Noktah Merah: Lesbian Pulp Novel

Oleh: Lakhsmi
Sepuluh tahun lalu, keberadaan kaum homoseksual di Indonesia masih tidak terlalu berbeda dengan yang sekarang. Boro-boro mencari referensi atau penguatan pada sesama lesbian, hidup dengan berpikir positif saja susah setengah mati. Tapi untunglah, beberapa kemajuan telah berhasil dicapai. Misalnya seperti adanya film festival gay bernama Annual Q Film Festival. Keberadaan SepociKopi – menunggangi teknologi abad 21 – mengajak menulis, membaca, dan berbagi dapat memberikan penguatan kepada sesama lesbian Indonesia, merupakan salah satu langkah kemajuan yang nyata dan ada.
Berpuluh tahun sebelumnya – sekitar tahun-tahun konservatif 1950-an setelah perang dunia kedua berakhir – Amerika juga mengalami hal yang sama. Ternyata novel, istilah tepatnya pulp novel, menjadi pembuka jalan dan penerang bagi para lesbian Amerika. Mirip situs SepociKopi, keberadaan pulp novel memberikan dampak baik dan positif bagi para lesbian Amerika yang masih belum berani keluar dari persembunyiannya.
Apa sih pulp novel itu? Pulp novel adalah novel yang dijual murah di pinggir-pinggir jalan mulai dari halte bus, toko obat, sampai warung, menggunakan kertas yang berbahan koran, tipis, dan tampak sederhana. Pulp novel lesbian merambah di berbagai genre, mulai dari drama, misteri, romansa, dan lain-lain. Bayangkan! Hal kecil seperti novel yang kelihatannya sepele menjadi bantuan dan uluran tangan tak kasat mata untuk para lesbian Amerika yang merasa teraliensi di lingkungannya. Nggak berbeda dengan kita kan?
Tahun 1950, penerbit Gold Medal mulai menerbitkan novel-novel kacangan yang berbasis seks. Salah satu novel pertama bertema lesbian yang mereka terbitkan berjudul Women’s Barrack oleh Tereska Torres, tentu saja nama samaran. Cover depannya langsung menjelaskan dengan gamblang isi ceritanya. Buku itu malah dijadikan masalah oleh para pejabat di the House Un-American Activities Committe karena dianggap porno. Tindakan tersebut bukannya menghilangkan keingintahuan orang untuk membacanya, tapi malah melambungkan namanya dan membuka jalan bagi pulp novel lesbian.
The Third Sex ditulis oleh Artemis Smith, nama pena seorang ahli filsafat dan feminis lesbian. Nama lengkapnya adalah Annselm Morpurgo. Diterbitkan oleh Beacon Book tahun 1959 setelah ditolak berkali-kali oleh beberapa penerbit. Berbeda dengan pulp novel lainnya, The Third Sex memiliki isu pernyataan sosial dan sarat dengan gerakan politis, yang pada akhirnya memengaruhi pergerakan homoseksual di Amerika.
Tidak dipungkiri, novel-novel tersebut ditulis dari sudut pandang fantasi lelaki, tapi daripada tidak ada sama sekali, pulp novel lesbian menjadi air minum yang menyegarkan bagi para lesbian. Karena buku-buku jenis itu dijual bebas di masyarakat, tentu saja “moral” yang pas harus disisipi di dalamnya. Tidak ada kisah yang berakhir dengan bahagia. Pulp novel lesbian memiliki ending yang seram dan muram, seperti kembali menjadi lurus, kecanduan narkoba, atau bunuh diri.
Nah, di zaman itu, para lesbian Amerika tentu saja senang bahwa keberadaan mereka akhirnya direpresentasikan di masyarakat. Belum lagi rasa penguatan yang nyata, bahwa ternyata kisah cinta di antara perempuan bisa saja terjadi, bukan hanya dialami oleh “aku sendiri”. Buku-buku tersebut dipindahtangankan ke mana-mana, dari satu kekasih ke kekasih lain, dari satu teman ke teman lain, disembunyikan secara rahasia di dalam lemari baju, tumpukan buku-buku lain, atau di bawah kasur. Untuk para perempuan yang berada di daerah terpencil, pulp novel lesbian adalah harta karun yang tak ternilai.
Biarpun para penulis pulp novel lesbian kebanyakan lelaki, tapi banyak juga yang ternyata lesbian sesungguhnya. Misalnya, seri Beebo Brinker, ditulis oleh seorang lesbian bernama Ann Banon yang menyamar dengan memiliki nama lain. Dia hidup dalam dua dunia, menikah dan mempunyai dua anak, bekerja dan traveling ke mana-mana, namun sering kali mampir di New York untuk bertemu dengan sahabat-sahabat lesbiannya di bar lesbian. Dia akhirnya come out pada tahun 1980 setelah buku-bukunya dicetak ulang lagi dengan nama aslinya oleh penerbit Naiad Press.
Novel lainnya berjudul The Price of Salt ditulis oleh lesbian bernama Patricia Highsmith yang pertama kali menulis menggunakan nama pena Claire Morgan. The Price of Salt adalah novel lesbian pertama yang berakhir dengan “bahagia”. Patricia Highsmith adalah kekasih setia dari penulis novel juga yang bernama Marijne Meeker, dengan nama pena Vin Packer. Karyanya berjudul Spring Fire, menceritakan tentang pergaulan sesama saudari di Sapphic Sorority, mirip dengan kisah Meeker sendiri sewaktu dia bersekolah di asrama putri.
Perhatikan baik-baik cover pulp novel lesbian. Gayanya benar-benar berciri khas. Sekarang cover-cover tersebut sering dicetak ulang dan dijadikan pin, stiker, magnet, dan poster untuk pergerakan lesbian di Amerika atau dijadikan kenangan bagi para komunitas lesbian. Dulu, cover seperti itu adalah penampilan standar yang menjanjikan cerita bertema lesbianisme. Gambarnya biasanya terdiri dari dua atau tiga perempuan, terkadang di ujungnya tampak seorang lelaki sedang berdiri. Judulnya juga menjelaskan terang benderang, seperti menggunakan kata shadow, twilight, strange, odd, atau twisted.
Keberadaan pulp novel lesbian di Amerika sungguh mengingatkanku akan keberadaan SepociKopi. Para penulis di sini yang menggunakan nama samaran tidak ada bedanya seperti para penulis pulp novel yang menggunakan nama samaran. Beberapa pulp novel dari tahun 1950 telah dicetak ulang sekarang. Kusarankan agar para lesbian Indonesia juga ikut membacanya agar dapat menghayati suasana Amerika tahun 1950 ketika pergerakan dimulai dengan sepotong novel. Misalnya, bacalah The Price of Salt. Mencari buku-buku tersebut memang tidak mudah, coba cek toko buku di luar negeri atau Amazon dot com. Sungguh berharga kalau kamu berhasil mendapatkannya.
Jadi, lesbian, mengapa takut menulis dan malas membaca untuk dunia? Sejarah sudah membuktikan dengan jelas, bahwa semua perjuangan selalu dimulai dengan tulisan dan bacaan. Tulisan-tulisan dan buku-buku menghancurkan tembok-tembok yang menutupi keberadaan kita sampai kita menjadi sosok indah yang nyata dan ada.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2010
(*) gambar cover The Price of Salt adalah buku edisi pertama









tante lax buku–buku jadul seperti itu dimana qt mencari’y??
wah…menyenangkan! layak untuk diburu…referensi yang bagus sepertinya…
susah bgt nyari-nya,,,
paling2 nekad tanya mbak penjaga toko nya,,
malu sih,,
tapi kan pgn bgt baca yg tema nya L ,,
eumm,, kl mbak nya nanya cuma bisa blg ‘wat tugas kampuz mbak ‘ hehehehe,,,
ada ga di indonesia toko yg jual buku2 bertema L itu??
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments