Home » Humaniora, Relationship

PDA: Is It Appropriate?

16 December 2009 88 views 15 Comments

The_Twisted_Two_by_mycharliegirlOleh: Grey Sebastian

Kemarin, untuk pertama kalinya saya merasa sangat risih dengan orang-orang yang ber-PDA. Tentu saja PDA yang saya maksud di sini bukan Personal Data Assistant yang bisa menaikkan gengsi sang pemilik. PDA yang saya maksud di sini adalah Public Display of Affection alias pamer kemesraan di tempat umum. Apakah saya risih karena saya merasa iri, kenyataannya sampai sekarang saya belum punya pacar? Tentu saja bukan karena itu.

Jadi begini ceritanya. Beberapa hari lalu, saya ada janji meeting dengan seorang kolega di restoran milik beliau. Kami sengaja memilih waktu sekitar jam tiga sore, dengan maksud agar meeting kami tidak terlalu terganggu oleh ramainya pengunjung. Ketika saya datang ke restoran tersebut, memang tidak terlalu banyak pengunjung yang makan. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Kami memilih meja yang agak pojok agar kami bisa lebih leluasa berdiskusi.

Selisih dua meja dari kami, tampak dua perempuan sedang makan bersama. Mereka berdua menghadap ke tembok. Posisi duduk yang memperlihatkan dengan jelas bahwa mereka tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Sejak melihat mereka, radar saya sudah mengatakan mereka adalah sepasang kekasih. Sebenarnya saya tidak terlalu peduli dan tidak ingin ikut campur, tapi setelah waktu berlalu beberapa saat, saya dan kolega mulai terganggu dengan kelakuan mereka.

Entah apa yang mereka sedang bicarakan, suara cekikikan mereka terdengar sampai ke seluruh ruangan. Terdengar suara meja yang tidak sengaja terdorong karena kaki-kaki mereka saling menggelitik. Bahkan minuman juga tumpah. Bisa dibilang, mereka bercanda cukup heboh. Tidak cukup sampai di sana, secara terang-terangan mereka saling merangkul, mengelus rambut, dan mencium pipi. Untung saja tidak sampai berciuman bibir.

Beberapa kali kolega saya, termasuk si pemilik restoran melirik ke arah mereka. Mungkin beliau menguatirkan barang-barang yang pecah di sana. Tapi yang jelas saya melihat tatapan risih yang terpancar dari matanya. Hanya saja karena dua perempuan itu adalah tamu di sana, tentu dia tidak mungkin mencari ribut dengan mereka. Tatapan risih kolega-kolega saya di sekitar meja membuat saya ikutan merasa malu dengan kelakuan pasangan tersebut.

Menampilkan perasaan cinta terhadap pasangan memang merupakan hak semua orang. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena bisa memiliki pacar dan diakui oleh pacar di depan khalayak umum. Kita harus selalu ingat, kita berada di area publik, bukan daerah privat (kamar tidur sendiri atau ruangan kos atau rumah pribadi). Ketika daerah kita dibagi bersama orang asing, orang lain juga berhak memiliki kenyamanan. Bahkan di Amerika, sekolah-sekolah SMA-nya menegakkan peraturan ketat tentang pelarangan ber-PDA selama para siswanya berada di kawasan sekolah. Jadi sebenarnya, orang barat pun mendidik rasa kesadaran terhadap lingkungan sekitar, yang tidak ada bedanya dengan orang Asia.

Sakit rasanya hati saya saat melihat orang lain mencibir kaum homoseksual yang notabene kamu dan saya sendiri. Belum lagi melihat tatapan risih mereka. Tapi konteks yang ini adalah konteks yang berbeda, bukan penghinaan secara general, tapi penghinaan karena kelakuan. Menurut saya, mengakui keberadaan kekasih tidak perlu sampai harus memamerkan kemesraan di depan publik. Dengan tidak merasa takut memperkenalkan kekasih kepada teman-teman dan keluarga, juga sudah berarti mengakuinya sebagai pasangan pilihan hati.

