Home » Humaniora, Opini, Spiritualisme

Cerita-cerita Kematian

20 January 2010 619 views 10 Comments

Under_The_Rose_by_Juli_SnowWhiteOleh: Zetha Septina Abdu

Tiket Sancaka Jogja-Surabaya kuremas keras, kereta tumpanganku baru berangkat besok pagi. Aku berdiri tepat di sebelah kereta api Prambanan Ekspres. Begitu menyadari kereta itu tidak segera beranjak melanjutkan perjalanan menuju Solo, menunggu orang-orang yang bergegas memburunya, aku meloncat melintasi badan kereta. Tak kalah bergegas, aku mencari tempat duduk di ruang tunggu. Terkadang di antara keriuhan orang-orang, manusia dapat menemukan sisi paling sunyi dari dirinya, paling tidak hal itu berlaku bagiku.

Aku menekan perasaan, berusaha mengelak untuk menjadi sentimentil. Ada banyak yang bisa dikenang dari stasiun Tugu selain hal-hal cengeng. “Ahay, di tempat macam ini apa lagi yang bisa kau temukan, wahai anak muda?”

Perasaanku protes. Perasaan kurang ajar ini rupanya menantangku. Wahai perasaan, akan kukisahkan padamu tentang Amir Sjarifuddin. Sementara regu tembak bersiap menyikat habis nyawanya, bekas Perdana Menteri Indonesia itu sempat menghabiskan jam-jam terakhir hidupnya dengan duduk-duduk di bangku tunggu ini.

“Lalu menurutmu bangku satasiun Tugu membikin Amir Sjarifuddin masih memikirkan tudingan pemberontak yang ditempelkan begitu saja pada jidadnya? Atau mengenang bagaimana ia melawan fasisme Jepang?” Ah, perasaanku menanyakan hal yang barangkali hanya diketahui oleh Amir Sjarifuddin dan (mungkin) Tuhan. Dari apa yang dituturkan Gie, aku cuma tahu bahwa Amir Sjarifuddin membaca Romeo and Juliet-nya William Shakespeare dalam gerbong kereta yang mengangkutnya menuju Jogja. Tempat eksekusi kematian Amir Sjarifuddin.

Dari koleksiku mengenai sekumpulan kisah anggun tentang kematian, aku mengenang Amir Sjarifuddin sebagaimana mengenang Charles Brook Jr.. Meletakkan bagian Romeo and Juliet sama persis dengan sisi romantis dari kematian tragis Brook. Sebagai seorang terpidana mati yang pertama kali dieksekusi dengan suntikan, Brook menghadapi kematiannya dengan begitu tenang. Di samping ranjang eksekusi, kekasih Brook, Vanessa Sapp menemaninya. Kalimat terakhir diucapkan Brook dengan mengulum senyum tipis pada Vanessa, “Aku cinta padamu.”

“Nah, sekarang kau malah mengksploitasi kematian dengan mengambili sisi-sisi cengengnya!” Perkataan perasaanku makin menjengkelkan. Ya, baiklah wahai perasaan, aku menyerah. Jika kondisi ruwet yang kualami menjadikanku sentimentil, mari kita anggap sebagai kewajaran, manusia pada umumnyalah! Silahkan kau merayakan sentimental berlebih, tapi tentu saja aku yang mengatur tata cara perayaan itu. Menatanya sebagai mana lagu-lagu reggae, isi lagu boleh saja sedih menghiba, namun alunan musik tetap saja: ceria! Woyo….

Keruwetan keadaan bermula ketika satu malam sebelumnya seorang kekasih menelepon. Tepat saat aku sampai pada sebuah fragmen di mana Otoko bunuh diri. Otoko menjejalkan obat tidur ke dalam mulutnya dengan dosis berlebih, usianya waktu itu 17 tahun. Dua bulan sebelum berencana bunuh diri, Otoko kehilangan bayinya. Ibunya yang memaksa Otoko untuk secepat mungkin meninggalkan Oki, laki-laki beristri sekaligus ayah mendiang anaknya, kian membulatkan niat Otoko. Aku membayangkan perasaan Otoko, bahwa ia sudah tak punya lagi alasan untuk hidup. Sepenggal fragmen itu aku dapati dalam Utsukushisa To Kanashimi, dalam bahasa Inggris menjadi Beauty and Sadness, karya Kawabata. Ketika buku baru menjelma sebagai barang yang mustahil di akhir bulan, bagiku buku itu selalu saja menjadi sasaran empuk untuk dieksploitasi berulangkali.

