Home » Tajuk

Tajuk: Mother, Garbage In Garbage Out, dan Kita

22 December 2009 46 views 6 Comments

31bf9dff22c0a37ec5dae419004256ceOleh: Nuha Guwa

Perempuan itu masih terisak. Di balik bahu pembuat Berita Acara Pemeriksa, dia tampak lesu tertunduk. Tangan dan bibir masih gemetar menjawab setiap pertanyaan. Bekas samar make-up masih tersisa di ceruk mata, bercampur celak hitam yang mulai meluber. Seorang bayi digendongan menatap hampa arah cahaya monitor komputer. Saya mulai gagu menanyainya lebih banyak. “Ini anaknya, Bu?” Sambil menunduk, ia menjawab, ”Ya, masih ada dua lagi sedang menungguku pulang di rumah, usia tujuh dan lima tahun.” Sontak ruangan menjadi riuh histeris oleh tangisnya. “Anak-anakku, maafkan ibumu!”

Rosi, 28 tahun, terpaksa harus mendekam di tahanan polisi akibat kedapatan tangan membawa setengah kilogram shabu-shabu yang disimpan dalam botol susu anaknya pada sebuah penerbangan dari Jakarta menuju Bali. Kita semua tahu dampak setengah kilogram shabu-shabu: sanggup melumpuhkan otak satu generasi muda di kota berpenduduk satu juta orang.Dengan sangat kejam, saya tak segan menyebut perempuan tiga anak itu dengan kekesalan, “Bangsat lo!”

Sangat kontras makian saya tadi terhadap apa yang menjadi predikat sebuah perempuan tadi di mata ketiga anak-anaknya: seorang ibu. Dua buah hati perempuan tersebut pasti sedang menunggu dan berharap ia pulang, membawa makanan untuk mereka berdua. Namun sayang perempuan tersebut takkan bisa kembali dalam waktu yang cepat. Setengah kilogram shabu-shabu bisa menyisakan setengah umur untuk dihabiskannya di dalam penjara.

Ibu digambarkan sebagai sosok mulia, karena melahirkan, merawat anak-anak, punya banyak cinta yang konon lebih besar pada anak-anaknya dari cinta pada siapa pun. Ibu memiliki predikat yang sangat tinggi. Suatu ketika ada seseorang yang datang menghadap Nabi Muhammad SAW, meminta izin untuk ikut andil berjihad bersamanya, maka beliau bertanya, “Adakah engkau masih memiliki ibu?” Orang itu menjawab, “Ya, masih.” Kemudian beliau bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu. Karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.”

Surga di bawah telapak kaki ibu – demikian petikan bunyi hadits yang sering kita dengar sebagai ungkapan yang sering “disitir” banyak orang. Bagaimana mengartikannya? Secara sederhana tentu menekankan kewajiban “anak” untuk berbakti kepada “ibu”, mengingat jasanya saat mulai mengandung hingga melahirkan, bahkan jika sampai membesarkan anak, peran ibu pun tak bisa tertakar lagi. Atas dasar penilaian ini, jelas jasa ibu yang demikian tidak bisa dibalas oleh seorang anak, walau dengan istana atau emas satu kontainer sekalipun.

Begitu mulianya sosok ibu, sampai dikatakan bahwa surga ada di bawah telapak kakinya. Bagaimana dengan ibu pelaku kriminal? Ibu yang menerlantarkan anak-anak karena himpitan ekonomi? Atau ibu yang terpaksa membunuh suaminya karena dibakar api cemburu? Ibu yang kerjanya meminjam uang sana-sini tanpa membayar kembali, menipu tetangga, korupsi, bahkan terpaksa menjajakan diri? Bagaimana ibu yang maniak bekerja hingga tak sanggup mengurus anak dan keluarga? Bagaimana dengan ibu lesbian yang mengurusi anak-anaknya dengan sepenuh hati? Apa di bawah telapak kakinya ada neraka? Tentu sangat subjektif memberi mereka stereotype demikian. Jika surga berada di bawah telapak kaki ibu, maka ibu-ibu dengan beragam masalah pribadinya tentu berhak menyandang surga di bawah tapak kakinya.

Well, tampaknya berat menjadi seorang perempuan dewasa, terutama bagi mereka yang memiliki anak. Sehingga diperlukan seluruh potensi dirinya menjadi cerminan kebaikan rumah tangga dan cerminan perilaku anak-anaknya. Garbage in garbage out. Konon, secara teoritis tidak mungkin suatu output yang buruk baik secara kognitif (keilmuan), afeksi (moralitas), dan konatif (operasional), dihasilkan dari suatu input yang baik. Sudah menjadi fakta empiris bahwa output yang buruk dihasilkan dari input yang buruk juga.

