Oleh: Nuha Guwa
Cerai bagai mainan saja. Kemarin kita masih melihat mereka bermesraan dengan ragam dan kebahagiaan yang menularkan cemburu, kini mereka bercerai. Dibuktikan dari blog-blog yang mulai diabaikan, atau hujatan, dan cacian, muncul di komen-komen tulisan terkait mereka di dunia maya. Kalau dibilang artis saja yang bercerai, saya pikir tidak juga. Hanya kebetulan gaya hidup artis banyak disorot oleh publik. Sehingga mereka yang lebih sering dijadikan bahan pembicaraan. Perceraian memang menggelisahkan, merata di kalangan masyarakat umum, menghampiri tanpa pandang jenis kelamin.
Cerai berarti berakhirnya sebuah kesepakatan, seseorang terpisah dari pasangannya, atau patner yang memisahkan diri dari pasangannya. Perceraian secara hidup berarti sebuah perpisahan yang muncul dikarenakan ketidakcocokan satu sama lain. Sementara cerai mati ada karena salah satu diantara pasangan tersebut meninggal dunia. Tentu saja yang ingin saya preteli bukan cerai mati, namun cerai hidup yang acapkali menimbulkan tekanan batin bagi kedua pasangan. Jeleknya balada duka tersebut merembet pada anak-anak atau orang-orang terdekat.
Kita semua tahu betapa sebuah perceraian sifatnya sangat privasi dan rahasia, namun kenyataannya ketika perceraian terjadi, tidak ada lagi yang harus dirahasiakan. Dunia sekeliling wajib mengetahui bahwa mereka tak lagi bersama-sama. Sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pasangan tersebut ketika berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Misal jaminan sosial yang harus dipisahkan, harta gono gini, pembagian kewajiban, penagihan, dan sebagainya.
Menurut salah seorang psikolog, perceraian umumnya terjadi akibat kesadaran untuk mendapatkan hak kebahagiaan atas diri sendiri semakin tinggi. Keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan inilah kemudian menjadi sebuah pertimbangan bagi seorang invidu akan melanjutkan hubungannya dengan seseorang atau tidak. Hal ini akan semakin kuat jika salah satu pihak yang ingin bercerai berkepribadian mandiri. Menurut psikolog, orang yang mandiri lebih berani mengambil tindakan karena ditunjang kemapanannya.
Baiklah jika kesadaran diri akan hak-hak menjadi penting, bolehkah kita sebutkan tuntutan atas hak sebagai bagian dari ego manusia? Tentu banyak faktor penyebab perceraian, kekerasan dalam rumah tangga merupakan alasan paling populer. Adanya pria idaman lain, wanita idaman lain, disusul alasan ekonomi, ketidakpuasan lahir batin, cemburu berlebihan, susah diatur, terjerat pada obat-obatan terlarang,… semua hal di atas menjadi alasan klise sebuah perceraian.
Krisis ekonomi memang bisa mempengaruhi rumah tangga, kehidupan ekonomi yang kurang lancar membuat pasangan memilih jalan lain mencari kesejahteraan. Lalu bagaimana dengan ketidakpuasan lahir batin? Tentu lagi-lagi semua alasan ini kembali pada kesimpulan awal bahwa semua bibit-bibit ini muncul saat manusia merasa berhak mendapatkan kebahagiaannya. Sepertinya kita memang kita berputar-putar di sana.
Yang pasti tak banyak solusi akan diberikan di sini. Namun tidak ada salahnya kepentingan individual yang berpegang pada hak azasi untuk mendapat kebahagiaan masih bisa bertoleransi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lain. Paling tidak evaluasi terhadap hubungan. Jika setiap masalah selalu ada solusi, tentu demikian juga sebuah perceraian. Namun sayangnya apa yang diinginkan di sini malah sebaliknya menjadi sangat riskan, perceraian adalah satu-satunya solusi dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga. Jika sudah demikian, tentu tidak ada pilihan lain bagi kedua orang yang berpasangan tersebut agar berpisah.
Ada banyak pertimbangan sebelum mengakhiri sebuah hubungan. Bagi kita para lesbian, perpisahan merupakan hal yang menyakitkan. Tidak mudah mencari pasangan yang pas dan cocok. Lagi pula komunitas lesbian sangat terbatas dalam menawarkan patner yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Untuk itu, ada baiknya menunda perpisahan, carilah akar permasalahannya, jika masih bisa diselesaikan mengapa tidak bersama-sama mencari jalan keluar terbaik? Tentu tegang rasa dan saling menghargai pribadi pasangan akan memberikan pencerahan tersendiri. Jika sudah memiliki anak atau usaha bersama, kepemilikan tabungan atau properti misalnya, tentu semua ini harus menjadi pertimbangan yang bijak. Apakah benar perceraian memang solusi? Jika perceraian muncul akibat tidak kejujuran, mungkin tidak ada salahnya kedua belah pihak saling jujur satu sama lain sebelum memutuskan palu untuk berpisah. Jika sebelumnya hubungan disadari atas cinta, saling percaya, kemesraan, keterbukaan, tentu fondasi rumah tangga yang sudah terbangun dengan baik sulit diceraikan dalam sebuah perpisahan.
Semua memang kembali pada diri masing-masing. Apa tujuan menjalani sebuah hubungan? Ke mana rumah tangga ini akan dibawa? Apakah masalah ini hanya terjadi dengan dia, tapi tidak dengan orang lain? Jika semua itu tak terjawab dan buntu, barangkali memang benar, perceraianlah jalan keluarnya.
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010
Mel
January 26th, 2010 at 7:04 pm
Saya dan pacar sdh berkomitmen utk bersama ampe tua nanti. Walau skrg lg LDR tp utk sementara aja. Kta b2 dah mengikat janji tuk sllu setia n ga ada yg lain. Mmg kta akui kta sering rindu pasangan akan tubuh masing2 ato kehadiran si dia di si2, tp kra sdh diikat komitmen kta saling percaya dan komunikasi tiap hari.
meliâ
January 27th, 2010 at 12:31 am
hati2 membuat komintmen atw janji,apalagi di hubungan L ,kita sering berhadapan thd banyak hal yg diluar kuasa kita,terkadang seperti melawan arus yg deras dan melelahkan.lakukan yg terbaik,brusaha yg terbaik,untuk kita dan patner.jika memang harus berakhir,berusalah untk mengakhiri dgn baik.
14
January 27th, 2010 at 9:33 am
Tulisan yg menarik..Perceraian bagi “L”couple
memang lbh menyakitkan..egoisme kadang menga
baikan hak org yg pernah dikasihi,tmasuk
hak2 anak jika mmg ada,hak2 teman, hak2 lingku
ngan,hak2 alam.krn egoisme sering menyulut amarah
Jika tjadi demikian,tangan Tuhanlah yg mmbuka mata
sejati apa cinta yg pernah ada dan didengungkan..krn cinta sejati
tak pernah membunuh atau mematikan…atas nama cintaNya
semoga sejati itu selalu ada menyubur bumi dgn kasih sayangNya
Affy
January 27th, 2010 at 3:01 pm
Ada pertemuan, akan ada perpisahan…ada kebersamaan, idealnya kita persiapkan juga kesendirian suatu ketika nanti…tapi sebaik-baiknya sebuah perpisahan, lakukanlah dengan cara yang “manis”…tidak dengan cara kekerasan, pemaksaan, kesombongan, keegoisan, ketidakpedulian apalagi dengan trik-trik licik dan penuh kebohongan…!
Itu sama saja memercik perang…yang bersisa pastilah rasa dendam dan kebencian…terlalu ironis kan dengan saat2 manis dimana cinta manis milik berdua…??? hehehehee…
akkaht
January 27th, 2010 at 11:23 pm
yeaah… bagi kita Lesbian bercerai (setelah membuat komitmen bkn pacaran) sangat menyakitkan….
untuk itu hati2 membuat “suatu perjanjian” karena buat kita
tdk ada “paksaan” bahkan dilarang!
tidak sanggup memikirkan untuk berpisah dgn partner yg telah “terpilih” hasil dari perjalanan dari pemikiran yg teramat dalam… tetaplah jadi sayapku…
dashboard
February 3rd, 2010 at 5:03 pm
ya memnag susah kalau sudah berkomitmen… yang terpenting adalah tanggung jawab kita sama partner kita. well aku juga pernah mengalami hal yang sama dan akhirnya perceraianlah yang memisahkan kita =, walaupun dalam hatiku yang paling dalam dia partner aku yang bisa terima aku apa adanya.. love u rie walaupun kamu sudah menjadi partner orang lain,,, aku ikhlas asalkan kamu bahagia… hahaha curcol ya boz…
jenn
February 9th, 2010 at 1:17 am
ya memang semakin lama hubungan semakin berat cobaan….antara mau terima pasangan kita apa adanya atau trus berusaha merubah pasangan menjadi yang kita mau…
sampai akhirnya kita akan menemukan kata sepakat atau pisah..balik lagi, kita harus bisa inget kebelakang saat pertama kalo kita mulai hubungan ini…apa seh yang kita bayangin 5 tahun kedepan? apakah kita mendekati impian kita or malah menjauhi..and work as a team..