Terlalu menampilkan kemesraan di depan umum sepertinya bukan cara yang baik untuk menyadarkan masyarakat tentang keberadaan kita. Pasangan hetero yang bermesraan berlebihan saja bisa ditangkap hansip dan dianggap melakukan perbuatan mesum, apalagi untuk para pasangan homoseksual!

@Grey Sebastian, SepociKopi, 2009

15 Comments »

  • yuki said:

    setuju ma Grey, mau dimanapun,sopan santun itu harus dijaga,terutama dr tutur kata n tingkah laku kita.

  • Tim said:

    Lets make lov,
    lets go somewhere they might discover us,
    lets get lost in lust
    we just dont care,
    we just dont care,
    we just dont care,
    ( J. L )
    peace……

  • Lucky said:

    waaaaach kl gw sich belon p’nah tuch ketemu ma yg kyk gitu….
    tp kayaknya seru juga bwt cuci mata yach…..
    heheheheheee..

  • ya mirza said:

    setuju! tapi klu Ya, iri hiks-hiks… jomblo 2 tahun chuy,

  • Kyra said:

    Pamer kmesraan ma partner d dpan publik. . hm. . mkir2 dlu deh. . .bsa jadi hot news ntar. .

  • anteos said:

    pernah tuh dulu di california pizza kitchen, two young couple giggling around dan yg cewenya selalu bilang bgini “jangan pegang, iiihh” “jangan noel2 iihh kamu ini” its too loud and thats disgusting..

  • Wil Twilite said:

    Hmmm… PDA……?? Tunggu dolo daaahhhh…. jangan dilakukan di negeri sendiri dolo (buat gue pribadi yach…) terlalu riskan… lain halnya kalo kita ke Bangkok atau negara lain yang memang ngga mempermasalahkan eksistensi kaum sista ;->

  • happy_sendiri said:

    PDA ?
    Duh! Jaim dikit napa?
    Demi nama baek qta smua..

  • vido said:

    @happy_sendiri : jaim kok cuma dikit? banyak juga boleh kok :-D Hidup jaim!! ^_^

  • ELLE said:

    ehm…gw pasti mikir2 sejuta kali utk spt itu. Partner bs jln bareng aja udah bersyukur bgt. Bisa geger se- Indonesia kalo gw n partner melakukan didepan publik gitu.hahahaha…

  • maia said:

    Waduh…bener tuh…..

    harusnya kita bisa bersikap biasa aja lah didepan umum…
    karna buat nunjukin sayang ke pasangan kita juga ngk gitu caranya kali ya…

    justru kalo kita terlalu ngumbar pelukan or ciuman di depan umum kok kayanya makin bikin stigma miring di kepala org2 ya…

    kecuali tuh pasangan emg mo jadi seleb dadakan, lah wong ngk pelukan or ciuman aja kita dah liatin org..kalo jalan ma pasangan kita…karena gesture tubuh kita kan keliatan ya..kalo kita pasangan lez…apalagi tambah PDA tadi…wah ribet deh

    buat gw tempat kaya Club2 gitu exceptional lah, karna ada kan tempat khusus Lez….

  • redmoon said:

    Yg paling aneh aku nemuin pasangan L yg lg PDA, melihat mrk ky liat p’tunjukan teater. Heboh, romantis, dramatis, menegangkan. Krn mrk sebentar2 b’canda sambil peluk2an, tiba2 berantem sampe tarik2an, terus mesra2an dgn b’pangku2an.
    Yg pasti kasus ky gini t’gantung dr karakter siindividu itu sendiri, bkn krn mrk kaum homo/hetero.

  • tweet-tweet said:

    kalo ketemu yg kyk gt
    reaksi pertama muke langsung pucat
    nunduk..tambah nunduk senunduk-nunduknya
    kok jd gw yg malu??

  • pledoi sang rainbow said:

    kaget baca facebook tmen kampus gw..
    dy nemuin pasangan L,,yg dari keteranganx sm2 femme..lg PDA wkt nonton film..
    mreka CIUMAN!
    what d hell?!
    shock bgt tmnq itu,yg duduk d sblh mreka..
    gila ya..malah bikin film sndri
    ckckck

  • ely said:

    PDA boleh aj tp jng over bget…. Ingat kita nih ad d negera mana,,,!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.