menemani saya ngobrol sambil flirting sesekali..
Org lain bkan hakim kita. . Hanya cinta,syg,perhatian,dan kasih syg adalah penentunya. And juga doa. .
Cinta dan rasa menyatu di doa. . Dan berharap cinta yg kan menang. . Salam kenal. Hdp L! ! ! !
Jadi inget cerita slah seorang L ,beliau SETda d tempat nya, karna lama ngejomblo dia pke jasa pSK buat menuhin hasrat nya.
maaf, tapi setelah baca artikel ini, kok 2/3 bagian hanya untuk intro tentang prostitusi, kondisi pelaku prostitusi yang menjadi korban kriminalitas, sementara hanya 1/3 bagian yang membahas tentang prostitusi di kalangan lesbian, yang adalah sebuah berita dan kabar baru, paling tidak buat saya. sayang sekali, ya?
sigit kurniawan thanks ya ,buat teman teman yang kasi komen thanks juga; NuhaGuwa
jadi pingind nyari psk lesbian !
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments