Oleh: Ikria Darma
Sungguh susah berandai-andai. Namun kalau saja masa lalu bisa kembali, banyak sekali yang ingin saya perbaiki. Salah satunya adalah mencoba mengerti mengapa orangtua saya menentang Niko – pacar ganteng saya. Mungkin orangtua memiliki indra keenam tentang Niko yang tidak bisa saya lihat. Dulu saya dan Niko sering pergi ke restoran yang romantis dan nyaman. Jika perasaan kami terlalu berlebihan, kami akan check in di hotel dan bercinta selama beberapa jam sebelum saya pulang ke rumah dengan perasaan santai. Tentunya kuliah saya jalan terus dan nilai-nilai saya selalu bagus. Tidak ada yang menduga kenakalan saya. Tapi, jika saja saya bisa kembali memutar waktu, barangkali saya bisa menjadi yang terbaik di kampus.
Jika saja saya bisa mengulang masa lalu, memulai hari lebih pagi, tidak bermalasan di ranjang, menghirup udara segar, dan menghargai orangtua, betapa akan bermaknanya waktu-waktu itu. Saya tidak akan pernah menyia-nyiakan cahaya matahari hingga pukul 10, kemudian keluar rumah menjelang siang, dan harus mepet mendatangi dosen yang cemberut karena terlambat hingga 15 menit. Biarpun tidak terlalu sering, bayangkan betapa tidak nyamannya mengganggu dosen di depan ruang kerjanya sambil menunduk pasrah. Saya malu, tapi tetap mengulanginya lagi dan lagi.
Sebenarnya saya ingin tenang menghadapi hidup dan melenggang manis mengisi hari-hari kosong saya jika Niko sedang edan. Kami sering ribut habis-habisan dan saya pasti berlari kepada Rawi sahabat baik saya. Kami akan menghabiskan waktu lebih banyak berdua, mendatangi bioskop, dan menonton satu per satu film yang ditayangkan pada hari itu sampai muak. Atau pergi jalan-jalan sampai bensin habis. Saya ingin menyimpan semua ucapan yang menyakitkan hati sahabat saya, sehingga saya selalu teringat betapa jahatnya saya pada dirinya.
Sekarang saya tak lagi bersama Nico, tak juga bersama Rawi. Saya ingat waktu itu Rawi mengutarakan sesuatu yang lain pada dirinya di kamar tidur saya. Saya menganggapnya sangat aneh. Dalam diam, saya memusuhinya. Rawi sudah kehilangan saya sewaktu saya membuat jurang teramat lebar di antara kami. Lalu Rawi menemukan SepociKopi dan pujaan hatinya di sana. Situs gila itu merengut Rawi dari kehidupan saya. Ia memilih tinggal di kota lain bersama sahabat yang kemudian menjadi pacar barunya.
Saya menyesal telah mengumpat-umpat Rawi sebagai lesbian di depan orangtuanya. Kecemburuan saya yang berlebihan mempermalukan sahabat saya di depan gank jalan-jalan kami. Saya bukan pembenci homoseksual, tidak begitu mengerti tentang homoseksual, dan bagaimana rasanya menjadi lesbian. Namun jika saja kata-kata bisa saya tarik kembali, aku ingin mengatakan pada Rawi bahwa kini saya mengerti akan kelesbianannya, mengakui pacarnya, dan menerima keberadaan situs homoseksual SepociKopi. Saya ingin mengatakan padanya bahwa hidup saya juga tak sempurna; saya bukanlah mahasiswa teladan apalagi anak baik di mata keluarga.
Seandainya saya bisa kembali, saya akan memilih jalan yang berbeda dari yang sedang saya jalani sekarang. Saya akan menjaga keutuhan diri saya dari seseorang semacam Nico yang kini telah merenggut keperawanan saya, kemudian meninggalkan saya begitu saja setelah memiliki pacar baru. Saya akan menyayangi orangtua saya, memperhatikan dan menghabiskan waktu bersama mereka daripada berjalan-jalan bersama teman-teman ke mal, bahkan mencoba merekatkan kedua orangtua yang semakin jauh karena kesibukan pekerjaan.
SepociKopi membuat saya lebih mengerti bahwa bukan mau Rawi seperti itu. Ia memang harus memilih, tapi bukan memilih saya yang brengsek, yang bebal dengan kebodohan dan serta ketidaktahuan akan homoseksual. Bukan memilih saya yang menikamnya dari belakang serta menggembar-gemborkan kelesbianannya; yang membuatnya meninggalkan kota kami berdua dengan rasa malu. Padahal jika Rawi mau, ia bisa melakukan kejahatan yang sama pada saya, mengadukan semua keburukan saya ketika bersama Nico kepada orangtua dan sahabat.
Jika saja semua bisa saya kembalikan… Jika saja waktu bisa diputar… Jika saja…
@Ikria Darma, SepociKopi, 2009
Tentang Ikria Darma:
Seseorang yang mengaku straight, namun melakukan kejahatan pada sahabatnya sendiri
LigX
December 31st, 2009 at 4:37 pm
ow, sad story.
Tim
December 31st, 2009 at 4:45 pm
Klo ngga’ prnh buat salah namanya bukan homosampeyan, eh maksudnya homosapien.
wulan
December 31st, 2009 at 6:43 pm
if,,
bs jd awl prbaikan,,
genie
December 31st, 2009 at 8:51 pm
namanya juga anak muda wajar aja sih, kita semua pernah membuat kesalahan…….Kalau tidak pernah berbuat salah tidak akan tau yang benar………
genie
December 31st, 2009 at 9:04 pm
Yang penting jangan pernah mengulang lagi kesalahan yang sama pada siapapun…………Jangan pernah menghakimi siapapun karena kita tidak punya hak untuk itu, yang berhak hanyalah Tuhan YME……….
redmoon
January 1st, 2010 at 11:47 pm
see,
kesalahan masa lalu merupakan proses pendewasaan.
yg penting kamu mengakui kesalahan itu, tidak membohongi diri sendiri dan melakukan perubahan.
frozzy
January 8th, 2010 at 1:53 pm
Kita memang seharusnya memikirkan segala tindakan yang akan dilakukan, lebih banyaklah berfikir secara logika bukan dengan emosi atau lebih hati…..