Oleh: Ade Rain

Jika seseorang bertanya padamu, “Sebenarnya sejak kapan sih lesbian ada?”  Ternyata nggak gampang loh mencari tahu sejarah lesbian. Beberapa ahli sejarah dan budayawan homoseksual mencoba mengumpulkan fakta-fakta awal tentang lesbian, nyatanya hanya mampu sebatas menyusunnya berbagai pandangan dan perbandingan. Sebenarnya tidak ada yang tahu kapan pertama kali lesbian ada, barangkali karena belum ada prasasti atau manuscript masa lalu yang  bisa dijadikan bukti otentik bahwa lesbian memang sudah ada sejak manusia diciptakan para ahli pun bebas menafsirkan hasil penelitiannya. Sementara kita tahu kata itu kata lesbian sendiri muncul setelah Sapho penyair perempuan asal  pulau Lesbos populer setelah disebut-sebut Plato karena keindahan syairnya. Lalu bagaimana lesbian sebelum ada kata lesbian tersebut?

bonread

Mary Read dan Anne Bonney, abad ke-18 bajak laut dan mungkin kekasih.

Berikut beberapa teori yang berhasil dikumpul, dan silahkan tertawa atau merenung. Bukan apa-apa kalau mau subjektif terus terang ada beberapa teori yang membuat saya mules-mules tidak setuju. Salah satu teori yang nyentrik ini. John D’Emilio ahli sejarah terkemuka  bilang bahwa gay dan lesbian bukan bawaan lahir! Jangan sewot dulu, baca argumennya pelan-pelan.
“Saya ingin menyatakan bahwa pria gay dan lesbian tidak selalu ada. Sebaliknya, mereka adalah produk sejarah dan telah muncul dalam era sejarah tertentu. Kemunculan mereka terkait dengan hubungan kapitalisme tetapi sudah perkembangan historis kapitalisme – lebih khusus lagi, dengan sistem kerja bebas – yang telah memungkinkan sejumlah besar laki-laki dan perempuan dalam abad kedua puluh menyebut diri mereka gay.”

Jadi si John ini mengatakan bahwa lesbian itu merupakan produk sejarah! Muncul karena perubahan ekonomi. Nggak usah ketawa dulu! Menurutnya fenomena ini mulai muncul pada  abad ke 17 dan 18, ketika kapitalisme dan industrialisasi menarik orang-orang muda dari pedesaan tradisional masuk ke perkotaan.  Pergeseran ini mengubah makna keluarga, dari kehidupan privasi menjadi dunia kerja publik. Perubahan ini katanya menggiring orang-orang untuk menemukan kebahagiaan emosional, cinta, keintiman, dan seks. Intinya dunia kapitalisme dan industrialis memberikan pilihan-pilihan erotis terhadap seksualitas. John menambahkan, ketersediaan pekerjaan memungkinkan banyak orang berinteraksi positif. Bahkan, mulai ada tempat-tempat di mana mereka bisa bisa berkumpul, berbaur dan berinteraksi. Jadi nggak heran munculah gay dan lesbian. Setuju nggak? Coba  teliti foto di bawah ini,  foto pekerja perempuan di Indianapolis Amrik, nunjukin ciri-ciri lesbian nggak? Jadi pikir sendirilah apa benar teori si pakde John itu.

indianapolis

Pekerja pabrik kapas di Indianapolis tahun 1800-an

Baiklah mau setuju tidak setuju,  teori John ada pendukungnya loh. Kathy menguatkan tersebut, menurutnya  kapitalisme telah mengantarkan era baru kebebasan.  Kebebasan membuat beberapa individu mulai mencari kehidupan pribadi kebahagiaan dan kepuasan yang didasarkan pada jenis kelamin sana, yang akhirnya membawa mereka untuk mengidentifikasi sebagai orang-orang gay dan lesbian. Coba kita bandingkan dengan kehidupan para tenaga kerja wanita kita yang ada di Hongkong dan di Malaysia, banyak yang jadi lesbian setelah mereka diasramakan sesama perempuan, bagaimana menurutmu? Berarti ciamikkan si John dan Kathy?

