Home » Humaniora, Opini

Because I Am the Boss!

Submitted by on 04/02/2010 – 5:32 pm16 Comments | 644 views

Oleh: Lakhsmi

“If I do a good job, people won’t care if I’m green or have three heads.” (Harvey Milk).

Terkadang hal-hal kecil luput dari pengamatan. Saat peristiwa kecil itu dihargai, barulah terlihat betapa indahnya hal-hal kecil itu. Dua minggu lalu, tepatnya 22 Januari 2010, wakil presiden RI Boediono memberikan kata sambutan dan menyerahkan penghargaan Wiraswasta Muda Mandiri kepada 12 wiraswasta muda terbaik Indonesia. Bertempat di Gedung Pertemuan, Senayan, Jakarta, aku bersama pengusaha-pengusaha mikro, kecil, dan menengah Indonesia hadir untuk merayakan kebersamaan ini. Program Wiraswista Muda ini digagas oleh Bank Mandiri untuk menunjang pilar perekonomian Inodnesia.

Lihatlah wajah-wajah pengusaha muda ini! Mereka energik, penuh semangat, api idealisme berkobar-kobar, dan berhasil mengendalikan omzet bisnis puluhan juta sampai milyaran di tangan mereka. Rentang usia mereka berkisar dari awal 20 sampai dengan pertengahan 30. Sebagian masih kuliah diploma, sarjana, maupun pasca sarjana. Bisnis mereka beragam, mulai dari pertanian, industri boga, peternakan, seni, kuliner, kreatif, jasa, dan lain-lain. Jangan pikir modal awal mereka bermula dari puluhan juta, seorang pengusaha siomay sampai membuat ayahnya menitikkan air matanya terharu ketika putranya berhasil menciptakan omzet puluhan juta rupiah yang dimulai dari modal hanya dua juta. Luar biasa. Mengagumkan.

Seringkali wiraswasta diartikan (hanya) sebagai berbisnis atau berdagang. Padahal arti menjadi pengusaha yang sesungguhnya adalah sebuah sikap mental yang mampu membaca peluang dan memanfaatkan peluang itu sehingga menciptakan laba, menghidupi diri sendiri, dan menghidupi orang-orang lain. Indonesia membutuhkan penguasaha-pengusaha yang membuka lapangan pekerja bagi orang lain, tapi sayangnya orang-orang muda hanya bermental menjadi pekerja saja. Lihatlah antrian calon pekerja yang melamar. Lihatlah angka pengangguran Indonesia yang mencapai 10,5 juta jiwa (data tahun 2007). Lihatlah target kuliah-standar yang dimiliki nyaris semua mahasiswa: kuliah-lulus-kerja bagus di perusahaan mapan. Dan yang dimaksud dengan “kerja bagus” adalah bekerja untuk orang lain.

Sebagai lesbian muda, sangatlah tepat dan oke banget untuk berpikir menjadi pengusaha. Tetapi para lesbian masih lazim menganggap bahwa berwirausaha identik dengan para pengusaha hetero raksasa dan cukong mapan. Tidak jarang pula yang beranggapan bahwa wirausaha semata-mata hanya untuk mengejar kekayaan. Itu sebabnya, jika berbicara tentang sosok pengusaha sukses, yang selalu dijadikan barometer adalah bagaimana pengusaha itu menciptakan kekayaan melimpah melalui bisnis yang dibangun. Padahal tidak selalu demikian. Menurut pengusaha muda ternama, Sandiaga Salahudin Uno, keberanian dan optimisme merupakan modal awal yang harus dimiliki seseorang untuk menekuni wirausaha.

Lesbian berani? Kenapa tidak? Penuh optimis? Itu harus! Tanpa keberanian dan optimisme, lesbian akan selalu duduk di kelas kambing dan tersingkir di mana-mana. Bukankah kita juga sering mendengar keluhan yang muncul dari para lesbian berpenampilan butch yang sulit mendapat pekerjaan karena “tampilan luar” mereka? Menjadi bos bagi diri sendiri adalah salah satu jalan terbaik bagi para butch dan andro/tomboy yang berpenampilan “berbeda” di tengah masyarakat awam. Mereka sendirilah yang akan menentukan bagaimana gaya berbusana tanpa didikte oleh budaya perusahaan.

Di negara maju, jumlah pengusaha mandiri harus mencapai 2 persen dari total jumlah penduduk. Wiraswasta Indonesia hanya mencapai 0,18 persen. Amerika mempunyai 11,5 persen pengusaha, Singapura mempunya 7,2 persen pengusaha. Dengan jumlah penduduk 220 juta, seharusnya Indonesia setidaknya memiliki 5 persen pengusaha dari total penduduk agar negara ini makmur sejahtera. Dengarkan kata begawan properti Indonesia Ciputra: “Enterpreneurship adalah tonggak sebuah bangsa”.

Kini, Indonesia masih membutuhkan jutaan wiraswasta baru. Adakah para lesbian muda di sana? Adakah para lesbian muda terpanggil di sana? Pengusaha lesbian yang sukses akan mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat, menjadi atasan bagi diri sendiri, dan yang terutama mengumpulkan bargaining power. Bargaining power tinggi dalam bentuk posisi dan lahan bisnis sangat penting bagi seorang lesbian, di sanalah kartu joker kita untuk menolak tersisihkan di masyarakat.

Mengingat semangat para gay yang diimpor dari luar negeri yakni out and proud, sudah saatnya kita juga menciptakan konsep baru bagi lesbian Indonesia. Yang tidak bisa out, baiklah kita menggantinya dengan kata power. Kita bisa menyematkan kegigihan dan semangat pengusaha muda lesbian dalam dua kata singkat yang menggelora: power dan pride. Ingat kata mendiang Harvey Milk selain kutipan di awal tulisan ini: “A homosexual with power, that’s scary!”

Pintu pengusaha di Indonesia terbuka lebar. Tak perlu diketuk, masuk saja. Dengan segenggam keberanian, semangat berkilau, dan sekantung daya juang, seorang pengusaha lesbian akan dilahirkan. Selamat menjadi bos bagi diri sendiri, wahai lesbian muda. Kita tunggu penghargaan Wiraswasta Muda Mandiri tersanding di tanganmu di tahun-tahun selanjutnya.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010

Tags: , , ,

16 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.