Oleh: Shinigami

Bayangkan kita di dalam mobil sendirian, terjebak kemacetan di suatu sore yang mulai dibasahi hujan dan awan hitam menggelayut sepanjang mata memandang. Dahan-dahan pohon di tepi jalan tersentak-sentak, menandakan kencangnya angin yang bertiup di luar. Keadaan yang mencemaskan, bukan? Rasa ingin segera sampai tujuan pasti semakin kuat mendesak, seperti halnya umpatan kesal yang juga siap melesat dari bibir. Mengalami macet sendirian memang sungguh menyebalkan. Tetapi tenang, ada enam perempuan Indonesia yang mampu meneduhkan emosi kita dengan genre musik yang awalnya berkembang di kalangan orang Afrika-Amerika; yap, apalagi kalau bukan jazz. Dengan vokal mereka yang memanjakan telinga, kemacetan seratus tahun pun terasa masuk akal diarungi.

jazz-margieMargie Segers

Mungkin tidak banyak yang mengenal nama ini, apalagi nama aslinya yang adalah Margaretta Gerttruda Maria. Namun percayalah, setelah mendengar tarikan vokalnya, kita pasti berniat mencari tahu lebih tentang salah satu penyanyi jazz paling senior di Indonesia ini. Perempuan 60 tahun ini telah sering bekerja sama dengan musisi-musisi Jazz terkenal tanah air macam Ireng Maulana dan Bubi Chen dan menghasilkan setidaknya sepuluh album, termasuk Lady of Jazz yang terkenal itu. Coba dengarkan suaranya di lagu-lagu seperti Stand by Me, Just the Two of Us, dan Give Me The Night, maka tidak ada seorang pun yang akan memandang sebelah mata pada pemilik suara serak seksi ini.

jazz-ermyErmy Kullit

Ermy Maryam Nurjannah Kullit memulai karier jazz-nya sejak tahun 1973. Si Selena Jones Indonesia ini termasuk vokalis jazz yang banyak menghasilkan album. Terhitung setidaknya sudah dua puluh album miliknya beredar di pasaran. Berangkat dari penyanyi hotel, perempuan kelahiran Manado ini mendapatkan ketenarannya melalui lagu Kasih ciptaan Richard Kyoto tahun 1986, menempatkan dirinya sebagai Penyanyi Jazz Terbaik versi pembaca tabloid Monitor. Ketika memfokuskan diri pada musik daerah sejak tahun 1990-an, Ermy Kullit menunjukkan betapa dirinya tidak dengan kaku terkotakkan dalam satu tipe musik. Selanjutnya, pada tahun 2007 ia menjadi vokalis tamu dalam album terbaru kelompok Primavera yang mengusung irama latin bossanova, membawakan Juwita Malam, Saat-saat yang Indah, dan Salahkan. Meski begitu, penyanyi bersuara berat ini tentu tidak meninggalkan jazz. Lagu Blue Berry Hill di album Ireng Maulana All Stars (2006) keluaran Sangaji Record bisa menjadi bukti.

jazz-syahraniSyaharani

Dibanding para penyanyi jazz lainnya, Syaharani bisa dikatakan menunjukkan minat yang paling beragam. Sebab selain bernyanyi, perempuan asal Jawa Timur ini juga merambah seni peran dengan bergabung dalam pementasan Madame Dasima dan Gallery of Kisses, memerankan Kinar di film Garasi (2006), serta menjadi vocal illustrator untuk film Betina. Di dunia musik, album Love (1999) menandai langkah pertamanya sebagai penyanyi jazz. Namun album Magma (2002) tidak lagi murni bermain di jazz, sebab lagu-lagu yang ada memadukan antara nuansa jazz, fusion, etnik, serta trip hop. Meskipun self-titled albumnya di tahun 2004—di antaranya berisi lagu Fragile yang pernah dipopulerkan Sting serta Lately dari Stevie Wonder—kembali mengeksplor lebih dalam bakat jazz Syaharani, ia kembali bermain-main dengan beragam jenis musik di album Buat Kamu (2006), menjadikan album ini bisa diterima oleh banyak kalangan. Dengarkan saja nomor berjudul Delight dan Buat Kamu yang pelan namun langsung akrab di telinga, atau Bermain Api yang kental unsur techno etnik-nya, atau bisa juga Satu-Satu Lepas yang menyisipkan rap sebagai salah satu bagiannya. Meski begitu, saya rasa publik Indonesia tetap mengenal Syaharani sebagai penyanyi jazz bersuara cukup berat nan unik.

jazz-peppy

Peppi Kamadhatu

Satu lagi artis muda di bawah naungan Sangaji Record yang sudah cukup lama bermain di ranah musik jazz. Kehadiran Peppi sebenarnya cukup unik kalau tidak mau dibilang ganjil. Musik jazz yang berjiwa bebas dan hampir selalu penuh improvisasi menjadi jinak dibawakan Peppi. Kita tak akan banyak menemukan kelincahan improvisasi penyanyi jazz di album-album penyanyi lulusan jurusan Sastra Inggris salah satu universitas di Semarang ini. Coba saja simak lagu-lagu yang ada di album perdananya yang bertajuk Suddenly (2003). Lagu-lagu yang memang slow seperti Eternal Flame; Here, There, and Everywhere; serta Sometimes When We Touch semakin terdengar lurus dan manis seperti jalan panjang berpita. Tetapi mungkin itu juga yang menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang tak terlalu bisa menikmati musik jazz penuh cengkok tak standar. Yang jelas, tahun 2005 dan 2008 masih menyaksikan keberadaan perempuan yang pernah berguru piano pada Bubi Chen ini lewat album 2005 dan You Don’t Know Me.

jazz-oliveOlive

Noni Ambon ini memang tergolong baru di blantika jazz Indonesia. Di bawah label Sangaji Record, Olive baru memiliki dua album: Olive (2005) dan Fantasy (2007). Namun kualitas ternyata berbicara lebih keras daripada kuantitas. Sebelas nomor yang mengisi masing-masing albumnya menjadi bukti kelayakan Olive Latuputty untuk dicintai penggemar genre musik ini di Indonesia. Lagu Nikita yang ditempatkan sebagai lagu pembuka di self-titled albumnya langsung mencuatkan kualitas dan warna jazz dari vokal yang dimiliki penyanyi yang juga menjadi vokalis band Parkdrive ini. Bagi yang jatuh cinta dengan suaranya, album pertama menjadi the must-have item, sebab album keduanya tidaklah terlalu mengekspos kekuatan vokal Olive. Vokal dan instrumen memiliki porsi lebih berimbang di album bercover putih ini, meskipun itu sama sekali tidak menandakan album ini jelek. Part-time Lover, Careless Whisper, dan L-O-V-E berhasil dibawakannya dengan apik; bahkan You Are The Sunshine of My Life disuguhkan dengan kecentilan warna vokal jazz yang menggemaskan. Sekarang Olive juga menjadi penyiar di Oz Fm Jakarta.

jazz-andien1Andien

Ketika Elfa Secioria pada tahun 2000 pertama kali memperkenalkan remaja berusia empat belas tahun yang menyanyikan jazz, publik Indonesia pun terkesima. Betapa tidak, jazz bukanlah sesuatu yang awam bagi kalangan remaja, tetapi gadis belia ini cukup mampu menggebrak dengan album debutnya: Bisikan Hati. Lagu Meniti Pelangi yang lincah dan ringan langsung membuatnya dikenal dan dicintai para penggemar musik, sedangkan My Funny Valentine versi Andien mampu menyematkan predikat jazz dengan cukup serius pada namanya. Tidak ketinggalan pula The Boy from Ipanema, Isyarat Cinta, serta, tentu saja, Bisikan Hati mengantarkannya pada deretan pendatang baru yang patut diperhitungkan. Dengan awal yang begitu menjanjikan, tentu dapat dipahami bila semua orang menyayangkan kestagnanan karier penyanyi kelahiran tahun 1985 ini. Sepanjang perjalanan bermusiknya sejak tahun 2000, Andien baru menghadirkan dua album lagi, yaitu Kinanti (2002) dan Gemintang (2005).

Bagaimana, setelah melihat pembahasan singkat biodata dan lagu-lagu keenam jazzer perempuan Indonesia itu, tidak salah kan kalau saya bilang mereka akan mampu membuat kita bertahan di kemacetan model apa pun juga? Oh, tidak hanya bermanfaat di kala macet, bayangkan bila iringan suara dari para vokalis jazz perempuan Indonesia ini juga mengiringi kegiatan berduaan atau bahkan bercinta bersama pasangan.

@Shinigami, SepociKopi, 2010