Home » Sepocikopiana, Tentang Cinta

SepociKopi’s Fun Facts

26 January 2010 127 views 16 Comments

Coffee_by_x_therumorOleh: Ade Rain dan Lakhsmi

Mari bicara tentang bulan yang mengagumkan; di bawah terangnya dua perempuan mencoba menghitung kelip kunang-kunang yang terperangkap di jejak daun. Jumlahnya seperti rahasia tentang takdir, tak dapat dihitung.

***

Tentu saja kalimat di atas bukan intro sebuah tulisan mendayu-dayu, cuma keisengan kami berdua memulai tulisan ini. Iya, keisengan. Segalanya dimulai dengan keisengan: keisengan aku dan Lakhsmi yang sedang asyik mengobrol di suatu malam. Tiba-tiba kami menemukan banyak sekali kelucuan tentang SepociKopi. Fakta unik yang para pembaca pasti belum tentu tahu. Sekarang aku ingin mengajak kita semua klenang-klenong sebentar, membeberkan kegilaan dan keisengan kami mengumpulkan data fun fact-nya SepociKopi.

Selama ini pasti banyak di antara para lesbian yang rada takut membuka situs SepociKopi di tempat umum, misalnya di kantor atau di komputer pribadi yang sharing dengan saudara. Wuih, parno bow! Kadang-kadang miris deh kalau mendengar curhat teman-teman, “Doh, aku nggak berani buka SepociKopi di tempat umum.” Kenyataan ini mengecilkan hati saya; aih mak Jeng, kalau begitu siapa ya yang akan baca SepociKopi? Jawaban teman-teman di atas sungguh berbalik dari kenyataan yang ada, buktinya SepociKopi rajin dibuka setiap hari. Bayangkan bow, hit terendah dalam sehari adalah lima - itu tiga tahun lalu. Tertingginya? SepociKopi pernah mendapat 2,600 hit dalam sehari. Yap, tidak salah baca. Dua ribu enam ratus klik. Eeeh, jangan pingsan dulu.

SepociKopi memiliki 330-an pelanggan tetap yang menerima e-mail rutin setiap hari.  Yang kerja di media pasti tahu. Media mana yang sanggup bertahan dengan jumlah 330 pelanggan saja? Kebayang kan, tentunya nggak sanggup menutup biaya operasional. Coba bagaimana membayar ongkos cetak, upah menulis, boro-boro menggaji anggota redaksi. Lupakan! Hitung-hitungannya menjadi begini: seandainya SepociKopi berupa tabloid dijual dengan harga 7,500 rupiah terbit dua minggu sekali, maka dalam dua minggu SepociKopi dapat 2,4 juta rupiah, sebulan yah, kalikan saja dua maka jumlahnya menjadi 4,8 juta rupiah. Hiks. Bayar dua karyawan aja udah tidak sanggup.

Kayaknya nggak perlu kecil hati kalau SepociKopi nggak jadi majalah cetak. Bukankah media cetak sedang mengalami masa tragis setelah booming internet dan smart phone? Banyak surat kabar, tabloid, dan majalah gulung tikar, bahkan mem-PHK pegawai-pegawainya. Kebayang aja kalau kami semua dinonaktifkan dari perusahaan yang tercinta karena nggak sanggup bersaing dengan majalah heteroseksual. Ah, nggak kuku deh, jangan sampai.

Oke, demi sekedar keisengan seperti prolog di paragraf awal, mari kita coba lihat jika SepociKopi dijadikan majalah. Harga jual 25 ribu rupiah, terbit sebulan sekali. Jika dikalikan pelanggannya yang sekarang, maka pendapatan SepociKopi adalah 8,2 juta rupiah. Kelihatannya gede ya, tapi coba, mau ngantor di mana? Sewa ruko dua lantai aja bisa tiga sampai dengan lima juta per bulan, tidak termasuk biaya operasional lainnya. Atau sewa ruangan di daerah Sudirman, Slipi, atau Kuningan? Ya, kayaknya redaksi SepociKopi harus segera berpoliandri supaya bisa berkantor di daerah elit sana dan mencapai target oplah seribu eksemplar per bulan. Kalau nggak, megap-megap.

Sutralah, memang idealnya SepociKopi menjadi majalah online, diukurnya berdasarkan hit tadi. Nah, bagaimana kalau sekali klik pembaca harus bayar? Makin banyak yang nge-klik makin untung kan. Mau nggak membayar buat situs tercinta ini? Karena sejak awal, SepociKopi sudah bercita-cita menjadi situs sosial dengan idealisme super-tinggi, maka sampai kapan pun, kami bertahan tetap memberi gratis. Mau sekali klik atau beribu kali klik, intinya nggak perlu bayar kok. No worries!

Lalu bagaimana dengan iklan? Pemasang iklan sudah bertanya padaku sejak setahun lalu, namun redaksi sampai kini masih belum mematangkan harga buat pemasang iklan tadi. Kenapa coba? Tanya kenapa, jreng-jreng-jreng. Padahal beberapa teman lesbian bersedia memasukkan usaha hotel dan travelnya untuk mendukung SepociKopi, namun apa yang terjadi? Uang masih dianggap momok menakutkan bagi anggota redaksi. Kalau membicarakan masalah uang di ruangan miting Yahoo! Massanger, langsung deh ngotot-ngototan riuh rendah tentang apa pentingnya pemasang iklan dan untuk apa uang tersebut akan digunakan? Alhasil, alhambra, aldarado… sampai sekarang tarif iklan tidak pernah dibicarakan lagi. Toh, selama ini SepociKopi tetap bisa bernapas dengan bahu-membahu membiayai hosting.

Saat ulang tahun SepociKopi, beberapa perusahaan besar dan elit berani menjadi sponsor dengan memberi bingkisan. Namun hanya sampai di situ saja support dan hubungan mesra tersebut. Loh, loh, kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Mereka enggan jika nama perusahaan mereka dipajang berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan di sini — sebuah media homoseksual. Perusahaan raksasa mapan mana yang tidak takut jika mereka mendapat cap buruk atau lirikan sinis dari masyarakat? Tentu kita tidak akan membahas masalah ini menjadi panjang lebar. Reaksi mereka cukup wajar tanpa perlu kita ikut-ikutan mengecap mereka sebagai homofobia. Kita juga tidak mau produk-produk unggulan mereka mendapat sterotip jelek dan dimusuhi hanya gara-gara bersimpati dengan kita. Ya, kan?

Baiklah, mari kita pindah ke fakta lain. Sejauh ini, SepociKopi berhasil mempublikasikan banyak sekali tulisan, tepatnya berjumlah 1,600-an artikel. Apa? Seribu enam ratus, bro. Bagaimana jika sekiranya SepociKopi harus membayar 1,600 karya yang ditulis selama tiga tahun? Mengingat artikel yang dikirim berkualitas profesional, tentu upah menulisnya nggak bisa murah. Kita anggap satu artikel dibayar 500 ribu rupiah. Jadi 1,600 artikel dikalikan 500 ribu rupiah, maka investasi yang diberikan penulis kepada SepociKopi sebesar 800 juta rupiah. Jika dianggap uang, maka itulah harga terendah yang bisa kita tawarkan apabila SepociKopi hendak dijual kepada perusahaan independen. Wow! Dengan uang sebesar itu, apa yang bisa kita lakukan? Bisa dipakai buat bangun sekolah atau rumah jompo buat lesbian.

Bagaimana dengan jumlah komen? Tercatat sampai detik ini, SepociKopi memiliki 10 ribu komen. Jika rata-rata waktu online untuk menulis satu komen membutuhkan sekitar 10 menit dan biaya internet yang harus dibayar sebesar 6,000 rupiah per jam, anggaplah biaya internet dibuat per menit, maka pemberi komen ini selama tiga tahun telah menyumbang 10 juta rupiah. Kalau dibelikan beras satu kilo dengan harga 6,500 rupiah, maka dapat sekitar 1,500 kilogram alias 1,5 ton. Buat menghidupi berapa fakir miskin dan anak terlantar, tuh?

Fiuh. Beginilah kalau semua diubah ke dalam angka. Seolah-olah semuanya dapat dinilai dengan nominal. Padahal tanpa jumlah itu, SepociKopi tetap hidup. Ini semua karena ketulusan penulis dan dukungan pembaca sekalian.

Jadi jangan heran, dengan atas fakta-fakta dan semua jerih payah itu, kini diam-diam SepociKopi tersebar memasuki ranah intelektual. Ribuan artikel SepociKopi telah diteliti dan menjadi bahan tesis kuliah, makalah, seminar, diulas di koran nasional berbahasa Inggris, dibahas di majalah perempuan gaya hidup, dan muncul dalam Kompas dot com. Iseng-iseng, cobalah berkomunikasi dengan Oom Google, search kata SepociKopi dan lihatlah jumlah halaman yang menampilkan SepociKopi. Sungguh mengejutkan. Entah siapa saja mahluk-mahluk yang membicarakan SepociKopi. Mulai dari pembaca heteroseksual, gay, cendiki-intelektual, budayawan, bahkan ibu rumah tangga mengaku membaca situs tercinta ini untuk memperluas wawasan mereka. Sungguh senang rasanya saat lesbian menghibur masyarakat heteroseksual.

SepociKopi dihidupi dan dibaca oleh berbagai penggemar dari segala pelosok Indonesia, mulai desa kecil 500 km dari Medan sampai Papua, serta negara-negara di benua Asia, Australia, Amerika dan Eropa. Untuk kegilaan itu, seluruh tim redaksi yang semuanya memiliki pekerjaan profesional di luar mengurus SepociKopi bekerja serabutan selama 24 jam mempublikasikan SepociKopi tujuh hari seminggu tanpa libur. Kalau sakit karena begadang nulis atau mendesain logo atau menjaga supaya server tidak down? Ya, ke dokter sambil merogoh kocek sendiri karena biayanya nggak ditanggung SepociKopi. Hehehe.

Demikianlah fakta-fakta lucu yang berawal dari keisengan kami tentang SepociKopi di suatu malam yang terasa sangat panjang. Semoga data-data di atas berguna bagi pembaca lesbian yang sedang iseng (atau serius) saat ini. Mari tertawa, jangan merengut dong, Ciin.

@Ade Rain, Lakhsmi, SepociKopi, 2010

16 Comments »

  • Danish said:

    Wow…!!
    Thx u, Sepocikopi untuk selalu ada untuk para Lesbian terutama. Smoga selalu tetap eksis.

  • Arie Gere said:

    wow..sepocikopi mau dilelang ya? … gosippp atau faktaaa?? heheehhe.

  • Mel said:

    I love u sepocikopi, . . Selanjutnya gagap ga tau mo komen apa lg. Itu sdh ckp mengutarakan betapa berpengaruhnya kehadiran sepocikopi thdp hdpku dan hub ku dgn kekasih.

  • lifeishappi said:

    saya cinta sepocikopi…sampe2 pernah salah nyebut. tertukar dengan salah satu novel Dee…hehehe…well, sepocikopi hebat! hasil karya tanpa lelah…SEMANGAT! :)

  • meliâ said:

    sepocikopi memang hebat ^__^ makash ya cin…

  • A-rhea said:

    wow… besar banget dedikasi redaksi sepoci kopi buat kita pembaca dan penikmatnya… jaman sekarang tidak banyak orang yang mampu bertahan dalam pengabdian saat pengabdian itu dihadapkan pada angka dan mata uang…

    hormat yang begitu tinggi dari saya untuk redaksi sepoci kopi, terutama Alex dan Lakhsmi..
    TERIMA KASIH… :)

  • lañ said:

    g heran,, klo sbnrny sepocikopi bs ttp brthn,, tnpa dukungan hal brsft nominal,,
    krna sepocikopi d byr oleh cinta dr smua orng yg trlibat d dlmny,,
    n cnta tk dpt d ukr oleh nominal,, terlalu brhrga,, :-)
    luv u slalu

  • Sky said:

    Huahahaha…beneran saya coba google… Hasilnya 17.100 link dalam waktu 0.34 detik… Hahahahha…. Awesome…^_^)!

  • AL said:

    Yah, gimana mau ketawa, yang disajikan angka-angka. Mengernyit yang ada.
    Takut buka sepocikopi? Ah, saya buka situs ini di ruang guru dan di lab komputer sekolah dengan PC kanan kiri ada guru yang lagi kerja dan dibelakang saya guru dan CS lalu lalang, cuek aja. Kadang ada yang nanya apa itu saya jawab majalan online lesbian. Mereka akan tanya lagi: oh, ada ya? Ya, ini ada. Ooo… Udah gitu aja.
    Saya malah suka bingung sama tulisan-tulisan yang kayaknya kok ngeri banget beli buku atau situs bertema ini.

  • sarah said:

    aku jadi senyum senyum sendiri baca yang 1 ni..
    tetap semangat sepoci kopi.. tetap lah hangat kan jiwa kami ^^

  • dhea dhea said:

    menyenangkan sekali membaca tulisan ini,, dua penulis favorit saya,, ade rain n lakshmi,, hebat,,,,,,,!!!!!!!!!!!!

    dsini saya menemukan org2 yg tidak menilai sesuatu dr materi,,dan semoga yg membaca artikel ini dapat mencontoh-nya,,

    membuka SK di kantor?? tidak masalah,,ni juga lg di kantor,,hehehe,,,untuk melepas kepenatan di tengah rutinitas pekerjaan,, so,,knapa mesti takut??

  • jn said:

    saluut..angkat topi utk sepoci kopi.. tak ada kata2 yg bs mewakili betapa aku begitu mencintai sepoci kopi… GBU all.. :)

  • tweet-tweet said:

    Bravo!..Bravo!..
    huahaahaa
    aku buka sepocikopi dari rumah
    kakak n adik tau kok sepocikopi
    tentu saja agak rese’
    hehehe

  • metamanis said:

    waktu aku dkediri..aku coba2 buka sepocikopi dsalah satu warnet..
    diblokir gitu,,aku pikir salah aapa gitu.,tapi berkali2 buka sepocikopi diistu diblokir mulu..tapi dwarnet sebelahnya ngga,,

  • Tasmanian said:

    aku kenal SK br akhir taon lalu, berawal dr pelarianku utk menepis kepenatan dunia nyata yg membuatku bgtu depresi, akhirnya aku menemukn tmpt teduh bg jiwaku…ya sepoci kopi…i love u….
    Slm hangat & ucapan terima kasih yg sebesar2nya buat team SK.

  • cHee said:

    makasii yaaa SepociKopi, ska bget ma tulisan2nya… jd kpikiran pgen orat-oret blog jg.,. dbkin novel lg jg dunn ky’ klub camilan… soalnya kseringan OL hampir 24/7 bkin ni mata rada2 sepet liat monitor.. heheee.. klo ad novelnya psti saya beli!

    hidup belokers!!! ahahhaaay

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.