Para Ibu
Oleh: Melinda Napitupulu

Seorang ibu bergumam
Kucoba wariskan senyumku
Di bibir anakku
Dan perahu kuparkirkan di pundaknya
Jika air bah memarah
Buah hatiku, lanjutkan hidup

Sang ibu berkata dalam doa
Bukan aku yang membesarkanmu
Hanya mencontoh kalimat-kalimat Kitab Suci
Untuk jiwamu

Anakku, jangan berterima kasih padaku
Jika suatu hari kau terlena terkesima
Tapi pejamkan saja matamu
Bersyukur kepada Tuhan

Anakku, aku bahagia
Kau ada dalam kehidupanku

Tentang Melinda Napitupulu:
Usia 27, bisa kerja sampai 20 jam sehari, suka jalan ke mal dengan pacar, sudah berpacaran selama 6 tahun.

Besok

Oleh: Rosallyn Tanoyo

”Yah, besok ya, Nak!” jawabnya pada gadisnya

”Besok saat hari-hari berguguran dari kalender kertas yang terpasang pada tembok Ibu.”

Besok, kala angka-angka rupiah sudah tak berarti.
Besok, jika beton-beton dapat memayungi kita dari badai.
Besok, waktu kereta bermesin bisa mengantarmu sekolah.
Besok
Besok
”Besok ya, Nak, besok!”

Jangan pandangi hujan, jangan pandangi awan, jangan pandangi kabut.
Lihat saja jalan… jalan panjang yang kita perjuangkan, Nak!
Peluh, keringat, usap saja cepat-cepat
Jangan titikkan apa pun

Agar besok…
Besok
”Yah, besok ya, Nak, besok!”
Ibu bisa mengajarimu mewarnai dengan cat air dan krayon….

Tentang Rosallyn Tanoyo:
Penulis dadakan sesuai cuaca. Hobi nongkrong dan membaca serta makan. Saat ini sedang mendalami lomography.