Smoking_by_aluthinSelamat datang di Klinik S.O.S!, klinik yang memecahkan seribu satu masalah lesbian bermasalah. Kami menawarkan solusi, bukan subsidi. Jangan ragu menghubungi kami sebab kami senang membantu aneka problematikamu. S.O.S! Pertolongan Pertama Pada Kegilaan.
Yang buka praktek: Mbah De Ni dan Dokter Frizzy Jo

DoMba yang baik,

Saya sengaja menghubungi DoMba karena saat ini saya bingung, pusing dan limbung. Pasalnya begini, saya adalah lesbian menikah yang sedang berpacaran dengan  seorang perempuan yang baik hati. Meskipun sudah menyadari bahwa saya lesbian sejak berumur 8 tahun, tapi saya memilih untuk menikah. Bukan karena paksaan orangtua, sih, tapi karena saya memang sayang sama suami dan ingin hidup normal seperti perempuan pada umumnya. Nah, setelah menikah barulah secara tiba-tiba saya jatuh cinta pada perempuan yang sekarang menjadi partner saya.

Awalnya semua berjalan dengan baik, suami saya juga sangat welcome pada partner karena dia menganggap bahwa partner adalah sahabat terbaik saya. Tapi suatu saat, suami melihat partner sedang merokok, dan karena suami saya adalah orang yang kolot, maka dia mulai melarang saya dekat dengan partner. Prasangka suami saya jadi berkembang dan mulai mencurigai bahwa partner adalah lesbian karena penampilan dan sikapnya yang agak maskulin.

Saya sedih DoMba. Di satu sisi saya ingin menghormati dan nurut pada suami, tapi di sisi lain saya sangat mencintai partner dan sulit rasanya jauh dari partner.

Bagaimana ini DoMba? Tolong kasih solusi yang sebenar-benarnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tapi memiliki hasil yang  semaksimal-maksimalnya.

Love you, DoMba

Irene

Jawab:

Irene yang baik juga. Masalahmu memang rada rumit ya. Emang nggak gampang jadi lesbian menikah. Semua jadi serba salah. Kalau Mbah liat, sih, yang paling membuat masalahmu jadi tambah rumit adalah karena di situ ada unsur kewenangan. Suami kamu punya kewenangan untuk menjaga kamu dari orang-orang yang dianggapnya membahayakan. Terlepas dari dia tahu kamu lesbian atau bukan, tentu maksud dan tujuannya adalah baik yaitu untuk “menyelamatkan” kamu (setidaknya dari bahaya merokok).

Dalam hal ini kamu harus bermain cantik. Jangan melawan arus, karena kamu akan mati kelelahan. Kalau kamu berdiri, berkacak pinggang di depan suami lalu bilang, “NGGAK!!! Bagaimanapun saya tetap mau bersahabat dengan si Betty. Abang, nggak punya hak larang-larang saya. Ini adalah hidup saya. POKOKNYA  TITIK, NGGAK PAKE KOMA!!!” ini hanya akan menimbulkan kecurigaan yang semakin besar dalam diri suami kamu. Jangan harap hubungan suami dan partner akan menjadi lebih baik. Suami kamu justru akan berpikir bahwa partner telah mengajarimu menjadi pemberontak.

Jadi ikutilah kehendak dan keinginan suami kalau masih berharap pernikahanmu langeng. Jagalah jarak dengan partner untuk sementara waktu sampai masalah ini reda. Pelan-pelan tumbuhkan kepercayaan suamimu kepada partner. Ceritakanlah hal-hal yang positif tentang partner dan tunjukkanlah perubahan-perubahan positif dalam dirimu sejak kamu dekat dengan partner. Secara tidak langsung kamu memberitahukan bahwa partner selalu membawamu ke jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan dirahmati Tuhan YME, bukan ke jalan yang sesat.

Yakinkan suami bahwa kamu adalah perempuan kuat yang tidak akan semudah itu terombang-ambing dan terpengaruh orang lain. Sesekali buka pikiran suami bahwa perempuan yang merokok belum tentu merupakan perempuan yang tidak baik, aneh atau menyimpang. Banyak kok, perempuan perokok yang sikap dan budinya jauh lebih baik dibanding dengan perempuan yang tidak merokok.

Kalau suamimu juga perokok, ini adalah kesempatan baik untuk bilang, “Abang kan juga perokok. Tapi abang adalah lelaki paling baik sedunia dan seakhirat!” Kalau suamimu masih nggak mengerti juga, coba kamu pakai kalimat yang lebih jelas, “Abang kan juga perokok, tapi Abang bukan gay kan?” Hehehehehe, yang ini ngaco, jangan diikuti ya.

