Home » Perempuan, Sepocikopiana

Mama/Me

3 February 2010 276 views 19 Comments

5555~Mother-Bear-s-Love-I-PostersOleh: Sarah

Mama menikah ketika berusia 23 tahun, dan setahun kemudian dia sudah menjadi ibu muda. Proses penciptaanku di dunia memang cepat, mungkin karena orang tuaku sedang berada dalam masa subur saat mereka berbulan madu. Mama ingin aku seperti dia, cepat menikah, cepat punya anak, cepat memberi dia cucu. Keinginan sederhana dari seorang ibu terhadap anak perempuannya. Tapi jadi terasa tidak sederhana untukku, kecuali Mama mau memberi aku restu untuk menikah dengan perempuan.

Masalahku ini mungkin sudah terdengar klise atau terlalu basi untuk dibahas, tapi tidak untukku. Pernikahan belum jadi masalah untukku hingga pengujung 2009, tapi aku ingat kata–kata Mama ketika kami merayakan tahun baru 2010 bersama. Aku menjadi gelisah karenanya.

“Teteh, tahun ini usianya 22 tahun ya, berarti sebentar lagi menikah.” Aku diam saja, pura–pura tidak mendengar.

“Teteh udah punya pacar kan? Kapan dikenalin ke Mama?” Aku tetap terdiam. Bingung mau bilang apa. Aku memang sudah punya pacar, tapi pacarku perempuan.

Akhir–akhir ini aku semakin tidak bisa mengelak pertanyaan Mama. Satu atau dua tahun yang lalu aku bisa berkelit dengan alasan masih muda, masih belum siap memikirkan hal seserius itu. Tapi tahun ini sepertinya Mama tidak bisa menerima alasanku. Mama menjadikan usia pernikahannya sebagai patokan kapan anak perempuannya akan menikah. Itu artinya waktuku sekitar satu tahun setengah lagi. Tapi aku tidak mau menikah, tidak dengan seorang lelaki.

Aku ingin menikah dengan seorang perempuan, dengan partnerku. Aku ingin membangun keluarga kecil bersamanya. Hidup bersama di rumah mungil yang kami bangun. Tiap pagi aku menyiapkan sarapan untuknya, dan tiap malam kami akan bertukar cerita tentang semua yang terjadi di kantor. Weekend kami isi dengan liburan berdua, jika tidak, kami akan kerja bakti mempercantik rumah. Ketika dia sakit aku akan merawatnya, begitu juga sebaliknya. Kami akan mengatur keuangan bersama: belanja bulanan, bayar tagihan, dan tabungan masa depan. Membayangkan semua itu terasa manis bukan? Jika aku ceritakan semua itu pada Mama, pasti dia senang, kecuali akhirnya kukatakan bahwa calon menantunya adalah perempuan.

Aku tidak tahu reaksi mama akan seperti apa, aku tidak berani membayangkan. Mungkin Mama akan menangis, dan tidak berbicara lagi denganku. Mungkin Mama tidak akan menganggapku ada dan aku akan meninggalkan rumah. Bisa juga Mama meminta memilih antara dirinya dan partner. Apa saja bisa terjadi.

Keinginanku tentu saja Mama menerima kenyataan bahwa aku lesbian dan aku berbahagia dengan partnerku. Mengizinkan aku menikah dengannya dan membangun keluarga seperti yang aku mimpikan. Aku sungguh dilema. Ini seperti makan buah simalakama. Aku bisa bahagia, tapi Mama tidak. Mama bahagia, aku yang menderita. Aku menjadi parno dengan kata pernikahan. Apalagi kalau mendengar temanku menikah, aku berharap kabar pernikahan itu tidak sampai ke Mama. Mama pasti akan bertanya kapan aku akan menyusul. Sungguh, Mama bukan seseorang yang jahat. Dia perempuan terbaik di dunia ini. Bukan salahnya jika aku menjadi gelisah karenanya. Dia hanya ingin aku menikah dengan lelaki terbaik sama dengan jutaan Mama di dunia ini.

Di antara semua cemas dan gelisah, aku menyerah; bukan kepada Mama tapi kepada Tuhan. Seperti yang partnerku selalu katakan bahwa apa yang telah, sedang, dan akan terjadi itu sudah diatur olehNya. Pertemuan kami atas kehendakNya. Cerita selanjutnya pun akan terjadi atas kehendakNya. Tuhan tahu isi hatiku, Tuhan mendengar doa malamku, Tuhan bisa melihat air mata kecemasan dan kegelisahanku, dan kuyakin Dia akan menghapusnya dengan caraNya yang unik.

Aku akan menjalaninya. Akanku sambut usia 23 tahunku. Masih ada waktu untuk mencari yang terbaik untuk mengatakan siapa diriku kepada Mama. Masih banyak hal yang bisa kulakukan untuk membuat Mama berbahagia. Mungkin pernikahanku adalah kebahagian terbesar yang bisa Mama dapat dariku, tapi masih banyak kebahagian lain yang bisa ku perjuangkan untuknya. Selalu ada.

@Sarah, SepociKopi, 2010

19 Comments »

  • mel said:

    Antara ibu, pernikahan, lesbian, aku dan pacar (kebahagiaan kita).
    Klo di keluarga besar sih kebanyakan menikah di usia matang 26 ke atas. Sekarang aku 27 mo 28 jg siap2 tuntuan ibu dan keluarga. Lg mempersiapkan diri nih untuk membangun sebuah keluarga kecil ama pacar, . .

    Sist sarah siap2in aja segudang alasan utk menunda2 pernikahan. . . mudah2an sang ibu ga ngotot abis, ya…..

  • Alfa said:

    mama tetep mama,,,, kewajiban untuk menghormati beliau gak akan pernah berkurang,,, sebesar apapun cinta yang kita punya,,,, klo waktu itu datang,,,, jangan pernah takut,,, Aku mencintaimu meskipun pernikahan itu terjadi :-)

  • Shun Andro said:

    Hmmm,mgkn q kn sgera sampai ke fase itu. Ga bs ngebayangin klo hrz menikah m laki2. Partner-q jg udh dburu nikah m nyokapnya,sdh 3 lamaran laki2 yg sukses ditolaknya.
    Huppff… Blm tau langkah qt selanjutnya pa bwt mempertahankn hubungan ini.

  • dashboard said:

    keren kaya cerita gw, umur gw juga 23 tahun dan sudah menikah dengan partner ku tapi sekarang semua sudah sirna. semuanya… semangat ya.. tuhan pasti punya jalan lain

  • Tasmanian said:

    aku rasa smua dari kita mengalami mslh yg sama spt sarah, umur 23 msh terbilang muda, jd msh bnyk hal yg bs dijadikan alasan utk membahagiakan ortu salah satunya melanjutkn kuliah, aku yakin smua ortu di dunia ini bangga mempunyai anak yg punya keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lbh tinggi. Di luar sana msh bnyk kaum spt kita yg sdh mentok mencari alasan lain krn rata2 sdh berusia 30, salah satunya diriku ini.

  • lifeishappi said:

    keep smiling ya :)

  • tweet-tweet said:

    jia you,,
    kamu tidak sendiri =)

  • rere said:

    Yep, kamu tidak sendirian :)
    Kuping memang jadi panas ditanyain mulu dengerin ocehan Mama yang udah kebelet pengen punya cucu. Mana aku anak pertama lagi -.-’

    yang sabar yah :P

  • Andro Medha said:

    Bruntung orang tua gw diplomatis.
    Seandainya gf/gw hrs menikah sesuai kodratnya gw akan selalu mencintainya.
    Cinta bukan cm soal pengorbanan,tp cinta adl membiarkan kebahagiaan datang bwt orng yg qt cintai.

