Home » Humaniora, Telezkop

te.Lez.kop: Sssshhh…

3 February 2010 122 views 4 Comments

hug_by_KarlSandyOleh: Shinigami

Oke, minggu lalu telah dibahas bahwa bagaimanapun, pasangan bukanlah sansak pribadi ketika emosi terhadap orang lain. Yang punya pacar suka marah-marah mungkin merasa sedikit terbela dengan artikel tersebut; merasa, “Tuh kan, kamu enggak boleh marah-marah sama aku kayak gitu, apalagi kalau aku lagi marah sama orang lain.” Sah-sah saja. Tetapi, jangan terjebak dalam pembelaan diri nan dangkal semacam itu. Mari introspeksi, jangan-jangan kita juga turut andil dalam membuat pasangan menjadi Rambo tolol di saat marah dan akibatnya, menjadikan diri kita sendiri korbannya. Karena ada beberapa hal yang sangat mungkin terjadi, baik disengaja maupun tidak, yang malah akan memperuncing suasana. Tentu saja hal-hal itu sebaiknya dihindari, wahai teman-temanku terkasih, sebab seperti halnya jalan dua arah, suatu hubungan haruslah dimainkan dengan seimbang oleh kedua belah pihak.

Ketika melihat kekasih datang dengan muka segelap minuman cola, alis bertaut seperti jarum jam pukul sepuluh lebih sepuluh menit, dan bibir kerucut seperti kue sus kering, apa yang kita lakukan? Menanyakan “Ada apa?” pastilah terjadi, dan itu memang wajar serta sepantasnya. Masa mau cuek dan malah nonton TV? Bisa-bisa dia yang baru datang langsung pergi lagi. Nah, bila kemudian dia mulai bercerita tentang kekesalannya, apa yang kita lakukan? Betul, mendengarkan. Bagus kan? Beres kan? Eits, belum tentu.

Mendengarkan bukan suatu kegiatan yang mudah. Entah, mungkin sudah sifat dasar manusia untuk lebih menyukai sesuatu yang sifatnya aktif daripada pasif, sehingga umumnya, aktivitas mendengarkan membutuhkan tingkat kesabaran, ketulusan, dan konsentrasi yang lebih tinggi daripada berbicara. (Selain atas kemampuan menguraikan masalah pikiran, kalian pikir kenapa para psikolog itu dibayar mahal untuk mendengar kita mengoceh?) Karena itu, sangat mudah bagi kita untuk berhenti menjadi pendengar yang baik, katakanlah, setelah lima menit.

Lantas, apa yang terjadi? Apa lagi kalau bukan turut berpindah ke sisi aktif (baca: ikut berbicara juga), sehingga mengacaukan keseimbangan yang semestinya tercipta. Ingat, pada waktu kepala kekasih berasap seperti isyarat yang dibuat orang-orang Indian dan mulut merentetkan kata-kata lebih cepat daripada rap Eminem di Grammy Award kemarin, yang ia butuhkan adalah seorang pendengar yang baik. Titik. Ia tidak butuh seorang kakak atau ibu yang memulai wejangannya dengan kata, “Makanya, udah dibilangin… Blablabla…” Dia sudah punya ibu, kakak, dan segudang sanak saudara yang bisa melakukan itu dengan sangat lihai. Tidak perlulah pacarnya ini juga ikut-ikutan. Kecuali kita tahu pasti satu menit dua puluh tujuh detik lagi akan kiamat, saya rasa pemberian nasehat kehidupan itu bisa ditunda nanti, waktu dia sudah tidak penuh emosi.

Ia juga tidak butuh bintang tamu. It’s a one-woman show. Konser marah-marah tunggal. Berikanlah seluruh panggung kepadanya, dan biarkan semua lampu menyorot ke arahnya. Dengan kata lain, ikut mengomel tidaklah disarankan. Keberadaan omelan lain, seberapa pun kita berpihak padanya, tidak akan membuat suasana lebih baik. Bayangkan kalau kita berkata, “Uh, si anu itu memang begitu! Inget enggak waktu aku dulu bertengkar sama dia… Blublable…” Bisa-bisa pasangan malah merasa kita memakan ruang pengekspresian kemarahan yang sangat dibutuhkannya saat ini dan bertanya-tanya kesal: sebenarnya ini soal aku atau kamu sih? Sumpek. Jadilah ia kian marah.

Yang terakhir, ia jelas-jelas tak butuh kritikus kampungan. Mana enak sih, ketika marah-marah terus ada orang yang sok memberi evaluasi, “Kamu harusnya gini. Bukan seperti itu. Mestinya, kamu… Blableblu…” Saya tidak menyalahkan kalau sebagai reaksinya, ia lalu berteriak keras, “Hellooooooo, you were NOT there!” Kalimat-kalimat ala kritikus amatiran itu besar kemungkinan akan terdengar sebagai, “Begini lho, Bodoh, salah kamu sendiri kamu tadi tolol. Kan semestinya bisa begini-begitu, Goblok.” Siapa coba yang tidak (tambah) marah diperlakukan begitu?

Jadi, bagaimana? Saya masih tetap berpegang pada solusi mudah nan manjur di artikel minggu lalu: memberi pelukan. Peluk saja dia, tak perlu ada kata-kata. Jadilah konduktor yang membantunya mengalirkan emosi negatif itu keluar. Jangan membuat diri kita sebagai isolator yang menyumbat atau sasaran tembak yang menderita dari kemarahannya. Nah, setelah emosinya mereda, barulah kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan hatinya, seperti memijitinya penuh sayang, membuatkan minuman kesukaan, hingga memutar lagu favorit. Kalau mau, kita juga bisa mulai menciuminya dan akhirnya menghidupkan instalasi PLTA (Pembangkit Libido Tenaga Amarah) pribadi kita. Hehe, seru kan?

@Shinigami, SepociKopi, 2010

4 Comments »

  • strawberry kiss said:

    menohok… mirip gw banged storynya… my girl selalu jadi pelampiasan emosi gw kalo lagi kesel sama orang.. abis ada” aja.. udah tau lagi sakit kepala, lagi banyak banyak urusan di kantor.. tiba” berentet pertanyaan” ga jelas yang keluar, alhasil deh ni migrain muncrat keluar kaya gunung meletus… ga bangga dan ga suka banged berusaha nahan cuma yang bersangkutan ga bisa diem.. numpang ciopas ya sis.. mau di forward ke yayank… solusi akhirnya suka banged…

  • nyx said:

    yupzz.. bnr bgt..

  • meliâ said:

    hiks,ayang jgn bikin mel sedih…mel coba ngerti deh.

  • dhea dhea said:

    PLTA .. ?? hahahaha,, suka banget ma kepanjangan nya xixixixix,,

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.