Dengan stigma ini, berarti anak-anak yang berasal dari ibu yang salah akan susah diajak pada jalan kebaikan. Ibu pencuri hanya akan melahirkan anak-anak pencuri saja. Ibu yang bunuh diri akan menciptakan anak-anak yang akan bunuh diri di masa depannya. Ibu yang menggugurkan kandungannya akan memberi pengajaran kepada anak-anaknya yang lain untuk ikut menggugurkan kandungannya. Waduh! Malah, sering kali kesalahan ini mengenyampingkan peran ayah sebagai pemimpin bagi ibu dan anak-anak.

Makna surga di bawah telapak kaki ibu itu menyimpan hikmah agung bagi seorang ibu agar menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya karena kebaikan sang anak tentu “dalam makna surga tadi” tergantung dari langkah kaki – dalam hal ini berarti “upaya pendidikan” – dari ibunya. Pemahaman inilah yang patut diresapi seorang anak agar ia mampu mengoptimalkan kebaktiannya kepada ibunya, dan seorang ibu mengoptimalkan pengabdiannya pada anak. Meski kita tahu perjalanan seorang ibu penuh liku dan misteri. Penuh coba dan prahara. Demikian juga seringkali seorang anak tidak selamanya sanggup berperan sebagai anak yang senantiasa diliputi pikiran untuk berbakti kepada ibu.

Coba lihat bagaimana seorang ibu yang kalap menemukan bahwa anaknya seorang lesbian? Dengan serta merta mengurung mereka di dalam kamar, memaksa memakai rok dan anting. Membawa mereka pada psikiater-psikiater dan dukun handal sehingga kelesbianan tersebut segera menghilang layaknya penyakit yang bisa disembuhkan. Bukalah nalar kita, wahai lesbian. Beliau melakukanya karena ingin melindungi, barangkali dengan separuh rasa bersalah merasa tak cukup bijak mendidik dan membesarkan kita semua karena ketidaktahuannya tentang homoseksual.

Baiklah tidak usah jauh-jauh. Mari kita lihat dunia heteroseksual. Seorang lelaki yang sudah beristri dan beranak wajib memikirkan pendidikan istri dan anak-anaknya. Demikian juga seorang perempuan yang telah bersuami dan beranak wajib memikirkan tugas dan tanggungjawabnya terhadap suami dan anak-anak. Bagaimana kita menakar makna surga di bawah telapak kaki ibu tadi jika yang terlibat adalah segitiga ayah-anak-ibu dalam hubungan keluarga?

Predikat surga di bawah telapak kaki ibu sebaiknya dimaknai setiap anak yang masih memiliki ibu atau para ibu yang memiliki anak-anak. Dalam praktek, sering kali teori saling berbenturan dan bertentangan dengan fakta hidup. Teori saling mendukung dan membantah dengan fakta hidup. Tak peduli apakah sosok ibu pengedar narkoba, ibu pelacur, ibu yang melakukan KDRT, ibu berbakti di rumah tangga, ibu pekerja keras, ibu lesbian… memberikan kebahagian pada anak-anak sungguh membutuhkan profesionalitas dan mengoptimalkan  potensi-potensi kebaikan yang akan menghantarkan anak-anak untuk terjun di masyarakat. Anak-anak juga memiliki kewajiban dalam menyayangi dan mengurusi ibu. Semua harus dijalankan secara terpadu, seimbang, dan harmonis, demi lahirnya lingkaran kebaikan yang mengantar pada keikhlasan menjalani hidup.

Selamat hari ibu bagi para mombian dan/atau calon mombian, jika memang surga juga berada di bawah tapak kaki kalian, buktikan pada dunia bahwa anak-anak yang dilahirkan juga anak-anak berwawasan luas, anak-anak yang tumbuh besar dengan kemampuan bergumul pada persoalan pelik tentang keterbatasan-keterbatasan eksistensial di dunia, dan anak-anak berhati cemerlang yang memiliki toleransi tinggi terhadap orientasi seksual seseorang.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

6 Comments »

  • LigX said:

    *speechless

  • mel said:

    saya sngat mengagumi ibu saya, saya mengaguminya dan tentu saya saya sangat menyayanginya tapi…..

    sepertinya saya takkan seperti ibu menjadi seorang ibu….. (sorry mom).

  • akkaht said:

    Diam yg dalam…. pemahaman yg tinggi.
    Gbu sis…

  • Danau said:

    aku selalu berterima kasih kepada ibuku karena sudah melahirkan dan membesarkan aku. selamat hari ibu..

  • justineht said:

    Tulisan ini menjawab pertanyaan yang selama ini mengendap dibenakku.
    Thanks Sis..

  • genie said:

    Siapapun ibu kita sehina apapun ibu kita sejahat apapun ibu kita, sebagai anak kita tetap harus menyayangi, menghargai, dan menghormatinya……….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.