te.Lez.kop: (Not) Your Ordinary Valentine
Oleh: Shinigami
Setiap bulan Februari menjelang, sepertinya nyaris kalender setiap orang memiliki tanda khusus untuk tanggal 14. Bagi yang punya pacar, tanda standar yang dipakai biasanya (apalagi kalau bukan) bentuk hati plus tulisan: dinner bersama yayang. Membaca sekelompok kata tadi, pikiran kita akan dengan mudahnya membayangkan meja restoran yang sudah diset manis untuk berdua, lengkap dengan cahaya lilin yang hanya cukup menyinari wajah sepasang kekasih sehingga memberikan ruang intim pribadi di tengah-tengah ruang publik, dan tak ketinggalan bunga—biasanya mawar—yang tersemat dengan manisnya di atas meja, seperti materai yang melegalkan perayaan cinta ini. Ya, kebanyakan orang akan berpikir seperti itu. Saya? Saya memikirkan satu kata: membosankan.
Bagaimana mau tidak bosan kalau tiap tahun itu yang terjadi, yang ditawarkan. Begitu Januari berada di lembar-lembar terakhirnya, pasukan restoran akan serentak menyemburkan pamflet promosi Valentine mereka, lengkap dengan iming-iming undian berhadiah (mungkin untuk tahun ini BlackBerry Gemini ) hanya dengan mengambil paket seharga sekian ratus ribu hingga sekian juta rupiah plus plus—kecuali restoran itu hanya kedok praktek pijat maksiat, plus di sini tentu saja maksudnya plus pajak. Jangan salah, saya sama sekali tidak menentang aktivitas makan bersama orang yang disayangi. Makan dengan pasangan menyenangkan kok. Yang saya soroti adalah kemonotonan kegiatan Valentine yang disediakan, seakan-akan merayakan rasa cinta hanya bisa dilakukan dengan aktivitas makan malam berdua.
Kalau memang itu yang ditawarkan oleh para pelaku bisnis dalam memeriahkan Valentine, kita mau bagaimana lagi? Saya setuju. Eits, bukan pada semangat kepasrahan yang diusung oleh pertanyaan itu, tetapi pada bagian yang menyatakan bahwa “memang itu yang ditawarkan.” Dan namanya tawaran itu selalu memiliki dua cabang: diterima dan ditolak. Kita tidak harus selalu menerima apa yang ditawarkan kepada kita. Terkadang, kita harus berani menolak. Dan kalau sudah teramat bosan dengan paket-paket Valentine itu, saya rasa sudah saatnya kita menggeleng sambil tersenyum manis lalu melangkah pergi. Umumnya, bila kita menolak sesuatu, itu artinya ada hal lain yang lebih menarik, yang lebih baik dari yang ditawarkan. Ya, benar, ada hal yang lebih baik dari acara makan-makan yang sudah begitu lazimnya itu. Dan hal lebih baik itu adalah tinggal di rumah.
Saya tahu kalian sudah ingin meneriaki saya macam-macam plus melempari saya dengan barang terdekat apa pun ketika membaca tiga kata terakhir paragraf di atas. Tetapi seperti seorang terpidana mati, saya berhak menyampaikan pledoi sebagai berikut.
Tinggal di rumah itu opsi yang jauuuuuhhhhh lebih baik daripada terlunta-lunta di jalanan mencari restoran mana yang cukup naif untuk tidak memanfaatkan momen Valentine dengan semena-mena melalui harga yang mencekik. Kalau pun kita cukup kaya sehingga bisa membuang sekian banyak uang layaknya membuang hajat, pilihan untuk tidak melakukannya tetaplah lebih baik. Apakah ini berkaitan dengan kampanye pemerintah untuk rajin menabung? Bukan. Ini berkaitan dengan another L-word: lalu lintas. Malam Valentine bisa membuat setiap orang merasa berhak untuk memenuhi jalan-jalan menuju ke suatu tempat untuk merayakannya bersama kekasih. Percayalah, mencapai restoran tepat waktu makan malam di saat Valentine membutuhkan campur tangan seorang ibu peri. Yang sangat mungkin terjadi adalah bad mood karena capek terjebak kemacetan dan asam lambung yang mulai naik; salah-salah malah bisa bertengkar dengan pacar.
Nah, semua kerepotan itu tidak perlu terjadi kalau kita tinggal di rumah. Mau makan? Tinggal keluarkan alat-alat masak serta bahan yang dibutuhkan dan mulai memasak. Tidak bisa memasak? Justru lebih baik. Pakai kesempatan ini untuk (bersama-sama) belajar memasak dengan kekasih. Enak atau tidak hasilnya bukan masalah. Yang penting kita menikmati prosesnya. Kalau akhirnya harus memasak mi instan pun tak apa. Mungkin kita akan saling menyuapkan mi instan itu sambil tertawa-tawa karena dengan sukses telah gagal bersama.
