Bapa dan Natal
Oleh: Justine Ht
Pegunungan yang mengelilinginya menjadikan kampung ini indah dan sejuk. Hamparan padi menguning yang ranum dan montok membinarkan mata petani untuk segera menuainya. Sungainya jernih, berbatu, dan berarus deras tempatku menghabiskan waktu bermain di masa kecilku. Duduk di batu, mencelupkan kaki di air, menggoyangkannya hingga menimbulkan cipratan yang membasahi diriku sendiri.
Semua masih seperti dulu. Sepi. Budaya merantau yang dianut masyarakat membuat generasi muda enggan menetap dan berkarya di sini. Yang tersisa hanya anak-anak dan orang tua.
“Merantaulah Nak, agar kau mengerti!”
Selalu kuingat pesanmu itu. Yang kubalas dengan mata penuh kemarahan kepadamu ketika kau membiarkan kakak membawaku ke kota untuk bersekolah. Kau tetap mencoba tersenyum dan menenangkanku walau berusaha menyembunyikan merah dimatamu. Kau tahu, aku ingin tetap bersamamu, menikmati kenakalan dan kemanjaanku.
Setelah tahun tahun berlalu, baru aku menyadari, dalam kesibukan tugasmu sebagai PenggembalaNya, kau tidak pernah membiarkanku sendiri, doamu setiap saat selalu ada untukku, menemani perjalananku menggapai bintang, seperti yang selalu kau ceritakan padaku.
Rumahmu bersih dan terawat. Mamak pasti selalu mengunjungi dan membersihkannya. Bunga kenanga yang dulu kutanam sekarang semakin besar dan tidak berhenti berbunga. Keharumannya halus menggelitik hidung. Bunga kesukaanmu, Bapa.
Lihatlah bukit hijau itu! Masih berdiri kokoh dan tetap hijau. Seringkali aku mendakinya bersama Ronald sahabatku untuk mengambil buah kemiri dan menjualnya ke pasar agar aku bisa jajan lebih banyak. Karena uang saku yang kau beri tidak cukup untuk perutku yang seperti karet.
Masa masa indah bersamamu berloncatan keluar dari benakku. Namun aku tidak ingat kapan kau pernah memarahiku. Kau hanya akan mengajakku ke sungai untuk mandi karena kenakalan yang kulakukan. Ah, kau tahu benar kelemahanku. Tapi kebiasaan itu telah kutinggalkan sejak aku jatuh cinta karena aku tidak ingin dia menolakku dengan alasan BB.
Lagi lagi kau hanya mengangguk-anggukkan kepala dan mengajakku kesungai untuk mandi saat kukatakan aku telah meninju Ronald sampai giginya lepas dan berdarah karena dia kalah bermain lalu menangis. Cengeng dan tidak sportif! Tapi aku heran dia tidak pernah memusuhiku dan kami tetap bersahabat sampai aku meninggalkan kampung ini. Entahlah, apa kabarnya sekarang, terakhir kali kudengar dia di Papua.
“Lho, kok masih bengong di sini sih?” sebuah suara membuyarkan obrolan.
Aku menoleh ke arah suara itu. Perempuanku. Dia pasti mengkhawatirkanku karena terlalu lama mengunjungimu. Tahun ini dia ikut ke kampung karena ingin mengunjungimu dan merayakan Natal bersama mamak. Bahkan dia sibuk sekali mempersiapkan hidangan Natal. Tidak lupa dia membuat kue putri salju kesukaanmu, juga nastar kesukaanku.
“Udah ambil kelapa? Mamak nungguin tuh! Katanya mau bikin dodol!”
Senyumku mengembang bak adonan donat. Tentunya kau mengenal perempuanku dengan baik. Tatap matamu sudah cukup kupahami sebagai restumu, karena terkadang sebaris tanya hanya akan mempermalukan diri sendiri. Aku masih bersamanya dan akan selalu bersamanya. Cintamu yang mengajariku untuk punya keberanian memilikinya. Menutup antrian beberapa sosok tampan dengan ukiran “Madecer” di dada mereka.
Bapa, terima kasih untuk semua pengajaranmu. Semua menjadi indah ketika kehidupan mulai beranjak menua. Sehingga aku tidak pernah menyalahkanNya karena rasa cinta yang bermekaran di hati untuk perempuanku. Karena kau telah mengenalkan kasihNya kepadaku di saat aku masih bergelung hangat di rahim mamak.
Selamat Natal Bapa…
Aku akan meneruskan perjalanan hingga sedikit waktuku untuk mampir kerumahmu. Namun kau tetap hidup di hatiku dengan senyum khasmu menemaniku bersama perempuanku merajut mimpi, memintal asa, mengepakkan sayap menjadi dua elang betina yang terbang gagah di angkasa dengan pekik riang menyuarakan perdamaian dimasa depan.
The Future belongs to those who believe in the beauty of their dream (Eleanor Rosevelt)
Kugenggam jemari perempuanku meninggalkan rumah bapa.
“Yuk, Honey, kita manjat pohon kelapa!”
“??????”
***
Kudedikasikan buat Bapa, di tahun ketujuh kepergiannya, lelaki yang dikagumi kekasihku. Selamat Natal buat sahabat-sahabatku di SepociKopi yang merayakan. Semoga Damai Natal selalu bersama kita.
@Justine Ht, SepociKopi, 2009









Selamat merayakan hari Natal untuk smua teman sepocikopi.semoga menjadi Natal yang indah dan penuh berkah.
I LOve U Lord and I Love u Dad…. Thank you 4 everything.
met NATAL semua. Tuhan memberkati
jika seluruh dunia mengatakan ibu adalah sosok terindah dan terlembut di dunia, maka biarlah hanya aku yg mengatakan bahwa bapaku-lah yg berhak atas pujian itu + kebijaksanaan tersandang di pundaknya. bahkan mamakkupun mengiakannya. terima kasih untuk kedua2nya Tuhan… Selamat Natal buat semua sahabat di sepocikopi Tuhan memberkati.
Selamat Natal juga Justine..juga buat semua teman-teman yang merayakan..
Semoga damai Natal menyertai disetiap langkah hidup kita.
Bersyukurlah akan segala hal, karena itu yang terindah yang Jesus beri dalam
memebentuk iman dan jati diri kita. Haleluya.
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments