Home » Lagak Lajang

Lagak Lajang: Pilihan Bapak

20 December 2009 44 views 21 Comments

pociOleh: Oscar Arumi

Kalau ada yang mengatakan saya jomblo kesepian, rasanya terlalu berlebihan. Maksudnya begini, memang benar ada saat ketika saya merasakan sunyi yang teramat dalam. Tetapi kemudian rasa itu hilang, mengalir ikut jarum jam, lalu akhirnya terlupakan. Mungkin, saya tidak terlalu memikirkannya bila yang mengatakan hal itu adalah dosen-dosen di kampus, mahasiswa-mahasiswi yang belum tahu dengan arti kerasnya kehidupan, ataupun sahabat lesbian yang lalu-lalang datang dan pergi. Mungkin tidak terlalu sulit bila kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, tetapi pasti akan sangat menyesakkan dada bila kalimat kesepian itu justru keluar dari mulut orang yang melahirkan kita. Bapak dan Ibu.

Minggu lalu, saya pulang ke kampung halaman. Percikan kedamaian, ketenangan yang menyejukkan ataupun aroma masakan Ibu yang menusuk-nusuk hidung dengan nikmat, berubah total sehabis makan malam keluarga. Sebenarnya tidak ada kericuhan yang terjadi, hanya sedikit adu debat saja tentang teori hidup dan kehidupan dengan orangtua saya. Klise sih, saya disuruh menikah.

Melalui perdebatan halus namun sedikit alot, akhirnya saya terpojokkan dengan berbagai dalih, dalil, ayat, adat, agama, lingkungan sosial, pandangan masyarakat dan berbagai teori embel-embel lainnya tentang ‘’perempuan yang tidak menikah’’. Bapak mengatakan semua hal itu penuh dengan ketulusan dan karena kecintaannya yang teramat sangat pada anak perempuan ‘’bandel’’ yang sedang duduk di hadapannya. Namun justru, itulah yang menjadi pukulan telak ke muka saya. Inilah saatnya, saya dihadapkan pada salah satu pilihan tersulit yang dihadapi oleh hampir seluruh lesbian di muka bumi ini. Menikah.

Pikiran saya masih kalut ketika kembali menatap dinding kos-kosan yang sebagian catnya terkelupas. Yang saya pandang berwarna hitam kelabu, pekat dan gelap, padahal dindingnya berwarna putih kekuningan. Kabar buruk barusan disampaikan telepon selular saya, Bapak masuk rumah sakit. Entah apa sebab pastinya, tetapi saya rasakan ini semua karena ulah perdebatan panjang dengan beliau seminggu yang lalu. Ibu mengatakan, sepeninggal saya dari rumah, si Bapak banyak melamun dan tak selera makan apapun. Saya tahu, beliau pasti memikirkan kata-kata pahit yang sempat terlontarkan dari mulut saya, yaitu ‘’Saya tidak berniat menikah’’.

Fatal, akibat perkataan mulut kurang ajar saya, Bapak dirawat inap sekarang. Dokter bilang, infeksi pencernaan. Kalau saya bilang, Bapak banyak pikiran, lalu gak mau makan, akhirnya asam lambung diperutnya mengamuk dan berlomba mengikis perutnya. Mikirin siapa? Jawabannya jelas, pasti mikirin saya.

Masa depan sepertinya buram. Entah apalah yang telah saya lakukan, hanya saja saya merasa menjadi anak durhaka yang tak berbakti kepada orang tua. Jangankan untuk berhubungan dengan makhluk berpenis yang disebut dengan ‘’laki-laki’’, dengan makhluk cantik berparaskan bidadaripun saya masih pikir-pikir dulu. Hidup gak segampang yang saya inginkan, karena ternyata hidup saya bukan hanya untuk saya. Di umur yang setua ini, saya masih tak habis pikir, sebenarnya saya hidup untuk kebahagiaan siapa?. Kalau menikah diperuntukkan untuk kebahagiaan saya, jelas tidak benar. Tetapi, kalau menikah hanya untuk membahagiakan orangtua, bukankah sebenarnya saya yang akan menanggung deritanya kelak?

Tragedi, akal saya tersumbat sekarang, apalagi teringat saat Bapak berkata, “Nak, di keluarga kita, tidak ada yang mempunyai sejarah tidak menikah.”

Baiklah, haruskah lembaran sejarah itu saya yang memulainya? Setan dan malaikat sepertinya bertarung di belakang saya, berbisik-bisik hingga menyerapah apa yang sebaiknya saya lakukan. Oh ya, daritadi saya lupa bilang bahwa ternyata Bapak sudah mempunyai stok “pria pilihan” buat saya.

@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009.

21 Comments »

  • Mel said:

    Aku tinggal menunggu waktu, kapan ibu dah ayah mengucapkan kpn aku akan menikah, . .

  • redmoon said:

    hikhikhik…
    Walaupn t’dengar kejam, tp ini adalah hidup kamu bukan ortu kamu. Apapun pilihan yg kamu ambil, kamu yg akan menjalani bukan ortu, kamu yg akan merasakan bukan ortu. Dan jgn menyalahkan diri sendiri atas keadaan ortu, yg t’buruk sekalipun. Yg hrs kamu lakukan adalah m’berikan p’hatian n kasih sayang penuh ke ortu sbg kamu apa adanya.
    SEMANGAT!

  • meliâ said:

    mel jd sedih deh,inget ucapan papa,yg penting km coba dulu.kalau km dah coba,papa ga bakal paksakan(tp bukan kah ga adil buat orang tsb?dia bukan kelinci uji coba)mau gimana?mel cm bs mengulur waktu sampai kapan mel jg ga tau.

  • Ade said:

    Di keluargaku ada sejarah’y. Tp ak blm tau sebab’y apa..

    Hmm,, apa papa bkal memaksaku menikah dgn lelaki ya??
    Smoga ak pny alasan bijak bwt menolak itu..

    -smoga papa’mu cpet smbuh ya, ka..

  • LigX said:

    wah, aku pernah mnegalami hal serupa ketika orang tua harus terbaring di ruang pesakitan karena satu penyebab, anak perempuannya yang tidak mau menikah. Perasaan sangat berdosa datang dan terlintas untuk menikah saja tanpa ba bi bu dan meninggalkan kata egois dalam diri hanya untuk satu alasan, kebahagiaan orang tua.

  • noy said:

    mbak oscar
    tulisan2mu mgambarkan kemuslimanmu
    rajin puasa dan mnjaga shalat
    jika hidup muslim adalah
    demi kebahagiaan dirinya sendiri
    mengapa kita diciptakan??

  • Yasmin said:

    numpang komen ya:
    sama banget ama saya… :)

    -yas

  • SummerBerry said:

    Hiks..sedih & bngung bc artikel mu kali ini.
    Masalah klasik yg jd momok lesbian.
    MENIKAH..

    Ga mw pisah dr gf walau dia merelakn aq menikah dg orla.

    Oh no!
    Hurt me so..

  • tika said:

    aku percaya, setiap pilihan memiliki konsekuensi. yang penting, seberapa beranikah kita menjalani konsekuensi itu.

  • vido said:

    Sedih hati saya membaca tulisan Oscar kali ini. Hidup sbg lesbian memanglah sangat berat. Terlalu banyak benturan dan berbagai tekanan yg musti di hadapi. Mungkin saya termasuk beruntung krn tdk mendapat tuntutan dr ortu untuk menikah. Kebetulan keluarga tau orientasi seksual saya. Tapi tidak dgn pasangan saya. Dia punya masalah yg sm dgn Oscar. Tinggal menunggu waktu saja. Entah brp kali saya musti sakit krn hrs khlgn (lagi) org yg saya cintai.

  • lifeishappi said:

    cepet sembuh ya bapakmu… :(

    saya sudah pernah dan akan terus ditagih…ya, untuk siapa kebahagiaan ini? sempat terlintas…

    well, u know what best for u, at least…at least for u…

  • Sey said:

    Masalah yg sama dgn q, bedanya tak ada clon yg disiapkan utk q. dari kedua org tua, kk, ipar, sampai ponakan, smua mengharapkan aq menikah.
    Apa yg harus aq lakukan???

  • pus said:

    menikahlah.

  • Moey said:

    Menikah adalah pilihan hidup. Pikirkan dengan matang. Jika tersiksa mengapa harus dijalani, tapi tidak ada salahnya membahagiakan ortu, mungkin dengan begitu kita akan mendapatkan kebahagiaan.
    >>lam kenal semua, Aq Baru disini<<

  • Mel said:

    Minta doa ma Tuhan, smoga diberi pencerahan n jln keluar yg terbaik. Tuhan memberkati kta semua.

  • Mango said:

    mbak oz siap-siap segalanya, sedia payung sebelum hujan, kuatin hati, tabahkan pikiran, dan ikuti ke mana jalan membawa mu serta……

  • keke said:

    masalah klasik semua perempuan, nih. seperti mkn buah simalakama istilahnya. sama2 pahit konsekuensinya apapun keputusannya.

    kenalan aja sama “pria2 pilihan” itu. nambah temen kan gak ada salahnya, mbak Oscar. :) semoga bapak cepet sembuh, ya. cheers.

  • Fine said:

    Koq pas bgt dgn cerita aku skrg ya,Oz? Cm bedanya aku yg trkapar tak brdaya krn asam lambung brlebihan.
    Pikiran penuh!
    Seperti mkn simalakama..
    Kebahagiaan ortu atau kebahagiaan diri??

  • Peace said:

    Aku dah sering bilang ke ortu klo aku ga mao menikah nantinya krn menikah dgn laki2 sgt menyiksa diriku… Ortu ku ga terlalu respon dgn kata2 yg gmn gt n mreka diam..smoga mreka menghargai keputusan ku ini…

  • andrea said:

    dilematik… tp apapun itu, tinggal pilih, mind or heart talks?? mo pake cara logis or pake feeling? up to u gal…

  • Tuyus said:

    Oscar,bermohonlah kepada Sang Khalik agar ditunjukkan yang terbaik untuk anda, bukankah cobaan ini juga datangnya dari Dia.
    Saya mendoakan semoga kondisi bapak anda segera pulih kembali, amin.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.