Sejalan dengan teori lesbian dari sisi kapitalisme, industrialisasi dan urbanisasi tadi, di abad ke -19 muncul ilmu perkelaminan atau  studi ilmiah seks, tokohnya bernama Havelock Ellis, seorang seksolog. Nah menurut dia ini homoseksual  merupakan bawaan lahir.  Emang udah dari sononya! Jadi mau diapa-apain juga udah kodratnya terlahir sebagai lesbian. Kalau dipikir-pikir sih kog ya aku kayaknya setuju sama Havelock ini yak? Subjektif sih Tapi coba kita lihat pendapat lain, menurut Lisa Duggan  masih berdasarkan Ilmu Perkelaminan tadi, kontribusi munculnya penyimpangan seksual perempuan atau homoseksual dikarenakan adanya keinginan segelintir orang yang ingin dibedakan dari mayoritas. Haiyo! Jadi mereka sengaja menjadi lesbian agar berbeda dari yang lain. Alamak! Garuk-garuk kepala.

Peneliti bernama Kraaft-Ebbing’s yang ahli di bidang Psychopathia Sexualis,  menegaskan bahwa sebenarnya  sampai 1880-an pengkategorian homoseksualitas kata lesbian itu belum ada. Para ahlilah yang kemudian memilah-milah jenis jenis kelamin manusia berdasarkan pandangan medis, sehingga muncul kata gay, lesbian, dyke dan lain-lain. Yah bolehlah…

Ahli lain, Martha Vicinus memiliki pandangan yang lebih masuk akal, menurutnya erotisme seks sebenarnya sudah ada dari sononya sejak manusia lahir, orang-orang memulainya dari persahabatan romantis. Hal ini ditandai dengan saling menulis surat cinta satu sama lain, mengungkapkan kekaguman satu sama lain. (Aih, jadi teringat pengalaman pribadi nih.) Pendapat ini ditegaskan Smith-Rosenberg, bahwa hubungan  persahabatan romantisme itu biasanya akan berlanjut dengan megirimi bunga, hadiah, catatan, puisi, pertukaran ikat  rambut sebagai tanda peningkatan hubungan intens.

Beidewei, bagaimana dengan palebalan istilah butch? Konon istilah ini mulai muncul di tahun 1920-an ketika perempuan mulai mengadopsi gaya maskulin dalam cara berpakaian. Dari sini kata butch kemudian populer dan menjadi salah satu ciri khas lesbian yang bergaya lebih kecowokan. Mendekati tahun 1950-an mulai muncul istilah dyke dan androgini, kemudian femme, butch, androgini di tahun 1990-an, istilah-istilah ini dilahirkan kalangan lesbian sendiri yang mulai menyadari ciri-ciri dan keberadaan mereka dalam lingkungan sosial.

Memasuki abad ke 20 dan 21 perkembangan teori tentang lesbian masih sebatas pengembangan kerangka dasar dari sejarah teori yang diuraikan di atas. Memang banyak peneliti khususnya bidang psikologi yang mulai membuat definisi dan prediksi terbaru mengapa dan kenapa lesbian ada dengan beragam versi. Bahkan yang beraliran postmodernis melahirkan teori lesbian yang jauh lebih netral, tanpa asumsi, tanpa menyimpulkan apa-apa, hanya menjelaskan fakta-fakta yang ditemukan dengan gamblang dan jelas. Sisi pandang ini manusiawi loh, aku pernah membaca hasil riset seorang peniliti yang keren luar biasa. Di Noktah Merah edisi lain akan coba aku ceritana mengapa sisi pandangnnya menarik .

Beidewei, semua teori tentang lesbian yang dikumpulkan di sini merupakan kutipan dan sisi pandang perempuan dan lesbian kulit putih kalaupun ada informasi mengenai lesbian berkulit hitam baru diungkapkan oleh seorang peneliti bernama Harlem di tahun yang sama dengan pelabelan butch tadi. Belum ada literatur khusus dari negara Asia yang menuliskan tentang bagaimana sebenarnya kehadiran lesbian dan perkembangannya di belahan  timur bumi. Seperti apa lesbian di Timur Tengah atau Asia Tenggara di masa lalu?

Bagaimana dengan di Indonesia? Kapan sebenarnya lesbian muncul? Siapa perempuan masa lalu yang mempopulerkan lesbian di Indonesia? Apakah lesbianisme penyakit menular yang dibawa oleh penjajah Belanda ke Indonesia, atau hanya gaya hidup yang ditiru-tiru? Jika Sapho disimpulkan sebagai lesbian dari karya-karya puitisnya tentang persahabatan antar perempuan, bolehkan saya menyebut Kartini seorang lesbian? Apakah lesbian di Indonesia mulai muncul ketika buku itu populer? Apakah Kartini lesbian? Kartini-kan nggak mengaku lesbian? Atau lesbian berkembang ketika Mira. W  menuliskan relung-relung Gelap Hati Sisi? Loh? Barangkali hal-hal ini bisa kita bahas pada edisi Noktah Merah yang lain.  Selamat merenung!

Sumber: berbagai situs lesbian.