Home » Tajuk

Tajuk: Bunuh Diri dan Kita

15 December 2009 118 views 17 Comments

suicide_orange__by_cherrykizZOleh: Nuha Guwa

Seorang perempuan usia 24 tahun tewas menggenaskan di sebuah mal mewah di Jakarta. Diduga kuat perempuan asal Palembang ini sengaja menerjunkan diri dari lantai lima gedung. Hal ini dikuatkan oleh kamera CCTV, dalam rekaman tersebut terlihat korban sengaja melompat, dan tidak terjatuh dari pagar pembatas. Perempuan muda yang ditemukan sudah tidak bernyawa dilantai dasar tersebut, mengenakan celana jeans dan kaos bertuliskan I hate my butch!

Terus terang bagian akhir dari berita di atas itu sengaja saya tambahkan untuk tema lomba Mari Mengarang di SepociKopi. Nggak salah kan jika saya menduga-duga motif lalu membuat asumsi sendiri? Ternyata seseorang yang bunuh diri tadi adalah seorang femme yang baru saja ditinggal putus pacar. Ngomong-ngomong soal bunuh diri, tentu saja ini bukan fenomena baru di sekeliling kita. Media massa cukup menyuguhkan beragam berita terkait bunuh diri. Bahkan detail motif diberikan secara vulgar seperti mengajari pembaca bagaimana cara bunuh diri yang baik dan sukses.

Dalam ilmu sosiologi, ada tiga penyebab bunuh diri yakni, egoistic suicide (bunuh diri karena urusan pribadi), altruistic suicide (bunuh diri untuk memperjuangkan orang lain), dan anomic suicide (bunuh diri karena masyarakat dalam kondisi kebingungan). Tentu saja yang ingin diceritakan di sini bukan anomic suicide seperti di film-film dunia mau kiamat atau altruistic suicide yang dilakukan pelaku bom bunuh diri yang berlatarkan kepentingan teroris atau kelompok tertentu. Namun ancaman bunuh diri yang dilakukan orang per orang. Bisa terjadi di lingkungan teman dekat yang depresi karena tak sanggup menafkahi keluarga, kenalan yang putus cinta, guru yang dituduh melakukan pelecehan seksual, atau mungkin atasan yang dituduh korupsi.

Ancaman bunuh diri memang bukan main-main. Seseorang yang melakukannya dipastikan sebagai orang-orang yang tidak lagi mendapatkan perhatian apa pun dari sekeliling. Hal ini diungkapkan seorang salah satu psikolog yang berkonsentrasi di bidang traumatic dan depresi menyebutkan bunuh diri adalah tindakan mengambil nyawa sendiri sebelum waktunya atau aktivitas mengakhiri hidup sendiri tanpa bantuan aktif orang lain ini kerap sekali terjadi di lingkungan seseorang yang tidak lagi memberikan perhatian pada korban tadi. Kasarnya orang-orang yang berada di lingkungan korban bunuh diri tadi bisa disalahkan karena tidak memberi perhatian yang cukup, sehingga aksi mengakhiri kehidupan itu pun terjadi. Juga dijelaskan bahwa kejadian bunuh diri ini biasanya tidak dengan serta merta terjadi, namun merupakan akumulasi dari sesuatu hal. Padahal jika saja ada yg memperhatikan – meskipun bukan keluarga dekat – pasti mampu menghalang seseorang dari aksi bunuh diri.

Jika penyebab bunuh diri karena permasalahan yang terakumulasi seringkali berawal dari keputusasaan, cobaan hidup, tekanan lingkungan, hingga himpitan ekonomi. Percaya atau tidak teori ini dikuatkan oleh Dr Danuta Wasserman peneliti dari The National Centre for Suicide Research and Prevention Stockholm, yang dipublikasikan melalui The Lancet Medical Journal. Dr. Danuta Wasserman melakukan penyelidikan pada 700.000 remaja, dan menemukan bahwa motivasi bunuh diri sudah ditentukan saat sang jabang bayi kali pertama dilahirkan. Menurut Wassserman berat badan bayi saat dilahirkan menjadi penentu resiko bunuh diri di kemudian hari. Bayi yang lahir dibawah rata-rata memiliki resiko dua kali lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri dibandingkan dengan bayi yang lahir secara normal. Resiko itu akan semakin tinggi jika ibu yang melahirkan masih berusia remaja.