Nah, kalau belum berhasil juga, cobalah sesekali kamu dekatkan partner dengan suami. Misalnya mengadakan acara piknik bersama. Kalau dilihat dari sifat partner yang rada kecowokan mestinya dalam banyak perbincangan,  partner dan suamimu nyambung, deh. Mereka akan nyambung ngobrol tentang bola, mancing, otomotif, komputer, traveling, sampai ngobrolin cara menggaet cewek dan permainan di ranjang. Ups! Aduh kalau soal cewek dan ranjang tolong partner disuruh ngerem ya, Sis! Bisa cilaka duabelas kalau partner sampai keceplosan ngomong, “Sebenernya Irene tuh gampang terangsangnya, loh, cukup liat kita goyang gergaji juga bisa terangsang dia.” Atau “Biar Irene cepet orgasme coba kilik telinganya pake sikat WC.” atau “Irene tuh paling suka kalau abis ML, pantatnya dipukulin pake kemoceng atau dadanya di silet-silet.” Huh! serem kan! So… Kalau ada acara piknik bareng, jangan lupa wanti-wanti partner biar nggak keceplosan.

Intinya pesan Mbah cuma satu… Jadilah istri yang baik dan partner yang cerdas. Jangan keras kepala dan berjuang membabi buta demi cinta. Sebab permainanmu yang cantik justru akan menyelamatkan partner juga, kan?
Selamat mencoba.

Mbah De Ni

Dear Irene,

Berhubung kamu meminta saran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, maka saya berusaha memberikan solusi yang singkat, padat, dan jelas. Kalau masalah benar atau nggak benar, waduh, itu sih tergantung cara pengaplikasian tiap-tiap pasien. Begitu juga kalau berharap hasilnya maksimal, itu tergantung kamu menjalankan saran saya.

Penampilan dan sikap partner yang agak maskulin apalagi dengan kebiasaan merokok bukan cuma menjadi masalah bagi lesbian yang sudah menikah saja namun juga buat para lesbian yang masih lajang (baca: belum menikah dengan lelaki). Apalagi kita hidup dan tinggal di negara yang sampai saat ini masih memandang bahwa sebagai perempuan seharusnya berambut panjang, kalau jalan harus gemulai, dilarang memanjat pohon dan jangankan merokok, menghisap permen kojek saja pasti jadi pergunjingan.

Saran saya, diskusikan hal ini dan minta pengertian dari partner kamu. Beri pemahaman bahwa menjalani hubungan lesbian, khususnya dengan lesbian yang sudah menikah, banyak hal yang harus dijaga karena dia tidak hanya berhubungan dengan kamu seolah-olah dunia milik kalian berdua, yang lain cuma ngontrak. Apalagi suami kamu termasuk orang yang konservatif. Segera tanggalkan prinsip “Semua orang harus nerima gue apa adanya dong.” Please, deh, emangnya partner kamu tinggal sendirian di hutan?

Selama dia ketemu kamu dan saat bersama dengan lingkungan sosial kamu, minta dia untuk sedikit mengubah penampilannya agar tidak terlalu maskulin. Kalau memang rambutnya udah terlanjur cepak ala tentara, hari gini kayaknya udah bisa pakai hair extension. Masalah merokok, masa nggak bisa sih tahan berapa jam saat dia bersama kerabat kamu terutama suami kamu? Kalau masih nggak bisa, coba arahkan dia untuk melakukan sesuatu yang bisa membuktikan bahwa merokok dan berpenampilan maskulin bukan jaminan bahwa seseorang itu tidak baik.

Sama halnya dengan suami kamu, beri pandangan beserta contohnya bahwa seseorang itu dinilai anak baik-baik atau bukan, tidak tergantung dari penampilannya dan kebiasaan dia merokok. Kamu bisa contoh teman yang feminin habis serta hidup sehat namun ternyata perilaku hidupnya tidak sehat dan kasih tahu suami kamu.

Kalau masih nggak mempan, buktikan ke suami kamu bahwa kamu nggak terpengaruh ikutan merokok sama partner. Intinya semua kembali kepada kamu, kalau kamu bisa membangun kepercayaan dari suami kamu, menurut saya nggak masalah kamu berhubungan dengan siapapun. Contohnya, kamu bisa menempatkan partner kamu untuk melakukan hal-hal yang nggak mungkin bisa dilakukan suami kamu seperti membetulkan genteng, kompor, dan lain-lain.

Selamat mencoba ya. Tapi maaf saya nggak bisa membalas kata-kata “I love you” dari  kamu, saya takut dipelototin sama partner kamu yang maskulin itu.

Salam hangat,
Dokter Jo