Kebaya_by_zamzamiOleh: Ade Rain

Bebauan segar bunga Sedap Malam yang diletakkan di tengah pintu ruang masuk bercampur bau unik tante-tante. Dengan tangan keberatan gelang dan cincin, perempuan-perempuan melenggok menuju aula pertemuan. Jika satu di antara delapan wanita adalah lesbian, mataku pun menjajah di seantero ruang. Pertemuan para perempuan tapi dress code-nya kebaya, ya sutralah… rusak radarku. Bagaimana mau nebak yang mana lesbi, wong hampir semua memakai kebaya belahan dada aduhai.

Pelan dan yakin, pletak pletok high heel–ku melangkah pasti memasuki ruang. Dengan gerakan slow motion, aku bisa menyisir setiap tempat dengan baik, mana tau ada lesbian nyempil yang bisa kuajak kenalan. Ah, yang ini nih, cara berjalannya rada gagah. Dia baru membagi kartu namanya kepada seseorang dan ada logo… eh polisi! Wajarlah kalau rada gagah. Bukan! Bukan lesbi. Nah yang ini, kulirik jarinya. Aduh, pewarna kuku mengaburkan mana yang lebih panjang: jari manis atau telunjuk. Namun sepuluh menit mengobrol aku memastikan perempuan yang satu ini lesbian. Maksaaa!

Akhirnya aku masuk ke perkumpulan perempuan-perempuan perwakilan di lembaga legislatif. Rata-rata memakai pin emas berlambang burung Garuda di dekat belahan dada kiri. Astaga, ada yang ganteng bow. Dia hanya memakai baju kurung layaknya aktivis LSM dengan selendang melingkar dari sisi bahu kiri ke kanan. Taruhan makan satu centong sambel yang paling pedas! Aku yakin sekali yang ini andro butchy, gayanya casual di antara yang menor dan gemulai. Aku mengobrol dengannya sebentar memberikan kartu namaku, kemudian beredar lagi.

Dari kejauhan mata terkurung pada cewek berkebaya batik merah. Dadaku berdegup kencang, sekian dan terima kasih deh, aku enggan ketemu yang ini. Tutupi aku dengan rimbunan semak belukar… tapi di mana ada semak-semak itu ya? Aku meyusup di balik pilar dengan bunga-bungaan tiruan sambil mengambil cocktail menghilangkan nervous. Ah kualat, kebiasaan melatih gaydar akhirnya malah salah tingkah.

Aku dan kebayaku gagap menghindar, mencoba menjauh kayak peragawati gagal nih. Jalan sudah nggak sepede tadi. Tuhan, ubah saja aku menjadi sendok sup. Mukaku makin pucat memaksa tersenyum. Beberapa ibu yang mengenaliku menyalami, bertanya kabar, basa-basi yang bau basi. Aku juga menyebarkan basi-basian yang sama, garing, dan sudah nggak selera sama sekali. Padahal tadi aku sudah merasa jadi tante-tante yang oke dan keren. Caileee, siapa lagi yang muji kalo nggak diri sendiri!

Meski posisi sudah agak menjauh, aku mulai fobia sama perempuan yang memakai baju agak kemerah-merahan. Jangan-jangan perempuan tadi. Bukan apa-apa, masalahnya pelik, dia teman SMP yang mati-matian kukejar. Anak III-3 yang kelasnya dua dinding dari kelasku. Awalnya dia mau bersahabat, namun waktu dia tahu aku memiliki rasa, dia langsung bilang terus terang bahwa dia nggak berminat dengan perempuan, dan mempersilakanku mencari cewek lain. Malu ketahuan lesbian sama teman satu sekolah.

Ada sekitar delapan puluh perempuan, kuhitung acak mejanya, mungkin ini diperuntukkan bagi 100 undangan. Tapi aku berharap ada rombongan penjahat liar yang masuk (biar lebih ramai) sehingga perempuan yang tak kuharapkan berada di sana menghilang di tengah kerumunan. Pendekar cewek bergaya aktivis tadi melintas di depanku, bertanya arah menuju kamar kecil. Aku sepertinya perlu ke sana juga. Kubawa badan berjalan di sisinya.

Aku merapikan lipstik, memastikan bulu mata palsu yang dilem di kelopak tidak membuatku kelilipan. Mana tau kesengsem dengan seseorang. Seorang perempuan keluar dari salah satu bilik toilet. Dia mengangkat bajunya tinggi-tinggi, merapikan bra-nya yang disundulin pengangkat payudara biar kelihatan montok. Nggak ada tengsinnya sama aku yang setengah melongo melirik ke arahnya dari cermin di depan kami. Aku sedang menunggu si perkasa tadi keluar dari bisnis kotornya, tiba-tiba bayangan kebaya merah masuk melalui pintu. Pletak! Kakiku keplekok. Pura-pura kuusap mata kaki.

“Nggak apa-apa, Mbak? Baik-baik sajakan?” Suara kebaya merah kedengaran kayak azan shubuh di tengah keheningan di telingaku.

“Eh, nggak apa-apa.”

“Lho, kamu (…)?” Ia menyebut namaku.

Bukan eh bukan! Namaku Tora Sadiro, aku sedang menyamar jadi perempuan, ikut Extravaganza. Pret! Nggak bisa nggak ngaku!

“Eh Mil, a-apa ka-kabar kamu? Wah, kamu di Kaukus Perempuan?” Aku membaca pin kecil di dadanya.

“Kamu juga? Eh, nanti deh kita ngobrol di dalam ya. Aku sesak nih. Tungguin aku di pintu ya?”

Nunggu? Mendingan aku kabur loncat lewat jendela turun pakai selendang kebayaku atau aku pura-pura pingsan biar digotong sekuriti keluar ruangan. Walah, heboh! Pasrah aku menuju pintu keluar toilet, deg-degan, dengan beribu doa restu, berharap dia amnesia dengan kelesbiananku. Gimana nggak! Betapa tololnya aku waktu itu, mengiriminya cokelat beberapa kali dengan kartu kecil bertuliskan I love you (abege banget!). Mana dia bisa lupa, wong dia pernah memintaku menghentikan pemberian-pemberian itu.

“Maaf ya, agak lama,” katanya setelah muncul lagi. “Eh, kamu makin cantik. Ke mana aja selama ini? Terakhir kulihat kamu dan karya-karyamu di tabloid XYZ”

“O ya?” Bibirku getir, mau apa sih? Apa dia nggak tahu aku lebih memilih angkat kebaya dari pada ngobrol sama dia. Tapi…

“Aku mau kenalin kamu sama seseorang. Yuk..”

Pikiran berkecamuk. Dulu dia menyuruhku meriksakan diri ke dokter sambil marah-marah sama orientasi seksualku. Dia bilang cinta nggak wajar! Aduh, aku beneran nggak nyaman berjalan di sampingnya. Semua masa lalu datang silih berganti di depan mata.

“Kenalin ini Jen.”

Seorang perempuan menyambut kamu dengan senyuman, tersenyum juga ke arahku. Kami bersalaman. Aduuh cantiknya.

Tiba-tiba ia menarik lengan, mendekatkan mukanya ke pipi. Oh my God, aku paling anti jika wajahku didekati bibir perempuan yang pernah kusuka, bisa mendidih darahku nggak karuan jangan menciumku di sini aku bisa pingsan. Eh ternyata dia membisiki sesuatu…

“Jen itu pacarku.”

Aku melihat Jen, melotot ke arah Mila, sepertinya aku baru mendengar suara. Tek! Jangan-jangan tadi suara tali behaku yang kaget dan spontan lepas. Bukan, ternyata! Hanya suara-suara yang mengaburkan kosentrasiku.

“Jadi duluuu…?”

“Aku menyadarinya sejak kuliah. Waktu SMP, aku labil, belum yakin, bingung, dan marah dengan perasaan itu. Jadi efeknya aku kasar sama kamu, maafkan ya.”

“Nggak apa-apa kok, sudah lama. Aku juga sudah lupa.” Pret! Mana aku bisa lupa dia pernah lempar cokelatku ke jalan waktu pulang sekolah. Untung sepi.

“Jen, sebenarnya dulu aku suka dia nih.”

Walah, pipi terasa panas, aroma bunga Sedap Malam tadi menyusup di tempat kami mojok. Seribu sayap kupu-kupu melayang-layang, mata dipenuhi bintang-bintang. Alunan musik jazz mengalun. Ya Tuhan, mengapa begitu lama baru Engkau memberitahuku bahwa cintaku dulu sebenarnya tidak bertepuk sebelah tangan? Tiga perempuan lesbian membaur dan tenggelam dalam aneka warna kebaya.

@Ade Rain, SepociKopi, 2009