Maggie dan Sean
Oleh: Arie Gere
September 2001 – Pas sekolah dulu, kehidupan yang kukenal hanya belajar. Beranjak kuliah, aku mulai berkenalan lebih jauh dengan yang namanya hidup. Aku mulai ikut berorganisasi, mengurus ini-itu yang nggak ada kaitannya dengan materi kuliah. Dari situ, teman-teman mulai berdatangan. Banyak teman ternyata membuat percaya diriku bangkit.
Dengan kepercayaan diri yang melekat, hati terpikat pada seorang dari kalangan yang berbeda denganku. Berbeda bukan hanya kasta, tapi juga kecantikan, cara berpakaian, bahkan cara berkawan. Bukan, seseorang yang kumaksud bukan seseorang yang angkuh atau tidak ramah. Hanya saja, teman-temannya sedikit sekali. Satu geng terdiri dari lima orang, mereka sajalah teman-temanya di kampus. Mereka berlima belajar bersama, bermain bersama, duduk sebaris bersama, lalu pulang kuliah bersama-sama. Bersama-sama cuma berlima, berlima bersama-sama.
Apa mereka nggak bosan dengan cara pertemanan seperti itu? Berbeda 180 derajat dengan diriku yang bisa duduk di mana saja, belajar dengan siapa saja (yang pintar), bermain dengan geng mana saja (yang mau traktir), ataupun pulang kuliah dengan siapa aja (yang mau mengantar sampai ke rumah). Tidak terlalu selektif, tetapi tak terkekang. Aku mau, aku bisa, dengan siapa saja.
Suatu waktu, yang tercantik di antara geng 5 itu tidak hadir selama seminggu. Hatiku gundah gulana. Kulihat kursinya kosong, tak ada yang menempati. Mereka sengaja membiarkannya kosong di tengah dan menaruh tas-tas mereka di bangku lain, agar tak ada mahasiswa lain yang berani mendudukinya. Sengaja kupilih duduk di belakang bangku yang kosong itu.
Kutanyakan teman se-gengnya, ke mana si cantik? Acuh tak acuh tanpa menoleh, temannya menjawab. “Pulang ke Jakarta, hari ini juga balik.” Hatiku meletup-meletup bagai berondong jagung disiram minyak goreng. Panas, keringatan meski cuaca mendung, deg-degan nggak karuan. Si Cantik pulang, si Cantik bentar lagi pulang. Sebentar lagi, aku akan melihat si Cantik.
Bim sala bim! Si Cantik emang benaran pulang. Dia berjalan dengan manisnya melalui pintu utama, berjalan melewati geng 5-nya, lalu duduk di bangku kosong yang mereka sediakan. Baiklah, tinggalkan dulu si Cantik sebentar. Berpalinglah kepadaku. Lihatlah bagaimana terpesonanya aku melihat siaran langsung dari belakang bangkunya. Betapa beruntungnya aku yang mencium aroma wangi rambutnya yang panjang dan tergerai.
Tataplah aku dalam kegelisahan tak menentu, kebimbangan yang menyenangkan, tenggelam dalam ketakutan yang mencakar-cakar hasrat. Hasrat akan sesuatu, sesuatu yang sepertinya dinamakan cinta. Sepertinya memang cinta, sepertinya aku jatuh cinta. Dari belakang, yang kupandang hanyalah rambut. Tetapi rasanya, aku sedang memeluk orangnya, bukan hanya rambutnya. Bermesraan dengan dirinya, menciuminya mulai lutut sampai ubun kepala. Memelunya dengan penuh sayang, seolah-olah takut harta terindahku akan di rampas oleh orang lain. Kaki kami bergesekan, mulut kami melekat. Kami menyatu, dan menjadi satu.
Tiba-tiba, ketika lamunanku sedang puncak-puncaknya, dia menoleh ke belakang. Mati gue, aku tertembak tepat di tengah mata. Ketahuan, ketahuan deh. Bisa-bisa tangannya bergerak dan menamparku. Berani-beraninya aku membayangkan sedang bercinta dengan dirinya. Aku tertegun, tangan cantik itu singgah di wajahku. Bukan, bukan tamparan, bukan tamparan yang kudapatkan.
‘’Kamu sakit?’’
Kugelengkan kepalaku pertanda aku baik-baik saja. Si Cantik tersenyum, diambilnya tisu bersih dari dalam tasnya, lalu diberikannya kepadaku. Kubasuh mukaku yang penuh keringat sampai kulitku berwarna kemerahan. Dia tersenyum, aku malu. Dijulurkannya tangannya kepadaku, “Aku Mag. Maggie.”
“Aku Arie”.
January 29, 2010 – Aku menerima bingkisan dari Maggie. Isinya kue tart, telur ayam empat butir dicat merah, ketan kuning dengan kelapa dan empat buah kue berisi kacang hijau yang sudah dihaluskan dan dilapisi warna merah. Anaknya sudah berumur sebulan. Orang-orag Tionghoa di kotaku mengadakan syukuran dengan membagi-bagi makanan kepada sahabat dan keluarga sebagai tanda ucapan bahagia dan terima kasih.
Nama anaknya Sean. Entah bagaimana mengucapkannya ‘’Son’’ atau ‘’Sion’’ atau ‘’Sian’’. Dua hari kelahirannya, aku mencium lembut kepala Sean yang sedang berbaring di sebelah ibunya. Ada perasaan aneh yang tak bisa kuutarakan. Sesuatu yang damai, nyaman, kegelisahan yang lalu-lalang, persis seperti rasa delapan tahun yang lalu ketika aku mengenal ibunya. Lalu, kubisikkan ke telinga si kecil, “Aku Arie.”
“Namanya Sean,” bisik sang Ibu ke telingaku.
@Arie Gere, SepociKopi, 2010.









Damn!! Arie kmu bikin aku sentimentil,dulu aku jga memiliki rasa itu.
Aku lebih suka persalinan ketimbang pernikahan.
keren bgt
cinta yg tsimpan
bravo dehh
Wahhh, neh critany c maggie ny dh merid truz punya anak … @_@ , kirain tdi c maggie ny jg pnya rasa yg xama truz jdian gt. hehehe… lebay dweh aq
Betapa bahagianya arie…kebahagiaan 8 thn yg lalu spt terulang lagi…
Selamat ya…
yup…. aq jg pernh mrsknnya…
2003 Aku jg prh ngalamin tuh, menikmati tubuhnya dr pandangan mata. Bedanya dia skrg jd pacarku…
nice story.. ^_^
Aq bingung.. Kirain jadian ma cew nya:-/
Perasaan, ak cm ngrasain tbuhny lwat pndangan mt doank. G ampe jd pcar, mlah g prnah dibelai2 bgtu.
klo mnrt gw, justru akhirnya mereka jadian setelah insiden di kelas itu, n akhirnya mereka jd couple n adopt baby or having baby by herself like tina n bette in L word. So, they are couple, n they live for at least 8 years together n have baby…
Indah bgt ceritax rie,,
Gw mpe nangis hiks…:’(
terharu….
cinta dalam hati (?)
OOOOOOOOOOOi Arie
Cinta dalam kesunyian
Indahnya cinta kala membayangkan dalam hati
indahnya cinta kala ia menyatakan cinta juga pada ku
i loves this story a lot, persahabatan lebih kekal daripada cinta satu arah yg membuat semua bubar…. and i do have sahabat yg menerima saya apadanya even dia tau saya penyuka perempuan… larangannya bukan pd kata-kata tetapi lebih ke himbauan yg membuat pendewasaan diri makin kuat….
Nice story:-D
Mskipun b’awal dr nafsu tp b’akhir dgn true love..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments