flower-Holland-Netherlands-RFBerbuat kebodohan? Tentu semua orang pernah berada di jalan itu ketika kita mengambil keputusan yang salah. Tapi yang terpenting bukan salahnya, melainkan bagaimana memperbaikinya. Sahabat lesbian kita R.L. Chia berbagi kisah tentang perjuangannya untuk membangun fondasi yang baru.

Masa kuliahku biasa-biasa saja. Anggap aku sebagai bunga yang terlambat mekar. Aku nggak pernah punya rasa apa-apa dengan siapapun sejak SMA. Aneh, tapi begitulah yang terjadi. Teman-teman cewek maupun cowokku mulai saling naksir-naksiran lalu berani berpacaran. Hatiku tidak tersentuh sama siapa pun.

Lalu datang satu cewek waktu aku 25 tahun, sedang sibuk-sibuknya bekerja. Dia adalah sekretaris klienku. Singkat cerita kami jadi dekat, saling SMS-SMS an, lalu beranjak menjadi teleponan, dan berakhir dengan pertemuan. Dari satu pertemuan menuju ke pertemuan berikutnya. Tahu-tahu kami berpacaran.

Aku nggak terlalu bingung dengan perasaan sukaku dengannya. Semua berjalan dengan wajar dan apa adanya. Pacarku ternyata seorang lesbian yang sudah biasa bergaul di dunia LGBT, sehingngga dia-lah yang memperkenalkanku dengan teman-temannya. Hidupku berubah drastis seketika. Teman-teman lesbianku bertambah dengan sangat cepat. Nyaris tiap minggu kami hang out, nonton bioskop, atau sekadar jalan-jalan saja. Kehidupan lesbian ini merogoh kocekku, apalagi gaya berpacaran kami yang sepertinya nggak memiliki rem.

Aku dulu selalu menggunakan uang cash untuk semua pembelanjaanku. Tapi sejak pacaran dan bergaul di dunia lesbian, aku mulai berani menggunakan satu-satunya kartu kreditku. Kami makan di banyak tempat, mengunjungi mal, cuci mata, kongkow di cafe, minum-minum kopi, shopping, berjalan-jalan, dan traveling. Kehidupan yang menyenangkan bersama teman-teman sehati.

Tapi lama-lama keuanganku menipis. Aku nggak bisa lagi menyimpan uang, apalagi mengirim uang buat orangtuaku di kota kecil di Jawa Tengah. Ketika gaji bulanan sudah habis dua minggu sebelum gajian, aku menggunakan kartu kredit. Tagihan kartu kreditku membengkak gila-gilaan.

Pusing dengan tagihan yang tak bisa lagi kubayar, aku berusaha mencicil. Tapi bunga yang dibebankan semakin besar jumlahnya, akhirnya aku tidak sanggup membayar apa-apa lagi. Gajiku habis. Pada saat itu, hidupku bersama pacar menuju jurang. Kami jadi sering ribut karena masalah uang. Aku hidup dalam ketakutan karena diteror oleh penagih yang kejam dan tak berperasaan. Telepon-telepon yang masuk di hape dan kantorku mencercaku. Akhirnya bosku mengetahui keadaan keuanganku karena penagih hutang itu tak sungkan-sungkan menteror kantorku. Bosku menyuruhku segera melunasi hutangku agar membuat situasi kantor kembali nyaman dan aman.

Aku tidak tahan dengan situasi seperti ini. Aku memutuskan untuk meminjam uang pada orangtuaku (sungguh kasihan mereka, bukannya mendapat uang, malah simpanan pensiun mereka aku ambil untuk membayar hutang-hutang kartu kreditku). Di bawah lutut ibuku, aku menangis sambil bersumpah untuk mengembalikan uang dana pensiun mereka.

Aku menepati sumpahku. Kubayar sedikit demi sedikit hutangku pada orangtuaku. Aku hidup dengan seadanya. Tidak ada lagi pergaulan dengan teman-teman lesbianku yang dulu. Tidak ada lagi mal. Tidak ada lagi bioskop. Tidak ada lagi taksi. Tidak ada lagi makan-makan di restoran atau ngopi-ngopi di cafe. Hubunganku dengan pacar putus karena dia tidak tahan dengan cekaknya keuanganku. Untunglah putus, sebab aku akhirnya tahu seperti apa sifat aslinya. Aku berjuang untuk naik kembali ke atas.

Sekarang hutang ibuku memang belum seratus persen lunas, tapi sudah 80 persen setelah 1,5 tahun menyicil. Tinggal tiga bulan lagi, maka selesailah sudah. Akhir tahun kemarin, tanpa sengaja aku bertemu dengan SepociKopi. Aku juga berkenalan dengan seseorang yang manis, mendukung dan mengerti sikonku. Tahun kemarin memang adalah tahun buruk, tapi dari sana aku bertemu dengan dia dan SepociKopi. Aku tidak akan pernah menyesal dengan kejadian di masa lalu. Aku belajar dari sana. Aku pernah membaca masalah yang sama, berarti orang-orang sepertiku tidak sendirian. Semoga tambahan ceritaku ini, tidak ada teman lesbian lain lagi yang terjebak oleh lilitan hutang.

@R.L. Chia, SepociKopi, 2010