Since Christmas
Oleh: De Ni
18 Desember 1991
Hari itu ibuku sibuk membuat pesanan kue nastar. Aku memandangi sebuah toples besar yang berisi kue-kue buatan ibuku yang gagal dan tidak layak jual, misalnya kue yang hangus, bentuknya kurang bagus, atau kurang matang. Kue-kue yang tidak sempurna itu dimasukan ke dalam toples besar dan dijadikan kue Natal kami. Sejujurnya aku berharap nastar, kue keju, kasstangle, mede cookies, blueberry cookies, dan kue coklat glasure yang sempurnalah yang tersaji di atas meja kami, bukan kue-kue produk gagal. Dan hari itu, untuk pertama kalinya aku memprotes ibuku, “Ma, tahun ini Eneng nggak mau makan kue rusak ini. Kapan sih kita makan kue yang sempurna?” Ibuku hanya terdiam.
18 Desember 2009
Hari itu anak-anakku sibuk latihan paduan suara. Aku memandangi gemericik hujan yang turun dengan lembut membasahi tanah yang pecah dan kering. Bau tanah menghambur ke lubang hidungku. Hiasan lonceng di bawah pintu gereja bergoyang tertiup angin. Salah seorang anakku menyeret kursi dan duduk di sampingku. “Kakak sudah beli kue Natal?”
Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. “Kenapa, Dek?”
“Di rumahku nggak pernah ada kue Natal. Nggak punya duit.”
Hari itu, aku memegang bahu anakku erat. “Nggak mesti punya kue kok, kakak juga nggak. Waktu kecil cuma dapat kue hangus. Hahahaha. Kamu udah baca Alkitab belum? Natal itu kan bukan makan-makan, bukan pesta. Natal justru adalah sebuah kesederhanaan dan pengorbanan, sama seperti bayi Yesus yang lahir di kadang domba. Boro-boro ada makanan enak, rumah buat taruh bayi aja nggak ada.”
22 Desember 1991
Hari itu, aku dan kelima temanku sedang bermain dampu gunung. Seorang ibu berlari kecil menghampiri kami, “Stela, pulang yuk, Papa mau ajak kamu beli baju Natal.” Stela melompat gembira. “Horeee!” Permainan kami berakhir ketika Stela dengan ibunya meninggalkan lapangan. Tinggallah keempat temanku yang bukan beragama Kristen dan aku duduk di rerumputan. “Den, kamu nggak beli baju baru?”
”Apa perlu beli baju baru?”
”Kalau lebaran, kami beli baju baru kok. Coba kamu minta sama mamamu, siapa tahu dibeliin. Atau jangan-jangan mamamu lagi beliin kamu baju baru.”
Perasaan gembira seketika melonjak dalam hatiku. Aku segera beranjak meninggalkan teman-temanku dan berlari sekencang ke rumah. Saat itu ibuku sedang mencuci piring. Dengan nafas yang tersedat, aku menghampiri ibuku, “Kapan kita beli baju baru, Ma?”
“Baju baru?”
“Iya, beberapa hari lagi Natal, tadi Stela dan mamanya pergi beli baju baru.”
Ibuku menatapku sedih, “Tapi kita tidak ada uang buat beli baju baru.”
Aku tertunduk dan berjalan gontai menuju kamarku, menutup wajah dengan bantal dan menangis. Mungkin hari itu aku sakit hati pada ibuku.
22 Desember 2009
Hari itu, aku bermaksud menjenguk salah seorang jemaat gereja yang sakit. Telingaku terganggu oleh suara tangis seorang anak. Aku terhenti di depan rumah salah satu anakku. Ibunya sedang memukulinya menggunakan sebuah ikat pinggang. Aku tertegun, “Bandel ini anak, Den, minta baju Natal nggak ngerti sampe banting-bantingin barang. Kalau nggak digebukin gini, nggak mau diam dia. Nggak tahu orang tuanya nyari duit setengah mampus.”
Kupeluk Romi yang masih mengigil di surut tembok. “Dek, kamu nggak perlu punya baju baru. Tuhan nggak mewajibkan kamu punya baju baru kok. Yang penting adalah hati kamu yang baru. Yang dulunya bandel jadi baik, yang dulunya malas ke sekolah minggu jadi rajin ke gereja. Kakak juga dulu nggak pernah punya baju baru kok dek.”
25 Desember 1991
Hari itu, guru Sekolah Mingguku membagikan hadiah kepada murid-muridnya. Satu persatu nama kami dipanggil, wajahku berseri menunggu giliran mendapat kado. Setiap anak yang telah menerima kado, langsung mengambil makanan dan pulang ke rumah. Tinggalah aku dan Lina. Dua puluh teman kami yang lain telah menerima hadiahnya. Di tangan guruku hanya ada sisa satu kado, wajahku cemas ketika guruku memanggil “Ini kado buat Lina.” Lina mengambil kado itu dengan girang, mengambil makanan dan pulang ke rumah. Tinggal aku sendiri, guruku celingukan mencari kado untukku.
“Loh Den, kamu belum dapat ya? Aduh ke mana ya?”
Guruku berusaha mencari kado bertuliskan namaku di tumpukan kado yang lain, tapi tak ditemukannya. “Aduh maaf ya Den, mungkin kakak yang bungkusin kado lupa bikin kado buat kamu. Nggak apa-apa ya? Nanti nyusul ya, minggu depan.”
Guruku memberikan makanan dan menyuruhku pulang. Di perjalanan pulang, aku menangis. Teman-teman yang sedang asik membuka kado di samping gereja memanggilku, “Dapat kado apa?” Aku tak hiraukan mereka dan hanya berlari pulang. “Dia nggak dapat kado ya? Kok bisa, kan rajin sekolah Minggu? Atau hasil ujiannya jelek kali?” Sekali lagi aku hanya berlari.
25 Desember 2009
Hari itu, anak-anak tidak mendapatkan kado Natal . Sumbangan dari donatur hanya cukup untuk membelikan mereka makanan. Anak-anakku lesu saat tahu bahwa mereka tidak akan mendapat kado. Aku yang hari itu kebetulan mendapat tugas membawakan cerita mengatakan, “Adik-adik, Kakak tahu apa yang membuat kalian lesu. Karena kalian tahu bahwa tahun ini kita tidak mendapatkan kado Natal. Tapi coba kakak mau tanya, kalau seandainya kamu diundang datang ke ulang tahun Jeremi, siapa yang dapat kado? Kamu atau Jeremi?”
Anak-anak serentak menjawab, “Jeremi!”
“Nah sekarang kan hari Natal, berarti hari apa?”
”Hari kelahiran Tuhan Yesus!”
“Berarti siapa yang berulang tahun?”
”Tuhan Yesus.”
”Berarti siapa yang dapat kado?”
”Tuhan Yesus!”
”Nah, kenapa kalian jadi lesu karena nggak dapat kado? Kalau Tuhan Yesus yang ulang tahun berarti kalian dong yang harus kasih kado buat Tuhan, bukan kalian yang minta kado. Iya kan? Sekarang siapa yang mau kasih kado buat Tuhan?”
Anak-anakku menunjuk tangan serempak.
***
Delapan belas tahun telah berlalu, pengalaman hidup telah menghantarkan aku menjadi orang yang lebih dewasa dalam memaknai Natal. Cukuplah bagiku untuk menyadari bahwa Natal bukan makan-makan, bukan pesta pora. Bahwa Natal yang sesungguhnya adalah sebuah pengorbanan dalam kesederhanaan, Natal yang sesungguhnya bukanlah hiasan terhadap tubuh yang lahiriah melalui baju baru, tapi hiasan pada tubuh batiniah melalui hati yang baru. Natal yang sesungguhnya bukanlah mengharap hadiah dari Tuhan tapi justru memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan.
Lonceng telah berbunyi, paduan suara anak-anak telah berkumandang dengan girang. Wajah kami ceria. Mungkin kami adalah bagian dari orang-orang yang merayakan Natal dalam kesederhanaan, dan mungkin di tempat lain, ada orang yang merayakan Natal dengan gegap gempita. Ini bukan permasalahan siapa yang paling benar dalam cara-cara merayakan Natal. Beruntunglah orang-orang yang bisa menghidangkan banyak makanan di mejanya, bisa memiliki baju baru dan mendapat banyak kado Natal, tapi seandainya pun kita tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan semua hal itu, Natal tetaplah Natal. Natal tidak pernah kehilangan makna. Semua orang memiliki caranya sendiri dalam merayakan Natal, itu adalah pilihan, bukanlah masalah benar atau salah. Tapi di luar daripada itu, ketika kita menyediakan waktu untuk merenungi makna Natal yang sesungguhnya, itulah saat kita melakukan pilihan yang tepat.
