pociOleh: Oscar Arumi

Kalau ada yang mengatakan saya jomblo kesepian, rasanya terlalu berlebihan. Maksudnya begini, memang benar ada saat ketika saya merasakan sunyi yang teramat dalam. Tetapi kemudian rasa itu hilang, mengalir ikut jarum jam, lalu akhirnya terlupakan. Mungkin, saya tidak terlalu memikirkannya bila yang mengatakan hal itu adalah dosen-dosen di kampus, mahasiswa-mahasiswi yang belum tahu dengan arti kerasnya kehidupan, ataupun sahabat lesbian yang lalu-lalang datang dan pergi. Mungkin tidak terlalu sulit bila kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, tetapi pasti akan sangat menyesakkan dada bila kalimat kesepian itu justru keluar dari mulut orang yang melahirkan kita. Bapak dan Ibu.

Minggu lalu, saya pulang ke kampung halaman. Percikan kedamaian, ketenangan yang menyejukkan ataupun aroma masakan Ibu yang menusuk-nusuk hidung dengan nikmat, berubah total sehabis makan malam keluarga. Sebenarnya tidak ada kericuhan yang terjadi, hanya sedikit adu debat saja tentang teori hidup dan kehidupan dengan orangtua saya. Klise sih, saya disuruh menikah.

Melalui perdebatan halus namun sedikit alot, akhirnya saya terpojokkan dengan berbagai dalih, dalil, ayat, adat, agama, lingkungan sosial, pandangan masyarakat dan berbagai teori embel-embel lainnya tentang ‘’perempuan yang tidak menikah’’. Bapak mengatakan semua hal itu penuh dengan ketulusan dan karena kecintaannya yang teramat sangat pada anak perempuan ‘’bandel’’ yang sedang duduk di hadapannya. Namun justru, itulah yang menjadi pukulan telak ke muka saya. Inilah saatnya, saya dihadapkan pada salah satu pilihan tersulit yang dihadapi oleh hampir seluruh lesbian di muka bumi ini. Menikah.

Pikiran saya masih kalut ketika kembali menatap dinding kos-kosan yang sebagian catnya terkelupas. Yang saya pandang berwarna hitam kelabu, pekat dan gelap, padahal dindingnya berwarna putih kekuningan. Kabar buruk barusan disampaikan telepon selular saya, Bapak masuk rumah sakit. Entah apa sebab pastinya, tetapi saya rasakan ini semua karena ulah perdebatan panjang dengan beliau seminggu yang lalu. Ibu mengatakan, sepeninggal saya dari rumah, si Bapak banyak melamun dan tak selera makan apapun. Saya tahu, beliau pasti memikirkan kata-kata pahit yang sempat terlontarkan dari mulut saya, yaitu ‘’Saya tidak berniat menikah’’.

Fatal, akibat perkataan mulut kurang ajar saya, Bapak dirawat inap sekarang. Dokter bilang, infeksi pencernaan. Kalau saya bilang, Bapak banyak pikiran, lalu gak mau makan, akhirnya asam lambung diperutnya mengamuk dan berlomba mengikis perutnya. Mikirin siapa? Jawabannya jelas, pasti mikirin saya.

Masa depan sepertinya buram. Entah apalah yang telah saya lakukan, hanya saja saya merasa menjadi anak durhaka yang tak berbakti kepada orang tua. Jangankan untuk berhubungan dengan makhluk berpenis yang disebut dengan ‘’laki-laki’’, dengan makhluk cantik berparaskan bidadaripun saya masih pikir-pikir dulu. Hidup gak segampang yang saya inginkan, karena ternyata hidup saya bukan hanya untuk saya. Di umur yang setua ini, saya masih tak habis pikir, sebenarnya saya hidup untuk kebahagiaan siapa?. Kalau menikah diperuntukkan untuk kebahagiaan saya, jelas tidak benar. Tetapi, kalau menikah hanya untuk membahagiakan orangtua, bukankah sebenarnya saya yang akan menanggung deritanya kelak?

Tragedi, akal saya tersumbat sekarang, apalagi teringat saat Bapak berkata, “Nak, di keluarga kita, tidak ada yang mempunyai sejarah tidak menikah.”

Baiklah, haruskah lembaran sejarah itu saya yang memulainya? Setan dan malaikat sepertinya bertarung di belakang saya, berbisik-bisik hingga menyerapah apa yang sebaiknya saya lakukan. Oh ya, daritadi saya lupa bilang bahwa ternyata Bapak sudah mempunyai stok “pria pilihan” buat saya.

@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009.