  • nicko said:

    hmmm…..iya jg seh…..
    skrg ja gw da mo 29….. ada aja yg nanya.. kpn merit… da pnya blum..?
    hufh…. cpk d….
    tp untung ma2 ngerti knpa tdk menikah tp ma2 ga tau aq da nikah dgn partner ku 3thn yg lalu… mudah2an ma2 di surga merestuinya… amin….

    @sarah… km yg sabar aja.. ma2 tetap no.1 tp hati kt ga bs kita boongi…. pray 2 God mnt ptnjuk-Nya….
    GBU..

  • nyx said:

    kita pasti na pengen bt mama bahagia, mama jg pengen kita bahagia
    tp msg2 punya kriteria bahagia yang berbeda..
    haaa gimana tuh.. jd ribet dech.. serba salah..

  • strawberry kiss said:

    wek.. 2010 and my deadline desember 2010 harus udah married kalo ga… red alert.. sarah, kalau dirimu bisa meloloskan diri dari request mama, kasih tau ya tipsnya… for me married sama cowo tuh bagaikan perangkap!!

  • Dia said:

    Jadi bosen dengar pertanyaan…….”kapan kawin’??????

  • Danish said:

    andai suatu saat nanti aku menemukan pasangan hidup seorang perempuan, aku akan berjuang untuk hidup bersamanya. aku yakin mama akan menerima hal yang membuatku bahagia walau itu membuatnya kecewa.

    lagipula aku sudah sering merasa tidak tahan dengan pernikahan hetero ku sekarang. walau awalnya ada cinta, tapi begitu kesadaran homosexualku mencuat ke permukaan, kusadari kesalahan yang kulakukan atas pernikahan hetero ku yang tanpa pikir panjang. mama tau aku tidak tahan dengan pernikahan ini. kadang mama malah mengomeliku “coba kamu ga nikah, kan otakmu ga ribet. tinggal mikir kerja”
    oalah, ma, bagaikan sinyal untukku bahwa ” it’s fine to be lesbian. i’m not mad”

  • cHee said:

    ak dah 22 thun, bntar lg lulus kuliah.. pas mudik lebaran taun maren jg dtanyain mulu ko kmu msi single.. hhh, pgen blg mama ak ‘g pnah single lama… tp ya kekasihku perempuan… seandainya mudah mengucap kata itu,,, tkut ngecewain mama, aplg nyakitin beliau.. papa ak sih lbih independen, dy pgen ak ngejar cita2 dlu,,, tnpa p’nah mnuntut bwt cri calon…

  • keke said:

    umur 22 mah msh muda banget, sarah… desember kemarin umurku 28… ortu ga reseh nanya2 sih, tp keluarga lumayan sering nodong, terutama para tetua… so far cukup dibales dgn becanda atau senyum/ketawa aja… coba deh kamu sikapi kaya gitu

    atau cari peer group yg pas… alhamdulillah aku dikelilingi temen2 perempuan seumuran yg orientasinya msh kerja kerja dan kerja… plus mereka semua happily single… asik banget!

  • dhea dhea said:

    heummm,,, sama,,, lagi ngalamin hal yg persis bgt kyk ni,, tiap weekend ditanya ‘mana pacar nya??? kok gada yg jemput??? kok pacar nya lum dibawa ke rumah?? pacar nya org jauh apa deket?? kerja nya apa?? bla…bla,,,bla,,,’ hhhffff,,,,

  • pus said:

    < disuruh tunangan nurut..,disuruh merit thn ini oke.(coz sangad byk alasan yg gag bs q tolak),, tp uda nanya, 'kalo gag bahagia bole cerai,mom?'.. 'ok,slanjutnya itu keputusan hidup kamu…'. deal.

  • pus said:

    > disuruh tunangan nurut..diminta merit taon ini ok (coz byk bgd alasan yg gag bs q tolak)..tp uda nanya ‘kalo ga bahagia bole cerai,mom?’….’ok,selanjutnya itu keputusan hidup kamu…’ deal.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.