Selamat Natal untuk seluruh teman-teman dan redaksi SepociKopi yang merayakannya. Pada perayaan Natal di bumi ini, semoga damai selalu berada di dalam hati dan menyelimuti dunia. Peace and love be with you, always and forever.
@De Ni, SepociKopi, 2009









Merry christmas sist.. br kali ne teharu..biasana ngakak abees..
selamat Natal kak, dan semuanya… semoga damai Kristus (yang sebenarnya menurut saya lebih mewah dari kado dan kue apapun) menyertai kita semua^^
nice story. jg inget natalan waktu kecil dulu, tetangga pada punya baju baru yang bagus2 dan ganti2 pula… eh dipamerin pula… huh spmbong sekali mereka kala itu, sedang saya dan my twin cm dibeliin satu pasang baju tp senengnya minta ampun.
tp skrg kita malah nolak kalo mama mau beliin baju baru buat kita, kaya anak kecil aja, padahal anak2nya udah bisa bikin anak kecil.
tp makna natal tiap tahunnya masih saja menyenangkan dan mengarahkan diri untuk introspeksi diri lagi dan lagi.
met natal untuk semua L, Tuhan memberkati
Semangat kesederhaan natal yang sama yang aku rasakan setiap tahunnya, Den
Feliz Navidad! Have a very merry christmas
29 Desember 2009
Bersama teman-teman aku tampil dihadapan hampir 1000 jemaat yang hadir pada
perayaan natal gereja. Dengan semangat’45 kami menyanyikan lagu-lagu natal
dan menampilkan operet tentang kelahiran Yesus.
29 Desember 2009
Aku masih bimbang antara bisa menghadiri ibadah perayaan natal atau lembur dikantor
mengurusi proyek Pemerintah..
Kadang hal-hal yang tidak kita inginkan tidak bisa kita tolak karena faktor keadaan.
Tidak bermaksud menyalahkan keadaan, namun alangkah lebih indah jika pertemuan
dengan Yesus dari hati ke hati tidak terjadi satu tahun sekali disaat kita merayakan
kelahiranNya. Undanglah Yesus disetiap detik waktumu. Karena aku dan kamu tidak
akan pernah jauh dari kuasa dosa.
Ada suka cita didalam Dia.
SELAMAT NATAL.
Kue Natal….. awal bln Des’ aku udah nanya ama mamak kapan bikin kue buat Natal(tiap tahun aku ajukan pertanyaan sama) dan jawaban ma2k slalu sama “cuma kue aja yg ada dipikiranmu kalau natal tiba”
Mamakku benar banget yg ada dipikiranku kalau natal di masa kecilku cuma kue akan terhidang banyak2 dan minuman yg bisa membuat aku melonjat-lonjat kegirangan, kalau baju aku ngak perduli sepertinya aku ngak ingat aku pernah menginginkannya or tidak.
Buat keluarga besar kami bln Des’ adalah bln tersibuk terutama buat Bapa dan mamak, buatku 25 Des’ adalah bln dimana Kekasih Sejatiku Jesusku, laki2 terindahku Bapaku dan belahan jiwaku partnerku Berulangtahun (ajaib Tuhan).
Selamat Natal sist. De Ni dan semua sahabat di sepocikopi yg merayakan… Tuhan memberkati kita selamanya… Amen.
met natal yah…br kali ini aq bc story ampe nangis asli loh….aq sangat terharu skligus berkaca kehidupanku skrg…aq lulusan s1 theologi tp bknx pelayanan malah jd seorang butchi……tp mo gmna lg perasaan syg tdk bs ku tolak….asli crita km sangat bgus n bisa buat aq nangis….met natal smoga damai natal slalu menyertai kita…..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments