Lagak Lajang: Maunya Saya
Oleh: Oscar Arumi
Lembar soal beserta jawabannya bertumpuk dan berserakan di lantai kamar kos. Beragam soal yang saya lontarkan, beragam jawaban yang saya dapatkan. Nilai UAS pun terpaksa beragama warna-warninya. Dari A sampai E. Mata kuliah dasar adalah yang terpenting dari setiap penjurusan. Saya nggak mau memanjakan mahasiswa dengan santainya menenteng nilai A tanpa perjuangan. Omong kosong, No Pain, No Gain. Boleh jadi saya adalah dosen muda yang akrab bergaul dengan mahasiswanya, tetapi untuk urusan nilai, tak ada kompromi sama sekali. Mau anak raja, anak presiden, anak rektor, anak dekan, anaknya mantan pacar (?) upppss, semuanya sama rata. Kalau jawabannya oke, saya kalungkan nilai bagus. Kalau tidak, angka C atau D sepertinya cukup buat mahasiswa yang malas-malasan.
Mata kuliah dasar, Pengantar Akuntansi, 4 SKS. Adalah sebuah kehormatan bagi saya mengajarkan mata kuliah yang satu ini. Neracamu nggak balance artinya nilaimu juga bakalan nggak balance. Lupa yang mana debet, yang mana kredit? Jangan salahkan bilamana nantinya saya juga lupa kamu mengambil mata kuliah di kelas saya. Intinya, saya nggak mau mahasiswa saya malas-malasan. Untuk mata kuliah pendukung, bolehlah tidak terlalu fokus. Bukannya mau diskriminasi mata kuliah sih, tetapi menurut kacamata saya, mata kuliah dasar adalah penentu keberhasilan utama dalam sebuah penjurusan. Dan, di kampus ini, mata kuliah saya termasuk salah satu di antaranya.
Satu per satu lembar jawaban mahasiswa mulai mempreteli hasrat memeriksa saya sampai ke level memuakkan dan membosankan. Banyak jawaban ngaco dan berbelit-belit. Sepertinya, para mahasiswa ini belum tahu apa yang dimauinya. Menurut saya, jurusan ini pun diambil asal-asalan oleh mereka. Belum tentu karena kemauan sendiri, kebanyakan karena orangtua. Kebetulan orangtuanya pengusaha, konsultan pajak yang sukses, ataupun ekonom yang terkenal di bidangnya, maka si anak pun ‘dipaksa’ mengikuti jejak orangtuanya. Biar sama suksesnya, biar sama terkenalnya. Padahal, ilmu akademis yang saya ajarkan ini nggak bisa diturunkan begitu saja seperti menurunkan ilmu silat sang guru kepada muridnya. Harus dibaca, dilatih, dan dipelajari dengan sungguh-sungguh. Maka, nggak usah heran lihat sarjana yang gak berkompeten justru di bidangnya sendiri. Lah wong, dia sendiri gak tahu apa yang dia mau? Bagaimana mau maju, kalau orang itu tidak punya visi dan misi untuk hidupnya sendiri? Semuanya ditentukan orangtuanya. Mau sekolah di mana, jurusan kuliahnya apa, kerjanya nanti di mana. Disediakan secara gampang oleh orangtua. Tak perlu bersusah payah, si Bapak punya cukup uang dengan segala cara buat mewujudkan apa maunya si Bapak, yang katanya demi kepentingan si Anak.
Tidak. Saya ogah marah-marah atau mengomel nggak menentu. Saya nggak mau stres, nggak mau darah tinggi saya nantinya kambuh. Saya cuma mau berdiri di atas kaki saya sendiri. Tapi kenapa mahasiswa jadi kebawa-bawa amarah saya? Sebenarnya ini semua tentang saya, tentang apa yang saya maui. Gambaran laki-laki pilihan Bapak mulai menggenang di kepala saya. Seperti apa wajahnya, seperti apa dia.
Tidak! Saya tak peduli dia ganteng apa jelek, bukan urusan saya. Kenapa saya sibuk memikirkan masalah yang mungkin saja udah dilupain sama Bapak? Wah, kenapa kok saya yang jadinya malah repot sendiri? Toh, Bapak dan Ibu juga gak pernah bertanya ini-itu lagi kok. Apa diam-diam mereka sudah punya rencana terselubung buat saya? Huh, rasanya seperti main kucing-kucingan sama mereka. Sebenarnya, setengah hati saya sudah nggak sekeras dulu lagi. Sudah agak lunak, apalagi setelah melihat kondisi Bapak yang lemah. Tetapi, setengah lagi masih suka memberontak. Masih suka teriak-teriak ke telinga saya, dan membuat kepala saya pusing tujuh keliling. Sambil memutar-mutar bolpoin, saya melirik jawaban dari salah seorang mahasiswa. Neracanya nggak balance, analisa rasionya juga ngawur. Rada aneh, mahasiswa ini menggambar karikatur seorang pelaut di lembar jawabannya dan menulis, “Soalnya rumiiitttttttt sekali, Bu Os. Tolong saya ya, Bu. Nilai C juga gapapa deh, Bu. T_T!’’
Gubraks. Pelaut. Pelayar. Sembilan bulan sekali baru pulang ke rumahnya, itu juga kalau nggak dimakan paus dan hiu di tengah lautan. Pikiran saya melayang-layang ke sana kemari. Pelaut. Pelayar. Cuma pelaut. Cuma pelayar. Tidak salah lagi. Sembilan bulan sekali. Tepat sekali. Saya sudah temukan jawabannya. Jawaban untuk Bapak. Pilihan Bapak harus jatuh pada seorang pelaut. Harus!
@ Oscar Arumi, SepociKopi, 2009.









Yepp,pelaut kan jarang pulang.hehe
Tapi menikahi gay bisa jd solusi juga ngga ya?
Huahahahaha…
aduh,gimana sih?? Jadi mau nya ma pelaut nih?hehehe
heu,, bnr jg y,, g kpkiran,,
iya ya
cari pelaut yang gay!..
Hahaha..Popeye ni yee..
*Apa? Akuntansi? Matai de ih..
Ama popeye aj deh.. Atw ama brutus aj. Kan pelaut juga tuh..
mnikah aj mbak os
n plaut bner mrupakan
jawaban yg tepat
wish Allah bless u for always
hahahaha,, ide bagus tuh bwt jawaban ke ortu saya juga bu Os, makasih idenya,, hehehehehe
mau cari pelaut ahh,, huahahahahaha
waduh…kasihan kamunya nanti,ma pelaut mah bisa tepar tuh kalo abis maen petak umpet.serem ah…
oscar, oscar kamu hebat. please…tolong hubungi saya…..
mbak oscar, mnikahlah
plaut jg okey, asal baik
Gw sk gaya Lo os
haha ajarin pengantar akuntansi lgi dong bu..
udh lupa sayaa..haha
hahahaha
t’nyata mahasiswa yg ga bisa jwb lembar soal, bs jd inspirasi juga ya.
bagus bu prinsipnya bisa ditiru …
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments