Perception_by_pat1926Oleh: Shinigami

Pertanyaan itu umum dilontarkan ketika seseorang memesan tiket perjalanan, entah dengan kereta api atau pesawat terbang, sebab siapa tahu orang tersebut mau langsung memesan tiket pulangnya. Buat yang tahu pasti kapan mau kembali sih memilih return memang lebih enak, tidak perlu mengurus tiket lagi ketika mau kembali. Ah sudahlah, meskipun sekarang musim liburan, toh saya tidak akan membicarakan ini; yang akan saya bahas adalah para single yang return ke kota asal mereka untuk berkumpul dengan keluarga menjelang tahun baru. Sesuatu yang menyenangkan atau malah mimpi buruk tahunan?

Pergantian tahun biasanya dihabiskan bersama dengan orang-orang tersayang. Yang punya pasangan bisa melewatinya dengan kekasih, tentu saja, sedangkan yang lajang? Memang, teman selalu bisa menjadi pilihan. Tetapi bagaimana kalau teman kebetulan tidak bisa menemani? Well, there’s always family.

Wah, kok kesannya keluarga itu pilihan terakhir? Tidak selalu, tetapi bila itu yang terjadi, saya rasa masih bisa dimaklumi. Posisi lesbian umumnya cukup sulit di tengah keluarga. Rasa penasaran mengapa satu anggota perempuan di keluarga ini tak kunjung punya pacar atau menikah sering kali terlalu meresahkan dan akhirnya terwujud dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan mulai dari yang masih cukup manis hingga yang blak-blakan atau yang terkesan menginterogasi. Pertanyaan itu bisa datang dari keluarga inti, kerabat dan sanak saudara, bahkan terkadang teman-teman mereka. Ugh, siapa yang tidak malas dihadapkan dengan keadaan seperti itu setiap kali pulang? Udah gak punya pacar, masih diributi pula.

Jadi, pulang atau enggak? Kecuali rela menghabiskan malam tahun baru seorang diri dengan acara televisi yang belum tentu bagus dan hanya menjadikan kalian penonton pasif sementara tetangga sebelah dengan tak tahu dirinya meniupkan terompet tahun baru dan terdengar tertawa bahagia dengan orang-orang serumah, pulang masih pilihan yang lebih baik. Meskipun diinterogasi? Meskipun disindir-sindir? Ya, dengan catatan: jadilah tangguh. Bukan, bukan berarti kalian harus pulang berbekal tembak, peluru, dan granat serta jalan petantang-petenteng layaknya Rambo. Kalau itu yang terjadi, tanpa perlu interogasi atau sindiran, kalian akan dilarikan entah ke kantor polisi terdekat atau rumah sakit jiwa.

Yang saya maksudkan adalah jangan mudah terintimidasi dengan semua pertanyaan yang mengobrak-abrik privasi itu. Tanggapi saja pertanyaan-pertanyaan itu dengan senyuman atau cengiran ringan, seakan hal itu bukan apa-apa, hanya satu dari sekian banyak hal dalam hidup yang membutuhkan perhatianmu. Jangan begitu ditanya, kalian jadi diam dan kuncup seperti daun putri malu yang tersentuh. Sebaliknya, jadilah bunga matahari yang tinggi menjulang dan selalu tampak cerah serta kokoh menyambut datangnya cahaya dari alam. Dengan kata lain, tunjukkan bahwa kalian cerah ceria dan baik-baik saja meskipun tidak punya pacar laki-laki (meskipun pacar perempuan juga sedang kosong, mereka tak perlu tahu lah. Hehehe…) atau tidak berencana untuk menikah.

Sikap riang dan penuh semangat itu perlu sebab ia berbicara lebih lantang daripada jawaban klise “Masih belum ketemu yang cocok,” atau “Nanti deh, gampang.” Dua jawaban itu masih memberi isyarat bahwa kalian masih mencari, masih membuka kemungkinan bertemu dengan laki-laki yang cocok dan akan menikah dengannya kelak. Itu seperti memasang bom waktu dan memberi celah bagi mereka yang begitu ingin melihat kalian menikah untuk campur tangan dalam prosesnya. Mereka akan mengartikannya sebagai permintaan tolong dicarikan pasangan. Saya yakin bukan ini yang kalian inginkan, bukan? Jadi tunjukkan bahwa kalian bahagia dan sangat baik-baik saja dengan keadaan lajang ini dan mereka tak perlu mengkhawatirkan apa-apa.

Hanya itu? Tidak juga. Sebagai sentuhan akhir, tunjukkan kalau kalian juga berprestasi dalam hal pekerjaan. Yang menangani proyek baru bernilai miliaran rupiah bisa menyebutkan itu tanpa muatan kesombongan di sela-sela ngobrol sore di teras belakang. Yang tidak menangani proyek senilai miliaran rupiah tidak perlu kecut hati, ceritakan saja tentang pengalaman-pengalaman dalam pekerjaan kalian sekarang dan apa yang begitu kalian sukai darinya. Ingat, fokusnya adalah hal-hal yang menarik dan membuat kalian bahagia, bukan keluh kesah tentang kecilnya gaji atau bos yang suka seenaknya sendiri. Kalau kalian lakukan itu, mereka akan semakin berpikir betapa pentingnya keberadaan seorang suami dalam hidup kalian supaya kalian tidak perlu lagi berurusan dengan pekerjaan yang begitu menyiksanya; ikut suami, begitu jalan keluar yang terbentuk di benak mereka. Faktor ini juga membuat kalian terpacu untuk terus berprestasi selama setahun, supaya bisa memiliki suatu pengalaman membanggakan yang bisa dibagikan dengan keluarga di akhir tahun. Keluarga senang, kalian juga punya semangat untuk terus berkarya.

Jadi, pulang? Pulang dong! Masa begitu saja takluk? Selain itu, kalian rela tidak makan masakan ibu yang lezat dan tak ada duanya hanya karena pertanyaan-pertanyaan bodoh itu? Cih, saya sih ogah. Tenang saja, kalau pun interogasi terburuk terjadi, malam tahun baru adalah malam penuh harapan akan masa depan, jadi, percayalah, mereka tidak akan menghabiskannya dengan menginterogasi kalian. Masih ragu? Begini saja, kalau kalian masih tidak siap dengan cara yang disebutkan dalam artikel ini, ambil makanan di piring lalu dengarkan semua omongan mereka sambil menjejalkan makanan ke mulut penuh-penuh sehingga kalian hanya perlu mengangguk-angguk menanggapi semua itu. Memang sih, kalian akan terlihat rakus, tapi mereka akan bosan dan berhenti dalam waktu kurang dari lima menit. Coba saja. Happy new year!

@Shinigami, SepociKopi, 2009