Tinggal di rumah juga memberi kita privasi yang tak dapat dibandingkan dengan bersantap di restoran mewah. Privasi apaan kalau kita harus berbagi satu ruangan besar dengan puluhan orang lain? Mau berpegangan tangan saja bisa-bisa dipandangi sama pasangan sebelah. Ciuman apalagi. Nanti tahu-tahu ada yang nge-tweet, “OMG. Barusan lihat si D ciuman sama F. Mereka beneran pasangan lesbiaaaaaannn!!!” Cihuy, ngetop deh kalian.
Sedangkan kalau di rumah, kebebasan sudah bisa dipastikan. Mau ciuman sampai bibir bengkak dan perlu dikompres pun silakan. Mau jahil meraba-raba sampai horny juga tak masalah, bisa langsung dilanjutkan dengan bercinta, tanpa tertunda macet yang menghadang perjalanan pulang. Asyik kan? Belum lagi permainan-permainan seru nan panas yang bisa dilakukan berdua. Strip poker misalnya, suatu permainan yang tak bisa dilakukan di tempat umum tanpa melibatkan Hansip, Kamtib, hingga Polisi. Saya yakin kalian pasti punya permainan-permainan mengasyikkan lainnya yang menanti untuk dicoba. Tak usah malu-malu, silakan saja.
Bagaimana, masih ingin mencaci-maki dan melempari saya dengan berbagai benda?
@Shinigami, SepociKopi, 2010









Hahaha..
Iya. Asal jgn bkn kbakaran aj d dapurr.
Huh… tulisan ni membuatku sedih. Kekasih hati berada nun jauh disana…
Valentine, ya sendiri aja…sedang aku sdh sgt merindukannya.
dear kalian semua yg ad d sepocikopi.
valentine kali ini bkl jd valday yg g happy bwt q.kelabu.
kkshq g ada bsm q d hr val bsk.enth bnr mau nikah dg lelaki yg aku bnci seumur hidup atau tdk.yg jls susana hatiku sedang bruk.mgkn udh tkdir dlam hdp gw hari val itu hari yg MEMBOSANKAN. ada / tak ada kkshpun sama sj. aq g bs mrsakn nkmtnya prayaan valentine.
setujuuuu…!!
setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…
valentine kali ini kayakna aku gak akan bareng partner, tapi gak apa – apa, masih ada dua adikku yang bisa aku ajak jalan – jalan.. ditraktir es krim aza mereka pasti seneng ^^
Dear Shinigami, saya adalah orang pertama yang akan melempar anda dengan ciuman jarak jauh hahahaha. Setuju banget!!!
Aku ingat tuh tahun lalu, vals day kan malam minggu. Keluar bareng pacar bukannya bikin refreshing malah mumet, gara2 skandal maceeeett… huh, kayaknya ember enakan di rumah.. nyantai bok..
Setuju banget..
uhh, meskipun ga punya partner, tapi bayangan ngerayain valentine berdua dirumah itu pasti seru n ‘hangat’ banget dech..bikin kue bareng, masak bareng, beresin rumah bareng, diselingin jutaan ciuman n beberapa kali selingan bercinta hehehe…
uhh… kayaknya udah kudu mulai nyari partner lg nih:p, buat ngerayain valentine taon depan hehe..
weww…! hati2 terperangkap sama romantisme yg diciptakan kaum kapitalis…
Kebetulan aku dan partner termasuk orang yg tdk tertarik dgn valentine. Jadi adem adem saja krn tidak ikut merayakannya
setuju banget kalo mau bermesraan makan di luar berdua aja kayaknya susah deh.
baru gandengan aja udah dipandangin.. apalagi candlelight dinner..
) makannya room service aja…
valentine @home good idea.. tp kalo yg masih tinggal ama ortu?
hehehhe bagusan valentine@hotel room…
haha..memang kalo di rumah lebih bebas. Gak perlu ribet cari tempat pula
setujjjuuuuuuu,,, berada di keramaian itu hal yg sangat tidak menyenangkan,, lebih baik ada di tmpat yg mnurut org tidak menarik tp qta ada bersama pasangan,,dripada ada di tempat menarik tp tanpa pasangan di samping qta,,
Hmf. , miriz mengingat valday. . .br d tgal kawin partner,hahaha. . .
tp dluar it, stju bgt ma shinìgami, lebh enakan d rmh, drpada dluar mlah mubadzir. . .tapi. . .tapi. . .tapi. . . hati2 kalo d rmah, jgn2 d intip sma shinigami lg (pizzz. . mksdna shinigami bneran yg kaga kliatan,hehehe. . ) jgan lupa pntu dpan d konci, biar g da kmacetan dlam mencpai punck. . .
Hiks hiks sedih bgt val kali ni q berada ribuan kilometer dr ayank,maafin ak y syg aku pasti cepet pulang please waiting for me and i’ll be back for you
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments