Is_this_Love__by_forbiddenOleh: Velvet Rose

Dear Evelyn,
my name is Velvet. You probably didn’t notice that we met several times at the lobby and couple of times in the lift of our office building. This might sound rather strange but i’ve been hoping for a chance to have acquaintance with you ever since that particular afternoon we looked in each other for quite a while, that few seconds which I think longer than it should, which later has strucked something upon me, and I’ve been wondering if it did the same to you as well.

I’ve been thinking and re-thinking over and over again whether I should send you this email but then again I’ve got nothing to lose anyway. We most probably never see each other anymore, and I’m going to let that tiny special moment of my life passed and left forgotten for I never have come across you anymore for these last two months.

Have you resigned from your post? How have you been doing? I wonder…

Every morning while I’m walking up to the lobby, I’m anxiously looking for a group of people coming from the right side of those stairs, hoping you were among them. The excitement seeing your figure overwhelmes me and cheers my lonely days at work. Oh how I realize this is wrong but yet it feels so right in my heart. This is surely the first and most probably the last thing I could tell you. And if this is way too ridiculous for you, then please just delete this email right away.

But if it’s not, I’d be gladly waiting for your returning email.

GBU
Velvet

***

Jumat aku bertemu lagi dengannya setelah menulis email tersebut (yang lagi-lari aku rencanakan untuk kirim dan masih ku-safe sebagai draft).

Aku melangkah keluar dari gerbang pos satpam dan ternyata dia berada di tepi jalan persis di depanku. Nafasku sempat tercekat sepersekian detik karena mendadak melihat dirinya. Kemudian setelah bengong di tempat, aku melangkah ke arah kanan sehingga daun pohon yang ada diantara kami bisa menutupi sosokku. Tapi entah apakah dia juga sempat melihat aku lewat. Dia berjalan ke arahku hingga berjarak kurang lebih dua meter dariku.

Aku benar-benar salah tingkah berada dalam posisi terbuka dan bertatapan mata dengannya dari jarak tersebut. Tahukah dia kalau aku berusaha semaksimal mungkin untuk tetap bergaya cool dan tenang walau sebenarnya tanganku berkeringat di balik kantong jaketku? Setiap kali dia menoleh ke belakang, aku dengan malu-malu menatap balik dengan tatapan ke arah atas langit. Dan di lain saat, aku hanya menunduk pura-pura melihat ke bawah. Aku begitu grogi dan takut dia merasa aku menatapnya terus-menerus. Padahal yang sebenarnya, memang itulah kenyataannya.

Ketika dia memunggungiku, itulah saat mataku tidak dapat lepas dari sosoknya. Aku melihatnya kelelahan memapah tas punggung yang cukup besar. Pasti berat dan itu membuatku ingin sekali melangkah ke sebelahnya: menyapa dan mengajaknya pulang bersamaku atau sambil menunggu jam macet, mengajaknya kembali ke arah gedung dan makan malam di sana.

Tapi aku terlalu pengecut membayangkan kemarahan yang kemungkinan dia tumpahkan kalau aku dengan tiba-tiba menghampirinya seolah-olah kami sudah kenal dekat, padahal selama ini kami hanya bertatapan muka tanpa pernah bertukar sapa sepatah pun. Tahukah dia aku tidak tega meninggalkannya berdiri menunggu di tepi jalan itu? Aku merelakan delapan bus angkutan yang kutunggu lewat begitu saja karena aku ingin berada di sana melihat sosoknya lebih lama. Pikiranku terus berada dalam keraguan sekaligus keinginan untuk menggunakan kesempatan langka ini, yah… seperti membuka pembicaraan dengan menghampirimu.

Akhirnya setelah setengah jam lebih, dia menyerah dan mencari taksi di tepi jalan lainnya. Dia memutar badan dan berjalan ke arahku, tepatnya melewatiku yang kaku karena grogi tanpa tahu harus bergaya apa pada setiap setiap langkah yang mendekatkanku akan dirinya. Sempat sekilas aku meliriknya dan mendapati dadaku sedikit sesak karena menahan ketegangan. Setelah sekian detik aku tahan, aku memutar badan dan mencari sosokmu kembali, tapi sayang sudah terlambat. Aku tidak berhasil menemukanmu sejauh mataku mampu menangkap.

Tidak tahu kapan kami akan berpapasan lagi, tapi selalu akan kunantikan hari itu. Dan apakah harapan ini hanya akan sia-sia tak berujung, entahlah. Aku tak dapat mengelak dan membendung perasaanku. Semoga dia mengerti.

@Rose Velvet, SepociKopi, 2009