Home » Lagak Lajang, Sepocikopiana

Lagak Lajang: Tantenya Dipsy… Beneran kok Tantenya!

30 January 2010 177 views 16 Comments

poci2Oleh: Oscar Arumi

Kampus libur semesteran. Pastinya, saya lebih banyak berkocol di kos-kosan kalau sudah begini. Yang paling enak sebenarnya yah pulang ke kampung. Tetapi, niat mulia itu terpaksa diurungkan lagi. Pasalnya, ada perbuatan mulia lain yang nggak kalah pentingnya. Hm, begini lho, sepupu saya mendadak masuk rumah sakit. Ketika istrinya menjaga di rumah sakit, anaknya dititipkan pada saya.

Tenang, hohoho, tenang. Siapa bilang mengurusi anak kecil itu repot? Nggak kok! Buktinya, saya sendiri bisa. Tanpa ada pendamping, tanpa ada partner. Anak kecil itu sering dipanggil Dipsy. Umurnya sekitar 6-7 tahun, kalau nggak salah masih kelas 1 SD, saya tak tahu pasti. Yang jelas, saya akan menjadi teman bobonya Dipsy pada malam hari. Saya lalu mengantarnya sekolah di pagi hari, kemudian menjemputnya pulang sekolah sekalian mengantarkannya ke rumah sakit. Lalu malam harinya, dititipkan lagi ke saya. Sampai bapaknya sembuh, saya yang bertanggung jawab penuh dalam hal antar-jemput dari sekolah. Sederhana, bukan?

It’s so simple, girls… Yes, I can handle it. Urusan sepele, antar-jemput doang. Dulu, berapa banyak perempuan yang saya antar-jemput setiap hari? Banyaklah pokoknya, dan selalu pulang dengan selamat tanpa lecet sedikit pun. Nggak percaya? Paling-paling ya, lipstiknya agak belepotan sedikit di bagian pipi dan bibir.

Bangun subuh, sehabis bertemu Tuhan saya langsung menyuruh Dipsy mandi lalu berpakaian, melihat roster dan menyusun buku-buku pelajaran. Sementara itu, saya gorengkan telur ceplok buat sarapan ala kadarnya. Untungnya, Dipsy mandiri, saya gak terlalu repot menyuapinya. Menjelang pukul 07.00 WIB, saya antar Dipsy ke sekolah, dan berjanji menjemputnya lagi pukul 11.00 WIB. Jadi, benar kan kata saya? Gampang kok ngurus anak kecil, nggak sesusah ngurusin pacar yang lagi mogok makan karena kamu telat menjemputnya buat kencan malam minggu. Sampai di sini, saya pantas diberikan angka SEMBILAN.

Jam 10.30, saya sudah sampai di sekolah Dipsy. Bersama orangtua lainnya yang kebanyakan berkerudung dan bertampang keibuan. Pantas saja, keponakan saya sedang menuntut ilmu di sekolah semi-madrasah. Wah, begitu kontrasnya mereka dengan penampilan saya, urakan bahkan terkesan sangar. Saya menunggu di gerbang sekolahan menanti Dipsy keluar. Seorang Bapak mendekati saya, entah Satpam, entah penjaga sekolah, tapi gayanya lebih mirip dengan pawang hujan atau dukun beranak.

Pakai blangkon sambil memegang kayu tipis tetapi panjang, dia bertanya, “Menunggu siapa?”
Saya jawab, “Menunggu Dipsy.’’
Kerutan di wajahnya mulai terbuka, seolah tak mengenal anak bernama Dipsy. Oh Tuhan! Mati saya, saya gak tahu nama asli keponakan saya itu! Mati saya! Beneran, saya cuma tahu panggilannya itu Dipsy.

Ditanya lagi, “Kelas berapa?’’

Jawab saya ragu, “Kelas Satu Unggulan?’’

Haduh! Saya benar-benar ragu Dipsy kelas satu atau kelas dua, tahunya cuma unggulan doang. Oke, sampai sini, tampar muka saya yang mulai merah kayak kepiting rebus. Si pawang hujan ini, ehhh maksudnya, si penjaga sekolah mulai curiga memperhatikan saya dari bawah ke atas. Jangan-jangan dia pikir saya termasuk salah seorang anggota sindikat penculikan anak. Lihat gaya saya, celana puntung sedengkul, jaket kulit hitam, plus helm yang nggak pernah lepas. Gaya penculik yang sempurna! Cepat-cepat saya pencet nomor hape istri sepupu saya, bertanya nama lengkap dan kelas berapa si Dipsy itu. Si penjaga sekolah mendekat lagi, kali ini Dipsy sudah berada di sebelahnya. Dengan keyakinan pasti, saya katakan.

“Pak, saya ini tantenya Dipsy, eh… Dirkansyah El-Shahab, kelas 2 A Unggulan.”
Si Bapak terbelalak tanpa kata-kata seolah tak percaya, “Kamu… Tantenya Dipsy??’’
Tanpa diperintah, Dipsy memegang tangan saya, dan naik ke boncengan motor. Lihat? Lihat kan, Pak? Saya bukan penculik kok! teriak saya dalam hati.

Bapak tua itu serasa terhipnotis dan melongo melihat kepergian kami. Apa mungkin tampang saya seberantakan itu? Nggak cocok menjadi ibu? Atau gaya saya yang urakan, nggak mencerminkan gaya perempuan sejati? Apa lesbian kayak saya, lebih cocok jadi penculik anak daripada tukang jemput anak? Tersingggung, saya benar-benar tersinggung! Besok, lihat saja, saya pakai rok kembang mengajar, biar si pawang hujan itu klepek-klepek liatin saya. Lihat saja!

@ Oscar Arumi, SepociKopi, 2010.

16 Comments »

  • Manies asem asin said:

    Nyahahaha..
    Parah2!
    Tapi hebat, bs jd tante yg bae! Sy smpe skrg msh hobi tuh nyiksa kponakan. Boro2 anter jmput..
    5 mt brsama tuyul2 itu aj, rsny kpanasan ky d nraka.

  • dhea dhea said:

    hahahahahahhaa,,,,,,,,,,,, lucu nya,,,,,,,,,

  • nyx said:

    huahahahaaaa.. lucu banget.. :) )))

  • tweet-tweet said:

    haduh tante os
    untung dipsy keburu nongol
    kalo kagak bisa diganyang ama ibu2
    hiyyy,,
    seremm

  • wibisana said:

    Sumpah lucu,kocak!
    Tulisan favorit saya minggu ini :-)

  • Tasmanian said:

    He…he…lucu ceritanya, tampang sangar ga mslh yg penting jiwa keibuan ttp ada…:-);-(

  • jn said:

    ck ck ck ck.. :D

  • vanillatte said:

    Hm hm hm … Penampilan memang sering kali jd sedikit masalah. Gk jarang ada sebutan spontan “mas” atw “pak” yg membuat dahi saya berkerut. Partner saya dlu slalu bilang, “ya jgn salahin org panggil gtu, lha wong pnampilan kmu co bgt”. Iya kah ?

  • VINARA said:

    jadi inti nya,dari cerita di atas kita sebgai perempuan,apapun bentuk,wujud,sifat,tingkah laku nya..perempuan tetaplah perempuan yg pasti punya jiwa keibuan..so..seorang lesbian yg tomboy abeees,juga bisa jadi ibu yg baik…key kan!!!!

  • AL said:

    Huaha, saya jadi ingat saat ambil rapot, seorang bapak-bapak berjenggot panjaaaang banget dan berbaju gamis yang ambil. Bawa-bawa tasbih. Bikin deg-deg-gan aja dan sempet gak percaya karena yang saya tau, anak saya yang itu bapaknya seorang advokat.

    Tapi biasanya sekolah emang gak akan langsung serahin anak-anak ke orang baru, Bu. Sebelumnya harus ada konfirmasi dulu dari rumah bahwa hari ini, atau beberapa hari ini, akan dijemput oleh siapanya.. Yah, mencegah hal yang tidak diinginkan aja. Jadi bukan masalah penampilan, tapi untuk orang baru yang belum pernah dilihat sebelumnya, satpam atau guru akan bersikap hati-hati.

  • f3bby said:

    Hwahahaha.. :D
    Casual gak berarti sangar..
    Yg penting bersih dah rapi..

    Pacarku aja bilangin aku preman..krn k mana2 cm modal bju kaos,clana jeans (untung gak robek2 tuh clana),dan topi ato kupluk..

    Tapi teteeup..mandi harus rajin..
    Hahaha..

  • Oscar Arumi said:

    Bu AL, memang belakangan barulah saya tahu ternyata menjemput anak SD gak bisa langsung main tembak gitu… untung aja, Ibunya Dipsy nelpon bu guru Dipsy stlh kejadian itu.. hehehe…

  • rhea justicia said:

    jadi inget ucapan favorit,d salah satu film warkop DKI..
    “atas..wajah keibuan,,bawah..kaki kesebelasan”
    wkwkwk

  • Tiara said:

    huahahhahaaa…
    om oscaRR lucu amad daHH…
    ckckckk…
    maka nya bsok2 klo mw anter dipsy ke school lagi pke kebaya dunk,, :-P

    biar imutt…
    pke lipstikk yg tuebeellllll…
    :) )

  • Shifra said:

    @vanillatte: saia mngerti sangat perasaan itu..ehehe..

    @oscar arumi: snyum2 terus d bacanya..jd pgn kenal mba os d..ehehe..

  • eliz said:

    huahahahahahaha…. lucu, lucu… segitu dendamnya sampe mau pake rok kembang-kembang….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.