Home » Lagak Lajang, Sepocikopiana

Lagak Lajang: Maunya Saya

9 January 2010 168 views 17 Comments

pociOleh: Oscar Arumi

Lembar soal beserta jawabannya bertumpuk dan berserakan di lantai kamar kos. Beragam soal yang saya lontarkan, beragam jawaban yang saya dapatkan. Nilai UAS pun terpaksa beragama warna-warninya. Dari A sampai E. Mata kuliah dasar adalah yang terpenting dari setiap penjurusan. Saya nggak mau memanjakan mahasiswa dengan santainya menenteng nilai A tanpa perjuangan. Omong kosong, No Pain, No Gain. Boleh jadi saya adalah dosen muda yang akrab bergaul dengan mahasiswanya, tetapi untuk urusan nilai, tak ada kompromi sama sekali. Mau anak raja, anak presiden, anak rektor, anak dekan, anaknya mantan pacar (?) upppss, semuanya sama rata. Kalau jawabannya oke, saya kalungkan nilai bagus. Kalau tidak, angka C atau D sepertinya cukup buat mahasiswa yang malas-malasan.

Mata kuliah dasar, Pengantar Akuntansi, 4 SKS. Adalah sebuah kehormatan bagi saya mengajarkan mata kuliah yang satu ini. Neracamu nggak balance artinya nilaimu juga bakalan nggak balance. Lupa yang mana debet, yang mana kredit? Jangan salahkan bilamana nantinya saya juga lupa kamu mengambil mata kuliah di kelas saya. Intinya, saya nggak mau mahasiswa saya malas-malasan. Untuk mata kuliah pendukung, bolehlah tidak terlalu fokus. Bukannya mau diskriminasi mata kuliah sih, tetapi menurut kacamata saya, mata kuliah dasar adalah penentu keberhasilan utama dalam sebuah penjurusan. Dan, di kampus ini, mata kuliah saya termasuk salah satu di antaranya.

Satu per satu lembar jawaban mahasiswa mulai mempreteli hasrat memeriksa saya sampai ke level memuakkan dan membosankan. Banyak jawaban ngaco dan berbelit-belit. Sepertinya, para mahasiswa ini belum tahu apa yang dimauinya. Menurut saya, jurusan ini pun diambil asal-asalan oleh mereka. Belum tentu karena kemauan sendiri, kebanyakan karena orangtua. Kebetulan orangtuanya pengusaha, konsultan pajak yang sukses, ataupun ekonom yang terkenal di bidangnya, maka si anak pun ‘dipaksa’ mengikuti jejak orangtuanya. Biar sama suksesnya, biar sama terkenalnya. Padahal, ilmu akademis yang saya ajarkan ini nggak bisa diturunkan begitu saja seperti menurunkan ilmu silat sang guru kepada muridnya. Harus dibaca, dilatih, dan dipelajari dengan sungguh-sungguh. Maka, nggak usah heran lihat sarjana yang gak berkompeten justru di bidangnya sendiri. Lah wong, dia sendiri gak tahu apa yang dia mau? Bagaimana mau maju, kalau orang itu tidak punya visi dan misi untuk hidupnya sendiri? Semuanya ditentukan orangtuanya. Mau sekolah di mana, jurusan kuliahnya apa, kerjanya nanti di mana. Disediakan secara gampang oleh orangtua. Tak perlu bersusah payah, si Bapak punya cukup uang dengan segala cara buat mewujudkan apa maunya si Bapak, yang katanya demi kepentingan si Anak.

Tidak. Saya ogah marah-marah atau mengomel nggak menentu. Saya nggak mau stres, nggak mau darah tinggi saya nantinya kambuh. Saya cuma mau berdiri di atas kaki saya sendiri. Tapi kenapa mahasiswa jadi kebawa-bawa amarah saya? Sebenarnya ini semua tentang saya, tentang apa yang saya maui. Gambaran laki-laki pilihan Bapak mulai menggenang di kepala saya. Seperti apa wajahnya, seperti apa dia.

Tidak! Saya tak peduli dia ganteng apa jelek, bukan urusan saya. Kenapa saya sibuk memikirkan masalah yang mungkin saja udah dilupain sama Bapak? Wah, kenapa kok saya yang jadinya malah repot sendiri? Toh, Bapak dan Ibu juga gak pernah bertanya ini-itu lagi kok. Apa diam-diam mereka sudah punya rencana terselubung buat saya? Huh, rasanya seperti main kucing-kucingan sama mereka. Sebenarnya, setengah hati saya sudah nggak sekeras dulu lagi. Sudah agak lunak, apalagi setelah melihat kondisi Bapak yang lemah. Tetapi, setengah lagi masih suka memberontak. Masih suka teriak-teriak ke telinga saya, dan membuat kepala saya pusing tujuh keliling. Sambil memutar-mutar bolpoin, saya melirik jawaban dari salah seorang mahasiswa. Neracanya nggak balance, analisa rasionya juga ngawur. Rada aneh, mahasiswa ini menggambar karikatur seorang pelaut di lembar jawabannya dan menulis, “Soalnya rumiiitttttttt sekali, Bu Os. Tolong saya ya, Bu. Nilai C juga gapapa deh, Bu. T_T!’’

Gubraks. Pelaut. Pelayar. Sembilan bulan sekali baru pulang ke rumahnya, itu juga kalau nggak dimakan paus dan hiu di tengah lautan. Pikiran saya melayang-layang ke sana kemari. Pelaut. Pelayar. Cuma pelaut. Cuma pelayar. Tidak salah lagi. Sembilan bulan sekali. Tepat sekali. Saya sudah temukan jawabannya. Jawaban untuk Bapak. Pilihan Bapak harus jatuh pada seorang pelaut. Harus!

@ Oscar Arumi, SepociKopi, 2009.

17 Comments »

  • Fine said:

    Yepp,pelaut kan jarang pulang.hehe
    Tapi menikahi gay bisa jd solusi juga ngga ya?

  • A-rhea said:

    Huahahahaha…

  • meliâ said:

    aduh,gimana sih?? Jadi mau nya ma pelaut nih?hehehe

  • lañtòx said:

    heu,, bnr jg y,, g kpkiran,,

  • jn said:

    :D bu os.. jgn pelaut dong bu.. byk virusna :p

  • tweet-tweet said:

    iya ya
    cari pelaut yang gay!..

  • mozz said:

    Hahaha..Popeye ni yee..

    *Apa? Akuntansi? Matai de ih..

  • d'naga said:

    Ama popeye aj deh.. Atw ama brutus aj. Kan pelaut juga tuh..

  • noy said:

    mnikah aj mbak os
    n plaut bner mrupakan
    jawaban yg tepat
    wish Allah bless u for always :)

  • LigX said:

    hahahaha,, ide bagus tuh bwt jawaban ke ortu saya juga bu Os, makasih idenya,, hehehehehe
    mau cari pelaut ahh,, huahahahahaha

  • baby said:

    waduh…kasihan kamunya nanti,ma pelaut mah bisa tepar tuh kalo abis maen petak umpet.serem ah…

  • tita said:

    oscar, oscar kamu hebat. please…tolong hubungi saya…..

  • noy said:

    mbak oscar, mnikahlah
    plaut jg okey, asal baik :)

  • April said:

    Gw sk gaya Lo os :-)

  • cingamacae said:

    haha ajarin pengantar akuntansi lgi dong bu..
    udh lupa sayaa..haha

  • redmoon said:

    hahahaha
    t’nyata mahasiswa yg ga bisa jwb lembar soal, bs jd inspirasi juga ya.

  • tiek said:

    bagus bu prinsipnya bisa ditiru …

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.