Tajuk: Kejahatan di Sekitar Kita dan Kita
Oleh: Nuha Guwa
Seribu ancaman mengintip kita, padahal bumi yang diciptakan Tuhan sangat mudah diadaptasi. Secara turun temurun kita mengadopsi tradisi dan budaya nenek moyang agar sanggup hidup harmoni dengan alam semesta. Para pendahulu sejak lama menyadari bahwa lingkungan hidup jarang memberi ancaman. Bencana acapkali datang akibat ulah manusia sendiri. Kerusakan lingkungan membuat selaras alam menjadi gagu dan tak seimbang, sehingga bencana alam rutin mengintai manusia.
Ancaman-ancaman tersebut tentu saja jauh-jauh hari bisa diwaspadai, penyakit bisa dicegah, kemiskinan bisa diatasi, kebodohan bisa dihentikan. Semua afeksi sosial baik itu penyakit menular, wabah, dampak buruk siaran teve, hingga dampak film dan situs porno merupakan ancaman pasif. Yang lebih mengerikan justru sering datang dari jenis kita sendiri, muncul dari orang terdekat. Kejahatan dilakukan seseorang yang sebelumnya malah sangat menyayangi dan mencintai.
Di Jawa seorang ayah nekad melindaskan kaki puteranya karena kesal dengan sang istri. Di Sumatra seorang ibu yang stres oleh ulah suami sanggup membantai lima anak kandung, dua di antaranya selamat, sementara tiga tewas sebagai tumbal kemarahan tersebut. Kisah terbaru tentu saja datang dari seorang ibu yang nekad meninggalkan tiga anaknya berhari-hari tanpa makanan dan minuman. Apa arti semua ini?
Peradaban manusia dipenjara jiwa-jiwa liar, mulai kekerasan yang dilakukan secara pribadi, berkelompok, hingga yang dilakukan negara. Bentuk kejahatan ini pun beragam, mulai dari penipuan, kelompok hipnotis, perampokan, kelompok penipu telepon dan SMS, pembobol ATM, mafia peradilan, pembodohan, deskriminasi, aborsi, kekejian seksual, kejahatan korupsi yang keji itu dan banyak lagi. Seiring dengan pertambahan penduduk, tindakan kekerasan ini pun meningkat tajam. Perampokan uang rakyat melalui pertolongan-pertolongan berkedok penyelamatan bank terjadi lagi padahal korban kemiskinan kian hari makin mengerikan.
Belum hilang shock kita terhadap kekerasan seksual yang dilakukan Ryan, penjagal para gay itu. Kini muncul pula Bakeuni alias Babe yang memangsa sekaligus asusila terhadap anak-anak jalanan. Selain itu coba lihat kekejian dalam video amatir yang membuktikan adanya penyiksaan terorganisir antar senior dan junior di sekolah, pipi dan bibir junior berdarah sementara senior terus-menerus menganiaya tanpa rasa bersalah.
Yang paling menyedihkan tentu saja bukan karena korban tindakan kekerasan meningkat jumlahnya, tapi “pelaku-pelaku kekerasan” yang justru melonjak tajam. Sekali lagi jarang kita dengar kejahatan yang dilakukan oleh pihak lain. Semua kekejian itu nyaris dilakukan oleh orang-orang yang justru mengenal kita dengan baik. Keluarga, ayah, ibu, kaka, adik, paman, kekasih, istri, pacar, ternyata rawan akan kekerasan. Kekerasan memang sering terjadi dalam hubungan kekerabatan. Bagaimana dengan keluarga lesbian?
Jaringan pertemanan antar lesbian semakin meluas dengan adanya internet. Pertemuan-pertemuan dari dunia maya ke dunia nyata membuat setiap kita menjadi pribadi yang maruk. Memercayai semua orang terkadang seakan lepas kendali, atas dasar “persamaan senasib” atau sistahood ini dengan serta merta mudah sekali kita menerima seseorang yang mengakui lesbian sebagai saudara, atau berdasarkan kebutuhan pendamping hidup sehingga tidak peduli akan latar belakang hidup seseorang. Seringkali ada kesan teman lesbian berarti aset yang kemudian bisa dijadikan jaminan untuk memperbaiki hidup dan kebahagiaan. Terkadang atas nama kemiskinan memaksa lesbian-lesbian yang lebih sejahtera “harus” memberi pada yang tidak mampu tadi. Ini semua benar adanya.
Sejauh apa tanggung jawab sosial itu? Apakah sampai urusan yang teramat pribadi? Tentu saja semua harus ditakar dengan banyak pertimbangan. Jangan salahkan jika ternyata kita tidak mendapatkan apa-apa dari seorang lesbian yang seharusnya sanggup mengulurkan tangan lebih banyak. Barangkali pertimbangannya pada ancaman-ancaman yang ada di sekeliling kita tadi.
Bagaimana kejahatan inter-pribadi lesbian? Tentu saja mencoba hidup bersama dengan seseorang yang tadinya asing tidak segampang ketika kita memulai hidup dengan seseorang yang sudah dikenali selama perlahan-lahan sepanjang tahun. Jika dalam hubungan kekeluargaan saja sering terjadi kejahatan, bagaimana pula dengan seseorang yang baru saja dikenal?
Yang lebih lucu, setelah menjadi pasangan, pihak lebih dominan acap kali menganggap bahwa kekasih adalah milik dan haknya. Karena itu banyak yang memperlakukan sang pacar layaknya properti, dengan demikian ia bisa bertindak sesuka hati. Ia bisa mengatur ini-itu sesuka hati. Mutlak harus patuh secara otoriter seolah budak dan majikan. Tidak heran jika marah yang paling besar dan mengerikan justru akan diekspresikan pada orang yang paling dikasihi tersebut. Malah yang lebih menyedihkan atas dasar cemburu melakukan berbagai cara untuk menjerumuskan dalam jurang penderitaan, tidak akan puas sebelum melihat kehancuran.
Bukalah mata hati kita semua waspada terhadap kejahatan apapun. Jangan biarkan seseorang menginjak-injak harga diri dan keluarga. Jangan biarkan karena uang, cinta dan kekuasaan kita menjadi korban atau bahkan menjadi pelaku kejahatan. Antisipasi diri dengan bekal ilmu dan pengetahuan, moral, hati nurani, dan agama. Terhadap kejahatan di luar sana , persiapkan diri dengan segala macam kemungkinan, mawas diri terhadap siapa saja.
Sebagai lesbian kita wajib menandatangani persetujuan dengan alam: mutlak memberikan rasa aman itu bagi siapa saja. Ini berarti kita tidak akan mengusik kebahagiaan pacar kita yang kemudian memilih hidup bersama orang lain. Lihatlah pada diri sendiri, barangkali banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Kebebasan memang hak siapa saja. Namun percayalah, “bebas tanpa ikatan” berarti ancaman mega besar siaga mengintai. Beri kebebasan pada pasangan sesuai takar. Beri kebebasan pada diri sesuai dosis. Berikan orang-orang terkasih, karib kerabat, anak-anak di sekeliling kita kebebasan bersyarat, bahwa mereka boleh keluar dengan berbagai bekal diri.
Tentu kita tidak perlu tato di sekujur tubuh, membawa badik atau sangkur. Kita tidak menginginkan lesbian menjadi mahluk mutan yang menjadi monster bagi orang-orang di sekitar, biarkan orang tua dan bayi-bayi tetangga kita lelap terjaga, anak-anak bermain damai, nuansa hari tanpa teror, caci maki, apalagi kriminalitas fisik. Kejahatan kita lawan sekuat-kuatnya dengan kewaspadaan. Nafsu kita atasi dengan sadar diri. Ingatlah bahwa niat-niat liar sanggup menjadi bom waktu yang kuasa mensugesti kita pada tindakan luar biasa. Jaga diri dari aksi-aksi negatif, awasi diri jangan sampai menjadi pelaku pemicu bom kejahatan apapun namanya tadi.
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010









Berkaitan dengan internet, aku setuju dengan pendapat Lakhsmi yang pernah ditulisnya dalam blog JA, bahwa dunia maya bisa menjadi kuburan kita. Sudah selayaknya kita berhati-hati dan bersikap lebih waspada dengan mengesampingkan rasa tidak enak jika menolak saat diajak untuk melakukan kopi darat.
Bnr bgt tuch, kt hrs bnr2 wspda..
Aq jg g nyangka, org yg plg aq sayang dah nyktin aq…
Rambut sama hitam tapi isi kepala mana ada yang tahu….
Tidak semua niat baik dan tulus diterima dengan baik pula, apalagi seseorang yang baru kita kenal masuk ke dalam kehidupan pribadi. Hilangkan rasa senasib “L”, karena memilih seseorang menjadi “partner” tidak jauh bedanya jika kita mencari “pasangan hidup”, sekali dalam hidup
Jangan sampai terkecoh…
Dulu seperti “Kupu-kupu” … ternyata “Ulat Berbulu”
Dulu seperti “Bunga yang Indah” … ternyata “Kaktus Berduri”
Intinya kita harus lebih selektif…firewall perlu juga tuh palagi pergaulan di dunia maya…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments