Home » Bengkel Menulis

Bengkel Menulis: The Death of the Critics

17 December 2009 62 views 4 Comments

worlds_hottest_critic_tshirt-p235492287788453951qm73_400Oleh: Lakhsmi

Orang normal tidak akan pernah suka mendengar kelemahannya dibeberkan pada pekerjaan yang telah ia lakukan dengan sepenuh hati, namun bagaimana kamu deal dengan berbagai kritik pada tulisanmu mendefinisikan siapa dan bagaimana kamu sebagai penulis/blogger. Kritik oleh redaksi SepociKopi, termasuk juga tulisan-tulisanmu sendiri di blog pribadi, Facebook, Twitter, Plurk, forum dapat menyakitkan dan membuat terluka. Kamu bisa menganggapnya sebagai hal yang sangat serius seperti kegagalan ujian semester atau keputusan untuk amputasi kaki. Bagaimana memiliki kekuatan menghadapi kritik? Tenang, tenang, jangan depresi. Yuk kita hadapi sengatan kritik ini dengan cara-cara asyik dan super-cool seperti di bawah ini:

1. Bedakan antara fakta dan opini
Ketika kamu menyerahkan tulisanmu kepada orang lain atau mempublikasikannya di tempat terbuka, kamu memberikan pintu akses untuk berkomentar. Orang lain bisa saja menganggapnya sebagai celah kesempatan untuk mencurahkan kekesalan dan rasa frustrasinya kepada tulisanmu (atau dirimu pribadi) tapi ada segelintir orang yang benar-benar serius (misalnya editor) terhadap feedback yang diberikannya. Tujuannya? Untuk menjadikan tulisanmu semakin baik.

Belajar mengenali dan menghadapi kritik – bahkan sangat sulit untuk kamu terima – adalah salah satu teknik lihai bagi kamu yang sedang mengasah ilmu untuk menulis dan menyelami harta karun milikmu yang tertimbun di hati.

2. Kulit badak dong!
Ruang bermain blogger dan penulis bukan tempat bermain bagi mereka yang berkulit tipis apalagi yang tembus pandang alias super sensi. Ketika kegiatan blogging dan menulis dimulai di garis start, kritik akan tiba seperti cairan ketuban yang pecah tanpa bisa dihentikan. Kemampuan menarik napas panjang (dan pendek) di antara jeda kontrakasi melahirkan adalah teknik untuk menghindari rasa sakit bersalin. Tanyakan bidan kalau nggak percaya. Demikian juga saat menghadapi kritik.

Tumbuhkan kulit yang tebal seperti badak, tapi jangan membangun tembok. Mampu menerima satu tembakan dengan dagu tegak dan tersenyum gemulai menjadikan dirimu penulis yang gagah berani dan kereeeeeen.

3. Mundur, Pak Presiden! Lihat semuanya dari jauh!
Kalau tidak sanggup membangun kulit yang tebal, cobalah mundur dan lihat semuanya dari jarak yang jauh. Obyektivitas lebih jelas, fokus menajam, dan penglihatan menjadi 20/20 ketika dua langkah bergerak ke belakang. Bahkan dalam kritik yang terpedas pun dapat ditemukan mutiara informasi.

4. Mendengarkan
Kamu pasti nggak tidak sabar pengin membalas dan menyambar komentar-komentar orang, tapi cobalah untuk memberikan kesempatan dengan membaca ulasannya dengan tenang. Orang yang selalu defensive, biasanya orang yang mudah menyerah.

5. Kado sarkasme
Ingat Bengkel Menulis edisi sebelum ini? Menjawab kritik dengan dosis sarkasme yang tinggi bisa membuat skor menjadi satu sama loh! Pelajari penggunaan sarkasme yang tepat sehingga kalau kamu diserang, jangan buru-buru terpancing emosi untuk menyerang balik dan menjadikan dirimu sebagai badut aneh yang bikin dahi orang lain berkerut, desisan “hah?”, dan ditutup dengan tawa terguling-guling. Sembur balik dengan permainan kata-kata akrobat yang cantik tapi menusuk dalam bungkusan sarkasme.

