Oleh: Shinigami
Natal baru saja lewat. Entah merayakan atau tidak, yang jelas bulan Desember—seperti ketika menjelang Lebaran—memang seakan memberikan nuansa warna tertentu, khususnya dalam hal fashion. Lihat saja manekin yang dipajang di etalase-etalase di mal, kita akan mendapati keberadaan dua warna yang cukup mendominasi: merah dan hijau. Jangankan pakaian, bahkan kantong-kantong plastik pusat-pusat perbelanjaan sering kali diganti dengan yang bernuansakan dua warna itu.
Ada banyak pilihan yang bisa dicoba untuk tampil menarik di pengujung tahun. Namun jangan gegabah, sebab juga ada banyak pilihan yang sebaiknya tetap berada sebatas bayangan di benak. Kecuali kalau kalian dianugerahi kemampuan berlebih untuk tahan mempermalukan diri di hadapan khalayak ramai. Berikut ini di antaranya.
Don’t be colour-blind
Seperti yang saya katakan tadi, Desember begitu diramaikan oleh warna merah dan hijau, tetapi, demi hajat hidup orang banyak, pilihlah satu warna saja untuk pakaian kalian. Kemeja atau blus merah, misalnya. Percayalah, itu sudah cukup untuk menghadirkan nuansa Natal dan akhir tahun. Tidak perlu kalian gabungkan dengan celana atau rok hijau (mau hijau lumut, hijau daun, hijau duit, enggak ngaruh; sama buruknya). Memadukan keduanya hanya akan membuat anak-anak kecil berpikir para elf pembantu Sinterklas itu memang benar-benar nyata.
Don’t wear the hat, please
Kecuali kalian dipekerjakan sebagai Sinterklas di pusat-pusat perbelanjaan atau pramuniaga yang memang dikehendaki demikian oleh pihak manajemen, saya rasa tak ada alasan yang cukup wajar untuk bepergian ke sana-sini secara kasual dengan topi merah berujung bulatan putih itu. If you don’t have a good reason for it, just leave the hat to those who deserve it.
Don’t do excessive coat
Film-film Hollywood atau pun serial televisi Taiwan dan Korea, harus diakui, berhasil membuat iri atas penampilan gaya yang bisa ditunjukkan dalam balutan mantel-mantel musim dingin yang manis, keren, dan modis. Namun selama garis khatulistiwa masih melintang di nusantara ini, saya rasa bukan ide bagus untuk meniru gaya pakaian musim dingin aktor dan aktris itu. Hujan yang mengguyur Indonesia masihlah belum membuat tubuh kita memerlukan kehangatan mantel-mantel itu. Yang ada malah kalian akan terlihat menggelikan dengan rambut lepek karena keringetan namun tidak berani melepas mantel lantaran baju di baliknya pasti sudah terlanjur tak enak dilihat karena bernoda keringat. Saltum plus salting deh.
Don’t be a candy cane
Setelah meminta kalian memilih hanya satu antara warna hijau dan merah, saya juga perlu mengingatkan pentingnya tidak mengenakan pakaian bernuansa merah dan putih layaknya permen tongkat yang menghiasi pohon natal. Satu, ini nuansa Natal, bukan tujuhbelasan. Dua, kalau kalian melakukannya, kalian akan terlihat entah seperti si Wally dalam permainan gambar “Where’s Wally?” yang meminta pemainnya menemukan si Wally yang bersweter garis-garis merah-putih di dalam gambar yang penuh sesak dengan berbagai obyek dan orang-orang berbaju serupa, atau seperti penjual sate dari Madura. That’s absolutely not the spirit you want to share.
Don’t wear an oh-too-much tie
Jika kalian berhenti di bagian dasi lalu memandangi dasi-dasi bergambar kartun Sinterklas, pohon natal, atau rusa-rusa kutub sedetik lebih lama dari yang seharusnya, tolong alihkan pandangan mata kalian seketika atau minta pasangan mencubit—atau bahkan menampar?—kalian keras-keras. Pakaian model apa pun yang kalian pilih, warna apa pun itu, jangan sekali-sekali berpikir menghadirkannya bersama dasi semacam itu. Kalian pikir gambar-gambar kartun itu lucu? Sayangnya, tampilan yang ada nantinya akan lebih kepada menyedihkan daripada lucu. Seperti orang yang menolak menjadi dewasa dengan cara yang sangat kekanak-kanakan. Buat yang lajang, saya pikir yang akan menganggap kalian menarik tidak akan lebih dari mereka yang berusia 7 tahun.
Tampil menarik dan pas itu memang susah-susah gampang. Saya yakin setiap orang pasti memiliki gaya tersendiri dalam mempresentasikan dirinya, tetapi saya juga yakin bahwa lima hal di atas telah lama masuk ke daftar hitam orang-orang pada umumnya ketika mereka memikirkan tentang busana akhir tahun mereka. Dan untuk yang satu ini, saya rasa kita bisa bergabung dan menjadi golongan mayoritas.
@Shinigami, SepociKopi, 2009
tweet-tweet
December 27th, 2009 at 7:49 pm
makasih kak shin,
untung aq baca ini
tadinya ngebet pengen bli dasi2 bergambar hehe
akkaht
December 27th, 2009 at 9:59 pm
Salah kostum emang berujung kesalah tingkah… bukan cuma buat yg saltum aja tapi kita yg ngeliat juga jadi salting juga bersikap. makanya aku kalau jalan ama partner slalu ingatin” honey, dipikir dulu sebelum pilih kostum ya… jgn entar di tengah jln nanya pas gak kostumku yang??” aahhh pertanyaan ini paling aku gak suka!!! terlihat tidak percaya diri dan tidak profesional dgn badan sendiri.
tiek
December 29th, 2009 at 9:38 am
padu padan pakaian sangat aku perhatikan …
yang paling penting selain padu padan adalah bentuk tubuh dan kebersihan tubuh sangat aku perhatikan.
Baju bagus tapi badan gembrot dan bau … wah sapa yang mau lihat kita …
pakaian wanita
May 7th, 2010 at 12:08 am
aku punya dasi doraemon sis tweet
suka banget