Lima menit telepon genggam yang menempel di telingaku cuma menyampaikan dengung halus. Jeda waktu yang mungkin dibutuhkan kekasihku sebelum pada akhirnya dia berteriak histeris, “Aku mau bunuh diri saja!”. Sudah sering kali aku membaca dan mendengar masalah klise yang diidap lesbian: dipaksa menikah! Sekarang ketika kekasihku mengalami hal serupa, aku jadi gagap, sumpah! Apalagi hal ini pula yang rupanya menjadi musabab keinginan kekasihku untuk bunuh diri.

Ketika Onoko sudah menenggak obar tidur dengan dosis berlebih, ibu Onoko berhasil menyelamatkan nyawanya, bahkan berinisiatif memanggil Oki. Bisa jadi ibu kekasihku mampu menggagalkan aksi bunuh diri kekasihku, tapi memanggilku demi mengobati hati anaknya? Entah dari mana datangnya keyakinanku. Pastinya, aku yakin ibu kekasihku lebih bisa memaafkan laki-laki seperti Oki, seandainya kekasihku dihamili laki-laki beristri. Ketimbang memaafkan perempuan yang mustahil menghamili, namun ternyata menjerat hati anak perempuannya.

Sampai pada saat meremas tiket Sancaka, aku masih tak tahu apa yang seharusnya kulakukan. Cuma terpikir segera menuntaskan hasrat menginjakkan kaki di Surabaya, menemui kekasihku. Mengajaknya kabur mungkin? Tapi kabur sama pengecutnya dengan tindakan bunuh diri. Ah!

Kilasan-kilasan kisah kematian menghantami otakku. Aku mulai mengumpulkan kematian yang kuangap sexy. Socrates menengak racun dengan tenang, namun sebelum meregang nyawa ia sudah memastikan Plato sebagai penerusnya. Tapi, apa yang bakal ditingalkan kekasihku setelah meninggal selain kepedihan? Dalam sebuah novelnya, Veronica Decided to Die – Paulo Coelho menulis: ‘selalu ada jarak antara niat dan tindakan’. Dikisahkan bahwa Veronika dengan amat sempurna menyiapkan rencana bunuh diri. Hari, jam, dan bagaimana cara Veronika bunuh diri sudah dipilah dengan matang. Tapi pada akhirnya, Veronika tidak jadi bunuh diri. Jarak yang tercipta antara niat untuk bunuh diri dengan eksekusi membuat Veronika berpikir.

Aku memutuskan untuk mengisi ‘jarak’ yang dipunyai kekasihku dengan kumpulan kisah kematian yang sudah kupilah. Kekasihku boleh mati, tapi tidak dengan cara yang (benar-benar) menyedihkan. Menyuntikkan kata-kata pada otaknya, mengabarkan tentang amat disayangkannya semangat orang-orang yang pupus dijemput kematian. Pada akhirnya aku harus membiarkan kekasihku sendirian. Memilih dan mengatakan bahwa dalam hidup selalu ada jalan dengan mulutnya sendiri. Paling tidak, kekasihku akan belajar hal bernama konsekuensi atas pilihan yang diambilnya sendiri.

Aku merobek tiket di tanganku. Nanti malam akan kukabarkan pada kekasihku tentang kumpulan kisah kematian koleksiku. Pun perasaanku. Samar aku merasakan perasaanku tersenyum tipis, mungkin sinis. Entahlah.

@Zetha Septina Abdu, SepociKopi, 2010

10 Comments »

  • Mel said:

    Aku slalu menunggu tulisan dr sahabatku yg satu ini. Tulisan yg luar biasa. Aku jg sk bgt “org asing di kmar mandi”

    sep, aku balik lg ama pacarku yg dl aku ceritain ke kamu, walau kta skrg LDR (sory curhat dikit).

  • inter said:

    Cerita sedih yg dikemas apik, menjadi bahan utk sebuah perenungan…

    Ditunggu lagi tulisan2x laennya…

  • Arie Gere said:

    smoga kekasihmumu aman sentosa ya.. cara kisahnya kamu keren… aku terpana.

  • ast said:

    curhat cerdas ni harusnya judulnya

  • Jasmine said:

    gw suka gaya nulisnya

  • hujan said:

    wow. keren. banget

  • akkaht said:

    gw bilang juga apa! cerdas…
    tulisanmu membuatku seperti menikmati minuman kesukaanku… aku akan slalu menginginkanya!
    tanggunjawab lo….
    get u dream GBU.

  • lifeishappi said:

    nice…:)
    jadi pengen punya ada “niat” biar ada “jarak”.

  • Zeen said:

    Keren..!!
    I l0ve it,
    keEp writing y sist,.

  • Frozen Shane said:

    2 Thumbs Up
    Kenapa gw baru baca :-(
    Kemana aja gw

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.