***

Nah, lima hal di atas adalah lima cara untuk membangun kekuatan menghadapi kritik. Kritik tidak dapat dihindari, kamu pasti akan menghadapinya cepat atau lamban. Kritik menyakitkan, tapi tidak ada yang personal kalau kamu tidak mengizinkannya seperti itu. Ingat saja, kritik adalah bagian dari kehidupan seorang blogger/penulis.  If you are not a confident writer – if you are just seeking validation from an editor (or others) — you have no business submitting your writing for publication.

Sebagai bonus, kuberikan kekuatan EKSTRA dalam menghadapi kritik. Boleh dibaca boleh tidak. Kalau kamu nggak sanggup meneruskan tulisan ini karena bosan, silakan berhenti kapan saja. Poin enam di bawah akan melengkapi pandangan matamu – dari tiga dimensi, menjadi empat dimensi – dalam  meningkatkan imunitas serangan virus kritik.

6. Menulis, bukan penulis
Membedakan antara aktivitas menulis dan menjadi penulis adalah dua hal yang penting untuk disadari. Seseorang tidak otomatis menjadi penulis kalau ia menulis. Penulis hanyalah jabatan yang diemban, sama seperti istilah blogger. Jabatan hanya sekadar baju yang kamu kenakan, atau make up pemoles wajah. Mengenakan baju yang cantik terkadang seperti mendapatkan dongkrakan rasa percaya diri, tapi setelah baju itu dibuka, apa yang ada di dalamnya?

Menulis adalah tubuh itu sendiri, wajah itu, sesuatu yang hidup dan subur di dalam diri masing-masing. Sumur yang tak pernah kering. Harta karun yang tak ternilai untuk terus menerus digali. “Baju” dapat menjadi tua dan lapuk, bahkan kekecilan, tapi tubuh tidak akan pernah hilang dari dirimu kecuali kematian.

Menulis atau kegiatan nge-blog adalah pekerjaan untuk menemukan kebenaran di dalam diri sendiri. Hal itu adalah hal terindah yang tidak dapat dinilai oleh siapa pun, kecuali dirimu. Jika kamu memberikan jabatan “penulis” atau “blogger” di bahu kamu, diam-diam jabatan itu akan menjadi “jaket ketat” hati serta “penutup mata” pikiran, membuatmu sulit melihat kebenaran pada porsi obyektif saat kritik diarahkan. Kamu akan mati kehausan dan tercekik oleh beban istilah itu.

Kembalilah kepada penyelaman pribadi, temukan kedalamanan mata air abadi di dalam dirimu. Itulah hakekat terdalam dari kegiatan menulis atau nge-blog. Kalau kamu berhasil mencapai perenungan seperti itu, takkan ada… ya, TAKKAN ADA kritik dari mana pun yang bakal membuatmu menjadi defensive atau malah sukses menyakiti dirimu. Kritik telah mati di tanganmu sebab kamulah yang membunuhnya.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

4 Comments »

  • AL said:

    Trimakasih untuk tips-tipsnya. Masih berapi-api, heuheu..
    Eniwei, menurut saya, ada yang lebih ngejengkelin daripada defensif yang, paling enggak, masih berani menghadapi muka. Kabur!! Tulis lalu kaburrrr!!

  • mozz said:

    MERDEKA!!!
    Sering kagum aku sama tulisan wanita satu ini.

  • LigX said:

    coz critics is parts of the life.

  • Mango said:

    you are a strong woman laks….. !!!! tulisanmu menunjukkan kekuatan pribadimu.. kritik nggak pernah bagus karena menyakitkan.. menurutku nggak ada kritik yang obyektif, semuanya subyektif. wanita-wanita tegar macam kamu laks yang membunuh kritik dengan tangan besimu yang sanggup membuat perubahan di mana-mana…. cayooo..!!!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.