8a732096aef87f090c18cce34000261cBunuh diri gara-gara hubungan dengan pacar buruk? Nggak banget deh. Hubungan yang buruk memang selalu melahirkan kengerian-kengerian yang tidak bisa diukur kadarnya. Kita musti belajar dari mereka yang mempunyai pengalaman buruk dalam berhubungan dengan pacar. Dengarkan kisah Tira, yang nyaris bunuh diri karena memiliki hubungan percintaan yang rusak.

Namaku Tira, aku bukan lesbian pada mulanya. Meski sedikit tomboy, tapi sejak mulai mengenal cinta monyet, cintaku selalu jatuh pada teman lelaki dan seperti teman-temanku yang lain, dan begitu juga sebaliknya, aku juga kerap kejatuhan cinta dari teman lelaki. Hampir semua murid yang bersekolah di SMA-ku jauh dengan orang tua, ada yang tinggal di asrama ada juga yang tinggal di rumah-rumah kos di sekitar sekolah, termasuk aku.

Saat duduk dibangku kelas dua SMA, di antara banyak teman dan sahabatku ada seorang sahabat, namanya Tri, yang sering memberi perhatian juga meminta perhatian lebih di banding sahabatku yang lain. Dari mulai minta diajarin urusan pekerjaan rumah, meminjam catatan, hingga curhat masalah keluarga. Kedekatan ini juga membuat kami seperti saudara sendiri.

Awalnya Tri tinggal di kos yang berbeda denganku, tapi ketika ada salah satu penghuni kosku yang pindah, dia langsung memutuskan pindah ke tempat kosku dengan alasan agar bisa lebih serius belajar di bawah bimbinganku. Kedekatan kami makin intens, dari perhatian-perhatian yang wajar sampai yang terasa agak berlebihan. Aku pernah mencoba menghindar, tapi begitu dia menyadari penolakanku dia marah, tersinggung, ngambek, dan menangis. Aku tidak tahan melihat airmatanya.

Dia kerap mengungkapkan kalau dia menyayangiku, tapi aku selalu menganggap itu ungkapan sayang dari sahabat atau dari adik sendiri. Kukatakan aku juga menyayanginya. Tak jarang ungkapan itu diiringi dengan sentuhan dan belaian di kepalaku. Ada perasaan bahwa “ini bukan hal yang wajar” tapi ketika aku mengelak dia akan berbalik dan menangis. Aku takut teman-teman kami yang lain mendengar tangisannya, jadi kupikir lebih baik menuruti kemauannya. Hingga suatu hari dia menyodorkan diary-nya, memintaku untuk membacanya.

Aku gemetar membaca lembar demi lembar catatan hariannya, kekagumannya padaku, perasaan yang begitu dalam dan segala kebingungannya dengan perasaan tersebut. Pada satu halaman aku terdiam sangat lama. Di sana dia menuliskan kenyataan yang mengejutkanku, dia mencintaiku seperti lelaki mencintai perempuan. Bagaimana mungkin? Kami sama-sama perempuan. Aku tidak sanggup memikirkannya. Aku tidak mampu mencernanya dan tidak dapat menemukan istilah yang tepat untuk perasaan ini, meski aku menyadari ini bukan hal yang wajar tapi aku tidak sanggup menolaknya.

Dari sentuhan di kepala, dia bergerak memindai sudut-sudut tubuhku yang lain. Dia menyalakan tombol hormon kedewasaanku jauh sebelum waktunya, sekaligus menyalakan tombol ketakutan dan kecemasan pada hal yang tidak kumengerti. Anehnya semakin kami semakin saling menyayangi, semakin dalam rasa cinta di hati kami semakin mengerikan juga pertengkaran antara kami. Kamar kos kami pernah hancur berantakan karena kami saling melempar benda yang terjangkau tangan, saling menjungkirbalikkan meja belajar, rak buku dan melemparkan baju-baju dari lemari.

Aku dihantui perasaan bersalah, dan kepalaku selalu berdentum bahwa Tri-lah yang membuat aku begini. Aku menyalahkannya, juga menyalahkan diri sendiri yang tidak mampu menolak orang lain menyentuh tubuhku. Satu hal yang paling menyakiti hatiku, bila Tri mengatakan aku tidak mencintainya, padahal aku telah merelakan diriku menjalani hubungan hingga sejauh ini. Aku telah mengorbankan banyak hal, namun dia masih menuduhku tidak bisa benar-benar mencintainya. Aku tidak tau, dengan cara apa lagi harus kubuktikan aku mencintainya.

Terlalu muda aku mengalami semuanya, terlalu muda aku mengenal cinta yang kuyakin tidak semestinya terjadi. Aku tidak siap. Aku tidak tau bagaimana menyelesaikan masalah salam sebuah hubungan seintim itu. Ketika perasaanku disakiti aku tidak tau cara mengobatinya, yang aku tahu hanya menciptakan rasa sakit yang lain. Aku mencoba membenturkan kepala ke dinding, tapi sakitnya lekas hilang tak berbekas. Sampai aku menemukan cara mudah menciptakan rasa sakit.

