Home » Telezkop

te.Lez.kop: Down Under for Lovers

16 December 2009 42 views 5 Comments

two-women-sitting_~u18098488Oleh: Shinigami

Kolom te.lez.kop bukan kolom jalan-jalan, jadi tentu saja Down Under tidak berarti saya akan membicarakan mengenai eksotika negeri kangguru yang memang sering juga disebut dengan istilah itu. Namun frase itu juga tidak terlalu mengelabui kalian, karena saya akan mengajak kalian jalan-jalan ke bagian bawah tubuh manusia. Nah, jangan mentang-mentang saya baru membahas orgasme dan sekarang menyangkut sesuatu tentang “jalan-jalan ke bagian bawah tubuh manusia” maka kalian menuduh saya cabul. Saya hanya akan membahas tentang celana dalam kok.

Tidak seperti zaman abad pertengahan dulu ketika celana dalam masih hanyalah jenis pakaian yang digunakan untuk menutupi kemaluan, saya rasa sekarang celana dalam memiliki fungsi tambahan. Tidak percaya? Lihat saja berbagai bentuk, corak, dan warna celana dalam yang dijual di pasaran. Sepertinya semua bentuk, corak, serta warna yang mampu dipikirkan oleh manusia telah tersedia.

Melihat kenyataan itu, saya pikir orang kini menginginkan (sekaligus dikondisikan untuk melihat) celana dalam untuk hadir sebagai sesuatu yang menarik, lucu, atau bahkan butuh dikoleksi—buktinya katalog celana dalam sering mengusung tema berdasarkan musim tertentu, seperti Spring Collection, seakan-akan pemakaian celana dalam bergambar bola pantai dan matahari hanya boleh dilakukan sekitar bulan Mei hingga Agustus. Dengan keberagaman pilihan yang ada, tentu kita bebas memilih mau membeli celana dalam yang mana, bukan?

Tentu saja! Itu uang kamu sendiri kok, belanjakan saja sebagaimana yang kamu inginkan. Tetapi, bagi yang sudah berpasangan, ada catatan tambahan: Pembelian celana dalam sepertinya tidak lagi bisa dilakukan hanya berdasarkan asas “semau gue,” sebab kini bukan hanya dirimu yang ikut melihat si panties itu; pasangan punya akses untuk melakukan inspeksi mendadak. Enggak lucu kan ketika setelah sidak lalu pasangan malah urung untuk bertindak lebih jauh? (Hayo, mikir apa? Bertindak lebih jauh yang saya maksud di sini adalah memuji kok. Yeah, right. Hehehe…)

Memang sih, ada pandangan yang mengatakan bahwa fungsi terpenting dari pakaian dalam—termasuk celana dalam pastinya—adalah fungsi psikologis, atau dengan kata lain bagaimana pakaian dalam itu membuat penggunanya merasa tidak hanya nyaman, namun juga penuh percaya diri dan bahkan seksi. Tidak salah, karena bagaimana pun, norma kesopanan serta UU Anti-pornografi dan Pornoaksi membuat kita tidak mungkin memamerkan fungsi estetika sebuah celana dalam ke khalayak ramai. Jadi, yang lebih penting adalah bagaimana perasaan yang ditimbulkan oleh si celana dalam ketika kita memakainya. Apalah artinya celana dalam bergambar Catherine Moenigg (ini cuma ilustrasi, sumpah, saya sungguh tidak tahu apakah ada celana dalam dengan gambar wajah si Shane tercetak di sana) bila ternyata bahannya bikin kulit iritasi dan akibatnya kita merasa sangat tidak nyaman ketika mengenakannya?

Kalau begitu, kita tinggal pilih saja celana dalam yang bisa membuat kita merasa nyaman, percaya diri, serta seksi, bukan? Tidak segampang itu. Kita tetap butuh memperhitungkan pasangan kita. Masing-masing orang memiliki persepsi berbeda tentang hal-hal yang membuat mereka merasa nyaman, percaya diri, dan seksi. Apa yang kita anggap sip belum tentu demikian di mata sang kekasih. Contohnya begini: bisa saja kita merasa nyaman, pe-de abis, dan seksi dengan celana dalam model boxer, tetapi bagi pasangan kita, celana itu tidak ada menarik-menariknya sama sekali; dia menganggap celana dalam model g-string dengan renda-renda kecil di bagian depan jauuuuhhhh lebih menggiurkan untuk dipandang, sementara kita merasa tali seramping itu tidak seharusnya berada di daerah selangkangan. Lantas bagaimana? Mau ngotot pakai pilihan sendiri, pasangan enggak suka. Mau berpindah ke selera pasangan, kita yang menderita.

Tenang, untungnya ini bukan situasi buah simalakama. Malahan, ini situasi simsalabim: ada jalan keluarnya! Mudah saja, empat kata: belanja celana dalam bersama. Ya, sebab dengan melakukan ini, kita bisa mencari titik temu antara apa yang diinginkan kita dan yang dikehendaki pasangan. Seru kok, kita bisa memilih-milih di antara sekian banyak celana dalam yang tersedia sambil berdiskusi dan membayangkan bagaimana kira-kira tampilannya bila salah satu dari kita mengenakannya. Pasti nanti celana-celana yang dibeli—tak peduli seberapa lama atau seberapa singkatnya celana itu melekat di badan— akan mampu memuaskan pihak pemakai maupun pihak pengamat. Asyik deh. Meski begitu, perlu saya ingatkan, gunakan daya imajinasi kalian dengan efektif dan efisien alias jangan kelamaan di bagian membayangkannya. Bila tidak, saya tidak akan heran apalagi menyalahkan mbak pramuniaga kalau ia lantas memandangi kalian dengan aneh.

@Shinigami, SepociKopi, 2009

5 Comments »

  • Kyra said:

    Halah, celana dalam. . . yang penting nyaman, bersh n sopan

  • Maly Lesbia said:

    Ngga ada celana dalam yang bagus pernah aku jumpa melain celana dalam jenama Indy ada ‘aura’ gitu… huahuahua :-)

  • April said:

    Hehehe… Ni artikel bkin aq ktwa2 sndr…

  • redmoon said:

    Betoel, yang penting nyaman.
    Toh pd saat action! adegan ranjang, kita tampak polos seperti bayi yg baru lahir, hehehe…
    Maksudnya dah gak memerlukan panties lg.

  • ely said:

    belanja bersama panties’a tp jng kelamaan milih ato berantem bisa2 pramuniga’a curiga….
    gw pernah gtu krn dy mau milih ini, gw malah gk seneng n nyuruh dy milih yg it aj….. ehhh gk mau, jd’a btengkar…
    Pramuniaga’a senyum sambil tertawa curiga…
    ah cuek ajak, gk knal jg hehehehe

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.