Muted_Flower_by_tpphotographyPernah punya mantan? Atau punya mantan yang tak bisa terlupakan dan selalu teringat? Padahal hidup harus berlanjut, susah banget nih untuk bergerak ke depan. Dengarkan cerita teman lesbian kita, Kunyit, yang susah melupakan mantan pacarnya.

Saya pacaran dengan Inna selama tiga tahun. Selama tiga tahun, kami menggores banyak kenangan. Inna adalah perempuan pertama saya, demikian juga dengan saya bagi Inna. Kami sudah berjanji untuk selalu setia dan hidup bersama-sama.

Mulanya kami memang LDR-an. Inna kuliah di Bandung dan saya kuliah di Jakarta. Tapi jarak tidak menghentikan rasa ketertarikan kami berdua. Waktu Inna lulus kuliah duluan, dia nyari kerja di Jakarta. Nyaris enam bulan dia mencari kerja sebelum akhirnya mendapat tempat di posisi yang dia suka. Selama itu, kami ngekos berdua.

Saya lulus setahun kemudian. Mencari kerja di Jakarta memang sulit apalagi dengan pendidikan D3 saja. Setelah melamar ke sana kemari, saya mendapat pekerjaan juga. Selama kami bekerja, kami tetap intens berhubungan SMS biarpun malamnya kami bertemu di kamar kos.

Beberapa bulan setelah saya bekerja, saya mengendus sesuatu yang nggak beres. Inna jadinya aneh, mecurigakan. Hapenya nggak pernah lepas dari kantongnya. Dia kelihatan sering ber-SMS dan kalau ditanya siapa, dia selalu menjawab teman. Lama-lama hubungan kami makin nggak beres. Kami sering bertengkar. Ribut.

Saya tahu Inna punya TTM biarpun nggak pernah diakui olehnya. Keributan kami berpangkal pada TTM-nya. Gara-gara keseringan ribut, Inna selalu mengajukan putus. Saya berkali-kali menolak permintaannya, ingin mencoba lagi dan lagi.  Kalau sudah bilang begitu, Inna luluh. Dia tidak meninggalkan saya.

Suatu hari, kami ribut besar dan hari itu juga Inna pergi meninggalkan saya. Beberapa hari setelah kami ribut, Inna datang cuma untuk beberes dan mengumpulkan pakaiannya sebelum pergi, nggak pernah kembali ke saya lagi.

Sampai hari ini saya masih memikirkan Inna. Januari ini adalah anniversary kami yang ke-3, kalau saja dia masih bersama saya. Kalau Inna mau balik sama saya, saya masih mau sama dia. Sudah tiga bulan ini hape saya tidak menerima balasan SMS dari dia, walaupun telah saya kirimkan beruntai-untai SMS kepadanya. Saya mencoba menelponnya, tapi telepon saya selalu tidak pernah diangkat.

Paling susah kalau malam tlah tiba. Tidur sendirian berteman bantal dan guling, tanpa Inna. Kalau meriang karena habis kehujanan di motor lebih menyedihkan lagi. Teringat Inna yang jago memijit dan membalurkan minyak kayu putih di seluruh badan.

Saya ingin dicintai dan mencintai, punya pacar yang dapat menjaga saya dan  saya jaga. Saya yakin saya bisa bertahan, tapi sungguh saya butuh Inna dalam hidup. Sakit rasanya hati ini setiap mengingat Inna. Bisakah  saya melanjutkan hari-hari sambil tetap tersenyum? Saya terus mencoba walau susah.

@Kunyit, SepociKopi, 2010