Silet dan peniti. Kedua benda itu menimbulkan rasa perih yang baru akan sembuh setelah beberapa hari. Luka itu mengingatkanku pada Tri yang menyakitiku. Luka itu menuntaskan dendamku, aku seolah bisa mengatakan pada Tri, “Lihat ini lukaku, namun luka di hatiku jauh lebih pedih dari ini!” Tapi kami masih sama-sama sangat muda. Pertengkaran makin kerap terjadi. Kadang satu goresan di lenganku belum sembuh, goresan lain telah tertoreh. Buku diary biru yang kami isi bersama, semakin penuh dengan jejak darah.

Puncaknya, pada suatu pertengkaran (aku sudah tidak ingat karena apa) dia mengancam akan meninggalkanku, akan berhenti sekolah dan apa saja ancaman yang bisa dilontarkannya. Selama ini itulah yang menjadi senjata andalannya, ancaman dan ancaman. Aku kalap. Aku tidak tau bagaimana meredakannya, aku tidak tau bagaimana melerai pertengkaran kami, aku tidak tau bagaimana lagi meredakan sakit hatiku karena ucapannya. Aku tidak tau bagaimana cara menunjukkan cinta yang sebenarnya. Didalam kepalaku hanya menginginkan rasa sakit, aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah ini, aku hanya ingin membuktikan kalau aku menyayanginya.

Aku kalap. Aku mengambil silet yang kusembunyikan. Dan… cesss! Silet tajam itu meluncur di atas kulit di pangkal lenganku. Tidak ada rasa sakit, atau tepatnya rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku. Yang ada hanya cairan merah yang muncrat. Berceceran di lantai. Di depan mata kepala Tri.

Saat itu aku berharap Tri memelukku dan mengatakan “Cukup!”. Tapi dia justru memilih pergi meninggalkanku dengan lengan dan jemari yang perlahan semakin mati rasa.

Dia jahat. Sangat jahat. Cinta ternyata hanya menciptakan kesempatan untuk menyakiti. Aku bodoh. Sangat bodoh. Cinta ternyata bisa membuat siswa berprestasi seberti aku, berubah menjadi sangat bodoh. Aku berharap mati kehabisan darah. Tapi itu tidak kunjung terjadi. Bayangan orang tuaku tiba-tiba terlintas, kemiskinan dan kesakitan telah lama membelit keluarga kami, kalau aku mati maka kesakitan yang lain akan membelit orang tuaku. Cukup.

Aku bangkit dengan kenyataan bahwa Tri tidak pernah mencintaiku. Semua yang terjadi ini hanya mimpi buruk. Aku harus segera terjaga. Aku menekuk dan membalut lenganku dengan sapu tangan, darah masih terus merembes dan menguarkan bau besi dan amis yang menyengat. Dengan sisa kekuatan dan keberanian aku pergi ke rumah sakit umum pemerintah, langsung ke bagian UGD. Menyodorkan lenganku. Sapu tangan pembalutnya sudah berubah warna menjadi merah.

Aku beruntung, dokter tidak banyak tanya, aku berbohong mengatakan bahwa lenganku terkena kaca jendela, aku tau mereka tidak percaya tapi mereka langsung membius dan menjahit lenganku.

Sepulang dari rumah sakit aku mengambil waktu menenangkan diri. Mencoba memahami yang barusan terjadi. Berulang-ulang kukatakan pada diriku, semua hanya mimpi buruk dan aku harus terjaga. Sejak saat itu aku bertekad membenahi diri. Pelajaranku banyak tertinggal sementara waktu kelulusan tidak lama lagi. Aku mungkin sudah tersesat jauh memaknai cinta, tapi aku ingin punya kesempatan kembali dan membayar semua kebodohan ini.

Bagaimana dengan Tri? Jangankan mengucapkan simpati dan meminta maaf, dia malah mengata-ngataiku bodoh. Aku tidak bisa berkutik. AKu tidak bisa membalas. Aku takut dia menjalankan ancamannya, aku takut dia membeberkan apa yang terjadi antara kami. Aku berusaha menghindar agar tidak semakin jauh dengan alasan ingin fokus pada pelajaran sekolah. Jauh di dalam hatiku aku ingin segera terlepas dari hubungan yang tidak sehat ini. Aku semakin terpacu untuk cepat-cepat lulus. Akhirnya prestasi yang sempat jeblok kembali naik, dan aku berhasil meraih prestasi sebagai 10 besar lulusan terbaik.

Tri memintaku untuk melanjutkan kuliah di kota yang sama, tapi aku tidak ingin menciptakan kebodohan yang lebih banyak. Aku memutuskan pergi dan menjauh. Meneruskan kuliah di kota yang terpisah ribuan kilo dengan Tri, mebawa pertanyaan-pertanyaan tentang cinta apa yang terjadi antara kami.

Pelan-pelan kukubur semua kenangan bersama Tri. Aku fokus pada kuliah dan masa depanku. Aku memilih mengabaikan semua sisa-sisa perasaan itu hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dengan prestasi gemilang dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Aku bersyukur pada Tuhan, hidup yang dulu pernah ingin kuakhiri ternyata digantikanNYA dengan hidup yang lebih baik. Aku tidak ingin mengulangi kebodohan dan kesalahan yang sama. Masalah akan selalu ada, kesakitan akan selalu ada. Tapi sekarang, aku memiliki Tuhan menjadi sandaranku dalam setiap masalah.

@Tira, SepociKopi, 2009