Percayakah kamu bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya? Segala rintangan jadi tak berarti jika bersama orang yang kaucintai dan tak ada aral melintang yang bisa menghalangi dua orang yang saling mencintai untuk bisa bersama. Inilah kisah Jesse yang bersama kekasihnya menerjang segalanya.

Pertama kali melihat dia, aku baru berumur 15 tahun. Pertemuan itu terjadi di supermarket di daerah Jakarta Timur. Saat itu, kupikir dia SPG sebuah perusahaan rokok (padahal jelas-jelas dia tidak menggunakan seragam). Mungkin itu akibat dibutakan oleh cinta kali ya, jadi rabun sejenak. Selama 10 menit, aku hanya mutar-mutar gang supermarket memikirkan bagaimana cara mendekati dia. Ah, pusing, langsung saja aku dekati dengan teknik basi, “Hai, nama kamu siapa?”

Dia menyebut namanya, “Jenny, kamu?” Wow… dunia indah dan baik terhadapku! Dari situ, aku mencuri kesempatan untuk menanyakan setiap detail yang aku butuhkan agar bisa menghubungi dia lagi kemudian hari. Singkat kata, aku berhasil mendapatkan nomor teleponnya.

Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri menelepon dia untuk mengajak jalan. Tak kusangka, saat aku meneleponnya, ada tiga perempuan yang bernama Jenny di sana! Daripada salah ngajak jalan orang, lebih baik aku tutup teleponnya. Hati langsung berasa kehilangan darah 10 liter. Lemas. Ya sudah, mungkin harus kujalani hari-hari sepi lagi. Tanpa seorang perempuan untuk menjadi kekasih.

Hampir tiga minggu kemudian, aku bertemu dia lagi di supermarket itu! Wah, jangan-jangan dia memang kerja di situ kali ya? Rabun lagi deh! Langsung saja aku bertanya padanya, “Kamu Jenny yang mana? Aku sudah telepon tapi nggak tahu kamu Jenny yang mana?” Dia malah tertawa mendengar pertanyaan aku. Sakit rasanya! Padahal aku sudah berminggu-minggu memikirkan dia terus. Yah, mungkin dia bukan lesbian. Mungkin dia hanya menganggap aku kenalan biasa, yang nantinya akan jadi teman. Mungkin dari awal memang aku nya saja yang terlalu percaya diri. Daripada setiap hari pusing memikirkan dia itu lesbian apa bukan, aku coba untuk mengajak dia pergi nonton ke bioskop. Dan dia mau.

Tibalah hari Sabtu nan cerah itu. Kami janjian untuk ketemu di mal.
Jam 3 sore. “Hmm.. kok belum muncul-muncul yah? Jangan-jangan cuma bohong belaka?!”
Jam 4 sore. “Udahlah… ini mah gue cuma ditipu doang!”
Jam 4.20 sore. Dia muncul! Ya Tuhan, udah kayak ketemu bidadari, cuma versi manusia. Hilang semua rasa kesal, bete, sebal, marah, dan sedih. Yang ada hanya bahagia.

Saat di dalam bioskop, bahkan sebelum filmnya mulai, aku mencoba untuk merapatkan diri. Iya, aku tahu, terlalu dini kan? Tapi di umur 15 tahun, semua peraturan itu tidak ada di dalam pikiran. Dia hanya diam menatap layar. Bagus. Lampu redup dan film dimulai. Baru lima menit berjalan, tangan aku sudah bergerak menuju tangannya. Pikiran aku hanya satu, kalau dia lesbian, pasti dia tidak bermasalah, kecuali kalau dia nggak suka aku. Kalau dia bukan lesbian, ya sudah, untuk apa buang waktu berharap pada perempuan yang tidak akan mungkin mencintai aku. “Sambutlah cintaku, oh, sayang!” dalam hati aku berteriak. Tanganku sampai pada tujuannya. Dan di ujung mataku, aku melihat dia tersenyum kecil.

Semenjak hari itu, kami sering janjian untuk pergi nonton, makan, dan lain-lain. Tentunya hubungan kami berlanjut ke tahap yang lebih serius. Di situlah muncul persoalan baru. Orangtua dia mengetahui bahwa kami berpacaran. Dia pun langsung diasingkan oleh orangtuanya dan diancam akan dikirim ke luar negeri atau dinikahi. Aku kalut, bingung harus berbuat apa, secara umur aku baru juga 16 tahun saat itu.

Keadaan semakin memburuk dengan ditambahnya intensitas penyelidikkan yang dilakukan oleh orangtuanya. Mungkin mereka sudah tidak sanggup lagi untuk memarahi anaknya, maka diputuskan bahwa Jenny akan dikirim ke luar negeri. Matilah aku! Aku tidak rela cintaku dirampas begitu saja. Aku meyakinkan dia bahwa aku akan bertanggung jawab atas hidupnya. Bahwa aku sanggup mencarikan tempat aman bagi dia untuk bersembunyi dari orangtuanya. Walaupun saat itu aku masih bersekolah dan dia tidak bekerja (dia berusia 3 tahun lebih tua dari aku). Namun aku percaya, dengan kegigihan hati, segala rintangan pasti bisa aku lewati.

Aku orang yang paling suka kejujuran, dalam segala hal. Sehingga aku memutuskan untuk berterus terang terhadap orangtuaku, dengan harapan mereka mau menerima aku apa adanya. Tentunya itu hanya khayalan belaka. Setelah mengakui semuanya, orangtua aku mulai menasehati aku setiap hari, melarang aku bertemu dengan dia, memarahi aku, dan sebagainya. Ini semua bukan hasil yang aku inginkan. Tadinya dengan polos aku berharap bahwa orangtua aku akan menerima dia dengan tangan terbuka, sehingga dia bisa tinggal di rumah bersamaku. Mimpi kali ya?

Nekat. Itulah yang aku lakukan. Aku kabur dari rumah. Pergi dengan membawa semua barang dan pakaian yang aku perlukan. Berbekal sedikit simpanan yang aku punya hasil menjual harta yang hanya cukup untuk membayar sewa kamar sebulan, yaitu Rp300.000,- Kami putar otak memikirkan bagaimana kelanjutan hidup kami. Aku belum lulus SMA, dia tidak ada bekerja. Uang sudah habis. Untungnya, banyak teman yang membantu kami dengan memberikan pinjaman sedikit sana-sini dan memberikan makanan kepada kami saat mereka berkunjung. Berbekal uang pinjaman, kami belikan amplop dan kertas untuk mengirim lamaran kerja kami ke semua lowongan pekerjaan yang bisa kami lakukan.

Rezeki pun tiba. Dia diterima kerja di tempat hiburan sebagai pelayan alias waitress. Sedangkan aku masih belum mendapat panggilan, karena belum punya ijasah. Saat sedang mengantar dia menuju tempat kerjaan, aku berinsiatif untuk menemui pihak personalia tempat ia bekerja. Dengan berpakaian celana pendek, tanpa KTP dan ijasah, aku menawarkan diri untuk bekerja di perusahaan tersebut. Setelah diwawancara dan ditertawai karena masih anak ingusan, aku diterima bekerja dengan posisi bartender. Aku menerima pelatihan untuk posisi tersebut dan lama-lama menjadi mahir dalam pekerjaanku.

Hidup mulai berubah sedikit demi sedikit untuk kami berdua. Kami belajar menabung dan menghasilkan cukup uang untuk bisa pindah ke tempat kos yang lebih bagus. Kami juga bisa pergi makan seminggu sekali di salah satu restoran cepat saji. Semua semakin lancar bagi kami. Namun orangtuaku, masih memusuhi kami. Aku tidak pernah kenal kata putus asa. Perlahan-lahan aku tunjukkan ke orangtuaku bahwa aku bisa hidup tanpa mereka dan bahwa apa yang kuperbuat aku pertanggungjawabkan. Setelah penantian 3 tahun lebih, mereka luluh, dan mulai mengerti bahwa aku tidak main-main, dan ini bukan cinta monyet.

Kini aku melihatmu di sampingku. Setelah 10 tahun bersamamu, aku masih mencintaimu sepenuh hatiku. Aku masih merasa kamu satu-satunya untukku. Masih merasa kamu soulmate-ku dan aku guardian angel-mu. Walaupun jalan masih panjang dan hidup ak selalu indah, namun sampai kapanpun, tanganku ini akan menggenggam tanganmu dalam mengarungi rumah tangga kita.

@Jesse Gozali, SepociKopi, 2009