Tidak jelas konteks akumulasi berjarak sekian dan sekian tahun namun jika sebab-sebab bunuh diri merupakan akumulasi, tentu sebenarnya mudah bagi kita menghentikan aktivitas keji tersebut. Pada ibu yang sedang hamil, Dr Wasserman menyarankan agar ibu bayi menjaga asupan gizi makanan, sehingga tidak terjadi kelebihan berat maupun kekurangan berat badan. Sementara itu, pada jarak umur tertentu tentu tidak ada salahnya kita selalu memberi perhatian pada teman atau kerabat yang memang sedang dirundung masalah.

Konsep Ketuhanan teramat penting untuk mengatasi fenomena bunuh. Orang yang memiliki hubungan kekeluargaan yang baik dalam lingkungannya tidak akan berputus asa dan bersedia tetap menjalani kehidupan seberat dan seburuk apa pun. Sebab ia sadar bahwa hidup ini memang penuh cobaan-cobaan berat dan pahit, jadi ada komitmen bahwa bunuh diri hanyalah tindakan sia-sia dan pengecut. Definisi yang diberikan seorang pakar di atas tampaknya patut menjadi perhatian kita. Jika peranan Tuhan di hadapan seseorang yang akan bunuh diri tidak ada lagi, tampaknya dukungan orang-orang di sekitarnya akan banyak membantu. Jika pada dasarnya seseorang bunuh diri merupakan seseorang yang sebenarnya sangat membutuhkan perhatian, marilah kita mulai memberi perhatian kita pada orang-orang yang merasa perlu. Asahlah kepekaan pada siapa pun yang ada di sekitar kita.

Bagi teman-teman lesbian yang sedang merasa depresi, datangilah seseorang, lampiaskan perasaan. Pada dasarnya segala sesuatu memiliki hubungan sebab akibat sebagai bagian dari sistematika. Dalam hubungan sebab akibat tersebut dipastikan selalu ada jalan keluar baik itu cepat atau lambat. Bangkitlah dari kemurungan, ubah pola hidup, perhatikanlah setianya mentari pagi yang selalu datang dan pergi meskipun kondisi bumi dalam keadaan bahagia atau porakporanda. Pandanglah setiap daun yang bergerak dan hewan-hewan peliharaan yang setia menunggu kita beri makan. Mulailah memberi perhatian sekeliling, tanaman kering yang perlu di siram, kucing kurus yang nelangsa menatap kosong ke arah meja makan kita. Bacalah SepociKopi, selamilah jiwa-jiwa dan pengalaman penulis yang penuh dengan segala macam pengalaman hidup dan warna. Tundalah matimu, karena dunia lesbian di tempat ini siap menceritakanmu warna bumi dari sisi yang sungguh berwarna, dan sedia menunjukkanmu pada perempuan-perempuan baru yang siap memperhatikan dan memberimu perhatian yang selama ini tidak kamu dapatkan.

@Nuha Guwa, SepociKopi 2009

17 Comments »

  • akkaht said:

    aduh… bahagianya baca tulisan ini tq God….

  • April said:

    Bunuh dri it bkn menyelesaikn mslh.. Yg ad malah nambh mslh… Blm lg nanggung perbuatan qt d akhrt ntr… N blm tentu jg msuk surga…

  • Sky said:

    …bengong…
    Merasa aneh…akhir2 ini setiap buka sepocikopi, artikelnya selalu pas dengan event dalam hidup saya…

  • Kyra said:

    Hmft. , emg prhatian org d skeli2ng bs mengurngi resko bnuh dri. tp kalo perhatian itu slah sa2ran? kdang mreka g ngerti bratnya jd sorang lesbian

  • tika said:

    sip, konon bunuh diri lebih dimungkinkan terjadi dalam masyarakat yg sudah semakin individualis … jd kawan, sebaiknya kita buka mata hati lebar-lebar, menjadi lebih peka terhadap apa yang terjadi dengan orang-orang di sekeliling kita, dan menjadi orang yang selalu menebarkan semangat dan harapan … ga kalah pentingnya, selalu bersyukur atas semua yang kita peroleh :)

  • Mel said:

    (saya tertegun membaca kalimat singkat berkoma “bacalah sepocikopi”)
    klmt ini mengharuskan aku membanding2kan hdpku sebelum n sesudah bc ‘sk’,

    sbelum knal sk, aku hdp ala kadarnya, hub lesbianku tiada warna, aku ingat utk ucap syukur kepada Tuhan atas pacar yg sgt memahami, aku bsyukur dgn suara samar dan menahan sesak di da2.

    Sesudah tau n bc sk yg kutemukan secara tdk sengaja,. Aku benar2 hdp dan bsyukur dgn lantang dan gembira aku cinta pacar perempuanku..

    Tnyata sebaris kalimat singkat bs menghidupkan kematian jiwa..

  • parkit said:

    Ya Tuhan, seolah menampar muka gw… dulu gw pernah nyaris memotong nadi gw di depan cewek yang suka saat dia harus ningalin gw,, malu gw…

  • Awani said:

    Selalu peduli dan siap membantu dan saling men support dari kita untuk kita.. Dgn tulus dan ikhlas .. Itu lebih baik… Walau kadang kebaikan kita di manfaatkan oleh type manipulator ato opportunitis… Utk kepentingan egonya..

  • 14 said:

    tulisan yang mengalir, informatif dan ilmiah…hebat!!! i enjoy it

  • becakmini said:

    i’ve known about this news, but i just know the details here (‘i hate my butch’ t-shirt).

  • dian dee dee said:

    Dari dulu saya malah sering berpikir kalau media jg memberi andil besar pada terjadinya aksi kriminal atau pun bunuh diri seperti yg dibahas diatas.
    Mengapa saya katakan demikian?
    Pemberitaan yg ‘komplit’ memang baik. Tapi jangan lupa efek sampingnya.
    Pemberitaan paket ‘komplit’ ini justru seperti memberi efek ‘menular’ pada manusia-manusia lain yang sedang dalam keadaan yg berisiko tinggi untuk melakukan aksi kriminal / bunuh diri.
    pernah tidak sesekali memperhatikan ketika terjadi satu kasus, seringnya muncul kasus-kasus serupa dibelakangnya?
    Saya sendiri tidak mengerti, apakah efek ‘menular’ seperti mmg terjadi, atau memang karena kemudahan teknologi dan gigihnya para pencari dan penyaji berita sehingga lebih banyak kasus yg terungkap dan terlihat marak??
    Who knows..

  • ima said:

    lbh aware aj x y ma skitar qt n smakin dekatkan dr n srg2 inget ma Yg Diatas klo qt lg dirundung mslh, krn gak ada hidup yg bebas dr mslh.

  • hana said:

    ngeri baca ceritanya nantinya kalo yang mati bunuh diri arwahnya penasaran heheheheh,,,,

  • aderain said:

    jauhi; pisau, tali, tangga, sekaleng pil tidur, racun serangga, chainsaw, nelan bola golf, dll

  • Tuyus said:

    Terlepas dari rasa marah kepada diri individu sendiri atau bentuk “protes” terselubung kepada lingkungan sekitar terhadap masalah yang menimpa dirinya dan kemudian ia manifestasikan dalam bentuk perilaku bunuh diri, menurut saya ada dua hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir keinginan bunuh diri : (1). keimanan kepada Tuhan (kira semua tahu); (2). kecerdasan pemecahan masalah berupa keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah yang datang.
    @ Aderain : komentar kamu lucu tapi aplikatif :)

  • Maly Lesbia said:

    Para L yg berkemahuan bunuh diri sila email aku dulu yah :-)

  • parikesit n1nna said:

    emang sih, agama adalah pondasi yang kuat untuk kita melawan penyakit bunuh diri. kupikir semua orang pernah punya keinginan bunuh diri, ada yang kadarnya mini ada yang makro. tergantung kenekad-an juga.
    ada satu cerita lucu. saat saya berada di sebuah rumah sakit besar di surabaya, kebetulan ada seorang mbak yang dibawa ke rumah sakit tersebut karena percobaan bunuh diri yang gagal. dia berusaha memotong nadinya dengan golok (motong nadi kok ma golok, golok mah buat motong tangan atau motong bebek angsa). ada pembicaraan lucu antara dokter bedah yang menjahit lukanya dengan si mbak itu (saya duduk tepat di sebelah dokter) :
    dokter : napa kok bunuh diri ?
    mbak : diputusin
    dokter : ganteng mana pacarnya sama saya ?
    mbak : ganteng dokter
    saya : jelek donk pacarnya, mbak ?
    dokter : (melirik pada saya dengan pandangan sadis)
    kadang hanya alasan remeh dibalik orang yang bunuh diri, alasan sepele. tapi, tetap saja angka kejadiannya tinggi (WHO 2005 : sedikitnya 50.000 orang Indonesia bunuh diri tiap tahunnya) meski dalam agama dicantumkan kalau bunuh diri itu dosa. kalau bunuh diri bukan dosa…

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.